
Hari telah berganti saat aku memarkir mobil di depan kios peramal aneh—bernama Alice—yang kutemui beberapa hari lalu. Tempat yang juga gagal kudatangi kemarin. Kios itu belum terbuka. Aku melirik bayanganku di kaca lalu menarik napas pelan, sepertinya aku pergi keluar pagi ini dengan tergesa. Wajahku terlihat pucat dan berantakan. Selain itu, jalanan di tempat ini masih sepi.
Awalnya aku tidak mau datang ke tempat ini. Hanya saja, mimpi itu datang lagi. Padahal kupikir tidur di hotel akan membuat suasana mimpiku jadi lebih baik. Anehnya, Geral kembali datang di dalam mimpi. Dia meminta pertolongan padaku semalam. Mungkin dia memang tidak bahagia di sana. Entah mengapa, aku merasa harus datang ke tempat ini. Selain soal mimpi buruk yang terus menerus datang, kurasa karena hari ini adalah peringatan tujuh hari kematian Geral, hari terakhir untuk memanggilnya kembali.
Jemariku meraih ponsel di dalam tas. Menarik napas kecewa saat tidak ada satu pun panggilan atau pesan baru masuk. Memangnya apa yang kuharapkan, selain Alex yang semalam mengirimkan pesan bertanya apakah aku baik\-baik saja setelah dia pulang. Selebihnya tidak ada pesan masuk dari orang lain bahkan dari ayahku sekali pun. Aku kembali menjejalkan ponsel itu ke dalam tas.
Ketukan demi ketukan jariku di atas roda kemudi membuat pikiranku mulai melayang\-layang. Ingatanku terbang kembali ke masa lalu. Saat mereka meninggalkanku satu persatu sejak tragedi belasan tahun silam. Ayah bahkan tidak ingin menatap wajahku. Wajah pembunuh katanya. Tidak ada sanak famili yang menginginkan keberadaanku. Sedangkan teman, aku sudah pernah bilang kala aku tidak punya hal semacam itu. Sendirian dan terasing, itulah yang kujalani. Selama ini teman, sahabat dan kekasihku hanya Geral seorang. Geral saja sudah cukup. Pemuda itu yang selalu ada di sampingku setiap waktu dan dia tidak pernah pergi, tidak memandangku dengan sinis atau menghakimi.
Malam pertama setelah kepergian Geral, aku hanya meringkuk sendirian di ranjang. Aku mencoba menghubungi Alex, tetapi katanya kakak lelakiku itu sedang makan malam bersama ayah. Aku menelan ludah kala sunyi mulai memenuhi setiap sudut rumah hingga bulu kudukku kembali bergidik. Mataku nanar menatap ke segala arah setiap kali mendengar suara. Lamat\-lamat derit jendela mulai terdengar. Suara langkah kaki mulai menapak di lantai. Aku menutup telinga dengan kedua tangan. Menekuk kaki hingga pahaku nyaris menyentuh perut. Suara\-suara mendesis dan saling berbisik mulai terdengar. Aku menurunkan kaki dan memelesat keluar, dengan hanya memakai kaos saja.
Malam itu, aku kembali ke rumah besar itu. Kedatanganku yang tiba\-tiba terdorong ketakutan hanya untuk menelan kenyataan pahit. Pintu memang terbuka. Menampilkan wajah persegi Ayah dan bibirnya yang berkedut. Namun, tidak ada keramahan di sana.
“Mau apa kau kemari?”
“Aku—”
Ya, aku gagal menemukan alasan kedatanganku. Di hadapan pria ini aku benar\-benar mendadak berubah bodoh.
“Pulanglah ke rumahmu!” katanya tegas, ekspresi wajahnya tidak terbaca.
Aku menunduk. Menautkan jemari di depan tubuh. “Bolehkah aku ketemu Kak Alex?”
“Alex di luar kota.”
Luar kota katanya. Pria ini benar\-benar pembohong besar. Aku tahu kalau Alex ada di dalam. Dia tidak keluar karena tidak tahu kalau aku datang.
“Ayah, kali ini saja. Bolehkah—” suaraku tersendat.
“Tidak boleh,” potongnya cepat.
“Aku belum mengatakan apa pun,” protesku.
