
Aku mengerjap dan mengusap mata untuk meyakinkan kalau penglihatanku tidak salah. Namun, sosok itu benar\-benar Geral. Dia kini masih melambaikan tangan di ujung koridor. Jantungku bedebar kencang hingga rasanya akan terlepas dari engselnya. Kalau diperhatikan ekspresi yang menempel di wajah Geral terlihat sedih.
“Enza!”
Aku terhenyak, suara Geral kembali terdengar memanggil namaku. Tidak perlu meyakinkan salah lihat atau tidak karena aku melihat bibir pemuda itu bergerak. Jelas saja dia yang berbicara dan bukan orang lain.
“Enza!”
Pelan\-pelan suaranya semakin lirih. Pemuda juga rasanya bergerak makin menjauh–entah ini hanya perasaanku saja atau memang sebenarnya kejadiannya begitu.
“Geral, jangan pergi!” gumamku sambil beranjak berdiri dari kursi.
Aku ingin mendekati Geral. Sekarang aku bahkan tidak berani berkedip karena takut dia akan lenyap kalau aku lengah sebentar saja.
“Awas, Mbak!”
Suara itu membuatku tersentak. Aku buru\-buru berjalan mundur. Suara itu berasal dari asisten perawat yang kini mendorong emergency bed. Benda itu nyaris membuatku terjungkal karena lewat begitu saja di depanku. Saat aku hendak meminta maaf, mereka sudah berjalan cukup jauh.
“Enza, kau tidak apa\-apa?” Alex menarik tubuhku mendekat. Entah sejak kapan pemuda itu ada di sana.
Aku menoleh lalu menggelengkan, sekedar untuk memberikan tanda kalau aku baik\-baik saja. Saat kembali menoleh ke lokasi yang terakhir kutatap, Geral sudah menghilang. Oh, tidak, tidak, tidak, ini buruk.
“Lepaskan aku, Kak!” kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Alex.
“Enza, tenanglah!”
Tenang? Tenang apanya? Bagaimana aku bisa tenang kalau Geral mendadak menghilang?
“Aku harus pergi.”
“Pergi ke mana?”
Aku menatap wajah Alex, memohon. Menahan kepergian Geral, meski aku tahu itu sia\-sia. Alex menggeleng pelan lalu mempererat pelukannya. Menarikku kembali duduk di kusri ruang tunggu.
“Dia bisa saja meninggal,” aku menjelaskan.
“Siapa?”
“Rael. Rael meninggal.”
Alex mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Aku melihat jiwanya di sana,” aku menoleh dan menunjuk ujung koridor. Sedikit berbohong kalau yang kulihat sebenarnya adalah Geral. Aku hanya perlu memastikan kalau sosok yang kulihat adalah Geral, untuk itu Alex harus melepaskanku.
“Hantu?”
“Bukan!” kataku nyaris memekik.
“Enza, dengarkan Kakak!”
Alex meraih daguku dan kami bersitatap dalam jarak dekat. Aku menelan ludah lalu menghela napas. Rasanya juga percuma kalau harus menjelaskan pada Alex yang sama sekali tidak percaya adanya dunia transendenta. Tentu saja, aku tidak cukup bodoh untuk melakukan hal sia\-sia itu.
“Aku tahu, hantu tidak ada,” kataku akhinya.
“Bagus. Hantu itu tidak ada,” sambarnya cepat sambil menepuk pipiku. Dia benar\-benar terlihat lega seolah\-olah aku setuju dengannya soal hantu itu bisa membuat bahagia.
__ADS_1
“Lalu Rael, apakah dia sudah meninggal?”
Alex menggeleng. “Dia belum meninggal.”
“Benarkah?”
“Setidaknya belum untuk saat ini. Tapi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjad, ditambah lagi dia memang kehilangan banyak darah.”
“Terus bagaimana?” kali ini tangisanku mengancam untuk pecah lagi.
“Semoga tidak apa\-apa. Tadi, aku baru saja mendonorkan darah untuknya,” Alex menarik lengan kemejanya dan perban kecil terlihat di sana.
