One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 2. Panggilan Jiwa


__ADS_3

Hari ini, aku mencoba melewati hari dengan mencoba untuk bahagia. Matahari cukup cerah untuk membawa keceriaan dan seharusnya mampu membuatku mengabaikan pikiran bahwa sekarang aku benar\-benar sendirian. Aku membuka toko bunga itu setelah terabaikan sejak Geral di rumah sakit hingga akhirnya pemuda itu meninggal. Mungkin aku bisa memulai dari tempat ini karena Bunga\-bunga juga mulai layu di dalam vas. Bahkan bunga yang kutanam di pot tidak menunjukan tanda\-tanda akan segar kembali meskipun aku telah mengguyurnya dengan air sejak kemarin.



 Aku menarik napas lalu mulai membersihkan tempat ini. Selama membersihkan tempat ini, pikiranku kabur ke mana\-mana. Aku menggeleng, mencoba untuk menghapus semua pikiran buruk yang melintas. Sementara itu, kemoceng di tanganku bergerak di sela\-sela rak kayu membawa debu beterbangan ke udara.



Ketika debu yang menempel di setiap sudut mulai berkurang dan tempat ini sudah terlihat lumayan bersih, aku meraup tangkai\-tangkai bunga layu yang terbengkalai dan mengangkutnya ke dekat mobil pick up di depan toko. Aku harus membuang semua sisa tanaman ini ke tempat pembuangan akhir terdekat, mengingat tidak mungkin menaruh sampah sebanyak ini di bak sampah depan rumah.



“Bersih\-bersih, Za?”



Aku menoleh ke arah datangnya suara. Seorang ibu gemuk yang tinggal tepat di samping rumah kini menyapa. Tangannya sibuk menggoyangkan kipas ke kiri dan ke kanan. Mungkin dia baru saja selesai menonton acara gosip pagi hari dan memerlukan teman untuk berbicara.



“Iya, Tante.”



“Sendirian saja?”



“Iya.”



“Kenapa Alex enggak ngebantuin, kan dia bisa membantumu membersihkan rumah kalian yang kusam itu?”



Kata\-kata terakhirnya menyengatku. Sekarang aku mengamati rumahku yang catnya tidak lagi sebagus dulu. Bekas rumah cukup mewah berlantai dua dengan empat pilar tinggi di teras yang menantang. Ditambah dengan gazebo beratap kubah melengkung di taman depan. Dua pilar lain berdiri tegak di sisi kiri mengapit dua buah veranda. Dua pilar lain terletak di kanan dengan posisi sama persis seperti di sisi satunya. Bunga\-bunga di veranda atas memang masih mekar, meski begitu tidak mampu menutupi warna cat di tembok yang mulai menguning. Sejujurnya, aku lupa sejak kapan perubahan warna ini terjadi.



“Tapi, catnya yang kusam malah menyamarkan rumahmu mengingat akhir\-akhir ini banyak maling berkeliaran. Mungkin itu bisa jadi keuntungan buatmu,” katanya lagi. Mungkin dia tidak sabar untuk menebar kebencian karena lawan bicaranya tidak merespon. Dia juga bersikap seolah ingin bersimpati, akan tetapi sayangnya kata\-katanya terlalu tajam untuk disebut perhatian.



“Maling?”ucapku membeo meski sebenarnya aku enggan menanggapi semua hal yang dikatakan wanita itu.



“Iya, maling. Katanya beberapa orang dengan senjata dan membawa mobil. Mereka nyuri di rumah warga secara acak.”



Aku jadi berpikir ulang karena topik yang dibicarakan oleh wanita itu dan Alex nyaris sama. Jangan\-jangan sekarang memang sedang musimnya maling\-maling menjarah rumah warga secara acak.



“Jadi korbannya tidak pasti ya, Tante?”



“Ya, bisa dibilang begitu. Bisa jadi rumahku kena, Za. Kemungkinannya cukup besar buat itu,” sahutnya dengan kening berkerut seolah\-olah sedang berpikir.



 “Tidak ada yang bisa dijarah dari Tan, tidak apa\-apa di rumah,” kataku mencoba untuk tetap sabar—setidaknya berusaha untuk berpura\-pura jadi penyabar.



