
Saat aku berjalan masuk dan mendorongnya, senyuman masih terpampang di wajah Geral. Padahal sungguh, sekarang kepanikan masih menyerangku. Dia tampak tenang\-tenang saja padahal sekarang benar\-benar panik.
“Ada apa?” ada nada kebingungan dalam suaranya.
“Kak Alex kemari,” bisikku pelan.
“Alex?”
“Iya, Alex yang itu!” ucapku memotong pertanyaanya.
Geral terdengar mendesah, akan tetapi aku sama sekali tidak peduli. Hal yang lebih kupikirkan sekarang adalah alasan apa yang yang harus kukatakan pada Alex kalau dia sampai melihat Geral. Sebelum aku menjelaskan semuanya dia pasti akan melontarkan tuduhan. Bukan aku tidak bisa membela diri, tapi argumennya sering sekali tepat sasaran hingga membuatku sulit berpikir jernih. Mungkin aku bodoh, akan tetapi faktanya argumen apa pun yang kupikirkan akan buyar seketika. Setidanya itulah yang selama ini selalu terjadi.
“Enza!”
Suara Alex terdengar bahkan saat aku belum bisa menyembunyikan separuh tubuh Geral. Sekarang aku benar\-benar tertangkap basah. Aku buru\-buru melepaskan pelukan dan berdehem pelan. Berusaha untuk terlihat biasa saja. Meskipun sejujurnya ini sulit sekali.
“Siapa dia?” tanya Alex langsung tanpa basa\-basi seperti yang kutakutkan sejak tadi.
“Ini aku, Ger–”
“Rael!” aku memotong kalimat Geral.
Nama itu tercetus begitu saja karena seingatku semalam pemuda ini menyebut namanya. Meski terbata\-bata aku bisa menangkap kalau namanya adalah Rael. Kalau pun salah ya tidak apa\-apa, toh dia juga tidak akan tahu yang penting aku selamat dulu sekarang.
“Rael?” Alex mengerutkan kening. Dia benar\-benar terlihat kebingungan.
“Iya, Rael.”
Aku tersenyum tipis untuk lebih meyakinkan pernyataan yang baru saja kukatakan. Kini saat melirik Geral, pemuda malah balik menatapku. Matanya juga menyiratkan keheranan. Saat bibirnya hendak bergerak, aku langsung menarik jemarinya. Meremasnya sekuat\-kuatnya dengan sengaja, berharap dia tahu bahwa sekarang bukan saatnya untuk bicara jujur.
“Siapa dia?”
“Pegawai baru,” aku terkekeh setelah menyebutkan kebohongan lain yang sangat tidak lucu ini.
“Sejak kapan kau punya pegawai?”
Pertanyaannya terdengar tidak enak di telinga, dia sepertinya tidak menyukainya entah aku yang mendadak punya pegawai baru atau soal jenis kelamin pegawai itu. Namun, satu hal yang bisa kupastikan yaitu Alex sudah memulai mode interogasi. Hal yang menyebalkan sebetulnya karena sekali salah bicara maka habislah sudah. Aku tahu profesinya sebagai pengacara mungkin membuatnya sangat kritis jadi mungkin menelisik banyak hal sampai detail terkecil jadi kebiasaan di luar sadarnya. Kelebihan yang sering membuatku berdecak kagum saat dia menjelaskan alur film yang kami tonton. Akan tetapi, kalau bisa aku sungguh ingin mengutuk kemampuannya itu jadi batu sekarang juga.
“Seminggu lalu.” kebohongan lain kembali bergulir lebih mudah dari yang kuduga.
Sudah ketiga kebohongan terucap begitu saja dan entah akan ada berapa banyak lagi nanti. Pertama, bukan Rael yang ada di tubuh itu, akan tetapi Geral. Kedua, Geral jelas bukan pegawai baru. Ketiga, soal durasi. Geral sudah bersamaku lebih dari sebulan terakhir. Dia bukan ada seminggu di sini seperti yang baru saja kukatakan.
“Kenapa enggak bilang? Dia itu cowok, Enza!”
Aku menunduk. Tangan Geral kali ini bergantian meremas jemariku. Tampaknya dia berusaha menenangkanku, oleh karena itu aku harus berani menghadapi ini. Jika segini saja aku mundur maka nanti aku mungkin tidak akan bisa mempertahankan Geral untuk tetap berada di sampingku dan aku tidak mau semua itu terjadi.
