One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 5. Sosok Pengganti


__ADS_3

 Alice beranjak berdiri. Mataku mengikuti sosoknya yang kini meraih satu buku dari rak yang terletak di pojok ruangan. Setelah itu, dia kembali duduk dam meletakkan buku itu di meja. Terlihat potongan kertas koran usang menempel di salah satu lembar buku itu saat dibuka.



“Kliping?” tanyaku langsung.



“Kau minta bukti, kan?” Alice mendorong bukti itu ke arahku.



Aku membaca tulisan yang tertera pada secarik surat kabar. Menceritakan sebuah keluarga yang kaget saat karyawan dealer kendaraan bermotor mengantarkan motor baru. Hadiah dari Sang Kakek untuk ulang tahun cucu lelakinya yang ketujuh belas. Padahal kakek itu sudah lama meninggal.



“Bagaimana bisa?” Keningku berkerut dan alisku bertaut kala mataku menyipit.



“Itu aku yang melakukan. Aku diminta roh kakek itu untuk memanggilnya ke dunia sebentar, meminjam tubuh seseorang untuk memberikan hadiah untuk cucunya.” Alice menyahut santai.



“Itu enggak mungkin deh.”



“Kau lihat karyawan itu tidak percaya pada awalnya. Tetapi, dia mendatangi alamat yang diberikan kakek itu dan memang menemukan kompleks pemakaman. Percaya?”



Aku menggeleng pelan, masih menimbang untuk percaya atau tidak. Satu hal yang pasti, kalau sampai masuk surat kabar maka berita itu benar adanya. Semua ini memiliki kemiripan dengan kisah Ron dan Ryan serta orang\-orang yang diduga mengalami reinkarnasi atau malah jiwa yang datang dari masa lampau dengan satu keping ingatan kehidupannya di masa lalu. Mungkinkah memang pemanggil jiwa itu benar\-benar ada dan terjadi?



“Kau bisa membuka halaman selanjutnya, aku punya banyak kisah sukses,” katanya terdengar pongah.



Jantungku mulai menghentak sementara jemariku gemetar saat aku membuka halaman selanjutnya. Kali ini seorang pria yang telah dikuburkan kembali hidup dalam wujud orang lain hingga menggemparkan warga setempat. Awalnya, warga tidak percaya. Akan tetapi, saat menunjukan semua hal tentang orang yang telah mati. Orang itu juga menanyakan tanaman yang tumbuh di dekat sumur hingga pohon kelapa yang telah mati jauh sebelum dia meninggal.



“Ini ulahmu juga?”



“Ya,” sahut Alice mantap. “Kamu boleh baca sampai selesai kalau kau tak yakin. Bisa juga memastikan ke surat kabar apakah berita itu benar atau hoax.”



“Tentu saja,” ucapku pelan. Aku merasakan kepahitan dalam suaraku, kalah telak dalam debat adu kredibilitas ini.



Aku masih melanjutkan untuk membuka buku berisi potongan surat kabar itu. Semuanya nyaris sama. Mengenai pemanggilan roh orang yang telah meninggal. Roh\-roh itu kembali hidup. Aku menelan ludah, napasku tercekat. Ini semua bukti. Fakta kalau pemanggilan roh bukan isapan jempol belaka.



“Jadi?” Alis kirinya terangkat ke atas sementara bibirnya mengulum senyuman sinis.



“Alice—”



 “Deal?” potongnya cepat saat aku tidak mampu melanjutkan kata\-kataku.



Telapak tanganku yang berkeringat mulai mengurut jeans yang membalut pahaku lebih keras. Aku menutup mata sekejap sambil mencoba membayangkan Geral, wajahnya, sosoknya lalu senyumannya. Aku sendirian dan kini aku merasakan tangannya menelusup di sela jemariku. Napasnya berhembus ringan membelai daun telingaku. Itu menyenangkan dan akan lebih menyenangkan jika dia kembali. Aku ingin dia hidup lagi. Toh, Alice tidak pernah gagal, bahkan keahliannya sudah sangat terbukti dengan track record di buku itu.



“Deal.” Suaraku akhirnya berhasil keluar dari bibirku yang mulai bergetar.



“Oke.”



