
Napasku yang terengah mulai tenang. Namun, tanganku terus saja gemetar. Jantungku juga masih berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Jujur, dengan degupan sekencang ini aku takut organ itu akan pecah menjadi serpihan di dalam sana.
“Sejak kapan?” suaraku masih bergetar. Rasanya aku masih belum bisa percaya kalau Alex benar\-benar mengetahui hal ini.
“Apa?” Alex menatapku.
“Kakak tahu...,” aku menelan ludah. “Soal Geral.”
Alex menarik daguku ke arahnya, tindakan yang memaksaku untuk menatap matanya. “Lupakan Geral, Enza. Kakak mohon,” suaranya terdengar lirih.
Melupakannya katanya. Bagaimana caranya? Bagaimana caranya aku melupakan seseorang yang nyaris mati di depanku?
Melupakan Geral itu terasa seperti harapan yang terlalu jauh. Bagaimana tidak, aku bahkan belum bisa lupa saat melihatnya tadi. Hangat tubuhnya serta lelehan darahnya masih terasa di pangkuanku. Bau anyir cairan merah tua itu masih menusuk hidung. Dibanding melupakan Geral, bukankah seharusnya Alex bisa menyarankan untuk menghapuskan percikan darah yang menempel di telapak tanganku saat ini.
Sekarang aku menunduk untuk mengamati menatap telapak tanganku. Telapak tanganku masih memerah, darah itu masih menempel di sana. Bibirku mengatup rapat. Alex juga tidak bicara. Ruangan ini mendadak sepi. Tidak ada suara tetesan air yang bergerak liar keluar dari kran. Aku menatap ke depan. Kakak laki\-lakiku telah menghilang. Tanganku bergerak di tempatnya semula berada, nihil. Dia lenyap. Aku menoleh ke segala arah. Rasa dingin menyerang tengkukku. Keringat juga menyembul di kening. Kengerian menyergap pikiranku. Ini buruk. Aku sendirian di ruangan yang kosong ini.
“Kakak!”
Hening. Tidak ada sahutan. Ke mana orang yang baru saja ada di sampingku beberapa saat lalu?
Aku menoleh ke segala arah untuk mencarinya. Namun, Alex benar\-benar menghilang.
“Kak Alex!” panggilku lagi sambil mencoba menyembunyikan getar ketakutan dalam suaraku.
Lagi\-lagi Alex tidak menyahut. Mendadak sebuah suara terdengar hingga membuatku tersentak. Aku menoleh ke arah suara gemericik dari sudut ruangan. Gelembung\-gelembung timbul di ujung sana. Cairan sewarna darah menyembur keluar. Seolah ada dorongan lain yang melontarkan cairan itu keluar ke lantai. Bau anyir memenuhi seluruh ruangan. Ini darah, tidak salah lagi benar\-benar darah. Cairan pekat itu mulai mengucur keluar hingga menggenangi tubuhku. Sekarang aku lengket dan berbau.
“Tidak, tolong aku! Tolong!”
Aku melolong keras, memukul\-mukulkan kaki ke lantai. Kecipak darah memercik di wajahku. Aku langsung menampar pipiku dengan keras berharap agar bisa menghilangkan cairan itu di sana. Tubuhku gemetar, aku menggigit bibir. Rasa asin memenuhi mulutku saat bagian dalam pipiku mulai tergigit. Aku mulai mengigil kedinginan dan mungkin sekarang saatnya mati tenggelam dalam lautan darah.
“Tidak! Tidak! Tidak!”
“Enza! Enza!”
“Tolong!” ucapku lagi mencoba untuk menggapai suara itu. Pemilik suara ini adalah harapanku satu\-satunya.
“Za! Enza!”
Suara pria lain memanggil namaku. Namun, suara itu tidak terdengar lagi. sekarang aku mengalihkan pandangan ke pojok ruangan. Menatap genangan darah yang semakin lama semakin tinggi. Sesuatu menyembul keluar dari kubangan darah itu. Benda itu lalu mengambang. Aku mengucek mata, bukan benda melainkan sepotong tubuh. Aku terhenyak, napasku memburu saat mengenali sosok yang tengah terbaring di atas genangan. Sosok itu adalah Geral. Dadanya bergerak naik turun, bisa jadi dia sedang meregang nyawa di ujung sana.
