One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 6. Devil†s Contract


__ADS_3

Hal yang kulakukan padanya adalah menaruh tetesan darah ke dalam mulutnya. Hanya saja, aku tidak bisa mengatakan apa pun soal itu. Dia juga tidak berkata\-kata lagi sementara tubuhku masih membeku saat tangan pemuda itu mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat. Wajahnya yang sepucat mayat membuatku bergidik sekaligus kasihan. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Matanya yang kelam menatapku kosong. Rasa bersalah tiba\-tiba datang menerjang lalu mencabikku. Rasa itu timbul begitu saja saat aku tidak menemukan kecurigaan serta kebencian di dalam mata itu. Manik hitam itu tampak kosong. Dan apa yang telah kulakukan serta akan kulakukan padanya pastilah sangat jahat?



“Aku–”



Aku tidak melanjutkan kata\-kata saat pemuda itu tiba\-tiba tersenyum tipis. Cengkeramannya melemah. Sedetik kemudian, tangannya kembali terkulai di sisi tubuh.



“Hei, bangun. Hei!” ucapku sambil terus menggoyangkan tubuhnya yang tiba\-tiba saja kembali terdiam. Namun, pemuda itu bergeming. Seolah\-olah mengucapkan satu kalimat panjang bisa membuatnya pingsan seketika.



“Kau akan membangunkan seluruh penghuni rumah ini kalau kau terus berteriak.” suara Alice tiba\-tiba saja terdengar.



“Dia bangun, dia memegang tanganku, di–dia–”



“Ya, ya, aku tahu. Tidak usah repot\-repot menjelaskan!” potongnya terdengar benar\-benar kejam.



Aku menatap gadis itu menuntut penjelasan. Alice mengangkat bahu dengan sikap santai  seolah kejadian barusan bukan suatu hal yang pantas untuk dijelaskan.



“Dia bergerak karena reaksi dari darahmu.” Gadis berucap santai lalu kembali tidak mengacuhkanku. Dia bergerak mendekati cowok yang kini masih terbaring di tempat tidur.



“Ta–tatata–pi dia bicara.”



“Itu hanya perasaanmu saja!”



“Tidak mungkin, dia benar\-benar bicara padaku,” kataku menjelaskan.



“Dia tidak bicara, tidak mungkin dia mampu melakukan itu kalau hanya satu atau dua tetes darahmu yang jatuh ke dalam mulutnya. Jadi jangan mempertanyakan hal bodoh lagi!” pungkasnya cepat.



 “Apa dia masih hidup?” aku sama sekali tidak memedulikan ejekan dalam suaranya.



Alice mendongak menatapku. “Tentu saja. Jangan bodoh, tolong!”



“Terus apa yang terjadi? Kenapa dia tiba\-tiba saja bangun, dia–”



“Ssst! Bisa diam tidak sih?”



Kata\-kata Alice seketika membuatku terdiam. Mungkin aku terlalu bawel tapi rasa ingin tahu selalu saja mengambil alih kendali saat terjadi hal\-hal misterius yang perlu jawaban. Ya, mungkin ada jiwa yang selalu ingin tahu dalam diriku, walaupun mungkin hanya sedikit.



“Bantu aku!”



Aku tersadar dari lamunan saat mendengar suara Alice. Gadis itu sekarang tengah menarik jasad itu bangun.



“Mau diapakan dia?” aku masih sulit membungkam mulutku dari pertanyaan yang spontan terlontar begitu saja.



“Kita harus membawanya pagi ini. Jangan banyak bertanya, aku akan jelaskan nanti!”



Kami memapah cowok itu keluar tanpa banyak masalah. Terseok dan tertatih beberapa kali saat menyeret tubuhnya. Dia memang kurus, akan tetapi postur tubuhnya cukup tinggi hingga membuat kami sedikit lebih lambat.



Selama perjalanan aku mengamati tempat ini. Rumah itu masih sepi layaknya kuburan angker yang tidak terjamah, entah ke mana wanita berjarik parang dengan melati di kepalanya itu pergi. Alice bergegas masuk ke dalam mobil setelah menempatkan cowok itu di kursi belakang.



“Kita tidak berpamitan sebelum pulang?” tanyaku sambil mengikuti Alice yang berbalik ke dalam untuk menutup pintu depan.



“Aku sudah bilang tadi, santai saja!” katanya sambil mengunci gerbang.



“Ke mana sekarang?” tanyaku saat mesin mobil berderum kencang.



Alice mengerutkan keningnya seolah mengatakan. Please deh, jangan bilang kamu tidak paham sama sekali.



