
Alex menepuk kepalaku dengan pelan, setelah itu dia juga mengecup ringan keningku. Aku diam saja dan memilih untuk menerima, toh semua itu tidak berarti apa\-apa. Hanya kebiasaan lama yang sulit dilepaskan.
“Berhati\-hatilah!” katanya sambil melepaskan pelukan.
“Kakak juga!”
“Kamu mengusirku?” tanyanya sambik mengangkat satu alis.
“Kak Alex mau bekerja, aku juga sama,” ketusku sengaja menegaskan akan lebih baik kalau dia segera angkat kaki.
“Iya, iya, aku pergi,” katanya sambil terkekeh pelan. “Tidak usah mengantarkanku!”
“Iya.”
Aku tidak mengantarkannya keluar, Alex tidak suka juga diperlakukan seperti tamu begitu. Tidak lama setelah pemuda itu berjalan keluar, suara mesin mobil menderu cukup kencang membuat kepalaku berdenyut sakit. Aku kembali duduk di sofa dan menutupi telinga kala mesin mobil Alex terdengar lebih keras. Suaranya sungguh menganggu. Jemariku meremas kepala, bayangan demi bayangan muncul di pelupuk mata.
Aku melihatnya malam itu. Matanya tidak berkedip menatapku. Darah mengalir deras menuruni matanya. Membentuk suatu adegan horor mengerikan. Bibirnya membulat. Anak laki\-laki yang berlumuran darah di pinggiran trotoar kini terbalik. Darah terasa mengalir deras ke dalam kepala. Semuanya oleng dan terbalik. Sabuk pengaman menyangga tubuhku. Aku menoleh, kepala Ibu terkulai lemah. Aku kembali menatap anak lelaki itu, dia masih memandangku.
Pekikan tertahan keluar dari mulutku. Aku meremas rambut lebih keras. Seperti ada paku\-paku kecil yang menancap di dalam tempurung kepalaku dan menimbulkan nyeri yang menjalar. Rasanya kepalaku bisa terbelah kapan saja. Aku menggertakan gigi hingga sesuatu yang asin tercecap di dalam mulutku.
“Pembunuh!” mulut bocah kecil di atas trotoar itu membentuk kata itu tanpa berucap.
“Bukan!” aku menggeleng pelan.
“Pembunuh!”
“Hentikan!” jeritku berusaha menghentikan pusaran bayangan menakutkan itu.
Jeritan lain melengking keluar dari tenggorokanku. Aku ingin anak kecil itu segera menghilang. Tidak masalah kalau semuanya ikut lenyap asalkan aku bisa sendirian. Mataku terpaku pada gelas di meja. Benda mungkin itu bisa \*\*\*\*\*\*\* sosok anak itu.Tanganku terulur meraih gelas.
“Tidak, Enza!”
Seseorang menarik gelas itu menjauh. Mataku berputar, aku menoleh ke arah lain. Tidak harus gelas, bisa benda lain. Aku harus melenyapkan anak kecil itu. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya lagi.
“Enza, aku mohon!”
__ADS_1
“Anak kecil itu! Anak itu bilang aku pembunuh!” kataku sambil menunjuk bocah yang kini terbaring tidak jauh dari tempatku. Matanya gelapnya ini menatapku tanpa berkedip.
“Itu tidak benar!”
Seseorang menangkup pipiku. Membuat mataku kini menatap manik hitam pekat miliknya. Aku menatap mata anak kecil itu lalu berbalik menatap pemuda yang kini ada di depanku. Manik hitam itu sama. Benar\-benar persis sama.
“Pergi!” pekikku keras dengan telapak tangan kembali ke telinga.
“Enza ini aku! Ini aku!” katanya terdengar panik.
“Jangan sentuh aku!”
“Tidak bisa, kau harus tenang!” katanya sambil memaksa tubuhku mendekat.
Aku masih memberontak kala kusadari aroma tubuhnya tidak asing. Aku ingat aroma tubuhnya kadang hilang, kadang muncul, akan tetapi aku menyukainya. Aroma itu menunjukkan kalau dia hidup.
“Tenanglah!” katanya lagi sambil menaikkan tubuhku di atas pangkuannya.
Dia juga menangkup wajahku ke dadanya, seolah\-olah dia tidak ingin aku melihat anak kecil yang kini terbaring di lantai itu. Dia juga meraih helaian rambutku. Meremas kepalaku. Mengusapkan bibirnya perlahan di atas permukaan keningku. Aku terdiam dan tidak ingin merespon. Wajah anak lelaki berdarah itu masih membayang di mata, aku masih takut.
“Dia tidak nyata!” gumamnya lembut di telingaku. “Dia hanya bayangan.”
Aku mempererat pelukanku. Meremas kemejanya lebih keras. Aku ingin pemuda ini diam.
“Dia hanya ilusi!”
