
Aku mengalihkan pandangan dari kalender lalu mengusap peluh yang membasahi kening. Setelah itu, aku menekuk kaki hingga kepalaku bisa jatuh di atasnya. Malam sudah turun sejak tadi hanya saja aku tidak bisa berhenti memikirkan setiap kejadian baru\-baru ini. Selain itu, soal mimpi yang terjadi beberapa saat lalu entah mengapa tetap terasa aneh. Mimpi yang terjadi itu bahkan cukup aneh dan janggal meski hanya dianggap sekedar bunga tidur sekalipun.
Meski aku tidak pintar, akan tetapi kurasa aku tidak cukup bodoh untuk bisa paham kalau menghidupkan orang yang sudah mati itu mustahil. Memanggil hantunya saja sepertinya perlu usaha. Lalu kejanggalan adalah soal timing mimpi itu sendiri. Rasanya seperti ada yang sengaja mengatur agar aku bermimpi seperti itu. Seolah\-olah aku adalah aktor yang mengikuti alur cerita di dalam mimpiku sendiri. Mendadak aku teringat Alice, gadis yang kutemui di dekat apotek. Mungkinkah dia mampu mengatur mimpi seseorang.
Eh, mana mungkin. Bagaimana bisa seseorang yang bisa mengatur mimpi orang lain. Katakanlah fenomena yang kualami adalah lucid dream maka sepertinya mustahil dia sampai bisa masuk ke mimpi orang. Akan sangat mungkin kalau aku yang mengalami lucid dream adalah diriku sendiri, maka seharusnya aku bisa mengatur semuanya. Namun, kenyataannya aku tidak bisa melakukan apa pun di sana. Kalau pun mimpi yang kualami adalah perwujudan keinginan terdalam dalam benak manusia, tetapi aku tidak mungkin mengharapkan hal buruk terjadi pada Geral.
Opsi lain adalah hantu. Hal ini cukup masuk akal karena aku sering sekali diganggu oleh penampakan makhluk menyeramkan. Namun, rasanya aku belum pernah dengar soal hantu yang bisa mengatur mimpi manusia. Kenapa teori yang muncul semakin ngaco saja. Ah, tidak, tidak, mungkin mimpi\-mimpi itu hanya kebetulan dan bunga tidur saja seperti kata orang\-orang, hanya saja mimpi itu terus melayang di depan mata seolah mereka sengaja ingin mengangguku. Suara Geral yang menabuh gendang telingaku hingga sentuhan jemarinya di puncak kepala, semua terasa nyata seakan aku bisa merengkuhnya sekarang, saat ini juga. Aku tersentak kala suara benda pecah bergema memenuhi ruangan.
Tikuskah atau kucing?
Perkiraanku sepertinya benar\-benar meleset kala suara langkah kaki terdengar dari luar. Seingatku semalam pintu depan sudah dikunci. Jangan\-jangan ada maling yang masuk ke rumah seperti yang dikatakan Alex dan Tante samping rumah. Tidak, tidak, itu konyol. Apa yang mau mereka curi dariku. Aku tidak memiliki apa pun.
Aku belum sempat turun dari tempat tidur kala kenop pintu kamarku berputar. Mataku membola saat pintu menjeblak terbuka. Sosok tinggi dengan penutup yang melapisi wajahnya hingga hanya tampak bagian mata kini menodongkan sepucuk pistol ke arahku.
“Jangan bergerak!” katanya dengan suara sengau di balik penutup kain yang menutupi mulutnya.
Malam ini, aku benar\-benar didatangi maling. Kalau tadi aku berharap terbangun dari mimpi, kalau sekarang aku memilih kembali ke alam mimpi dibanding terjaga. Gigilan hebat merambati tubuhku kala melihat mereka mulai masuk ke dalam kamarku. Jangankan untuk berlari atau mengambil apa pun untuk melawan, pikiranku sekarang benar\-benar kosong. Tubuhku pun sama, tetap membeku di tempar. Mendadak aku tidak yakin apakah aku punya kaki atau tidak. Ludah besar\-besar menuruni tenggorokan sementara keringat dingin mulai merambati tengkukku. Namun, bibirku tetap mengatup rapat dan aku benar\-benar gagal untuk sekedar berteriak.