“Jangan bilang rumahku?” aku menebak asal.



“Bingo!”



“Apa?” suaraku naik setengah oktaf. “Kau gila!”



“Astaga! Aku butuh stok kesabaran ekstra.” Alice menepuk dada dengan sarkastik.



“Ya, bukan begitu juga kali.”



“Kalau begitu?”



“Jalan?” tanyaku sarat keraguan meski jawabannya sudah jelas.



“Apalagi?”



Aku langsung terdiam. Gadis pemanggil arwah ini tidak suka dibantah. Mobil mulai bergerak pelan saat mesin sudah menderu halus. Kami melewati jalanan yang sepi. Masih terlalu pagi.



Matahari sudah tinggi saat kami sampai di rumah. Aku tinggal sendirian hingga kami membawa masuk pemuda itu ke dalam rumah tanpa banyak gangguan. Kami membaringkan pemuda itu di kamar kakakku. Setelah itu, kamu bergerak keluar.



“Kau habis kerampokan atau bagaimana?” tanya Alice sambil menatap sekeliling.



“Iya, dua hari lalu,” ucapku lemas.



“Sabarlah. Tidak ada yang bisa kukatakan selain itu.”



“Ya. Kau baik sekali!” sindirku cepat.


__ADS_1


“Memang. Kenyataannya aku membantumu sekarang.”



“Ngomong\-ngomong kita harus bicara,” kataku mengalihkan topik obrolan sambil mengikuti Alice yang berjalan keluar.



 “Tentu saja. Kita memang perlu bicara.” Alice berkicau ringan sambil berjalan turun hingga ke ruang tamu di lantai bawah.



“Kau ingin aku melakukan apa dengan pemuda itu?”



Alice melirikku sedikit lalu kembali menyandarkan kepala di punggung sofa untuk mengumbar sikap acuh tak acuh.  Aku mendengus kesal melihat sikapnya itu. Alice seolah menyadari kekesalanku hingga dia kembali duduk tegak.



“Dialah media yang akan kau gunakan untuk memanggil jiwa kekasihmu. Jiwa pacarmu akan memasuki tubuhnya–”



“Yayaya aku tahu,” tukasku cepat.



“Lalu untuk apa kau bertanya?”



“Tapi, bukannya beberapa jam lalu kamu sudah bilang soal media itu. Aku tidak lupa. Maksudku kenapa dia harus ada di sini? Aku tidak perlu ketemu Geral setiap hari.”



“Lalu kau ingin dia tinggal di mana? Pulang ke keluarganya?”



Aku mengangguk kaku. “Mungkin,” kataku tak yakin.



Alice beringsut menatapku. Bola matanya yang bulat tampak tak gentar. “Dengar, Geral tidak ada di tubuhnya sendiri. Lalu kau pikir keluarganya akan menerima pemuda asing yang mengaku menjadi anaknya?”



“Orang tuanya sudah meninggal, dia sendirian.”



“Oke, orang tuanya meninggal dan dia tidak punya saudara. Kerabatnya bagaimana? Katakanlah tidak ada kerabat, kalau begitu tetangga. Bagaimana dengan tetangga?”



Aku menggeleng lagi. Semua kata\-kata Alice itu benar. Bagaimana mungkin kerabat Geral yang tersisa akan menerima orang asing yang mengaku sebagai anggota keluarga mereka yang telah meninggal? Orang mana yang akan mempercayai hal konyol soal pemanggilan jiwa atau apalah di zaman modern ini. Lagi pula, mungkin mereka akan marah jika mengetahui anggota keluarganya dipanggil kembali di dunia yang artinya melawan takdir dan membuat arwahnya tidak tenang di sana.



“Nah. Mereka pasti menolak. Tidak mungkin mereka akan  menerima lalu bilang ‘sayang, akhirnya kamu kembali dari alam baka. Kami merindukanmu.” Alice menoleh ke arahku sejenak lalu mengeluarkan tawa tidak percaya. “Jangan bilang itu yang ada di dalam pikiranmu saat ini?”



Aku menarik segelas air mineral dan meneguknya dalam beberapa tegukan besar. “Dari pendapatmu, rasanya tidak mungkin.”



“Oh astaga! Lagi\-lagi aku benar?” Alice menjerit dengan nada yang terdengar dibuat\-buat.



“Lalu apa yang harus kulakukan padanya?”



“Kau harus menampungnya, itu bagian dari perjanjian kita. Kau yang memanggilnya maka kau yang harus bertanggung jawab.”



“Selain itu, apa yang harus kulakukan?” ucapku pasrah.



