
Jemariku masih meremas luka menganga di bagian atas lengan. Bau anyir darah dan keringat mengambang di udara. Bau yang membuat hidungku sesak dan menimbulkan pening di kepala. Pemuda itu kini menatapku. Gunting berlumuran darah itu masih ada di tangannya. Sekarang aku gantian memandangi benda tajam itu, berharap dia akan menjatuhkannya. Manik matanya kini menyorot penuh selidik. Warna hitam yang masih tetap tajam tapi rasanya berbeda. Bukan rasa dingin, bukan kekejaman, bukan pula cinta. Sejenis rasa ingin tahu atau penasaran terpancar di sana. Mungkin hanya perasaanku, entahlah.
Aku menarik napas pelan sembari berusaha mencari cara untuk meloloskan. Senjata tajam itu masih di dalam genggamannya itu membuatku tidak tenang. Dia bisa menghujamkan benda itu ke tubuhku kapan saja. Untuk saat ini aku sama sekali belum aman dari bahaya.
“Enza,” katanya lagi. Suaranya terdengar serak.
Bukan Geral. Cara dia menyebutkan namaku. Dering suaranya asing dan berbeda. Namun, bagaimana bisa mengetahui namaku?
“Siapa kau?” tanyaku akhirnya karena sejujurnya aku tidak menemukan kalimat lain untuk merespon.
Pemuda itu tidak menjawab. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis. Senyuman yang malah membuatku bergidik ngeri. Gara\-gara itu, aku bergerak mundur saat pemuda itu mendekat. Satu hal yang bisa kupastikan, dia bukan Geral. Pemuda ini orang lain.
Mataku memindai bergantian antara leher dan tangannya yang masih mengenggam gunting berdarah itu. Kalung hitam itu masih menggantung lemah di leher pemuda itu dan belum terlepas sepenuhnya. Aku melirik cahaya bulan yang bersinar dari balik jendela. Bulan purnama. Hari ini bahkan belum sampai purnama ketiga, seharusnya jiwa pemilik raga itu kembali. Kalau bukan pemilik tubuh itu sendiri maka siapa yang ada di dalam sana? Rasanya ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.
“Kau terluka,” katanya lagi mengoyak semua hal yang kupikirkan.
“Tidak,” aku berbohong sembari meremas luka yang masih menganga di lenganku.
Aku tidak ingin terlihat lemah dengan mengakui kalau sekarang tanganku terluka. Jadi sebisa mungkin menutupinya. Tangannya terjulur saat aku merapat ke tembok. Napas menderu keluar dari kedua lubang hidungku. Rasa perih masih mengigit sementara tanganku yang meremas luka mulai terasa lengket. Mungkin darah mulai mengalir keluar. Kalau itu terjadi maka aksi pura\-pura kuat ini akan segera berakhir.
“Lenganmu berdarah!” ucapnya lagi sambil terus bergerak mendekat.
“Jangan sentuh aku!” hardikku galak.
“Aku hanya ingin menolongmu,” katanya lagi.
Aku menatapnya. Ekspresi wajah pemuda itu tampak prihatin. Mungkinkah pemuda ini tidak seburuk yang aku pikirkan? Aku masih berusaha mencari kepura\-puraan di wajahnya yang mungkin lolos dari pengamatan. Nihil. Tidak ada apa pun yang kudapatkan. Namun, kalau dia tidak jahat, mengapa dia tidak menjawab saat kutanya soal identitasnya?
“Enza!” suara seraknya kembali terdengar.
“Kau terus saja memanggil namaku seenaknya. Siapa kau?”
“Apa itu penting?” katanya balik bertanya.
“Penting!” kataku menegaskan.
__ADS_1
“Lebih penting mana luka di lenganmu atau identitasku?”
Pemuda itu mengedikkan bahu. Aku mengikuti arah matanya dan melirik lenganku. Sekarang darah pekat itu mulai menyusupi sela jemari tanganku yang meremas luka. Dia benar, lenganku mungkin lebih perlu dikhawatirkan dibandingkan namanya.