“Tuhan, aku sudah lama percaya padamu, berdoa meskipun tidak sering, untuk kali ini saja kumohon buat mereka pergi dari tempat ini.”
“Di mana kau simpan uangmu?” katanya sambil bergerak mendekat dengan senjata di tangan.
Aku terdiam, bukan Tuhan yang menjawab akan tetapi maling. Mereka juga bertanya soal uang. Tapi, uang apa yang mereka cari. Aku sama sekali tidak memiliki uang.
“Kenapa diam saja, jawab!” ucap salah dari mereka dengan nada tidak sabar.
“A—aku ti—ti—tidak punya uu—uuang,” kata\-kata itu susah payah terlepas dari bibirku.
“Jangan bercanda! Serahkan uangmu sekarang atau kuledakkan kepalamu!” ancamnya sambil berjalan mendekat.
Meledakkan kepalaku katanya. Mudah sekali mereka mengatakan semua itu. Memangnya membunuh dan mati hanya sejenis permainan. Mereka tidak tahu apa\-apa soal itu. Ya, mereka bahkan tidak tahu rasanya ditinggal mati. Jemariku yang semula saling memilin di bawah selimut, berlahan\-lahan mulai mengepal. Semula aku takut, tapi sekarang aku marah. Kali ini aku mendongak untuk menatap salah satu dari mereka dan memelototkan mata tanpa berkedip.
“Kau perlu dihajar dulu rupanya!” kata Si Pemegang pistol sambil berjalan mendekat.
“Jangan mendekat!” jeritku melengking.
“DIAM!”
Setelah teraiakan itu, suara letusan disusul dengan bunyi benda pecah terdengar dari atas kepala. Aku tidak perlu menoleh untuk melihat kalau letusan peluru itu mengenai kaca jendela di belakangku.
“Apa dia perlu kita perkosa dulu, Bro?” Salah satu rekannya yang bergerak masuk mulai bersuara.
Diperkosa.
Mendengar kata\-kata rasanya seperti ada yang putus di dalam kepalaku. Tidak, tidak! Mereka ini gila. Untuk aku harus melawan, tapi dengan cara apa.
“Lepaskan aku!” kataku akhirnya setelah bersusah payah mengumpulkan keberanian.
“Katakan di mana uangmu!” Si pembawa pistol tidak menggubris pertanyaanku.
Aku harus selamat dulu. Mungkin memberikan apa yang mereka inginkan bisa menolongku sekarang. Benar, uang dan harta bisa dicari lagi sementara nyawa tidak akan pernah kembali kalau sudah pergi. Aku meneguk ludah lalu menoleh ke arah almari lalu menunjuknya. Di sana semua uang tunai dan perhiasanku disimpan. Salah satu perampok membuka almari dengan brutal, membuang semua bajuku ke lantai. Dia dengan sigap memasukkan perhiasan dan uang tunai yang seharusnya kugunakan untuk membeli bunga ke dalam tasnya.
“Hanya ini?” tanyanya dengan nada menyebalkan.
Aku diam dan enggan menjawab. Bibirku mengatup rapat sementara rasa asin kini mulai memenuhi mulut. Gigiku gemeletuk di dalamnya menahan kengerian yang kurasakan. Tanganku masih membekap telinga, benar\-benar takut muncul letusan lain.
“Enggak ada lagi?” bentak lelaki yang membawa senjata dan berdiri tidak jauh dariku.
Aku menggeleng lemah. Aku tidak memiliki tempat lain untuk menyimpan uang. Namun , mereka jelas tidak akan percaya penjelasannku. Mereka menggeledah semua tempat. Menggiringku berdiri di pojok ruangan dengan moncong pistol yang siap untuk memecahkan kepalaku kapan saja. Aku hanya bisa mematung saat mereka mengobrak\-abrik tempat tidur, kotak\-kotak di bawah ranjang hingga bupet serta rak geser. Mereka juga melemparkan baju dalamku keluar. Itu membuatku sangat kesal. Jemariku mengepal pada permukaan gaun tidur tipis yang membalut tubuhku.
“Hentikan!” jeritku.
“Kau berani bicara, heh!”
“Aku bilang hentikan! Enggak ada apa\-apa lagi di rumah ini.”