Apalagi yang bisa kulakukan memangnya? Pikiranku benar\-benar buntu sekarang. Di satu sisi aku merasa kalau mungkin aku mulai tidak waras, tetapi di sisi lain aku berharap semua hal gila ini terjadi dan aku bisa bertemu Geral secepatnya.




“Maksudmu memilih?”



“Pada malam\-malam itu, kedua jiwa dalam tubuh lelaki itu semuanya akan keluar. Keduanya akan memintamu memilih. Siapa pun yang kau pilih maka dia akan tinggal bersamamu sampai hari keseribu. Kau mengerti?”



“Aku jelas memilih Geral, pemilik tubuh itu bukan siapa\-siapa untukku,” kataku mantap.



“Oh baiklah, aku hanya memberitahumu saja. Kau tidak boleh lupa, dia harus bersamamu pada malam itu. Kalau kalian terpisah maka Geral itu tidak akan kembali, jadi apa pun yang terjadi tahan dia di sisimu,” katanya menjelaskan–tidak, dia lebih terdengar seperti memperingatkan.



“Maksudmu Geral tidak akan pernah kembali ke tubuh cowok itu?”



“Yep.”



Aku mengangguk mengerti. “Hanya itu?”



Aku sudah  mencatat semua yang dikatakan Alice ke dalam ponselku. Meskipun ingatanku tidak seburuk itu. Aku hanya takut kalau melupakan semua pantangan ini dan membuat masalah nantinya.



“Lalu ada fase di mana jiwa kekasihmu melemah dan mungkin pemilik tubuh itu kembali yaitu saat bulan purnama setiap bulannya. Saat itu terjadi, jangan biarkan dia melepaskan kalungnya. Saat dia melepaskan kalung itu lebih dari tiga jam maka game\-over. Geral itu tidak akan bisa menemukan jalan kembali ke tubuh pinjaman itu.” Alice lagi\-lagi mengingatkan.



“Lalu apa yang akan terjadi?”



“Jiwa Geral akan melayang di dunia dalam kebingungan hingga hari keseribu.”



Aku jelas tidak ingin Geral melayang\-layang di dunia dalam kebingungan. Tentu saja dia tetap di sisiku, untuk itu aku tidak boleh teledor sedikit pun. Akan tetapi, aku bersumpah peringatan Alice terdengar mengerikan. Lebih mirip sebuah ancaman daripada teori kerja transfer jiwa. Meski begitu, aku mengangguk dan mencatat semua yang dikatakan Alice tanpa banyak bertanya.



 “Kalung itu adalah jalan masuk jiwa Geral ke dalam tubuh yang kau pilih. Gelang itu menunjukkan kalau kaulah yang memanggilnya, kaulah pemiliknya.” Alice melanjutkan penjelasannya.



“Menurutku ini mirip pentagram yang dipakai penyihir untuk memanggil iblis,” ucapku asal karena teringat bagian\-bagian dalam novel fantasi yang kubaca beberapa bulan lalu.



“Ya, bisa dibilang gitu.” Alice menukas santai sambil menyesap air mineral yang baru saja dituangkannya ke dalam gelas.



“Ngomong\-ngomong berapa aku harus membayarmu?”



Aku benar\-benar tidak memiliki uang sekarang setelah perampokan dua hari lalu. Uang yang kumiliki untuk bertahan hidup kudapat dari Alex. Untuk membayar Alice, aku harus mengumpulkan terlebih dahulu.



Alice menoleh ke arahku lalu menepuk bahuku. “Murah kok, tagihannya tidak akan datang cepat\-cepat.”



Aku beringsut menjauhkan diriku darinya. Senyumannya itu benar\-benar mencurigakan. Alice terlalu ceria untuk ukuran seseorang yang selalu berurusan dengan hantu. Benar\-benar ceria dan ganjil.



“Kita kan teman,” suaranya masih terdengar riang.

__ADS_1



Hah? Teman apanya? Ini lebih aneh lagi. Melirik takut\-takut tapi senyuman itu berubah jadi tawa. Dia masuh terkekeh hingga bahunya terguncang. Benar\-benar mencurigakan. Aku masih menatapnya penuh kecurigaaan bahkan saat gadis itu berpamitan pulang.



~\*~



 Aku mengendap\-endap ke dalam kamar Alex, tempat pemuda itu tertidur. Memastikan dia tidak bergerak. Memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Suara napasnya terdengar teratur. Kelopak matanya masih saling bertaut, dia tampak lelap. Hanya saja dia terlalu lelap untuk disebut sedang tertidur. Aku tidak yakin dia akan bangun, akan tetapi Menurut Alice dia akan bangun dalam waktu dekat jadi mungkin memang aku harus menunggu.