“Semoga dia baik\-baik–”
Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku yang berisi harapan itu. Napasku tercekat saat menyadari satu hal. Kalau Rael masih hidup, kalau begitu kenapa jiwa Geral keluar? Apakah dia sempat mengalami cardiac arrest hingga membuat jiwa Geral terlontar keluar? Ataukah Rael sudah kembali untuk mengambil alih tubuhnya?
“Sudah kubilang, jangan gigiti kukumu!”
Suara Alex membuatku tersentak. Aku menoleh padanya yang pelan\-pelan menurunkan tanganku dari permukaan bibir. Mungkin tadi tanpa sadar aku mengangkat jari dan mulai menggigiti ujung kuku saat memikirkan soal Geral dan Rael.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alex lagi.
“Di mana Rael?”
“Huh?”
“Rael, di mana dia? Jawab aku, Kak!” kali ini aku menaikkan nada suaraku dan sengaja menambahkan penekanan agar dia paham kalau aku butuh jawaban segera.
“Apa dia masih belum sadar?”
“Sejauh ini belum. Dia terluka di kepala jadi mungkin akan makan waktu untuk sadar.”
“Dia tidak operasi di bagian lain?” tanyaku lagi.
“Sekarang belum, tapi entah kalau nanti.”
Benar dia terluka di kepala. Rasa takut, cemas, lega bercampur menjadi satu hingga membuatku sulit bernapas. Satu hal yang bisa kupastikan kalau Rael masih di ruang ICU, mustahil dia melepaskan kalung itu kecuali dia harus dioperasi hingga semua pakaiannya digunting. Sedangkan tadi Alex mengatakan kalau Rael baru menjalani perawatan di kepala, belum di bagian lain. Setidaknya itu menegaskan kalau pemuda itu tidak mungkin melepaskan diri dari tubuhnya sendiri. Akan tetapi, kenapa jiwa Geral ada di luar?
Sebentar, ada yang aneh di bagian ini. Aku harus berpikir jernih. Berharap dengan begitu bisa melupakan semua ketakutan yang sering sekali datang. Aku berjengit kala tanganku seperti tersentrum listrik. Namun, aku tidak menemukan apa pun yang bisa membuat tersengat kecuali satu benda. Meski begitu rasanya tidak mungkin. Berbekal keraguan, aku meraba benda itu. Aku tercekat kala merasakan permukaan gelang itu memanas.
“Pertanda apa ini?”
“Apa Za?” Alex langsung menimpali.
“Ah! Bukan apa\-apa, Kak,” kilahku berbohong sambil mengibaskan tangan. Berharap dia langsung percaya dengan apa yang kuucapkan tanpa alasan sama sekali.
“Kupikir kamu lagi memikirkan soal bulan.”
“Bulan?” aku membeo sekarang. Kenapa mendadak bulan sih?
“Sekarang kan bulan purnama, biasanya kamu bahas hal\-hal mistis soal purnama dan hantu!” katanya sambil menunjuk ke arah jendela.
Aku mengikuti arah pandangan mata Alex untuk menatap ke arah jendela di ujung seberang koridor. Bulan purnama menggantung santai di langit malam. Bola mataku berputar lalu secepatnya menghitung. Sialnya hi
__ADS_1
Malam bukan keseratus, kan?
Atau iya?
Aku mengigit bibir lebih keras kali ini. Leherku sekarang mendadak mulai memanas kala ujung jariku menyentuhnya. Aku mengernyit kala leherku perih, rasanya seperti disayat. Aku terhenyak kala mengusapkan ujung jari telunjuk di atas permukaan leher yang, Rasa\-rasanya terbentuk luka baru. Mungkin luka ini lebih panjang dan menyambung dengan bekas hitam yang terbentuk sebelumnya. Namun, aku sendiri tidak yakin.
“Enza?”
“Ya?” sahutku secepat kilat sambil menutupi luka di leherku dengan tangan. “Apa kau sakit?”
“Huh?”
“Kau terlihat pucat. Apa kita pulang saja sekarang?”