“Kamu pikir kami akan akan percaya. Rumah sebesar ini tidak mungkin kau tidak memiliki uang lebih banyak.” Pria yang sejak tadi sibuk menggeledah kini bergerak mendekat.
“Pergi!” dengusku dengan napas memburu. “PERGI DARI RUMAHKU!”
Jeritanku pecah memenuhi ruangan. Tidak lama setelahnya aku mendengar bunyi teredam dari bagian belakang. Rasa perih menjalar di belakang kepala. Sepertinya mereka memukul bagian belakang kepalaku dengan gagang pistol atau apa. Aku baru tahu kalau rasanya sesakit ini. Nyeri dan perih bercampur jadi satu, rasanya kepalaku mulai pecah.
Aku tidak bisa lagi menjaga keseimbangan kala tubuhku limbung dan terbanting keras di lantai. Setelah itu aku mendengar benda lain ditaruh di sampingku. Aku menoleh, pistol ini ada di sana. Aku menjulurkan tangan dan mencoba meraih benda itu. Namun, pria itu menendang benda itu menjauh. Belum cukup sampai di situ sekarang dia menindih tubuhku. Napasku tercekat kala tangannya menyentuh dadaku. Tidak lama setelahnya, kudengar suara robekan kain.
“Jangan gerak terus, Manis!” katanya.
Pria yang kini berada di atas tubuhku mulai menarik topengnya sampai ke atas. wajah perseginya yang kaku dan bibirnya yang sobek kini terlihat jelas. Giginya bahkan terlihat kala dia menyeringai.
“Lepas!” pekikku.
“Tenang dikit, enggak akan lama!” ucapnya sambil terkekeh pelan.
Aku menggeleng sambil menjerit\-jerit. Kakiku meronta dan jemariku mulai mencakar lantai. Napasku tersentak keluar kala satu pukulan mengenai pipiku. Aroma alkohol tiba\-tiba menyeruak ke udara. Seingatku tadi tidak ada minuman keras di tempat ini. Aku mengerjap kala wajah persegi dengan bibir sobek itu kini berubah. Rasanya wajah itu jadi lebih muda, mungkin berusia belasan. Bentuk wajahnya oval dan bibirnya tidak sobek. Meski begitu, wajahnya tidak jelas. Aku hanya bisa melihat kalau pemuda itu sekarang memegang botol kaca di kanannya, sepertinya sudah siap memukulkan benda itu untuk memecahkan kepalaku kapan saja.
Pemuda itu mengayunkan botol itu dan aku menjerit. Sekeras\-kerasnya dan sekencang yang kubisa. Jeritanku berubah jadi rintihan kala sesuatu yang keras—mungkin botol itu—memukul kepalaku. Mataku mulai memejam kala sesuatu—entah apa—kini terbenam di sela bibirku. Bisa jadi aku diciumi secara paksa oleh orang\-orang ini atau ada benda lain yang dijejalkan ke dalam mulutku. Aku sendiri tidak tahu karena rasanya lebih enak tidur saja.
__ADS_1
“Tuhan. Setelah belasan tahun, Kau bahkan menolak doaku lagi kali ini. Apa aku boleh menyesal pernah berdoa pada\-Mu?”
~\*~
Alex memelukku lagi setelah aku membuka mata pagi ini. Meski dia menjelaskan apa pun, aku mulai ingat peristiwa yang terjadi semalam. Pria itu juga mencoba mengajakku berbicara beberapa kali sejak aku bangun, akan tetapi aku enggan menjawab. Sekarang aku masih bertanya\-tanya sebenarnya peristiwa semalam sampai separah apa karena ingatanku sepertinya tidak bisa dipercaya.
Jantungku berdebar kencang kala aku menoleh dan menemukan kalau bajuku yang sobek di bagian bahu. Ternyata sobekan kain yang kudengar semalam itu nyata, semua itu membuatku menggigil. Aku buru\-buru menarik selimut yang menutup tubuh bagian bawahku. Mataku pada pahaku yang menyembul sedikit karena gaun tidur yang kukenakan nyaris robek sampai pinggang.
“Ke—kenapa ini—bi—”
“Bukan apa\-apa, Za. Bukan apa\-apa.” Alex menyahut sambil buru\-buru menutupi pahaku dengan selimut.