“Geral! Geral! Geral!”
Bibirku menyebut namanya berulang\-ulang dan aku merangsek ke depan. Mendekati pemuda yang kini terbujur kaku di dalam genangan darah.
“Tidak, tidak, tidak, jangan mati! Aku mohon!” air mata langsung tumpah ke pipiku. Jantungku mulai berdegup kencang.
__ADS_1
Aku menggoyangkan tubuhnya yang kaku. Darah yang menggenangi lantai berkecipak seiring dengan tanganku yang terus menggoyangkan tubuh pemuda itu. Wajah Geral pucat, matanya terbuka lebar. Mata itu menatap kosong ke arah langit\-langit. Tidak ada cahaya sama sekali di mata itu. Dia mati. Oh, tidak. Aku memukul\-mukul dadanya berharap dia bergerak. Tangisanku pecah. Akan tetapi, tubuh Geral tetap saja kaku tidak bergerak.
“Enza, sadarlah!”
“Enza!”
Aku mengalihkan pandangan. Suaranya itu samar\-samar kembali terdengar. Masih lirih dan pelan seolah memanggil dari tempat yang sangat jauh. Namun, lama\-lama terdengar semakin mendekat. Aku nyaris memekik kala seorang bocah laki\-laki kini ada tepat berada di depanku. Dia terlihat ramah dan tidak tampak jahat. Aku menatapnya, meneliti wajahnya. Jeritan terlontar dari mulutku kala wajah anak itu berubah, darah mengalir menuruni pipinya. Matanya memerah akibat Pembuluh darah yang pecah. Benar\-benar menakutkan hingga aku memilih untuk bergerak menjauh.
Tubuhku bergerak mundur, kedua tanganku menempel di lantai untuk menopang agar aku tidak terjengkang ke belakang. Darah lengket itu kembali menempel di telapak tangan hingga membuatku mengangkatnya dengan jijik. Sebuah lengan menarik tanganku, aku mengibaskannya. Dia menarikku mendekat lengannya merengkuhku dalam pelukan. Monster itu memelukku, dia akan membunuhku. Aku terus menjerit lagi agar ada seseorang menolongku atau makhluk apa pun yang bisa menolongku. Namun, rengkuhannya semakin terasa erat saat aku mulai menjerit.
“Ini Kakak, Enza. Kak Alex...,”
Aku bergerak liar, mencoba melepaskan diri. Tubuhku terus bergerak sementara jeritan masih keluar dari tenggorokan. Aku menarik napas berat karena dadaku mulai sesak. Aroma rokok bercampur keringat memasuki hidungku. Aku menoleh ke sekeliling. Bulu kudukku meremang. Aneh, ada bau yang tidak asing. Aroma yang sering kucium. Aku menggerakkan kepalaku. Telinga, rambut, aroma lehernya, semuanya akrab. Sepercik ingatan timbul di dalam otakku. Kenapa aku bisa melupakannya? Melupakan aroma ini, sungguh tidak masuk akal. Bau ini milik orang yang sangat kukenal.
“Kakak,” gumamku lirih. Masih ragu untuk memanggil namanya, aroma yang akrab pun bisa berarti tipuan.
“Iya, ini Kakak,” katanya membenarkan. Pria itu masih merengkuhku dalam pelukan. Napasku sesak, aku tidak bisa bergerak.
“Lepaskan aku!”
“Tidak,” ucapnya masih terdengar bersikukuh, mengurungku dalam cengkeraman kedua lengannya. “Jangan seperti ini, Enza.”
“Aku baik–”
Lengannya menahan tubuhku saat aku nyaris terjatuh. Jemarinya menepuk punggungku dengan lembut. Aku menyerah dalam rengkuhannya. Pasrah saat dia mengangkat tubuhku. Tanganku melingkari lehernya, menempelkan kepalaku di dadanya.
“Kakak.”
“Kakak tidak akan ke mana\-mana, Enza,” jakunnya bergerak naik turun saat dia berbicara.