Aku tidak menjawab. Pemuda tidak paham apa yang kulihat bukanlah ilusi. Anak itu nyata, darahnya juga benar\-benar ada.
“Kau dengar aku, kau tidak sendirian!”
Dia menggumamkan senandung lirih. Suara itu tidak asing dan menenangkanku. Aku terdiam, jemariku terkepal. Keringat membanjiri punggung dan kepalaku. Lengannya memelukku semakin sementara bibirnya terus mengirimkan kalimat\-kalimat lembut di telingaku. Bayangan itu mulai buram dan kabur. Ujung hidungku kini menyentuh permukaan kulit lehernya. Dia menepuk kepalaku lembut. Indra penciumanku menghirup aroma mint bercampur sabun mandi yang menenangkan. Rasa nyeri di kepala berangsur\-angsur menghilang saat mataku mulai berat. Sentuhan jemarinya kini membelai punggungku. Rasa kantuk tiba\-tiba menyerang. Kepalaku terkulai di bahunya. Suaranya masih mengalun lirih, mengirimkan senandung ke dalam indra pendengaranku saat kegelapan mulai merengkuhku. Mungkin ini lebih baik.
Aku menggeliat, membuka mata lalu mengangkat kepala. Kepalaku masih sakit, akan tetapi suara\-suara sudah menghilang. Tanganku masih melingkari lehernya. Aku menarik lenganku dan ingin bergerak tapi tangannya masih merangkul erat pinggangku. Tubuhku masih berada di pangkuannya. Pandanganku beralih ke arah jendela. Matahari telah turun di ufuk barat. Aku tertidur nyaris seharian.
Aku kembali memandangi wajahnya. Pemuda itu kini tengah terlelap dalam tidurnya. Geralku tapi bukan Geral. Tidak ada kemiripan di antara mereka berdua. Wajah pemuda ini memberikan kesan polos dan tidak berdosa, sementara Geral selalu tampak serius. Mulutnya terbuka sedikit. Bibirnya memerah dan bercak darah kering masih menempel di permukaannya. Bulu mata lebatnya membuatku ingin mencabut satu saja sebagai tanda mata. Jemariku bergerak menyibak helaian rambutnya yang menutupi dahi. Bekas luka memutih melintang di keningnya. Ujung luka itu nyaris mencapai alisnya. Aku menelusuri bekas luka itu. Aku terkesiap dan buru\-buru menarik jariku saat dia bergerak. Senyuman mengembang di bibirnya sesaat setelah dia membuka mata.
__ADS_1
“Kau sudah bangun rupanya!”
Dia melepaskan lengannya dari pinggangku lalu membelai pipiku. Lesung pipitnya menyembul saat dia tersenyum. Aku hanya mengangguk. Perutku berbunyi tanpa peringatan.
“Kamu pasti lapar,” katanya lembut.
Aku menggeleng lalu melingkarkan lenganku kembali ke lehernya.
“Aku akan memasak.”
“Kita makan malam di luar saja,” aku menyarankan.
Aku sungguh ingin perubahan suasana. Aku tidak ingat apa yang terjadi hari ini. Aku hanya letih.
“Tentu.”
Aku bergeser turun dari pangkuannya. Dia menguap pelan lalu merenggangkan tubuhnya.
“Aku akan bersiap\-siap,” ucapku sambil bergerak berdiri.
“Hati\-hati,” katanya sambil buru\-buru bangkit dan memegangiku.
“Aku tidak apa\-apa,” kataku menenangkan meski kepalaku masih berdenyut sakit. Hanya saja, aku tidak ingin membuatnya lebih khawatir.
“Aku juga mau mandi, badanku bau,” dia mendengus pelan sambil mengangkat lengan seraya mencium ketiaknya.
Aku tersenyum simpul lalu mengangguk lagi. Dia tertawa lagi, kali ini lebih renyah hingga matanya nyaris tertutup. Geral tidak pernah tertawa selebar itu. Dia selalu terkendali. Dia jarang mau mengakui kelemahan yang ada dalam dirinya. Rasanya semua ini tidak masuk akal. Apakah dia benar\-benar sudah berubah setelah bangun dari kematian?
“Geral!” panggilku sengaja memastikan.
“Ya?”
Dia menoleh. Mata hitamnya menatapku, dia terlihat kebingungan. Ekspresi serius terpampang di wajah itu.
“Tidak apa\-apa.”
__ADS_1
Aku berbalik pergi. Rasanya ada yang aneh. Lagu nina bobo itu, aku mendengarnya tadi. Geral tidak pernah menyanyi bahkan untuk ibunya sekali pun. Dia mengulang kalimat itu beberapa kali dalam senandungnya. Kalimat yang tidak asing tapi Geral tidak akan mengucapkan kalimat semacam itu. Akan tetapi, tidak mungkin ada orang lain di tubuh ini. Dipikirkan sampai bagaimana pun tetap tidak masuk akal