Wanita itu menarik alisnya ke atas lalu mendengus, terdengar sebal. “Rumahmu ada di ujung dan kamu tinggal sendirian, itu bisa jadi alasan kuat perampokan.”



Aku mengerutkan kening saat mendengar kalimat buruk terlontar dari mulutnya. Bisa\-bisanya dia mengatakan hal jahat begitu dengan mudah. Namun, aku memilih untuk mengatakan apa pun sebagai jawaban. Setidaknya dengan begitu wanita itu akan segera pergi. Meski begitu, kata\-katanya tetap membuatku penasaran hingga aku melirik ke tikungan jalan.



Rumahku memang berada paling ujung tepat berada di tikungan. Pos siskampling memang ada di dekat jalan masuk, namun cukup jauh dari rumahku. Kalau terjadi sesuatu maka aku akan sendirian. Apalagi kamera cctv di depan garasi itu tiba\-tiba saja rusak selama beberapa minggu terakhir. Entah sejak sebelum kematian Geral atau setelahnya. Kalau ada maling masuk ke rumah maka mereka tidak akan tertangkap kamera. Ah, sudahlah. Tidak akan ada apa\-apa.



“Berhati\-hati tidak ada salahnya, Za. Apalagi kau tinggal sendirian!” ucapnya lagi seakan\-akan dia tahu apa yang kupikirkan.



“Tentu, Tan. Terima kasih.” Aku mengangguk setelah tersenyum.



“Selamat bersih\-bersih ya!”



“Iya,” sahutku sambil menatap pinggulnya yang gemuk dan tampak bergoyang seiring langkah kakinya.



Kata\-kata wanita itu membuat sedikit takut. Aku hanya bisa berharap, semoga saja tidak ada apa\-apa. Semoga Tuhan bersedia mengabulkan doaku kali ini setelah banyak doa di waktu lain yang jarang terkabul. Aku menaruh satu tumpuk terakhir tangkai yang layu ke dalam bak mobil. Setelah membuang ini, maka aku harus mampir ke supplier untuk memesan bunga segar dan mengabari pelanggan via sosial media kalau toko bunga milikku akan mulai beroperasi lagi besok. Kalau pergi sekarang maka siang hari nanti aku sudah ada di rumah. Aku berharap dengan sibuk bekerja akan membantuku melupakan kesedihan yang sejak kemarin terus bergelayut.



Aku mengunci toko setelah meraih kunci mobil dan tas selempang. Memastikan sekali lagi kalau gerbang depan telah digembok lalu aku masuk ke dalam mobil. Mesin pick up menderu kencang tidak lama setelahnya, aku melirik sekali lagi ke arah rumah dan memastikan bahwa gerbang depan telah digembok. Mobil memelesat saat aku menginjak pedal gas. Hari ini mungkin akan jadi hari yang sibuk.



Jarum jam mulai bergerak ke angka dua saat aku kembali ke rumah dengan pick up kosong. Aku membanting tubuh di sofa setelah menenggak satu gelas penuh air mineral. Setelah itu, aku menyandarkan kepala ke punggung sofa. Tersenyum sedikit memikirkan hari ini aku telah mulai bekerja. Aku sudah membersihkan toko dan membuang bunga yang tidak layak jual lalu memesan bunga\-bunga segar tinggal membayarnya esok pagi.



“Aku hebatkan, Geral. Sekarang aku kuat dan tidak menangis lagi,” bisikku sambil menahan air mata yang mulai menyundut di sudut mata dan mengancam untuk menetes.



 “Iya, kau hebat sayang!” Suara Geral membelai lembut telingaku.



“Kamu di sini?”



“Ya, aku di sini,” katanya sambil memelukku dari belakang, kepalanya menunduk hingga kami bersitatap sesaat.



“Geral?” Bibirku mulai gemetar. “Ini benar\-benar kau?



“Siapa lagi?”



Dia menggeser kepalanya lebih dekat kepadaku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya lalu mencecap manis bibirnya kala bibir itu menyapu milikku. Lengan panjangnya terjulur melewati bahuku. Pemuda mengangkat kepala untuk menghentikan ciuman singkat itu lalu dia tersenyum. Aku kecewa dengan durasi ciuman yang super singkat itu, akan tetapi kekesalanku sirna kala dia juga ikut mengulum senyuman.