Alex tidak boleh tahu soal aku harus bersama Rael sekarang, ini malam keseratus dan aku harus memilih. Kalau tidak maka Geral akan pergi. Oh, bodohnya aku. Aku terlambat sada kalau tujuan Geral menampakkan diri di koridor bukan untuk berpamitan atau mengatakan kalau Rael meninggal. Akan tetapi, dia menunjukkan kalau malam ini dia memang harus keluar dari tubuh itu. Karena malam ini adalah malam permilihan jiwa. Aku harus memanggilnya kembali Geral dan memasukkannya ke dalam jasad Rael. Kalau tidak jiwa Geral akan melayang di dunia sampai nanti hari ke\-seribu.
“Aku mau lihat Rael,” kataku sambil berdiri.
“Kau yakin?” Alex kali ini menyentuh lenganku.
“Kakak pulang saja!”
“Tidak.”
“Aku butuh baju ganti, Kak. Bisakan tolong ambilkan?” kali ini aku mencoba mengusirnya dengan cara paling halus dan paling masuk akal.
“Bukankah lebih baik pulang saja dulu?” katanya bersikeras.
Aku menggeleng. “Aku ingin bersama Rael. Tidak, aku harus bersamanya karena kecelakaan ini terjadi saat dia bersamaku.”
“Kau yakin bisa baik\-baik saja tanpaku?” tukasnya lagi terdengar benar\-benar khawatir.
“Kakak, tenang saja. Badanku bau, aku mau mandi terus ganti,” kataku lagi sambil mengangkat lengan lalu mencium ketiak.
Aku menatap mata kakakku, mengharap persetujuan dan pengertian. Dia menarik napas berat lalu melepaskan cengkeramannya.
“Oke. Jangan ke mana\-mana, ya!” Alex berpesan.
“Aku janji.”
Alex pegi tidak lama setelahnya. Dilihat dari langkah kakinya, dia benar\-benar terburu\-buru. Setelah pemuda itu menghilan di ujung koridor, aku langsung memelesat menuju ruangan tempat Rael berada. Kakiku berhenti di depan ruangan. Jendela kaca membatasi ruangan itu dengan dunia luar. Mataku terpaku menatap ke dalam ruangan. Jantungku mulai berdegup kencang memukul\-mukul dada kala melihat sosok yang kukenal kini terbaring di ranjang dan bergulung dengan kabel\-kabel yang tersambung dengan peralatan di dekat ranjangnya. Namun, bukan hanya seonggok jasad tidak sadar yang menarik perhatianku. Aku terpaku pada jendela kamar itu dan sosok yang berdiri di sana.
“Geral!” panggilku pelan sambil menyentuh permukaan jendela.
Jiwa pemuda itu kini berdiri di dekat birai jendela. Dia tersenyum ke arahku, akan tetapi senyuman itu terlihat benar\-benar sedih seolah\-olah ada tali tidak terlihat yang menariknya dengan paksa. Namun, sosok yang ada di sebelahnya benar\-benar mengangguku. Aku kini benar\-benar beralih untuk memandangi sosok lain yang berdiri di samping Geral. Wajah itu sama dengan wajah pemuda yang kini terpejam di atas ranjang dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya. Dia menatapku tajam, menghujani dengan perasaan bersalah. Gelang di tanganku kembali berdenyut. Aku menarik napas pelan.
“Enza!” suara Geral terdengar akrab di telinga.
“Enza.”
Suara lain menyahut, terdengar sedih dan penuh beban. Aku terhenyak, menatap pemuda berambut hitam yang kini tiba\-tiba saja telah berada tepat di depan wajahku. Dia benar\-benar transparan dan–jujur saja–terlihat mengerikan.
“Rael?”
__ADS_1
Aku mengusap tengkuk yang mendadak terasa dingin. Jantungku hampir saja copot kala melihat dua buah lengan transparan terjulur melewati bahuku lalu sampai ke dada. Aku menoleh untuk menatapnya. Dia tersenyum, semanis biasa. Geral ini kini mendadak ada di belakangku, bagaimana bisa?