“Aku tidak berniat mengabulkan keinginanmu, apa pun itu. Jadi tidak perlu repot\-repot mengatakan permintaan,” sahutnya ketus.
“Bukankah Ayah keluargaku, keluarga harus saling menolong, aku lagi butub bantuan sekarang, Yah.” Suaraku meninggi nyaris menjerit.
“Kita bukan keluarga.”
Mataku membola sekarang. Bisa\-bisa dia mengatakan kalau kami bukan keluarga. “Sampai kapan Ayah mau seperti ini?”
“Selamanya. Kuperjelas sekali lagi, Za. Aku tidak pernah punya keluarga seorang pembunuh.” Iris gelapnya menatap dingin.
“Aku tidak membunuh. Kali ini saja, kumohon.” Jemariku menyentuh lengannya dan mencoba untuk memohon belas kasihan.
“Sejak awal aku tidak menyukaimu. Pulanglah!” Pria itu mengibaskan lengannya.
“Ayah—”
“Sekarang kau membawa kematian juga pada Geral. Sebelum kau menghabisi Alex, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!”
“Ayah.”
Aku bukan pembunuh. Semua itu kecelakaan, Geral juga meninggal karena kecelakaan. Aku tidak membawa kematian pada siapa pun, aku hanya manusia. Lenganku terjatuh di kedua sisi tubuh. Air mata mulai menetes satu demi satu menjatuhi pipi. Pria itu dengan dingin meraih kenop pintu.
“Jangan pernah datang kemari lagi!”
“Haruskah Ayah sejahat ini?”
“Meski kau bilang aku jahat, setidaknya aku memberikanmu rumah untuk tinggal dan tidak langsung melemparmu ke jalanan,” ketusnya.
Aku sama sekali tidak menemukan satu pun kalimat untuk membantah karena aku tahu semua yang dikatakannya benar. Dia sudah cukup berbaik hati memberikanku rumah dan tidak membuangku ke jalanan. Aku menggigit bibir bawah menahan kekesalan yang mendadak muncul. Meskipun aku mencoba bertahan, pada akhirnya pertahananku tetap saja jebol. Tangisanku runtuh kembali malam itu. Ayah selalu memperlakukanku seperti ini, sejak kecelakaan itu. Ah, tidak bahkan sejak awal sekali aku datang dia sudah tidak menyukaiku. Dia memang mengurusku setelah kecelakaan belasan tahun silam, akan tetapi begitu aku cukup dewasa, Ayah dan Alex meninggalkan rumah untuk berpindah ke rumah lain. Ya, rumah yang kutinggali adalah rumah lama kami. Rumah yang isinya penuh darah, air mata juga pengasingan.
Aku tersentak saat pintu rumah itu bergerak menutup. Suara itu terdengar begitu nyata hingga aku kembali ada kenyataan. Semua bayangan itu menghilang, akan tetapi kenangan pahit itu masih segar di dalam ingatan. Bergelayut manja layaknya anak balita pada ibunya. Jadi aku bisa paham alasan Alex tidak membawaku ke rumah dan membuatku menginap di hotel, mungkin pria itu masih tidak ingin menginjakkan kaki di rumah itu. Aku menarik napas dan mengerjap, mencoba untuk kembali pada kenyataan agar tetap waras.
Mataku melirik arloji di tangan. Masih harus sabar menunggu sampai beberapa jam ke depan. Waktu bergerak lambat sekali. Dari tadi masih jam empat pagi saja. Kios ramalan itu mungkin mulai beroperasi agak siang. Aku menyandarkan punggung ke belakang, mencoba memejamkan mata. Mungkin menunggu sambil tidur sebentar bukan ide buruk.
Mataku belum sepenuhnya terpejam saat aku mendengar ketukan di kaca mobilku. Jantungku berdebar kencang saat membuka kaca mobil. Mungkin aku akan diseret petugas satpol\-pp karena parkir sembarangan. Setidaknya pikiran liar itu berkembang di kepalaku saat aku pertama kali mendengar suara ketukan. Akan tetapi, sosok yang berdiri di samping mobilku adalah seorang gadis muda berpotongan bob dengan tindik di hidung. Seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Madam Alice kemarin. Aku membuka pintu mobilku kala gadis itu bergerak mundur.
“Niat banget mencariku dini hari begini?” sindirnya.
