One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 10. Jiwa yang Mati


__ADS_3

Leherku rasanya kaku dan masih terkunci di tempat saat jemari Geral menyentuhnya. Nasi goreng yang lengket masih melekat di tenggorokan. Aku semakin sulit bernapas. Aku mendesah lega kala cengkeramannya mengendur. Aku terbatuk pelan. Nasi goreng pedas ini cukup membuatku tersiksa.



“Minum dulu!”



Ah! Aku salah paham.



Geral meraih gelas air putih dan mengangsurkannya padaku. Aku ragu, tapi rasa pedas di tenggorokan jauh lebih penting daripada keraguanku. Geral tersenyum lalu memposisikan dirinya di depanku. Aku tidak berani menatapnya meski aku berulang kali meyakinkan diri sendiri kalau semua ini hanya kesalahpahamanku sendiri.



“Terima kasih,” kataku sambol menaruh gelas kembali ke meja.



“Enza!”



“Ya?” aku mendongak untuk menatapnya.



Mata hitam legam yang itu menusukku tajam. “Apa kau tahu namaku?”



Jemariku mendadak tremor dan bola mataku berputar. Percikan jarum es terasa menembus tulang belakangku hingga membuatku menggigil ketakutan. Aku menahan napas. Bibirku bergetar terlalu kaku untuk memilih jawaban.



“Geral?” aku bergumam ragu.



Mataku masih melotot saat sosok itu tersenyum. “Iya, Geral siapa lagi?” dia tertawa sekarang–benar\-benar terlihat geli. “Kenapa kau terlihat bingung sih, Za?”



Aku terpaku. Masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.



Geralku tidak pernah tertawa selepas ini hanya untuk hal\-hal kecil. Matanya tertutup saat tertawa hingga membuatnya benar\-benat imut. Lesung pipitnya terlalu dalam dan suara tawanya, pemuda itu bukan Geral. Kenapa dia berubah sedrastis ini padahal kemarin dia benar\-benar membenci tubuhnya dan terlihat akan melukai dirinya sendiri kapan saja. Apakaha Alice melakukan sesuatu? Tapi, gadis itu tidak ada kemari sejak kemarin. Mana mungkin dia bisa melakukannya.



“Enza, kau dengar aku?”



"Ya...ya... kau Geral, siapa lagi," suaraku kecut lebih ke meyakinkan diriku sendiri daripada menanggapi gurauannya.



“Enza!” pemuda itu memiringkan kepalanya.



“Ya?”



“Enza!”



“Iya, Geral.”



“Aku hanya ingin memastikan kalau ini benar\-benar kau, Za.”

__ADS_1



Ah! Iya, Nama. Apa yang kupikirkan? Dia Geral. Lagi pula siapa pun pemilik tubuh itu dia tidak mengenalku. Mustahil dia tahu namaku. Ditambah lagi kata\-kata yang keluar dari bibirnya, terasa manis dan akrab. Suara itu berbeda tapi dengan rasa yang sama. Aku menatapnya lekat\-lekat. Aku memandangnya dan dia masih menggunakan baju yang sama. Kemeja putih lusuh selama beberapa hari terakhir. Aku harus memberikan baju yang layak untuknya.



“Kita keluar, yuk!”



Geral mengerutkan kening. "Ke mana?"



"Beli baju untukmu," aku berusaha mencairkan suasana. “Lusuh sekali itu!”



Dia kelihatan berpikir sejenak lalu mengangguk. “Kita pergi setelah makan?”



“Ya.”



“Kau bisa pakai baju Alex dulu untuk keluar, meski ukurannya mungkin tidak pas. Hanya sementara, kau bisa tahan, kan?”



“Baiklah,” katanya menyetujui.



Kami melewati makan pagi dengan tenang. Sesekali Geral bicara dan aku menanggapi. Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri yang belum bisa melupakan mimpi buruk semalam hingga beberapa kali mengusap leher tanpa sadar karena mendadak aku merasa tercekik.



Sekarang aku masih mematut diri di depan cermin. Sudah lewat tiga puluh menit sejak terakhir kami meninggalkan meja makan. Aku merasa sedikit senang, entah mengapa rasanya nyaris seperti kencan. Aku menarik napas pelan, frustasi kala melihat tumpukan baju berserakan di atas ranjang. Ini bukan pertama kalinya aku pergi bersama Geral tapi kenapa harus merasa seperti ini.