“Bukan apa\-apa gimana?” tanyaku.
“Dengar, belum terjadi apa\-apa semalam. Saat aku datang, mereka baru—ah—”
Alex tidak melanjutkan kata\-katanya karena sekarang mengepalkan tangan dan menonjok permukaan ranjang. Napasnya memburu sementara wajahnya memerah, sepertinya dia benar\-benar marah sekarang. Aku langsung bangkit berdiri dan menarik kerah bajunya.
“Katakan apa yang mereka lakukan!”
“Lebih baik kamu tidak tahu,” katanya sambil membuang muka. Kelopak matanya terlihat turun dan bibirnya melipat.
“Aku berhak tahu!” pekikku sambil mengeratkan cengkeraman.
Alex menarik napas. “Mereka menciumimu.”
“Apa?”
“Iya, saat Kakak datang kamu sudah pingsan dan salah satu dari mereka menciummu.”
“Mereka menciumimu,”
“Kau pikir mereka akan melecehkanmu?” tanyanya memburu. “Karena bajumu sobek?”
“Lalu?”
“Tidak ada yang terjadi karena polisi sudah datang.”
“Memangnya aku bisa percaya omong kosong semacam itu?”
Alex kini menatapku. “Kamu boleh lihat hasil visum dan kamu akan tahu kalau aku enggak bohong.”
“Hentikan!” Alex menarik tanganku.
“Enggak, enggak ini harus dibersihkan,” tolakku.
“Kau akan terluka,” sahutnya sambil menarikku kembali dalam pelukan.
“Tenanglah, tidak ada yang terjadi. Kamu bisa percaya pada Kakak, kalau mereka berani menyentuhmu lebih dari itu aku sendiri yang akan membunuh mereka.”
Tangisanku kembali pecah dalam pelukan Alex. Hidupku memang tidak pernah berharga baik di mataku sendiri atau di mata orang lain, akan tetapi kenapa hal semacam ini terus terjadi? Memangnya aku harus sampai jadi abu atau sejenisnya hingga semua hal mengerikan ini bisa berhenti?
“Komplotan itu sudah ditangkap jadi kau bisa tenang sekarang,” katanya sambil menarik wajahku untuk menatapnya. Dia mengusap pipiku dengan jemarinya. “Kau sudah aman, tidak akan ada apa\-apa lagi.”
Tenang? Aman? Kau tahu apa? Kau tidak mengerti! Kau tidak tahu rasanya jadi aku!
Namun, aku tidak mengatakan apa pun selain menangis. Alex juga hanya memelukku tanpa mengatakan apa pun.
“Lebih baik kamu istirahat sekarang, biar kamu tenang,” katanya setelah tangisannku berhenti.
“Jawab pertanyaanku sekali ini saja, apa perampok semalam ada yang masih muda?” tanyaku.
Kening Alex mendadak berkerut. Sepertinya dia sedang mengingat\-ingat. “Setahuku sih tidak. Dilihat dari wajahnya sekitar empat puluh tahunan.”
“Jadi enggak ada yang usianya belasan.”
“Seharusnya sih tidak. Apa ada yang kamu ingat? Apa ada orang lain yang lolos?”
Aku menggeleng. “Enggak kok.”
“Ya sudah, sekarang kamu tidur. Jangan mikir macam\-macam,” hiburnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
Jadi semalam memang tidak ada penjahat berusia belasan. Dilihat dari perban kecil yang dipasang di bagian belakang kepala dan tidak ada lukanya di kening maka botol kaca itu juga tidak ada di sana. Apakah aku bermimpi lagi? Bermimpi di kejadian buruk semacam itu rasanya mengerikan.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alex lagi.
“Enggak ada,” kilahku berbohong sebelum aku memejamkan mata.
Alex masih menepuk kepalaku saat rasa kantuk yang kupaksakan akhirnya datang juga. Benar, saat ini mungkin tidur adalah pilihan terbaik. Ya, memang aku tidak punya opsi lain yang lebih baik untuk dilakukan.