__ADS_1



“Aku cinta padamu,” bisiknya.



“Aku juga.”



“Cium aku lagi!”



“Lagi?” tanyanya. Dia lalu tersenyum. “Tentu.”



Dia menundukkan kepalanya lagi hendak menciumku untuk yang kedua kalinya hari ini. Saat kami kembali bersentuhan, satu ingatan memukul benakku. Seharusnya Geral tidak ada di sini.



 “Sebentar, sayang,” ucapku.



Aku buru\-buru melepaskan diri kala Geral mengangkat kepalanya. Aku menatap lengan kekar yang kini melingkari dadaku. Buru\-buru beranjak berdiri setelahnya untuk menoleh serta menatap wajah manis Geral yang kini berdiri tepat di belakangku. Dia memakai setelan kemeja biru muda dengan celana abu\-abu. Geral tersenyum manis. Dia nyata, dia ada di depanku sekarang. Aku melangkah ke depan, ingin lebih dekat dengannya. Takut setipis apa pun jarak akan membuatnya menghilang. Senyuman masih merambati bibirnya. Tanganku bergerak untuk menyentuh wajahnya. Aku terkesiap kala tanganku hanya menyentuh angin. Senyuman pemuda itu tiba\-tiba menghilang. Tubuhnya juga seolah menyatu dengan angin. Geral lenyap begitu saja.



“Geral! Geral! Sayang!” Suaraku bergema di dalam ruangan.



Aku terus memanggil namanya sambil terus berharap Geral akan menyambut panggilan. Tentu saja, aku masih belum menyerah. Sekarang aku bersimpuh di lantai dan berulang kali menyapukan tangan di tempat terakhir sosok Geral menghilang. Aku menyentuh bibirku, ciuman tadi terasa nyata. Geral menciumku, mana mungkin halusinasi bisa memalsukan rasa ciuman. Tapi, ke mana dia sekarang?



 Air mataku mulai mengalir. Aku mulai menoleh ke segala arah berharap dia akan muncul tiba\-tiba lalu mengucapkan maaf telah membuatku khawatir. Namun, hanya perlu menunggu beberapa detik sampai harapanku pupus sepenuhnya. Geral tetap tidak muncul. Hanya keheningan dan suara tangisku sendiri yang memenuhi ruangan. Sejak awal Geral memang tidak ada di sini. Aku saja yang masih berpikir bahwa dia ada di sini dan dia akan kembali.



“Aku bisa membantunya kembali padamu.”



Samar\-samar suara itu kembali terdengar seolah gadis bertindik itu duduk di sampingku. Suara itu seperti bisikan yang dikirim melalui bisikan angin di sela tirai jendela. Seakan dia mengirimkan harapan dari jauh. Tidak, itu hanya halusinasi seperti biasa.



Aku menggeleng berusaha menutup telinga dari bisikan menggoda itu. Tidak, tidak, Geral sudah meninggal. Hanya saja, meski aku tahu soal itu, entah mengapa semuanya terasa begitu menyakitkan. Tangisanku pecah lebih keras saat aku menelungkupkan tubuh di permukaan lantai. Rasa dingin menggigiti kulit tapi aku enggan beranjak. Duniaku begitu hancur setelah kepergian Geral. Sekarang dunia hanya tampak abu\-abu dan seperti tepian secarik kain yang koyak.



Aku tidak tahu berapa lama aku melewatkan waktu, tubuhku mulai pegal. Dinginnya lantai mulai terasa menusuk permukaan kulit. Aku mendongak dan menemukan sinar matahari tidak lagi menembus jendela. Sinar itu telah diselimuti kegelapa, artinya hari sudah beranjak malam.



 Aku berjalan gontai dan merebahkan diri di ranjang. Tubuhku hari ini sangat lelah. Kupikir hari ini akan membaik setelah membersihkan toko karena beberapa hari belakangan aku terlalu sibuk menangis, tidur, makan dan mendengar suara\-suara aneh di sela\-selanya. Selain suara, terkadang aku melihat bayangan samar yang berkelebat atau pintu yang mendadak tertutup sendiri. Keran air juga sering sekali terdengar menyala dan meneteskan air, tetapi saat didekati keran itu bahkan tidak terbuka. Rasanya seperti ada yang mengawasi setiap gerak\-gerikku di rumah ini. Meski, aku sedikit berharap kalau ada Geral di antara mereka. Mungkin itu cara semesta memberikan kesempatan agar aku bisa bersamanya sekali lagi.