“Biarkan aku membantumu!” pintanya.
Pemuda itu lalu mengulurkan tangan. Aku beringsut mundur saat gunting berdarah itu juga teracung. Wajahnya mengerut seolah menyadari ketakutanku. Dia menaruh gunting itu di lantai dan mendorongnya hingga ke kolong tempat tidur. Pemuda itu mengangkat tangannya seakan ingin menunjukkan kalau dia tidak berbahaya. Aku menelan ludah, rasa takut itu masih singgah. Akan tetapi, luka yang masih terasa mengigit sepertinya mengaburkan jalinan logika di kepala. Kepalaku terangguk.
Tanganku meraih kotak obat yang terjepit di antara peralatan make\-up lalu menaruhnya di lantai. Tepat di depan pemuda itu. Aku memang belum sempat mengembalikan kotak itu ke tempat semula setelah Geral di gigit anjing beberapa malam lalu. Pemuda itu menarik tanganku. Aku mengernyit saat tangannya menyentuh luka menganga di balik baju yang terkoyak. Darah segar masih menempel.
“Uggghh!”
Suara tertahan keluar begitu dari tenggorakanku saja saat dia merobek baju yang masih menempel ketat di atas luka. Bau cairan alkohol menyeruak saat dia mengusapkan cairan itu ke lenganku. Aku menatapnya. Dalam jarak sedekat ini, dia memang tampak berbeda. Rambut hitam menjuntai menutupi kening sementara matanya tertunduk mengamati.
“Dari mana kau tahu namaku?” ucapku ragu.
Dia memiringkan kepalanya, hidung kami nyaris bersentuhan. Kepalaku tersentak mundur lalu aku menunduk.
“Aku mendengarnya,” gumamnya lirih.
“Apa?”
Darahku berdesir. Dia. Dia itu mungkin saja Geral. Jadi pemuda itu selama ini mendengar Geral menyebut namaku. Dari kata\-katanya aku bisa menyimpulkan kalau pemuda itu adalah pemilik sebenarnya dari tubuh pinjaman itu. Bisa jadi pemuda itu saja mengetahui semuanya dan semua ini benar\-benar buruk.
Aku ingat Alice pernah mengatakan kalau ada ada fase di mana jiwa Geral melemah dan mungkin pemilik tubuh itu kembali. Sekarang mungkin sedang saat ini peringatan yang diberikan gadis itu sedang terjadi. Alice juga berpesan agar tidak melepaskan kalungnya lebih dari tiga jam karena Geral itu tidak akan bisa menemukan jalan kembali ke tubuh pinjaman itu. Sialnya, sekarang aku tidak tahu berapa lama waktu berjalan setelah kalung utu terlepas.
Sejujurnya aku juga bingung karena pemuda itu sekarang tengah mengobati lukaku. Meski aku tahu semakin cepat maka sebaik baik, akan tetapi jika aku memasangkan kalung itu secara paksa apa semuanya akan baik\-baik saja? Selain itu, apa aku bisa melawan tenaganya jika dia melawan nanti, aku hanya seorang wanita. Namun, waktu terus bergerak dan aku harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat. Aku harus mencegah Geralku menghilang.
Sontak aku berdiri. Dia mendongak, ekspresi kaget terpampang di wajahnya. Aku mengatupkan bibir dan meremas kalung di tanganku. Tidak boleh ragu lagi, pemuda ini bukan siapa\-siapa, Geral lah yang paling penting.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku tidak menyahut tapi buru\-buru menarik kalung itu. Mencoba memasangnya lagi dengan paksa. Dia berkelit. Aku mengigit bibir, ini tidak akan mudah. Dia menarik pergelangan tanganku hingga tubuhku oleng. Aku terjerembab di atas tubuh pemuda itu. Untuk kesekian kalinya, kami berada dalam posisi yang mungkin membuat jantung berdebar dalam suasana normal. Tapi sekali lagi, kami bergulat. Atas dasar asas kepentingan dan keegoisan. Aku melihat benda berkilau di bawah ranjang, gunting itu masih di sana. Aku menjulurkan tanganku. Mencoba menariknya. Satu , dua, aku menghitung. Dapat.