Sejujurnya aku masih ragu, akan tetapi tidak ada alasan untuk menolak tawaran ini. Meski begitu, aku tidak serta merta memasangkan benda itu di tangan. Menurutku, penjelasan di awal selalu lebih baik. Sepertinya Alice mengerti maksudku saat aku menjentikkan jari ke arah benda di dalam kotak. Gadis itu menarik napas pelan, sepertinya bersiap untuk menjelaskan.



“Itu gelang keramat. Konon berasal dari dasar laut. Gelang itu akan kau gunakan untuk mencari jiwa orang yang kau inginkan dan membuatnya tunduk.” Alice menjelaskan. Tatapannya beralih pada kotak dan menunjuk kalung itu. “Kalung ini digunakan untuk mengunci jiwa jadi dipakaikan pada tubuh yang akan digunakan untuk wadah jiwa. Dialah sosok pengganti untuk kekasihmu.”



“Sosok pengganti? Maksudmu dia akan merasuki tubuh orang?”



“Yep.”



“Tapi Geral—”



Aku mendesah kecewa. Semua ini bergulir jauh keluar dari hal yang kupikirkan. Geral dalam tubuh orang lain. Kenapa semua ini tidak pernah kupikirkan? Aku akan memeluk atau mencium orang lain, rasanya pasti sangat aneh dan mengerikan. Membayangkannya saja rasanya tidak sanggup.



“Kau pikir kekasihmu akan kembali dalam tubuhnya sendiri, tsktsktsk naif sekali! Pemanggil jiwa juga punya batas. Dia jelas tidak akan mampu mengembalikan tubuh kekasihmu yang kini membusuk di peti mati.”



Membusuk katanya, maka artinya tubuh Geral juga telah rusak. Wajah tampannya kini mungkin sudah tidak berbentuk lagi. Hawa dingin rasanya menusuk tulangku saat memikirkannya. Aku sama sekali tidak ingin membayangkan hal ini. Walau memang begitu kenyataannya. Saat napas Geral melayang maka seluruh sel di tubuhnya pasti telah mengalami apoptosis. Cairan selnya telah merembes keluar. Saat semua sel di dalam tubuh telah mati dan enzim\-enzim telah selesai bertugas mendegradasi DNA. Mustahil untuk menghidupkan tubuh itu lagi. Setidaknya itu yang kudengar ketika pelajaran semasa sekolah.



Aku hanya bisa menarik napas berat. Sekeras apa pun aku mengelak Geral memang telah pergi. Tubuhnya telah busuk berkalang tanah. Mungkin belatung juga tengah sibuk mengisap setiap jengkal daging yang bisa mereka masuki.



Kenangan lain kembali bergulir. Betapa Geral adalah orang begitu berharga. Dialah yang membuat hidupku kembali bermakna. Dia juga yang mengisi hari\-hari yang kosong saat aku sendirian. Kakakku sibuk bekerja setelah Mama meninggal hingga hanya Geral satu\-satunya yang ada.



Aku sungguh tidak bisa hidup tanpanya. Aku pernah mengalami kecelakaan besar beberapa tahun silam. Kejadian yang merenggut Mama. Saat itu Geral lah orang pertama yang kulihat saat aku tersadar. Dia tersenyum dan mengatakan kalau semuanya akan baik\-baik saja. Meski semua orang semua orang menghakimiku, dialah orang yang memelukku. Dia juga ada di sisiku kala tangisan demi tangisan bergulir untuk jenazah yang terbujur kaku di ruang depan. Saat itu, aku bahkan tidak berani mendekat. Aku kehilangan satu\-satunya orang yang peduli padaku malam itu. Namun, di sisi lain aku mendapatkan satu orang yang memberikanku banyak hal lain. Kurasa semua itu adil saja. Sayangnya, lagi\-lagi seseorang yang begitu penting itu juga pergi.



“Apa kau tidak ingin melihat senyumannya lagi? Dia akan tetap jadi orang yang sama hanya ada di tubuh yang berbeda. Percayalah!”