Keesokan harinya Alex membawaku ke hotel setelah kondisiku katanya cukup stabil hanya tinggal rawat jalan dan kembali periksa jika obatnya habis. Alex memintaku menginap di sana sebelum rumahku dibereskan. Dia mengantarkanku ke tempat ini setelah aku bilang padanya bahwa aku takut pulang. Takut apabila perampok itu akan datang lagi. Dia langsung menolak saat aku memintanya untuk pulang saja ke rumahnya.
“Ada Ayah. Kamu tidak akan suka pulang ke rumah kami.”
__ADS_1
Begitu katanya. Kata ‘kami’ di belakang kata rumah menunjukkan kalau tidak ada aku. Tidak ada kata ‘kita’ di sana. Rumah kami bukan rumah kita, itu bukan rumahku intinya begitu. Hanya sebuah penegasan halus yang cukup kentara. Aku menekuk kaki dan memeluknya, membiarkan suara televisi menenuhi ruangan. Sarapan yang disediakan sejak pagi belum tersentuh. Alex sudah pergi sejak beberapa jam lalu untuk bekerja.
Aku sudah meraih remote untuk mematikan televisi. Namun, aku langsung berhenti kala mendengar suara ceria dari dalam layar kaca.
“Hotspot akan menyajikan tujuh kisah nyata yang membuktikan bangkit dari kematian itu benar\-benar terjadi. Jangan ke mana\-mana, tunggu setelah jeda commercial break sesaat lagi!”
Eh. Benar\-benar nyata? Bangkit dari kematian? Ada yang seperti itu?
Infonya akan Hotspot sampaikan beberapa saat lagi.
Aku menaruh dagu di atas lutut lalu mengetuk paha dengan tidak sabar saat tayangan iklan mulai tampil di layar. Aku mulai menghitung setiap detik yang terlewat selama menunggu. Jantungku mulai berdebar saat bola pijar berputar di layar kaca sebagai penanda acara yang kutunggu akan dimulai.
“Benarkah bangkit dari kematian itu benar\-benar terjadi? Ataukah reinkarnasi benar\-benar ada? Inikah tujuh kisah mengenai orang\-orang yang bangkit dari kematian dan orang\-orang yang dikira kerasukan arwah nenek moyang yang telah lama meninggal.”
Kisah pertama, balita bernama Ron. Orang tuanya kaget ketika dia mengaku bahwa dia adalah orang yang melintasi portal untuk masuk ke tubuh Ron. Dia juga bisa menjelaskan kasus pembunuhan yang menimpa saudarinya dengan ditenggelamkan ke sungai. Saat ditanya bagaimana kronologi kematiannya, Ron menepuk kepala dan bertingkah seolah kesakitan. Anehnya, kakek Ron ternyata memang meninggal karena pendarahan otak.
Eh. Benarkah bisa seperti itu? Transfer jiwa dari masa lalu ataukah itu reinkarnasi. Jika reinkarnasi benar terjadi seharusnya aku bisa memanggil Mama kembali. Andai saja Mama kembali dari alam baka, Ayah dan Alex tidak akan marah lagi padaku. Mereka akan menerimaku kembali. Mama akan datang setiap waktu saat aku sedih seharusnya begitu. Aku mendesah pelan, kembali memasang telinga, mencoba untuk menyimak lebih banyak cerita yang akan dibeberkan di acara itu.
Beralih pada kisah berikutnya, seorang anak lelaki bernama Ryan yang tiba\-tiba berteiak pada suatu pagi dan meminta ibunya untuk mengantarkannya ke rumah, dia mengatakan merindukan rumahnya, padahal sedang berada di rumah. Ryan bilang rumahnya yang terdahulu lebih besar dan nyaman dibandingkan rumahnya yang sekarang. Ibunya lalu meminjam buku di perpustakaan tentang sejarah hollywood dan berharap adanya gambar\-gambar bisa menghibur putranya. Ryan lantas berteriak saat melihat salah satu potret, pria itu aku, aku di masa lalu. Padahal adegan itu berasal dari film Night after night yang dirilis pada tahun 1932.
Bagaimana permirsa? Mengejutkan sekali bukan? Apakah reinkarnasi benar\-benar ada ataukah memang ada kebangkitan setelah kematian. Semua itu masih menjadi misteri.