“Kau ini kenapa?” ada kebingungan dalam suaranya.
__ADS_1
Rasa bersalah tiba\-tiba datang menusuk. Dia mungkin sama sekali tidak tahu kalau aku akan mengurung jiwanya lagi. Meminjam kembali tubuhnya tanpa izin.
“Diamlah!” ketusku mencoba untuk membuatnya berhenti bertanya. Aku masih memeluk tubuhnya lalu mengarahkan ujung gunting itu ke lehernya, “atau aku akan menusuk urat lehermu.”
“Kau ingin mengurungku, heh?”
Tangannya meraih lenganku yang masih berusaha memasang kalung itu kembali. Tampaknya dia berusaha mencegah aku melakukannya.
“Dia akan membunuhmu kalau kau mengurungku,” ucapnya lagi.
Aku menekan ujung gunting itu ke lehernya sementara tangan yang lain mulai mengaitkan kalung yang nyaris terlepas itu. Saat bunyi klik terdengar pelan. Kalung itu berkelip dan gelang di tanganku mengirimkan sengatan hangat. Aku menarik napas lega. Berhasil. Sekarang aku tidak perlu takut lagi.
Tidak lama setelahnya tubuhnya menggeliat liar. Pekikan tertahan terlepas dari mulutku kala untuk kesekian kalinya aku terjungkal. Aku tersungkur ke lantai dan gunting itu terlepas dari genggaman. Aku langsung menoleh kala suara geraman rendah terdengar dari mulut pemuda itu. Dia mulai megap\-megap, napasnya terdengar patah\-patah. Pemuda itu sekarang meremas dada kirinya.
“Arrrrggghhhh!” suara kesakitan bergema.
“Geral!” aku bergerak mendekat.
Aku ingin meraih kepala pemuda itu dan mendekapnya. Akan tetapi, dia bergerak liar seolah menolak sentuhanku. Aku membiarkannya dan hanya bisa mengamati kala tubuhnya menggelinjang kesakitan di lantai. Napasnya memburu. Tangannya kini berpindah ke lehernya. Aku menarik tangan itu. Mencegahnya mencekik diri sendiri.
“Geral! Apa yang kau lakukan? Hentikan!”
Dia tidak menjawab. Tubuhnya masih kejang. Aku mengigit bibir bawah sementara gelenyar ketakutan mulai merangkak di dalam pikiranku.
“Ra–Ra–el–”
“Apa?”
“Na–na–ma–” suaranya mulai menghilang sesaat setelah bola matanya berputar.
Aku bergidik saat melihat bola mata itu berubah putih seluruhnya. Bunyi berdeguk keluar dari mulutnya seiring dengan darah yang menyembur keluar. Darah itu menciprat tepat di wajahku. Tidak lama setelahnya dia berhenti bergerak. Tubuhnya serupa jasad kosong tidak bernyawa dan tergeletak di lantai begitu saja.
“Geral? Kau tidak apa\-apa?” aku mendekat. Tiba\-tiba mata pemuda itu terbuka. Jantungku masih memukul dada dengan keras. Aku benar\-benar bingung sekarang. "Geral?”
Aku terdiam saat wajahnya berpaling ke arahku. Bibirnya tertarik ke atas, membentuk seringai. Aku berani bersumpah kalau matanya berkilat, hitam pekat tanpa dasar. Aku tersentak, jam dinding berdentang dua belas kali. Sial! Aku terlambat sadar kalau malam belumlah berakhir. Aku bergerak berdiri lalu memelesat ke arah pintu tepat ketika Geral mulai mendesis.
__ADS_1