Suara Alice tedengar lagi dan kali ini sungguh semanis madu juga sarat bujukan. Aku tahu itu kalau semuanya mungkin tidak akan semanis kedengarannya, akan tapi aku sungguh ingin berharap. Bisikan lembut itu menggodaku. Memanggil kembali jiwa Geral adalah hal yang benar. Aku ingin melihat senyumannya lagi, aku ingin dia kembali ke sisiku. Ingin dia kembali dan memelukku setelah aku tersiksa selama tujuh hari terakhir. Jemariku terkepal. Membulatkan tekad yang sekian menit lalu masih terombang\-ambing dalam keraguan. Tidak peduli dia hanya kembali beberapa hari atau beberapa bulan. Tidak peduli di tubuh siapa saja, aku hanya ingin dia kembali.



“Baiklah, aku setuju.”



“Kau memilih hal yang tepat di antara semua pilihan sulit. Selamat Enza!” Alice tersenyum tipis seolah dialah yang paling bahagia dengan keputusan yang baru saja kuambil.


__ADS_1


“Lalu di mana aku mencari tubuh yang sesuai untuk Geral?”



Alice tersenyum lagi, “Aku sudah mengurusnya tentu saja, itu bagian dari servis.”



“Servis\-mu menyeluruh?”



“Ya. Agar pelanggan puas, hidup di zaman sekarang itu begitu sulit kalau kita tidak pintar.” Alice tersenyum lagi, kebanggaan seolah berpijar di bola matanya.  



“Iya juga sih.”



“Ngomong\-ngomong, kita berangkat sekarang, bagaimana?” Alice beranjak berdiri.



“Sekarang?”



“Mungkin sebulan lagi.” Alice masih bersikap tak acuh. Dia menaruh kotak berukir yang masih berisi kalung itu ke tanganku.



“Tapi, kalau sekarang aku tidak punya uang buat bayar kamu.”



Alice mendengus. “Jangan pikirkan soal itu, aku tidak akan menagih dalam waktu dekat.”



“Benarkah?” tanyaku tak percaya.



“Aku tidak semiskin itu, oke!” tegasnya. Meski itu agak sulit dipercaya mengingat rukonya yang kecil, berbau karat dan berantakan sekarang ini.



“Baiklah. Kalau itu yang kamu mau,” sahutku pasrah.



Alice tidak menjawab hanya berbalik pergi saat aku memasukan kotak itu ke dalam tas. Aku tertatih mengikuti langkahnya sambil menutup risleting tas yang semula menganga. Kami bergerak ke depan dan matahari belum memberikan semburat merahnya di langit.



Aku menmutar kunci dan menyalakan mobil saat Alice duduk di kursi penumpang. Gadis itu memberikan secarik kertas berisi alamat. Seketika aku menghela napas lega. Alamat itu bukan merujuk pada lokasi pemakaman terdekat. Menggali mayat jelas bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan pagi\-pagi ini, ya sore sekali pun tetap menyebalkan. Walau mungkin Alice akan memasukkan jiwa ke dalam mayat, yang penting bukan menggali kuburan. Aku mencoba menebak, mungkin dia melakukannya dengan ilmu alkimia yang legendaris atau malah dengan sihir sepenuhnya atau praktek perdukunan mengingat negeri ini masih sarat aroma klenik. Entahlah.



“Berapa banyak aku harus membayarmu?” Aku menoleh takut\-takut. Bisa jadi dia meminta harta berlebih yang tidak mamu kubayar atau nyawaku sekalian. Siapa tahu, berjaga\-jaga selalu lebih baik.



Alice menatapku lalu tersenyum lagi. “Aku akan memintanya nanti, kau tenang saja.”



Aku hanya menjawab oh pelan dan melanjutkan aksi mengemudi menembus malam yang berlahan mulai pudar. Langit mulai terang saat kami sampai di depan salah satu rumah tua di ujung kota.  Saking tuanya, aku yakin rumah itu seumuran dengan gedung peninggalan era kolonial. Aku melihat lagi alamat di kertas yang diberikan Alice. Tidak ada yang salah.



“Memang. Kita ada di tempat yang benar.” Alice berjalan turun dari mobil.




Tidak berapa lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan setelan kebaya jenis kutu baru hitam dan jarik bermotif parang untuk menutupi kakinya muncul di ambang pintu.



“Ndoro!”



“Alice!” Alice memotong cepat, tetapi aku masih menangkap panggilan yang sering diberikan kepada tuan rumah itu.