Jantungku berdebar sekarang. Jika reinkarnasi memang benar\-benar terjadi pada semua peristiwa itu maka seharusnya ingatan lama tidak akan sejelas itu. Mungkin beberapa potong memori akan terhapus, kalau pun ada pasti tidak akan sejelas itu. Meski kalau di film\-film atau novel, ada tokoh yang ingat masa lalunya dan bahkan bisa kembali mengulang hidupnya. Ditambah lagi aku pernah membaca novel yang menjelaskan perpindahan tokoh utama ke dunia novel. Jadi kasus\-kasus itu bukan reinkarnasi, akan tetapi perpindahan jiwa. Mungkin aku lebih percaya kalau kasus\-kasus di dalam acara Hotspot itu adalah sejenis kerasukan dna pergantian jiwa. Pertanyaannya adalah jika memang semua itu memang mungkin terjadi, apakah jiwa orang yang sudah meninggal bisa datang lagi ke dunia, layaknya jiwa manusia berpindah ke dalam dunia novel.
Eh, bukankah kalau dunia kematian dan kehidupan seharusnya masih satu haris lurus. Kurasa kemungkinan ini bisa terjadi. Buktinya ada yang sembuh dari koma atau orang yang mendadak bangun setelah mati suri. Bukankah mereka juga disebut kembali dari kematian.
Kesimpulannya, apa semua itu mungkin terjadi? Apakah ini patut dicoba? Apakah memanggil jiwa Geral kembali benar\-benar bisa dilakukan?
Terdorong rasa penasaran, aku tidak ingin menunggu lebih lama hingga acara itu selesa. Aku buru\-buru mematikan pesawat televisi lalu mengambil dompet yang berisi uang dan kartu ATM serta ponsel baru yang ditinggalkan Alex. Tanganku dengan cepat menjejalkan kedua benda itu ke dalam tas selempang yang sepertinya diambil pemuda itu dari rumah. Aku melangkahkan tungkai dengan cepat setelah menutup pintu. Bergerak cepat ke gerbang depan dan memesan taksi online.
Saat taksi yang kupesan datang, aku langsung naik. Mobil bergerak berlahan sementara jantungku mulai berdebar. Aku ingin ke ruko Alice sekarang dan bertanya soal pembangkitan jiwa pada gadis itu. Taksi masih bergerak menyisir jalanan. Sementara tanganku mengetuk tidak sabar.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kios Alice sudah terlihat. Namun, keraguan memenuhi benakku. Banyak pertanyaan berjejal di sana. Apakah aku melakukan yang benar? Apakah memanggil jiwa orang yang sudah mati itu adalah keputusan yang tepat?
Ah, tidak, memanggil orang mati itu tidak benar. Rasanya hal itu juga tidak mungkin terjadi. Tayangan televisi itu belum tentu benar. Semua hal itu tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Berhenti di mana, Mbak?”
Aku tersentak sesaat lalu buru\-buru mengamati jalanan. Menelan ludah yang menuruni tenggorokan saat jemariku saling memilin.
“Depan sana, Pak.”
Sopir itu mengangguk dan menurunkanku di tepi jalan, sekitar seratus meter dari ruko milih Alice. Setelah taksi itu bergerak pergi, aku memesan taksi lagi. Mobil yang kupesan datang lima menit setelahnya. Aku kembali naik ke dalam mobil. Aku menoleh ke belakang sebentar sementara taksi terus melaju dan mungkin aku tidak ingin lagi ke sana. Rasanya ini keputusan yang tepat. memanggil Geral kembali, mungkin keputusan terkonyol yang akan kuambil. Menghidupkan mayat mungkin akan jadi keputusan aneh. Sudahlah, pulang ke rumah saja dan mencoba untuk melanjutkan hidup.
Taksi mengantarkanku ke rumah. Gerbang depan masih tampak terbuka sedikit dengan garis kuning polisi melintang di depan serta di depan pintu. Aku melangkah masuk dengan mengangkat pita kuning yang melingkari pagar ke atas. Ketakutan seketika menyergap kala melihat ruang tamu yang berantakan dengan banyaknya benda yang terguling di segala arah. Aku bergerak ke atas dan kerusakan di lantai dua juga sama parahnya. Rumah ini belum dibersihkan seperti yang diklaim Alex.