Aku berdehem pelan. “Aku tidak mencarimu, aku hanya ketiduran.”
Aku beralasan sambil membuang muka, tidak akan mengakuinya semudah ini. Sejujurnya aku punya dugaan kalau aku mengaku dengan mudah maka dia akan memperlakukanku seenaknya.
“Baiklah, lanjutkan saja tidurmu!” Gadis itu berkacak pinggang tak mengacuhkanku.
“Eh, tung—tunggu!” Aku menelan ludah lalu mencoba mengatur napas. “Aku—”
“Kau ingin memanggil pacarmu kembali, bukan?” tanyanya sambil menatapku penuh selidik.
Aku memutar bola mata sementara leherku yang kaku kupaksa untuk mengangguk. Pada akhirnya aku benar\-benar mengaku.
“Tapi, itu tidak mudah dan perlu pengorbanan besar. Apa kau sanggup?”
__ADS_1
Mendengar kalimat itu mendadak membuatku bimbang. Apakah yang kulakukan ini sudah benar? Apa mungkin Geral bisa dipanggil kembali ke dunia ini sementara aku tahu pasti tubuh pemuda itu telah terkubur di tanah beberapa hari lalu? Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan itu kecuali memang ada manusia yang mengikat perjanjian dengan iblis?
“Bingo!” tiba\-tiba gadis itu berteriak.
“Huh?”
“Kau sedang mengikat perjanjian dengan iblis tentu saja.”
Aku memiringkan kepala dan menatapnya. Bagaimana bisa dia tahu?
“Kau bisa membaca pikiranku?” tanyaku akhirnya.
Gadis itu tersenyum. “Sedikit.”
“Tidak sopan!” ketusku.
“Aku memang tidak saling kenal dengan kesopanan,” sahut gadis itu terdengar asal\-asalan. “Tenang saja, aku enggak ada niat sama sekali untuk membaca semua hal buruk dan keinginan untuk bersekutu dengan iblis yang kini berputar dalam kepalamu.”
Aku mendengus. “Aku juga tahu kalau malaikat jelas tidak ada di pihakku saat ini, tapi tidak harus iblis juga.”
“Lalu kau bersekutu dengan siapa? Sesama manusia? Kurasa bukan. Sayang sekali,” katanya seperti sedang memberikan simpati yang tidak kuminta.
“Bukankah kau manusia!” ucapku tidak mau kalah.
“Iya, tapi aku beda level dengan seseorang yang belum sadar diri sampai sekarang. Ngomong\-ngomong kau lumayan bodoh, ya!” katanya sambil memutar jari telunjuk di dekat pelipisnya—seolah\-olah ingin mengisyaratkan kalau kapasitas otakku sangat minimum.
“Madam!” ucapku setengah berteriak.
Alice. Hanya Alice!” Kali ini mimik mukanya terlihat serius. Tindik hidungnya tampak bergerak saat hidung mancung itu kembang kempis.
“Alice?”
“Nah, sekarang masih cukup pagi untuk berkutat dengan kebingungan. Aku jelas tidak ingin kau buru\-buru, masih ada banyak waktu smapai tengah malam nanti. Tapi, kalau kamu kelamaan bingungnya maka busshh...dia hilang ke sana.” Alice mengerucutkan bibir sambil menuding ke arah langit, jemarinya membentuk tanda senapan.
“Memangnya enggak masalah kalau kau ngomong keras\-keras di luar sini?”
“Enggak ada orang yang reseh di pagi hari,” sahutnya santai.
Ah, benar juga. Jalanan ini masih sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat, toko\-toko bahkan belum mulai beroperasi. Dunia ini rasanya mendadak kosong dan hening.
“Sudah selesai cek situasinya? Jadi gimana?” Alice menjentikan jarinya di depan wajahku.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Masuklah!”
Meski tidak menggulirkan satu pun senyuman, akan tetapi nada suaranya tiba\-tiba berubah ramah. Perubahan sikapnya cukup aneh, akan tetapi aku tidak mau memikirkannya. Dia memang sudah aneh dari sananya.
Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Tidak tahu sama sekali kegelapan apa yang menantiku. Tidak ragu lagi untuk melangkahkan kakiku ke dalam karena tekadku telah bulat. Tidak ada jalan kembali bukan. Aku juga tidak bisa berbalik lagi. Mungkin jalan satu\-satunya adalah menghidupkan kekasihku kembali.