“Ah, tidak. Itu bodoh! Bagaimana mungkin? Semesta apa? Sok puitis!” gumamku.



Aku memilih untuk berguling di permukaan ranjang. Menutup wajah dengan selimut dan memeluk guling sambil mencoba menghapus pikiran liar yang mulai Katanya memejamkan mata bisa membuat manusia melupakan segalanya. Baiklah, aku akan tidur sekarang.




“Geral?” ucapku kebingungan.



Bukankah tadi aku masih di rumah, bagaimana bisa aku bisa sampai di tempat ini? Lalu kenapa Geral juga ada di sini?



“Ya? Kamu kenapa sih, Za?”



“A—ku, ah—eng—ggak apa\-apa.”



“Sampai mana tadi kita?” tanyanya dengan suara antusias.



“Mungkin surga,” tukasku sekenanya karena mataku kini masih sibuk menelusuri wajahnya.



Rasanya masih aneh saat melihat Geral ada di sini. Sejujurnya, aku masih takut untuk berharap. Takut semua ini hanya halusinasi atau harapanku yang mewujud jadi mimpi. Namun, di tengah keraguan aku terhenyak kala Geral menyentuh ujung jemariku dan menggenggamnya. Sentuhannya benar\-benar terasa seperti sentuhan yang selama ini kuingat.



“Aku kesepian di sini, aku ingin pergi.” Geral kembali berbicara.



“Eh? Pergi ke mana?”



Geral menunduk. Bibirnya mengatup rapat sementara remasannya di jemariku semakin mengencang.



“Apa kau mau ke sana?” lanjutku lagi dengan nada tidak sabar.



Geral masih saja diam. Namun, aksi diamnya serta ketatnya genggaman tangannya sudah cukup menunjukkan kalau dia pasti ingin pergi ke tempat itu. Tempat itu gemerlap dan tampak sejuk saat dilihat dari kejauhan. Aku melirik pemuda itu, dia juga tampak tidak nyaman di sini bersamaku. Kalau dia tertahan di sini maka artinya aku menahannya.



Sungguh, aku tidak ingin menghalanginya. Namun seberapa indah pun tempat itu, aku berharap Geral tidak akan mengiyakan pertanyaanku. Dia ada di sini, nyata dan hidup, itu lebih dari cukup. Aku menelan ludah lalu menarik napas berat sembari mempersiapkan hati dengan semua jawaban yang mungkin meluncur dari bibirnya. Aku menoleh takut\-takut ke arahnya. Rasanya jantungku melewatkan satu degupan kala Geral menggeleng.



“Aku tidak ingin ke sana.”



“Ke—kenapa?”



Geral menatap wajahku. Menyentuhkan tangannya menelusuri garis rahangku yang meruncing. “Aku sungguh ingin kembali, bisakah kau memintaku kembali?”

__ADS_1



“Kembali?”



“Ya.”



“Tentu saja kau bisa kembali.”



Geral menggeleng lagi. “Tapi, kamu tidak menginginkanku lagi.”



“Kata siapa? Aku selalu menginginkanmu, aku akan membuatmu kembali.”



Geral tersenyum, aku pun melakukan hal yang sama. “Kau janji?”



“Aku janji,” tukasku berusaha meyakinkan pemuda itu.



“Kalau begitu panggil aku kembali, Za!” katanya sambil menarik kepalaku mendekat dan mendatarkan satu ciuman ringan di keningku.



“Ya.”



“Terima kasih.”



Senyuman Geral memudar beberapa detik kemudian. Tautan tangan kami terlepas saat pemuda itu mulai terbatuk hebat. Cairan merah mengalir dari sudut bibirnya. Dia terhuyung dan jatuh berlutut di tanah. Jantungku berdebar lebih keras sekarang, kenapa ini bisa terjadi?



“Kamu tidak apa\-apa?” Aku mencoba menarik Geral berdiri.



“Pergilah!”



“Tidak.”