“Terima kasih kau akan membuat Geralku kembali, siapa pun dirimu.” Jemariku  menarik selimut untuk menutupi tubuh pemuda asing itu. “Kau harus membawanya kembali, aku akan menghancurkanmu kalau kau sampai tidak melakukannya!”



Aku tidak yakin apakah dia mendengarnya atau tidak tapi aku ingin membuat garis jelas di sini. Dia bukan siapa\-siapa, hanya perantara bagiku untuk mendapatkan Geral kembali. Aku tidak peduli saat orang bilang aku posesif atau cukup gila untuk melakukan ritual pemanggilan arwah demi seorang laki\-laki.



Aku menyentuh dadaku, rasa sesak dan sakit mulai menyiksaku lagi. Rasa sakit yang sering sekali menyiksa ketika aku mengingat pemuda itu. Senyuman, tawa, perlakuan manisnya hingga tanda lahir mungil sisi kiri keningnya. Semua itu membuatku sangat merindukannya. Jujur, aku masih belum rela melepaskannya pergi secepat ini. Mataku mulai terasa basah.



“Aku tidak akan menangis, karena aku yakin kau akan kembali.”



“Enza\-”



Sebuah suara yang mendesah dan berat tiba\-tiba saja memanggil namaku. Aku seketika terdiam. Tanganku yang semula memegang ujung selimut melepaskannya begitu saja. Bulu kuduk di tengkuk tiba\-tiba berdiri seolah memberikan sinyal ada yang tidak beres di tempat ini. Hawanya terasa ganjil dan suhu ruangan ini seolah\-olah langsung turun drastis. Lamat\-lamat suara langkah kaki terdengar mendekat.



“Siapa?”



Sepi. Tidak ada sahutan. Aku menggigit bibir sementara tanganku terkepal.



“Geral?”



Aku menyentuh tengkuk berusaha meredakan ketakutan yang tiba\-tiba saja merayap mendekat. Buru\-buru menutup pintu dan berlari keluar.  Membuka semua jendela dan pintu. Terang dan silau. Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam rumah.



Hantu takut matahari bukan, makanya mereka selalu keluar di malam hari. Aku masih berdiri di depan jendela sembari menyentuh gelang di tangan. Menarik napas berat. Semoga saja semua yang kulakukan ini adalah hal yang benar.



Aku menoleh kembali melirik ke arah pintu yang tertutup.  Masih ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana. Mengurungkan niat saat bulu halus di tengkuk mulai bereaksi berlebih. Mungkin nanti malam atau besok. Ada banyak waktu tersisa hanya untuk sekedar menatap pemuda itu. Lagi pula sekarang aku harus membuka toko dan mencari uang untuk menyambung hidup.



Menjelang sore hari beberapa pelanggan datang ke toko. Sekarang aku melayani pelanggan terakhir hari ini karena sebentar lagi aku mau tutup. Seorang pria yang datang sendirian dan memesan mawar untuk istrinya–katanya. Jemariku memotong gagang bunga mawar kuning sebelum mengemas karangan bunga itu. Sesekali mencuri pandang pada pria yang kini masih menunggu dengan tidak sabar. Pria itu selalu memesan bunga setiap beberapa hari sekali. Jenis bunga yang berbeda\-beda, namun selalu kuning.



“Kuning itu cerah,” katanya saat aku menanyakan alasannya memilih bunga yang sewarna matahari.



Aku tersenyum kala itu, aku dan Geral menyukai bunga matahari. Bunga itu besar, tampak gagah dan penuh manfaat. Di mana bijinya bahkan bisa menjadi camilan yang menggoda lidah untuk terus mengunyah. Kami sering sekali pergi ke kebun bunga matahari di pinggiran kota. Hampir setiap minggu kala itu. Dia selalu meluangkan waktu di jam\-jam sibuknya.



“Ini sudah,” seruku sambil menyodorkan karangan bunga kala pria itu mendekat.



“Terima kasih,” pria itu tersenyum ramah lalu beranjak pergi setelah membayar sejumlah uang.



Mataku menatap sekeliling. Senyuman terbentuk di bibir saat mataku menemukan tangkai bunga matahari di pojok kios. Geral pasti akan segera bangun kalau ada bunga itu di sampingnya. Ngomong\-ngomong, sedang apa yang dia sekarang?



Aku ingin melihatnya sekarang, mungkin sekarang dia masih tertidur pulas. Sekalian makan siang, aku bisa melihatnya. Kerinduan ini seketika membuncah. Aku buru\-buru beranjak berdiri. Menarik empat tangkai bunga dari dalam wadah untuk kuberikan padanya.