“Alice.” Suara parau itu serasi dengan penampilannya yang serba gelap. Gelungan berhias melati di atas kepalanya tampak bergoyang sesaat.



“Aku ingin melihatnya,” ucap Alice tanpa basa\-basi.



Wanita itu melirik ke arahku lalu menatap Alice kembali seolah meminta penjelasan. Aku juga memberikan isyarat samar kalau Alice memang perlu menjelaskan banyak hal di sini sebelum masuk ke rumah itu. Sepertinya gadis itu paham apa yang kuminta makanya dia mendengus.



“Dia yang akan membantu kita.” Alice terdengar yakin.



Wanita itu mengangguk lalu mempersilahkan kami masuk. Aku berjalan ke dalam mengikuti Alice yang menjelajah tempat itu seolah kamarnya ada di salah satu ruangan itu.



“Apa maksudmu barusan?” tanyaku sambil berusaha menjajari langkah Alice. “Membantumu? Bukankah kamu yang membantuku?”



“Jawaban itu akan kau dapatkan bersama bayaran yang kuminta nanti.”



Gadis itu tetap tidak menoleh dan berjalan lurus ke depan padahal aku masih ingin bertanya lebih lanjut. Akan tetapi, Alice telah berhenti di depan salah satu ruangan dengan pintu berukir. Ukiran dengan bunga\-bunga melingkar persis seperti ukiran di kotak yang diberikan Alice beberapa jam lalu.



“Kau siap?” Alice mengirimkan tatapan seakan ragu dengan tekadku.



“Aku siap,” ucapku masih dengan keraguan yang kentara.



 Jantungku terpompa cepat, paru\-paruku kembang kempis saat napasku mulai sesak. Tidak ada jalan kembali. Aku telah terperosok terlalu dalam. Saat Alice membuka pintu ruangan itu, aku yakin tidak ada lagi jalan kembali. Kakiku mengikuti langkah Alice. Seketika terperangah melihat pemandangan di dalamnya. Mataku membola sesaat bersamaan dengan napasku yang mulai sesak.



Ruangan itu besar dengan jendela lebar di tembok. Sebuah ranjang besar tepat berada di tengah ruangan. Tidak ada perabotan selain almari kayu besar berukir dan meja kecil di sudut ruangan. Kami berjalan mendekat ke ranjang. Dadaku berdesir. Seorang lelaki terbaring di ranjang. Wajahnya rupawan walau sangat pucat hingga persis mayat. Rambut hitamnya menutupi kening dan ujungnya nyaris bertatut dengan bulu matanya.



“Dialah sosok pengganti untuk kekasihmu.” Alice memecah kekagumanku pada lelaki itu.



“Apa dia mayat?” Jemariku yang gemetar saling bertaut. Aku gagal menyembunyikan rasa takut.

__ADS_1



Alice menggeleng. “Saat ini belum. Tetapi, mungkin tidak akan lama lagi dia akan jadi mayat.”



Ucapan itu jahat, hanya saja aku sudah tidak lagi memerhatikan kata\-kata yang meluncur dari bibir gadis itu. Aku sibuk menelisik wajah lelaki yang kini masih tertidur dalam peraduan, tampak tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kami.



“Lalu kau akan memasukkan jiwa Geral ke dalam tubuhnya?” kataku masih berusaha untuk melupakan kata\-kata kejam yang baru saja Alice ucapkan.



“Salah. Kau yang akan memasukkan jiwa kekasihmu bukan aku.” Ada tekanan pasti dalam suara Alice. Sebuah perintah, bukan permintaan.



“Kenapa begitu?”



“Karena kau yang menginginkannya kembali, bukan aku.” Alice merespon cepat.



“Haruskah?” Aku masih ragu.



“Kalau kau ragu, kita bisa batalkan perjanjian ini!” sahut Alice tegas.



“Alice!”



“Anggap saja kau menolongnya.” Alice menepuk pundakku.



Alice tidak menunggu tanggapanku lalu menunduk ke arah lelaki muda itu. Alice berbisik di telinga sosok itu. Aku tidak mendengarnya. Alice mungkin membisikkan sejenis mantra atau jampi\-jampi. Jemari kurusnya mengusap kening pemuda itu setelah menghembuskan napas tiga kali ke wajahnya. Beberapa menit setelahnya, Alice kembali berdiri lalu menatapku.