“Pergilah! Cepat!” Geral mulai mendorongku menjauh.



Aku masih tidak bergerak, walaupun Geral terus memberikanku aba\-aba. Mataku nanar menatap ke segala arah saat sosok berjubah hitam yang entah datang dari mana mulai mendekat. Gigiku gemeletuk menahan hawa dingin yang tiba\-tiba menggigiti kulit. Makhluk itu membawa hawa dingin serta ganjil di sekitar tempat ini.



Jeritanku memecah saat tubuhku terdorong menjauh. Sosok\-sosok gelap berjubah hitam kini memerangkap Geral. Aku ingin berlari untuk menolongnya. Akan tetapi, langkah pertama membuat tubuhku tersungkur ke depan membuat daguku mencium tanah. Kejatuhan yang mengirimkan gelenyar perih di rahang.



Eh, apa ini?



Mataku membola saat akar tanaman entah datang dari mana tiba\-tiba membelit kakiku. Menghalangiku untuk bergerak menolongnya. Tanaman itu terus bergerak ke atas sementara tubuhku masih terus meronta. Aku memejamkan mata sejenak berharap semua itu hanya khayalanku saja. Namun, saat aku membuka mata, akar itu masih ada di sana.



“Lepaskan dia! Geral! Geral!” Teriakanku melengking saat kedua sosok berbaju hitam itu masih menarik lengan Geral dengan paksa.



Aku berteriak semakin keras dan meronta saat melihat kepala Geral sudah terkulai lemas. Tubuh pemuda itu terkulai lemas—mungkin dia pingsan. Kedua makhluk berjubah hitam tidak berperasaan itu yang melakukan semua ini pada Geral. Aku berusaha bergerak sebelum mereka menghilang. Untuk menolong Geral. Mungkin saja di dalam sana mereka akan menyiksanya lebih keras.



“Lepasin dia! Lepas!” pekikku.



Namun sepertiku suaraku tidak terdengar, mereka tetap bergerak lambat. Menjauh dariku dan beberapa mulai lenyap dari pandangan. Mereka tidak membawa Geral menuju tempat gemerlap di ujung sana, akan tetapi ke sisi lain yang lebih gelap.



“Geral! Geral! Geral!”



“Lepasin dia, dasar makhluk jahat!” pekikku.



Aku terhenyak. Spontan menghentikan teriakan saat salah satu sosok itu menoleh. Aku bergidik dan meneguk ludah kala tidak menemukan apa pun—selain kekosongan—di dalam tudung hitam itu. Tidak ada wajah di sana atau tengkorak atau apa pun, hanya seberkas bayangan hitam tak berbentuk. Tudung itu kosong. Hanya kehampaan yang hadir di dalam tudung itu. Kehampaan yang ganjil dan menyeramkan.



“Geral!”



Aku membuka mata. Tersadar saat mendengar suaraku sendiri. Napasku tersengal dan dadaku bergerak naik turun. Aku buru\-buru bangun dan menghapus peluh membasahi wajah. Pakaian yang kukenakan menempel ketat akibat keringat. Tanganku menutup mulut, ternyata aku hanya bermimpi dan parahnya itu mimpi terburuk selama dua hari terakhir. Meskipun Geral selalu hadir dalam mimpiku semenjak kematiannya. Tidak ada pesan khusus tapi malam ini. Tapi dia berbeda.



“Aku ingin kembali...”



 “Kau tidak menginginkanku...”



“Panggil aku kembali, Za...”



Suara itu bergema lagi seolah memberikanku satu pilihan lain yang bisa kuambil. Ingatan tentang Geral kembali mencuat. Mimpi ini. mungkinkah ini pesan bahwa aku masih bisa membawanya kembali?



 Geralku yang malang. Pemudaku yang kesepian dan kesakitan di sana. Aku menyalakan lampu di kamar. Jantungku berpacu cepat saat aku menatap kalender di meja. Tiga hari lagi adalah hari terakhir yang dijanjikan peramal itu. Hari terakhir untuk bisa memanggil Geralku kembali. Ide itu terdengar menarik meskipun kalau dipikirkan terasa aneh. Memanggil orang yang sudah mati, apakah itu benar\-benar bisa dilakukan?


 

__ADS_1


__ADS_2