
Gelang itu menyengat tanganku. Mengirimkan rasa nyeri dan sengatan yang membuatku terkesiap. Alex masih menatap dengan raut wajah khawatir. Aku menelan ludah. Otakku berpikir keras untuk mencari tahu keberadaan Geral. Akan tetapi melihat, kakakku yang masih sibuk di rumah maka hal ini mustahil untuk dilakukan. Sial, kenapa semuanya jadi buntu begini.
“Enza!”
Suaranya mengagetkanku. “Y–ya?”
“Kau dengar Kakak, kan?”
Aku mengangguk. Hanya anggukan formalitas, aku sama sekali tidak mendengar apa pun yang dia ucapkan. Aku bahkan yakin tidak ada suara yang masuk ke dalam telingaku sekarang. Aku hanya ingin tahu soal Geral, selebihnya aku tidak ingin banyak berpikir.
“Sejak kapan kau seperti ini?”
Alex menggoyangkan tubuhku dengan tidak sabar. “Kau masih melakukannya bukan? Sejak kapan?”
“Apanya?” tanyaku masih mencoba berkelit.
“Kakak ingin kau menghentikan ritual bak mandi keramatmu itu, sekarang juga!”
Aku masih terdiam. Kepalaku tertunduk dan panas mulai mengaliri wajah. Aku mencoba menahan air mata yang mungkin akan jatuh tanpa izin. Aku mengigit bibir. Jemari\-jemariku saling terpilin dan gemetar. Aku ingin menyembunyikan diri sekarang, baik dari Alex atau siapa pun di dunia ini.
Semua kenangan kembali berputar. Semuanya berawal dari kecelakaan itu. Hal buruk yang membuatku menemukan kenyamanan di tempat yang katanya tidak tepat. Bak mandi itu seolah memberikan perlindungan. Saat aku berlari ke dalam toilet dan membenamkan diri di dalam bak mandi. Pertama kalinya. Itulah debutku dalam dunia yang katanya aneh. Air mata mulai menitik di sudut mataku. Aku tahu pasti bahwa aku tidak dicintai dan tidak pernah diharapkan di mana pun aku berada. Kalau aku bicara, semuanya selalu salah dan merasa terluka. Padahal aku juga terluka. Akan tetapi, kalau mereka yang berkata seenaknya mereka seolah lupa kalau aku hanya manusia biasa yang juga punya hati sama seperti yang lain. Aku paham kenapa Ayah membenciku. Aku juga mengerti kalau aku hanyalah sebongkah beban tak berguna makanya satu persatu semua orang meninggalkanku. Mereka tidak ingin ikut terseret dan tenggelam bersamaku. Kalau aku ingin menghibur diri sendiri, maka aku akan bilang kalau aku memang sendirian sejak awal. Selalu begitu dna tidak pernah berubah. Beberapa tahun bersama orang lain bukan berarti kesendirian itu hilang begitu saja.
“Jawab Enza!”
“Aku ingin kembali kembali ke sana sekarang juga.”
Aku beringsut, melepaskan pegangan tangan Alex dan menuruni ranjang. Aku mengernyit kala kakiku menjejak lantai. Rasa perih itu masih di sana. Namun, aku menatap pintu toilet yang tertutup itu sekali lagi. Tempat itu terlihat menenangkan dan membuatku ingin kembali ke sana sekarang juga. Aroma toilet ini membuatku merasa tenang. Bau karbol merebak di ruangan yang sempit itu terasa akrab. Ditambah dengan gemericik air yang mengalahkan kebisingan di dunia luar. Semua itu terasa menakjubkan dan hidup. Tempat itu aman.
__ADS_1
“Enza!”
Alex menggamit lenganku. “Oh, Enza. Maafkan Kakak,” Alex merengkuhku dalam pelukan.
Aku terdiam. Tubuhku gemetar dan aku sama sekali tidak menjawab atau dipeluk olehnya. Aku ingin masuk ke bak sekarang juga.
“Ini salah Kakak,” Alex mempererat pelukannya.
Aku terdiam dalam pelukan Alex. Tanganku terkulai di kedua sisi tubuhku dan sama sekali tidak ingin membalas pelukannya bahkan saat dia menepuk kepalaku perlahan. Rasanya aku ingin menjerit sekeras\-kerasnya. Bayangan demi bayangan hadir di dalam kepala. Aku yang berlari ke dalam toilet saat semua orang menghujat. Ketika semua suara yang muncul selalu dipenuhi tudingan.
“Kakak bodoh. Kakak tidak tahu kalau kehilangan Geral begitu berat untukmu!” katanya lagi.
“Kak!”
Alex melonggarkan pelukannya dan menatapku. Matanya sembab. Kesedihan tergambar jelas di wajah kakak lelakiku itu.
“Aku ingin ke toilet sekarang.”
Ekspresi kaget terpampang di wajahnya. “Tidak,” ucapnya tegas.
“Biarkan aku ke toilet atau bawa Geral kembali!” kataku lagi.
“Kau tidak boleh masuk ke sana. Ada Kakak di sini, kau tidak butuh siapa pun,” Alex memposisikan dirinya di sampingku.
Tangannya kembali menangkup kepalaku dalam pelukan. Mendekapku lebih erat hingga degup jantungnya terasa di pipiku. Pemuda itu memapahku kembali ke ranjang. Membaringkanku sementara mataku masih menatap ke arah toilet. Aku ingin ke sana.
__ADS_1
“Kau ingat saat kita masih kecil, Za. Aku, kamu dan Geral!” katanya terdengar membujuk.
Pikiranku melayang kembali ke masa kecil. Masa ketika aku, Alex dan Geral masih bersama. Ya, kami berjanji kala itu kalau kami akan selalu bersama. Akan tetapi, satu orang telah pergi.
Pergi!
Ah! Iya, Geral. Ke mana dia?
Oh, tidak. Aku benar\-benar melupakannya. Gelang itu menyengat beberapa saat lalu. Pasti terjadi sesuatu. Aku harus mencari Geral dan mencegahnya melakukan hal buruk. Aku buru\-buru bangun dan menepiskan pegangan Alex.
“Geral!”
“Enza tunggu! Kamu mau ke mana?”
“Lepas! Dia membutuhkanku sekarang,” aku bergerak cepat dan menepis tangan Alex yang masih mencengkeram lengan.
“Enza!”
Aku memelesat keluar ruangan. Harus menemukannya sebelum kakak laki\-lakiku tahu. kaki telanjang menuruni anak tangga. Aku tidak tahu harus ke mana tapi setidaknya aku bisa mencarinya. Langkah kakiku terhenti. Toko bunga itu terbuka. Mungkinkah di ada di sini?
Aku melongokkan kepala. Geral tengah memotong tangkai bunga di meja. Aku menarik napas lega. Dia tidak pergi ke mana\-mana.
“Enza!”
Senyuman itu langsung sirna. Aku menoleh. Alex berlari mendekat. Oh, Tuhan, ini buruk. Tidak akan butuh waktu lama untuk membuat kakakku sadar kalau pemuda itu adalah Geral. Aku berlari masuk dan menyembunyikan Geral sebelum kakakku tahu.
__ADS_1