Bayangan Geral kembali memenuhi benakku. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi. Siapa orang \*\*\*\*\* yang menyeberang tanpa melihat adanya mobil datang? Kalau saja orang itu tidak menyeberang jalan malam itu maka mobil Geral tidak akan masuk ke jurang. Geral juga masih akan berasa ada saat ini. Aku marah pada orang itu siapa pun dia. Rasanya ingin melemparkannya ke jurang terdekat. Namun, menyalahkan orang itu tidak akan membuat Geralku kembali.
Namun, suara\-suara yang kudengar. Aroma parfum kesukaan Geral yang sering mengambang di udara. Tawa pelan pemuda yang kadang terdengar. Langkah kaki di rumah hingga benda yang bergeser sendiri. Semua itu seolah belum cukup, dia bahkan muncul dalam mimpi yang terus berulang seolah\-olah ingin mengisyaratkan kalau dia memang perlu pertolongan. Dia seperti memberikanku kode kalau dia ingin aku memanggilnya kembali karena Geral belum sepenuhnya pergi dari dunia ini.
Selain itu, aku muak dengan kesendirian ini hingga menginginkan Geral kembali untuk menambal kekosongan itu. Aku hanya berharap satu dari sekian juta orang yang meninggal itu kembali ke dunia. Tidak peduli apakah itu aku melanggar takdir Tuhan atau menggolongkanku sebagai pemuja setan. Tanganku terkepal, aku tidak punya siapa pun. Itu sah–sah saja, bukan?
Alice membawaku masuk ke dalam ruko miliknya. Setelah menutup pintu, kami berjalan memasuki celah sempit yang diapit tembok serta tirai. Bau pengap bercampur lembab menyeruak. Aku nyaris menabrak kardus lalu tempat sampah yang hanya tampak seperti gundukan hitam dalam kegelapan. Desahan lega terlepas keluar begitu saja kala kami sampai di ruangan yang agak terang.
“Duduklah!” katanya sambil menunjuk salah satu kursi yang mengapit meja kotak di ruangan kami.
Alice bergerak masuk ke ruangan lain sementara aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Sebenarnya seberapa luas ruko ini? Ada berapa banyak ruangan? Ataukah ruko ini adalah rumah memanjang yang berkamuflase menjadi ruko di bagian depan.
Aku berdeham untuk menutupi gelagat bahwa aku mengamati tempat ini. Alice menarik kursi di depanku dengan kotak di tangan. Dia menyodorkan sebuah kotak sesaat setelah dia duduk. Mataku menatap kotak itu berukir indah dengan daun\-daun emas dan buah\-buah merah menonjol di tutupnya.
“Apa ini?”
“Bukalah!” katanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan.
Aku meraih kotak itu dan membukanya. Seketika aku terpaku saat melihat isinya. Kalung perak mungil dan gelang warna senada yang ada di dalamnya. Sebenarnya bukan kalung tapi lebih mirip chocker untuk kalung anjing. Gelangnya terbuat dari rantai tipis dengan bandul mungil di beberapa sisi.
“Perhiasan?” Aku mulai penasaran sambil menyentuh benda itu.
“Bisa dibilang begitu. Tapi, itu perlengkapan pemanggil jiwa.” Suara Alice terdengar seram saat bercampur dengan suara gerakan jarum jam yang mengisi ruangan gelap. Apalagi kelembapan ruangan yang aku yakin di atas rata\-rata menambah kesan ganjil. Sial! bulu kudukku mulai meremang.
“Pemanggil jiwa?”
“Iya. Kalung dan gelang itu untukmu.”
“Kalau begitu kenapa kau berikan ini padaku? Bukankah kau yang memanggil?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Jangan bodoh, Geral itu kekasihmu. Jadi tidak ada urusannya denganku.” Alice terkekeh pelan.
“Tapi bukankah kau membantu?”
“Benar, tapi aku bukan perantara jiwa jadi aku tidak bisa memanggilnya—”
“Ta—tapi aku bisa?” potongku cepat.
Alice mengangguk membenarkan. “Iya, Kau bisa memanggil Geral karena kaulah perantara jiwa itu. Karena kau belum tahu caranya maka pakai gelang untuk membantu.”