 “Enza!”



Seseorang menyapa saat aku menutup pintu. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Tidak ada langkah yang terdengar mendekat. Aku menatap wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang. Melirik pada mata cokelatnya menyorot penuh penghakiman.



“Iya, Tante,” sahutku berusaha untuk bersikap sopan. “Mau beli bunga, Tan?”



Dia menggeleng berlahan lalu tersenyum. “Tante perhatikan kamu sendirian.”



Oh, mau bergosip.



Aku mendengus, namun masih berusaha mengumbar senyuman. Wanita semacam ini hanyalah tetangga yang senang bergosip dan mengorek luka orang lain.



 “Kau tidak pindah ke rumah ayahmu?” tanyanya langsung.



Nah. Pertanyaan yang sama lagi. Hobi sekali mengorek luka orang lain memang susah hilang.



Jemariku meremas tangkai bunga di tangan. Pertanyaan yang sama selama bertahun\-tahun ini. Bukankah dia tahu kalau aku memang tinggal sendirian dan hubunganku dengan Ayah memang selalu buruk. Aku ingin sekali menyumpal mulut tetanggaku dengan daun kering agar dia tidak sibuk mengurusi hidup orang lain. Sayang, aku tidak setega itu. Hanya cukup mengherankan, kenapa mereka tidak lelah selama ini mengulang pertanyaan yang sama?



“Tidak.”



Wanita gemuk itu menoleh sesaat ke rumahku. Mendesah berat seolah menanggung beban berat. “Tante pikir tidak akan lama rumahmu akan ramai setelah kau dan kekasihmu menikah. Siapa sangka takdir berkata lain, pacarmu bahkan meninggalkanmu.”



Ada suara kasihan dibuat\-buat dalam suaranya hingga membuatku gemas sekaligus kesal dalam satu waktu. Remasan jemariku semakin kuat hingga tangkai bunga itu terasa berair. Aku memang kesepian dan sendirian, tapi aku tidak memerlukan belas kasihan orang.



“Takdir memang kadang kejam, kamu yang sabar ya, Za.” Senyuman mengembang di bibirnya.



Sabar? Yang benar saja! Bagaimana kau bisa bersabar kalau orang\-orang macam kalian terus saja mengusik koreng orang lain?



Rasanya aku memukulnya dengan tangkai bunga sekarang juga. Namun, hanya anggukan kaku yang terbentuk. Aku memasang senyuman palsu sebelum mengucapkan permisi. Meninggalkan wanita gemuk itu di jalan. Sempat melirik sekilas sebelum aku melangkah masuk ke halaman. Dia hanya menggeleng beberapa kali dan berjalan kembali ke rumahnya. Tampaknya dia sangat berniat untuk melukai perasaan orang lain. Sengaja keluar hanya untuk mengorek luka orang lain.



Kekesalanku itu berakhir kala aku membuka pintu. Pemuda itu masih terdiam dalam tidurnya. Tampak tidak terganggu saat aku mengganti bunga Lavender di vas dengan bunga matahari.



“Geral, lihat aku memberikanmu bunga matahari. Bangunlah dan ceritakan hal yang menyenangkan,” kataku sambil membuka daun jendela, untuk sirkulasi udara di kamar itu agar tidak pengap.



Aku mendekat dan membanting pantatku di permukaan ranjang. Memposisikan diriku di tepiannya sembari menatap pemuda berambut hitam dengan tahi lalat di bawah mata itu. Tersenyum lega saat mendengar dia masih bernapas teratur. Tanganku terulur ingin sekali menyentuh wajahnya. Tidak, tidak. Wajah itu bukan milik Geral. Meski aku memandanginya selama tiga hari terakhir, wajah itu tidak ada kemiripan sama sekali dengan Geral.



“Geral, segeralah bangun!” ucapku. “Aku merindukanmu. Jangan biarkan aku sendiri.”



Mataku tidak lepas dari sosok pangeran tidur yang kini tampak terlalu larut dalam tidur panjang. Kegiatan ini buyar kala suara keras mengagetkanku. Aku berjingkat saat daun jendela di kamar itu bergerak menutup. Terbanting keras seolah angin menabraknya secara paksa. Mataku menatap ke segala arah. Seluruh bulu di tubuhku mulai berdiri tegak. Kamar ini terasa dingin tiba\-tiba hingga membuatku menggigil. Lalu suara langkah kaki itu kembali terdengar.

__ADS_1


__ADS_2