Bibirku terlipat sementara gigiku saling gigit. Kurang ajar sekali gerombolan perampok melakukan ini padaku, pada rumahku. Aku membuka pintu dan pemandangan mengerikan menyambut. Semua barangku berserakan di lantai, celana dalam dan baju saling tumpuk di dekat ranjang bercampur dengan barang\-barang lain.
Jemariku dengan cepat menarik semua baju yang berserakan dan memasukkannya ke dalam keranjang. Semua kain ini harus dicuci. Mataku terantuk pada kemeja flanel berwarna hot pink yang terselip di bawah ranjang. Baju terakhir yang dibelikan Geral. Ah! Baju terakhir. Dadaku sesak jika memikirkannya. Aku meraih benda itu sebelum memasukan ke keranjang bersama baju yang lain.
Semua hal ini seharusnya tidak terjadi jika saja Geral ada. Seharusnya dia ada saat ini untuk melindungiku. Paling tidak akan ada untuk membantuku membersihkan semua ini atau mengatakan padaku kalau semua ini tetap akan berakhir baik\-baik saja. Air mataku mulai jatuh satu persatu. Ke mana semua orang di saat seperti ini. Alex bahkan tidak ada, apalagi Ayah. Semua orang meninggalkanku begitu saja, aku sendirian. Tanpa Geral, aku hanya seorang diri. Sekarang aku harus bersih\-bersih dan membereskan semua kekacauan ini sendirian juga.
Matahari sudah turun di ufuk barat kala aku membuang semua benda yang rusak ke tempat sampah di depan. Rumah sudah lumayan bersih saat ini. Seperti yang dikatakan Alex kalau tidak penjahat berusia belasan, selama bersih\-bersih aku tidak menemukansatu pun pecahan kaca. Jadi orang yang kulihat malam itu mungkin memang hanya khayalanku saja.
“Benarkan kata Tante, Za?”
Aku mendongak menemukan ibu gendut yang rumahnya persis di depan rumahku kini berdiri di hadapanku.
“Soal apa ya, Tan.”
“Maling.”
“Iya,” ucapku lirih meskipun sungguh aku benci mengakui. Orang semacam ini yang menyebalkan, sudah tahu masalah orang lain masih sibuk untuk bertanya.
“Seharusnya kau ikut ayahmu saja, lebih aman apalagi untuk anak gadis rawan jika tinggal sendirian. Wajar kalau kamu diincar gerombolan perampok. Untung kamu enggak diperkosa, masih bersyukur itu,” katanya lagi.
Dia mungkin mencoba bersimpati, akan tetapi sayangnya suaranya menusuk dengan nada menyindir yang kentara. Kalimat itu dipoles dengan nada yang lembut, tetapi menyebalkan. Aku paling kesal dengan orang yang pura\-pura bertanya padahal dia tahu serta orang yang sibuk memberi solusi untuk hidup orang lain sedangkan dia tidak mau tahu apa yang dialami orang tersebut. Dan orang ini masuk kedua\-duanya, orang yang terlalu sibuk mencampuri hidup orang lain. Jemariku mengepal erat, rasanya ingin menonjok wajah bergelambir yang kini tampak sibuk mengamati rumahku.
“Kok tidak dijawab, Enza?” Salah satu alisnya naik ke atas.
“Iya, Tante.”
Mungkin memang aku harus memanggil Geral untuk menonjok orang ini tepat di wajahnya.
“Pacarmu meninggal ya? Turut berduka ya, Za.”
Kau tidak berduka! Berhentilah berpura\-pura!
“Terima kasih, Tan,” sahutku berusaha menekan desakan batinnya yang mulai meletup.
“Kalau dia ada seharusnya kau tidak sampai kerampokan semalam,” ucapnya ringan dan sedatar aspal.
Aku hanya tersenyum tipis lalu mengangguk sebelum berbalik ke dalam rumah. Menanggapi wanita itu hanya akan menambah beban pikiran. Dia terlalu banyak tahu dan menyebalkan sejak lama. Hanya satu dari sekian banyak orang menyebalkan di muka bumi. Inilah yang membuatku sulit sekali nyaman bersama orang lain, selama ini Geral lah yang paling baik padaku. Hanya Geral seorang dan aku hanya menginginkan pemuda itu.
__ADS_1