“Apa ini berbahaya?”
“Kecuali kau memanggil jiwa\-jiwa lain maka seharusnya tidak berbahaya.”
Aku mengangguk. Jawaban Alice sedikit membuatku lebih tenang. “Lalu kalung ini fungsinya buat apa?”
“Kalung itu digunakan memang harus memakainya untuk mengunci jiwa mendiang pacarmu di dunia ini.” ujung jari telunjuknya tepat berada di dekat bandul gelang.
“Mengunci?”
“Iya. Jiwanya harus dikunci di kalung ini agar dia tidak pergi. Kalung ini hanya media saja.”
“Kenapa harus dikunci?”
Alice menarik napas. “Kau tahu, jiwa seseorang yang meninggal akan terus berada di dunia ini selama seribu hari. Dalam kurun waktu itu, seseorang bisa memanggilnya atau bahkan jiwa itu bisa merasuki manusia lain. Karena ini baru tujuh hari setelah kematiannya maka bisa kupastikan kalau kekasihmu itu masih terus ada di sekitarmu sekarang.”
“Itu mitos?”
“Kau mau bukti?” Alice terkekeh.
“Apa buktinya?”
“Setelah kematiannya, kau mulai memimpikannya, kan? Belum cukup sampai di situ, kau juga mendengar suara aneh yang sebelumnya tidak pernah ada, bukan?”
“Apa maksudmu?” Jemariku mulai meremas paha.
“Ya, seperti langkah kaki di tengah malam, bau parfum yang sering dia gunakan atau mungkin aroma masakan kesukaan dia.”
Aku terhenyak. Dia tahu kalau semua itu terjadi padaku. Mungkinkah Geral menjelma menjadi hantu di sekitarku? Selama ini mungkin aku di kelilingi makhluk gaib. Tiba\-tiba aku bergidik. Bulu kuduk semakin meremang berdiri, mengirimkan gelenyar kengerian yang seketika menciutkan nyaliku. Kenyataan bahwa Geral masih ada di dunia setidaknya membuatku nyaman alih\-alih takut. Namun, adanya hantu tetap membuatku ngeri.
“Bukan hantu.” Alice seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Lalu?”
“Perasaan dan cintanya masih tertinggal untukmu, semua itu mengikat jiwanya di dunia. Oleh sebab itu, kau sering merasakan kehadirannya dan seolah dia masih dekat.”
“Benarkah?”
“Kau bisa buktikan nanti,” ujarnya penuh percaya diri. “Atau sekarang juga bisa.”
Aku menoleh ke segala arah. Tiba\-tiba saja ketakutan menyergap. Mungkinkah Geral atau hantu lain masih ada sini. Entah angin apa yang merasukiku saat ini. Aku yang penakut tiba\-tiba tertarik melakukan ritual pemanggilan arwah. Aku menyentuh leher, rasa dingin yang aneh mulai menyergap.
“Dasar bodoh! Tidak ada hantu di sini.” Lagi\-lagi Alice seolah membaca pikiranku.
“Baiklah.” Aku menelan ludah mencoba untuk memfokuskan diri pada tujuan awal kedatanganku. “Lalu apa yang harus kulakukan pertama kali untuk ritual itu?”
“Pakai ini!” Alice menyodorkan gelang perak itu kepadaku.
“Tunggu!”
“Apalagi?” tanya Alice terdengar tidak sabar.
“Apakah kau pernah melakukan ini sebelumnya?”
“Maksudmu?” Alice mengangkat kedua alisnya.
“Maksudku ap—apakah kau pernah membantu orang lain untuk memanggil jiwa?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa takut yang muncul.
“Tentu.”
“Ada buktinya?”
“Kau ragu, huh?” Alice menyeringai.
Tentu saja, aku ragu. Bagaimana aku yakin pada keputusan aneh untuk memanggil arwah kembali ke dunia. Semua itu terdengar tidak masuk akal.
“Berikan aku bukti, baru aku percaya,” ucapku dengan suara gemetar.
“Bukti ya? Tentu.” Alice kali ini menyeringai. Aku menelan ludah, bukti macam apa yang akan ditunjukan olehnya. Namun, wajah itu penuh keyakinan yang meletup penuh percaya diri.
“Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri,” ungkapku jujur.
__ADS_1