One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 12. Helianthus annuus L.


__ADS_3

Mataku nanar menatap jalanan yang mulai ramai di depan rumah. Aku mempercepat langkah. Kopi di cangkir itu masih suam\-suam kuku, Geral pasti belum jauh. Aku seketika berhenti kala aku melihat pintu toko bunga terbuka. Toko bunga itu milikku dan berada tepat berada di samping rumah. Kakiku melangkah tanpa suara. Suara lonceng berdering nyaring saat pintu berderit terbuka. Wajahnya muncul di balik kumpulan bunga krisan putih yang bergoyang. Tangannya yang panjang sedang mengangkat pot berisi puluhan tangkai bunga itu. Geral menaruh pot di dekat pintu masuk sebelum sekarang menatapku.



“Enza!” suara Geral terdengar riang.



“Iya–eh–Iya, ada apa?”



Uggh! Aku benar\-benar gagal menyusun kata\-kata yang benar. Dia mengangkat jemarinya yang mengepal di depan mulutnya. Benar\-benar terlihat geli dengan tingkahku sekarang. Pipiku memanas kala dia masih saja tertawa. Aku melirik pot bunga krisan yang tadi ditaruh Geral. Aku memang selalu menaruhnya di sana dan  semasa hidupnya Geral tahu itu–ternyata dia masih mengingatnya.



 Aku masih berdiri saat Geral mendekat. Langsung berjingkat dan jantungku rasanya melompat keluar ketika pemuda itu merengkuhku dari belakang. Pergelangan tangannya yang halus menggosok leherku. Wangi segar tubuh Geral menyeruak masuk menembus hidungku, hingga ingin rasanya aku berbalik dan memeluknya.



“Aku belum mandi,” aku mencoba berkelit.



“Tidak masalah,” suaranya yang berat terdengar lirih.



Aku bergidik mengingat geramannya semalam. Aku menoleh dan senyuman mengembang di wajahnya. Sisa kekejamannya semalam seperti hilang tanpa bekas. Sekarang justru aku lebih mirip orang yang tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Hanya saja, aku berani bersumpah kalau kejadian semalam itu nyata. Tetapi, sekarang pun juga terlihat nyata. Aku benar\-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Namun, aku tidak ingin Geral menyadari kegelisahan yang kurasakan. Dia Geralku yang kupanggil dengan susah payah, aku hanya harus percaya kalau dia memang sudah kembali dan kejadian semalam hanyalah mimpi. Setidaknya dengan begini aku juga bisa jadi lebih tenang–semoga.



“Aku tunjukan sesuatu,” katanya lagi sambil menggiringku masuk ke dalam.



“Ah–eh–maksudku iya.”



“Kamu masih setengah tidur ya?”



Aku menggaruk leherku yang tidak gatal. “Buu–bukan, aku hanya penasaran,” kilahku berbohong.



“Kau akan tahu sebentar lagi,” ucapnya terdengar misterius.



Jantungku berdegup kencang kala  kakiku melangkah berat. Geral terus mendorongku. Kami sampai di meja kayu berukuran sedang. Meja yang sering kugunakan untuk merangkai bunga pesanan pelanggan. Delapan tangkai bunga matahari tampak segar di dalam pot. Geral mendudukanku di kursi sementara dia berjongkok di bawah. Wajahnya mendongak menatapku.



“Bunga itu untukmu,” suaranya lembut.


__ADS_1


“Untukku?” aku membeo. “Kan aku pedagang bunga?”



“Aku tahu.” Lesung pipit muncul di pipinya saat dia tersenyum. “ Tapi, bukan berarti kau tidak menerima bunga, kan?”



“Tapi ini bungaku–”



“Aku tahu. Tapi yang akan kuberikan bukan ini,” katanya lagi. Rona merah merambati pipinya–sepertinya dia benar\-benar malu.



“Lalu apa?”



“Mungkin hanya kata\-kata,” pemuda itu berdehem pelan.



“Kata\-kata? Pelit sekali!”



“Kau tidak mau dengar?”




Kau baik sekali!” pujinya. “Aku mulai ya.”



“Silahkan!” kataku sambi terkekeh pelan kala Geral berdehem da terlihat malu\-malu.



“Kau tahu kenapa aku memilih bunga itu di antara puluhan bunga lain?”



Aku tahu filosofi bunga satu ini tapi menghargai penjelasannya rasanya jauh lebih sopan. Aku menggeleng. Lagipula kalau dia yang mengucapkan maka pasti menyenangkan.



“Kau pasti tahu,” cibirnya.



“Bukankah akan lebih baik kalau kau yang mengatakannya,” aku tersenyum tipis.



“Bunga ini melambangkan kau dan aku dalam cara yang aneh,” katanya.

__ADS_1



Aku mengangkat alis. Aku tidak mengerti arah pembicaraannya.



Geral menyentuh tanganku. Aku mengerjap saat tangan dinginnya menyentuh tanganku. Akan tetapi, aku pasrah dalam genggamannya.



“Bunga matahari selalu bergerak mengikuti pergerakan matahari. Makanya dia menjadi lambang kesetiaan. Bunga ini menjadi simbol ketegaran. Itu melambangkan dirimu, Enza,” Geral menarik napas pelan. “Bunga juga melambangkan kebahagiaan dan ini tepat untukku. Aku bahagia, Enza,” suaranya tersendat dan matanya berkaca\-kaca.



Aku mengangguk mengerti. “Lalu kenapa delapan?”



“Angka delapan seperti simbol sesuatu yang tidak terbatas. Aku menginginkanmu tanpa tahu batasnya. Saat aku tahu kau menginginkanku dalam cara yang sama, aku bahagia. Aku harap delapan tangkai bunga matahari menjadi simbol kebahagiaan kita yang tidak terbatas,” matanya yang legam tidak berkedip menatapku.



“Oh, Geral,” aku membungkuk dan memeluknya.



“Kau tahukan kalau kau selalu menjadi matahari untukku?”  bisiknya lirih.



“Aku tahu.’



Aku mengangguk, seluruh ketakutanku sirna saat itu juga. Bagaimana mungkin Geralku akan menjadi seorang pembunuh. Pasti ada kesalahan dengan semua kejadian semalam. Kesalahan dalam perjanjian ini.



“Aku mencintaimu,” bisikku lebih ke menenangkan hati daripada mencoba untuk membuatnya tahu perasaanku.



“Lebih dari apa pun, Enza,” gumamnya lembut.



“Aku tahu, lebih dari apa pun. Aku sama.”



“Terima kasih sudah memanggilku kembali, Za.”



“Terma kasih juga sudah mau kembali, Geral.”



Geral melonggarkan pelukan. Pemuda itu memiringkan kepala. Aku memejamkan mata kalau bibir kami saling bertemu. Jantungnya berdebar kencang hingga rasanya mau meletus. Benar, dia Geral. Pemuda ini pemberi kebahagiaan yang kuinginkan dan aku hanya harus percaya.

__ADS_1


 


__ADS_2