“Pasangkan kalung itu padanya!”



Aku bergerak mendekat dengan tangan gemetar. Kulit tanganku sempat menyentuh leher sosok, aku tersentak sesaat ketika kusadari lehernya begitu dingin. Aku mengalungkan chocker itu di leher pemuda itu. Entah karena aku ketakutan atau paranoid berlebihan. Rasanya denyutan lembut mulai timbul di gelang yang sejak tadi sudah kukenakan.



“Nah sekarang tinggal satu langkah lagi, berikan darahmu!”



“Hah?”



“Iya, darah,” sahut Alice sambil mengedikkan bahu.



Aku tidak paham kenapa mendadak Alice membutuhkan darah. Ingatanku tidak pernah baik jika berkaitan dengan darah. Lagi pula, dia butuh sebanyak apa?



“Aku tidak bisa, Al.” Kakiku bergerak mundur sementara jantungku memacu cepat, rasa\-rasanya semua hal ini akan berakhir buruk.



“Kemarikan tanganmu!” Alice menarik tangan kiriku dengan paksa.



“Ouch!” keluhku cepat saat Alice menusukan jarum kecil tepat di urat nadiku.



Sialnya aku tidak sempat berkelit. Luka yang dibuat Alice tidak besar dan lebar. Namun, cukup untuk mengalirkan darah keluar. Rasa perih mulai menyerang, akan tetapi Alice tidak melepaskan tanganku. Gadis itu menariknya hingga tanganku tepat berada di atas wajah yang kini tampak terlelap itu. Campuran rasa mual, ingin muntah dan jijik mulai menyerang kala tetesan darah itu jatuh di atas bibir pemuda itu. Kepalaku mulai berdenyut pusing. Tenggorokanku juga mulai terasa kering. Aku benci darah, sangat membencinya.



“Apa yang kamu lakukan?” Aku berusaha melepaskan cengkeraman Alice.



“Perjanjian dengannya.” Alice langsung melepaskan tanganku. “Kau tidak bisa mundur lagi, Za!”



“Apa?”



“Perjanjian yang telah dibentuk di atas darah tidak boleh diingkari atau—”



“Atau apa?”



“Ah, sudahlah.” Alice mengibaskan tangannya dengan tidak acuh.



“Katakan!”



“Ini namanya perjanjian darah. Darah dari jantungmu akan membuat jantungnya berdenyut untukmu. Jika kau mengingkarinya maka kau akan mati!”



Mati katanya. Kata\-kata itu berdengung di dalam rongga kepalaku yang terasa kosong. Kenapa memanggil Geral untuk hidup kembali harus membuatku mati? Apa aku semacam tumbal?



“Tapi, kau tidak akan mengingkarinya. Aku yakin itu.” Alice kembali bicara. “Iya, kan?”



“Ti—dak akan,” tukasku cepat.



"Bagus!”



Itu benar, tidak ada alasan untukku membatalkan perjanjian ini. Aku melirik Alice, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai. Sedikit ganjil. Namun, aku hanya terdiam karena aku tidak mengerti apa pun yang keluar dari bibir Alice. Rasa\-rasanya entah mengapa aku seperti dijebak. Akan tetapi, jebakan macam apa? Alice tidak mengenalku atau pun Geral, kecil kemungkinan dia akan berbuat jauh hanya untuk menjebakku. 



“Aku akan siapkan peralatan untuk ritualnya.” Dia menyodorkan plester cukup besar untuk menutupi luka di pergelangan tanganku.



Aku ingin mengikuti Alice keluar tapi gadis itu sudah menghilang entah ke mana. Aku kembali mendekati sosok itu sambil memegangi pergelangan tanganku yang kini rasanya masih perih. Geralku akan kembali melalui pemuda ini. Sungguh aku masih belum bisa percaya. Aku mengelap darah yang menetes di pipinya menggunakan ujung jari. Aku terkesiap. Spontan bergerak mundur saat mata pemuda itu tiba\-tiba saja terbuka. Aku ingin berlari sekarang juga, semua ini pasti kesalahan besar.

__ADS_1



 


__ADS_2