Aku tersenyum tipis, dia memang kakakku, bukan monster yang baru saja menyerangku. Dia membawaku keluar. Aku tidak lagi peduli saat mengangkat tubuhku entah berat atau ringan. Hal yang kuinginkan sekarang memejamkan mata karena semuanya seperti berputar.
Aku membuka mata dan langit\-langit putih menyambutku. Ingin rasanya menutup hidung kala aku membaui aroma obat\-obatan yang mengambang di udara. Padahal aku menarik napas sedalam\-dalamnya dengan harapan mendapatkan udara segar karena kepalaku masih pusing. Saat aku berusaha bangun, Alex menahanku.
“Tiduran saja kalau masih pusing!” katanya. Ekspresi khawatir masih tergambar jelas di wajahnya.
Alex juga mengulurkan sebotol air mineral yang telah terbuka tutupnya ke arahku. Aku menerima botol pemberiannya dan langsung menelan air dengan dua tegukan besar hingga memicu batuk datang menyerang.
“Pelan\-pelan,” katanya seraya menepuk punggungku.
“Geral?” suaraku bergema pelan di antara batuk yang masih menyerangku.
“Enza,” ada rasa lelah dalam suara itu. “Mau sampai kapan kau seperti ini?”
“Geral kecelakaan lagi, Kakak tahu?” tuntutku berusaha mendapatkan penjelasan.
__ADS_1
Alex menarik napas sementara aku menutup mata meski sedetik setelahnya aku membukanya lagi. Sekarang aku berusaha bersiap menerima fakta apa pun yang akan meluncur dari bibir Alex. Namun, persiapanku tidak matang karena jemariku masih saja gemetar saat memutar tutup botol air mineral untuk menutupnya.
“Kita tahu, semua orang yang mengenalnya tahu.”
“Apa?” mataku menatapnya tidak percaya. Tutup botol air mineral terlepas dari tanganku.
Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa semua orang tahu apa yang kulakukan pada jiwa Geral. Kalau begini, apa yang harus kulakukan?
“Kenapa kaget begitu? Bukankah Geral meninggal akibat kecelakaan tiga bulan lalu?” kali ini Alex yang terdengar sedikit bingung.
“Oh, soal itu,” kataku sambil mengedikan bahu.
“Memangnya apalagi?”
“Bu–bukan apa\-apa, Kakak benar,” kataku lagi mencoba memupuskan hal apa pun yang bisa mendorong kecurigaan untuk timbul.
Dicurigai bukan hal yang menyenangkan. Akan lebih baik kalau Alex tidak tahu, sekarang dan selamanya. Siapa pun tidak ada yang boleh tahu rahasia itu.
Tunggu, kecelakaan itu. Bagaimana keadaan Geral?
Aku baru ingat sekarang. Setelah menaruh botol bekas minum ke atas nakas, aku langsung menggeser tubuh untuk bergerak turun.
“Kamu mau ke mana?” Alex kembali menahan lenganku.
“Aku mau lihat Ge–eh maksudku Rael.”
Alex menarik napas berat. Dia menggelengkan beberapa kali. Beberapa kali dia memutar bola mata seolah sedang mencari hal lain untuk di pandang, dia tidak menghindari wajahku.
“Jangan bilang, dia juga meninggal?”
“Enza...,” Alex menepuk bahuku.
Ini tidak benar, kan? Masa iya orang meninggal dua kali dalam waktu berdekatan dan dengan cara yang sama juga?
Pikiranku tiba\-tiba saja kosong. Tubuhku lemas dan tanganku terkulai. Kalau Rael meninggal maka Geral juga menghilang. Geral mungkin saja kembali ke alam baka atau jiwanya melayang di dunia. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak bisa tanpanya. Ini semua salahku.
“Enza!”
Suara yang tidak asing terdengar menggema di koridor. Aku menoleh, mencari arah datangnya suara. Mataku terbuka lebar. Sosok pemuda berkemeja putih berdiri di ujung koridor sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku tercekat saat menatap sosok itu dalam\-dalam. Wajah yang teramat kukenal dan aku berharap kalau semua ini hanya mimpi buruk. Rael tidak mungkin meninggal.
__ADS_1