“Aku pikir Kakak sibuk.” kali pertama aku berkata jujur. Lagi pula, kalau melawan Alex adalah sebuah tindakan yang akan berakhir sia\-sia.
Alex menghembuskan napas kasar. Rahangnya terlihat mengeras dan cuping hidungnya kembang kempis. Dia menaruh tangannya di pinggang, berputar lalu memegang keningnya. Aku kembali menunduk. Kakak lelakiku itu sudah tampak akan meledak dalam hitungan detik.
“Lepaskan dia!”
Benarkan. Aku sangat mengenalnya, dia pasti meledak kalau ada orang yang dikenalnya dan menyentuhku–meskipun aku memberi izin. Dia cukup posesif, akan tetapi aku tidak punya keberanian untuk menegurnya. Terkadang aku berpikir caranya ini juga bentuk perhatian.
“Aku bilang lepaskan!” ulanga Alex lagi.
Aku mendengus pelan saat kakakku melepaskan paksa tautan jemariku dan Geral. Dia bahkan menarikku ke belakang punggungnya seolah aku ini benda lunak yang bisa terluka kalau bersentuhan dengan seorang pria.
__ADS_1
“Enza, ikut Kakak!” perintahnya terdengar menegaskan dengan menyebut posisi dirinya.
“Baiklah,” sahutku enggan. Namun, tidak ada yang bisa kulakukan selain menurutinya.
Aku menoleh ke arah Geral. Dia mengangguk seakan ingin mengatakan kalau kami akan baik\-baik saja. Aku tersenyum simpul untuk menjelaskan kalau aku paham. Kuharap dia mengerti semua situasi aneh ini dan kami bisa saling melindungi.
Alex menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah Geral. “Kau tunggu di sini!”
“Baik, Pak,” ucap Geral sopan.
Aku mengikuti Alex yang kini kembali berjalan ke rumah. Tangannya terkepal dan jelas sekali dia tampak marah.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi!” semburnya saat aku baru saja memposisikan pantat di sofa.
“Dia bekerja untukku, itu saja dan tidak ada penjelasan lain.” aku masih mencoba berkelit.
Alex menatapku tidak percaya. Aku kini balik memandangnya lekat\-lekat, tetap menunjukkan bahwa aku mengucapkan kebenaran meskipun aku sedang merangkai dusta.
“Dengar Enza, Kakak tidak melarangmu untuk berhubungan dengan siapa pun. Tapi tolong jangan bahayakan dirimu!”
“Apanya yang bahaya, dia hanya bekerja di sini dan tidak lebih dari itu!”
“Pekerja katamu, tapi kalian tinggal serumah? Aku tertarik mendengar penjelasanmu akan hal ini.” Alex menatapku lekat\-lekat. Mata cokelat itu berkilat marah.
Aku terhenyak. Semuanya telah terbongkar. Aku menggigit bibir, tidak mungkin mengatakan kalau jiwa yang ada di tubuh Rael adalah Geral.
“Kakak salah paham.” suaraku memelan, sementara jantungku berdebar kencang.
Alex menarik napas berat. “Kakak tidak asal tuduh. Ada kemeja pria, baju dalam, sikat gigi dan itu semua bukan milik Kakak,” tuduh Alex tajam.
“Geral?”
“Ya.” aku menatap Alex. Keringat mulai menyembul di pori\-pori keningnya. Pria itu kini memijat pelipis. Dia mendesah lalu menatap langit\-langit.
“Oh, Tuhan...,” gumamnya berulang\-ulang. “Tuhanku.”
Entah kenapa mendadak dia ingat Tuhan. Padahal setahuku dia juga jarang menyebut nama Tuhan bahkan dalam situasi genting sekali pun. Sementara itu, aku memainkan jemari dan memilinnya. Terlalu takut menunggu reaksinya selanjutnya. Alex sepertinya mulai frustasi.
“Dengar, Kakak tahu kematian Geral berat untukmu tapi bukan berarti kau harus membawa pria asing tinggal bersamamu.” suara Alex terdengar melunak.
“Aku sudah bilang kalau kami tidak tinggal bersama, Kakak salah paham,” kataku lagi.
“Kau yakin? Kurasa kau sedang berbohong sekarang,” tudingnya.
“Tidak,” sahutku lagi masih berbohong.
“Kalau begitu pecat dia!”
“Kak Alex!” suaraku kali ini menukik tinggi. Dia benar\-benar sudah keterlaluan.