“Cantik!” suaranya lembut di telingaku.



Pipiku panas dan rasanya tubuhku membeku di tempat. Aku tidak mengerti kenapa aku segugup ini. Ini bukan kali pertama Geral memelukku atau memujiku. Pemuda itu membimbingku kembali ke depan cermin. Aku bisa melihat wajahnya menyembul di balik bahuku. Hidungnya nyaris menempel di leherku. Aku menahan napas saat bibirnya menekan leherku. Sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah mengangkat kepalanya. Aku menunduk. Ingin menyembunyikan wajahku yang benar\-benar memerah.



“Kau cantik dan selalu begitu!”



Aku mengangguk kaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku bahkan tidak mampu menemukan pujian lain untuk menimpali kata\-katanya.



“Kita pergi sekarang?” tanyanya.



Aku mengangguk lagi dan mendesah lega saat dia melepaskan pelukannya. Aku menyisir rambut dan membiarkannya tergerai. Meraih tas selempang lalu berjalan keluar.  Geral menyambut tanganku dalam genggaman. Aku tersenyum lagi.



Kami berjalan keluar. Matahari bersinar cerah membuat hari ini sempurna untuk pergi keluar. Geral tiba\-tiba menghentikan langkahnya tepat saat kamu sampai di halaman.



“Kenapa?”



“Silau,” dia mengucek matanya dan menutupi wajahnya dengan tangan.

__ADS_1



“Eh silau?”



“Rasanya aku seperti mau meleleh,” katanya nyaris tidak terdengar.



Mungkinkah ini karena Geral sebenarnya hantu hingga dia tidak tahan sinar matahari. Aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ini. Bodohnya.



“Lain kali saja kita pergi?”



Geral menggeleng lalu tersenyum. “Ayo!” dia menarik tanganku lagi.



Aku tidak terlalu mengerti baju pria tapi setidaknya aku tahu toko langganan Alex. Lagi pula dia pasti bisa memilih sendiri di sana. Aku tidak memiliki banyak uang apalagi sejak perampokan di rumah beberapa hari lalu. Namun. Alex meninggalkan satu kartu kredit miliknya untuk berjaga\-jaga kalau aku butuh. Jadi aku bisa menggunakan uang itu sekarang. Aku melirik Geral hanya terdiam sepanjang perjalanan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.



“Kita sampai!” kataku sambil memutar roda kemudi. Aku menghentikan mobil tepat di depan butik langganan Alex.



“Ah! Iya.”



“Kau turunlah duluan!”



“Oke.”



Setelah memarkir mobil, aku berjalan turun menghampiri Momo. Seekor anjing kepunyaan pemilik kafe tepat di sebelah butik. Mungkin aku bisa menyapanya sebelum masuk.



“Momo!”



Anjing hitam berbulu tebal itu menyalak riang. Aku berjongkok dan mengelus telinga anjing itu. Sedetik kemudian, anjing itu menggonggong. Aku tersenyum menyambut Geral yang kini berdiri di sampingku. Pemuda itu juga tampak gembira dan mengulurkan tangannya hendak menyentuh Momo. Anjing itu tiba\-tiba menyalak ganas dan menggeram. Matanya menatap Geral seolah melihat hantu. Senyuman hilang dari wajah Geral saat anjing terus menyalak.



“Oh, Momo apa yang kamu lakukan?” pemilik kafe berjalan keluar. “Maafkan Momo ya!”



“Tidak apa\-apa,” tentu saja aku merasa tidak enak.



Aku meraih tangan Geral yang masih terpaku di tempatnya. “Kita masuk!”



Cowok itu mengangguk kaku tapi Momo terus saja menyalak. Geral masih belum melepaskan matanya dari anjing itu. Sekilas aku melihat mata anjing itu terus mengikuti Geral. Anjing itu masih menggeram dan menggonggong. Mungkinkah anjing itu tahu kalau pemilik tubuh ini sudah meninggal?



“Enza, Ayo!”



“Ah, iya.”


__ADS_1


Aku berjalan masuk ke dalam butik bersama Geral dan mencoba melupakan perasaan aneh yang mendadak hinggap begitu saja. Semua itu mungkin hanya perasaanku saja.


__ADS_2