“Kau bisa memecatnya, aku akan ganti pegawai lain untukmu,” katanya lagi terdengar membujuk.
“Masalahnya apa sih dengan pegawai itu?” tanyaku akhirnya.
“Bukan soal pegawainya Enza, dia cowok. Kau tidak tahu bahayanya bersama pria di satu tempat–”
“Dan Kakak akan mencarikan pegawai wanita untukku sebagai gantinya?” potongku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Iya, ada masalah dengan itu.”
Jemariku yang semula saling memilin mulai mengepal di atas pangkuan sekarang. Alex benar\-benar seenaknya. “Tentu saja ada masalah.”
“Coba jelaskan masalahmu!”
“Pegawai wanita tidak akan bisa mengangkat barang, dia tidak akan bisa membantu memasang lampu atau mungkin membenarkan atap yang bocor. Jadi aku membutuhkan Rael.”
“Aku akan carikan wanita yang bisa membenarkan banyak hal. Bagaimana?”
“Tidak. Aku menginginkan Rael. Tidak mau yang lain.” aku menatapnya langsung di mata. Benar\-benar ingin menegaskan kalau dia tidak boleh ikut campur soal ini.
Alex tampak terperangah, sepertinya dia masih tidak percaya kalau aku menentangnya. “Kau tidak pernah pakai pegawai sebelumnya, kenapa tiba\-tiba?”
“Aku kesepian,” tukasku tanpa keraguan.
“Apa?”
“Aku bilang aku kesepian.” nada suaraku lebih tinggi. Aku ingin dia tahu, mengerti bahwa aku membutuhkan orang lain di sini bersamaku. Meski itu hanya hantu.
“Ada Kakak, Enza. Kakak selalu ada di sampingmu.” Alex menepuk dadanya.
“Apa Kakak mau tinggal di sini?” ucapku sambil terus menatapnya. Mungkin aku bisa mengakhiri perdebatan ini selamanya. Aku menarik napas sebelum mulai bicara. “Kalau Kakak mau ada di sini, aku akan memecatnya. Cukup adil, bukan?”
Alex menatapku kebingungan. “Kalau itu–”
“Tidak punya jawaban? Kakak selalu tidak ada waktu. Kakak pikir aku tidak tahu kalau kalian sengaja mengasingkanku di rumah ini!” aku memotong kalimatnya dan nyaris menjerit sekarang.
“Tidak ada yang mengasingkanmu.” suaranya terdengar melunak. Alex bergerak mendekat dan menangkup pipiku. Setelah itu dia menarik kepalaku untuk menatapnya.
“Kalau begitu bawa aku ke rumah kalian!”
“Enza!” Alex kembali terdengar putus asa. Napas kasar berhembus dari kedua lubang hidungnya.
“Itu tidak mungkin, bukan? Jangan paksa aku lagi atau aku menolak untuk bertemu denganmu!”
Sekarang aku beranjak berdiri. Namun, Alex meraih tubuhku, melingkarkan lengannya melalui bahu untuk memelukku dari belakang. Tangannya terjulur di depan dadaku. Aku menarik napas pelan. Kepalanya bersandar di bahu. Hembusan napasnya mengipasi telinga. Aku tahu semua ini berat untuknya.
“Aku menyayangimu, Enza!”
Keheningan menyapa kami. Hanya irama napas berat yang terdengar. Aku tahu kalimat apa yang akan Alex katakan selanjutnya. Aku tahu sejak lama kalau dia mencintaiku. Cintanya lebih mirip yang diberikan seorang pria pada wanitanya. Namun, aku berusaha menyangkal semua itu.
“Aku juga, Kak.”
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
“Aku tahu,” ucapku kelu. “Jadi soal pegawai selesai sampai di sini, kan?”
“Ya.”
“Jangan bahas soal ini lagi!” pintaku–meski lebih terdengar seperti ancaman.
Dia mempererat pelukannya. Bibirnya menelusuri telingaku berlahan. “Iya. Tapi, kau harus ingat aku akan melenyapkan siapa pun yang merebutmu dariku. Jadi jaga pegawaimu baik\-baik!”
Suaranya bergema memasuki telingaku. Tubuhku mendadak merinding mendengar kata\-katanya barusan. Aku menggigit bibirku yang mulai gemetara. Entah kenapa suaranya terdengar lebih berbahaya sekarang.
__ADS_1