One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 11. Possessed


__ADS_3

Kami pulang dari butik dan makan malam di luar. Setelah itu, Geral tidur. Begitu pun aku. Aku pikir, mimpi buruk itu tidak akan datang lagi. Namun, aku membuka mata kala mendengar suara berisik dari ruang tamu. Bulu kudukku meremang apalagi dentang jam dinding membuat suasana malam semakin mencekam. Aku melangkah keluar dengan hati\-hati. Memutar kenop pintu. Siapa tahu itu perampok atau pencuri. Walau aku tidak yakin ada benda berharga yang bisa mereka curi dari tempat ini.



Suara itu menghilang lalu suasana kembali senyap. Aku menajamkan telinga. Tidak ada langkah kaki yang terdengar masuk. Aku menjerit saat melihat sesosok bayangan keluar berjalan mendekat. Aku masih terpaku di tempat, terlalu kaget untuk berlari. Sosok tinggi itu semakin mendekat.



“Geral?”



Cahaya remang\-remang dari bulan purnama menembus jendela yang tidak tertutup tirai hingga membuatku bisa melihatnya dengan jelas.



“Geral?” suaraku gemetar, entah mengapa rasanya ada yang ganjil.



Dia tidak menjawab. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Sorot matanya juga redup. Lalu dia bergerak mendekat. Tangannya bergerak cepat. Tahu\-tahu jemari Geral sudah bergerak ke leherku. Aku ingin memekik tapi tenggorokanku rasanya tertutup. Kakiku menendang\-nendang saat oksigen yang memasuki saluran pernapasanku mulai menipis. Aku memukul\-mukul pergelangan tangannya berulang kali untuk membuatnya tersadar. Kengerian menjalar saat aku menatap matanya yang kosong. Lalu senyuman bengis muncul di wajahnya.



“Aku akan membunuhmu,” suaranya dinginnya terdengar bengis.



Aku masih meronta. Cengkeraman Geral masih kuat menekan leherku. Aku ingin berteriak memanggil namanya. Bibirku kelu. Jantungku berdegup kencang. Tanganku memukul\-mukul pergelangan tangannya. Geraman rendah keluar dari bibirnya seolah seekor serigala kini mendekam dalam tubuh pemuda itu.



“Geral...aku mohon...Geral...dengarkan aku!”



Suara tik\-tok jarum jam memecah kesunyian. Kakiku masih menendang\-nendang mencari sasaran. Napasku pendek dan terputus\-putus. Pelupuk mataku mulai buram tertutup air mata.


__ADS_1


“Ge...Ge...ral...” aku mencoba memanggilnya.



Dia bergeming dan kedua bola matanya yang kelam kini menyorot tajam padaku. Cengkeramannya mengendur dan kakiku menemukan sasaran. Aku menendang lututnya. Tidak terlalu keras tapi dia bereaksi. Dia memiringkan kepalanya dengan lambat. Matanya menatap nanar. Aku menendangnya lagi. Ujung kakiku terantuk kakinya. Gelenyar nyeri merambati tulang keringku. Dia tidak tampak kesakitan sama sekali. Cengkeramannya mengendur lalu aku merasa tubuhku melayang. Jantungku rasanya berhenti lalu pekikan tertahan di bibirku. Punggungku membentur tembok dengan kecepatan yang tidak ternalar. Aku tersengal dan bintik\-bintik hijau\-kuning mulai terbentuk di pelupuk mata.



Aku masih berusaha bangun saat Geral kembali mendekat. Lari. Itulah kata yang terbentuk dalam pikiranku. Aku harus menyelamatkan diri. Aku menatap nakas di dekat tempatku terjatuh. Aku menjulurkan tanganku untuk menggapai benda apa pun yang bisa terjangkau. Saat Geral kembali bergerak, tanganku tepat berada di permukaan vas bunga. Aku mencengkeram vas bunga itu. Geral merangsek. Aku memukulkan vas kaca itu tepat ke kepala Geral. Geral terjatuh di dekat kakiku.



Kakiku lemas dan jantungku masih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di punggungku. Geral masih menelungkup di lantai. Aku merangkak cepat ke kamarku dan menguncinya.



Kakiku seolah tidak mampu menopang tubuhku. Aku terjatuh lunglai di dekat pintu. Aku menyandarkan punggungku di pintu. Butiran keringat menyengat mataku. Aku menyeka wajah dengan bajuku. Hampir saja. Andai aku tidak memukul Geral barusan.



Aku memukul kepala Geral. Aku menatap tanganku yang gemetar. Apa yang telah kulakukan? Aku melakukan semua ini dengan tanganku sendiri.




“Aku...aku...” suaraku bergetar.



Mataku berkabut. Aku mengigit bibir bawahku. Tanganku terus bergetar. Hanya isak tangisku yang tertahan terdengar menembus malam. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau terluka gara\-gara aku. Aku beringsut tapi tidak bergerak satu inci pun.



Gelang perak berkelip dalam kegelapan. Tunggu. Alice. Benar, gadis itu pasti tahu jawabannya. Aku harus menghubunginya. Aku berdiri. Kakiku masih terlalu lunglai dan lemas. Aku meraih ponsel dari atas meja dan menghubungi nomor ponsel yang diberikan gadis itu beberapa hari lalu. Terdengar bunyi tut pelan.



“Angkat Alice, ayolah!” aku menggigit bibirku.

__ADS_1



“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”



Aku menggertakan gigi lalu melempar ponsel itu ke atas ranjang. Rasanya aku ingin mencekik gadis itu sekarang juga. Aku memilih untuk duduk di atas ranjang. Menarik kotak kayu wadah bros ke dalam genggaman. Terlalu konyol untuk dijadika senjata, akan tetapi aku harus siap melemparkannya kapan saja kalau Geral kembali menyerang. Aku menyandarkan punggungku di tembok. Mataku awas menatap pintu yang tidak bergerak. Aku hanya berharap setidaknya aku selamat malam ini.



“Enza?”



Aku tersentak. Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu tapi sinar matahari telah menembus tepian birai jendela. Sial, aku benar\-benar tertidur.



“Enza?” suara Geral lembut terdengar dari balik pintu.



Tanganku mencengkeram kotak kayu di pangkuan semakin erat. Jantungku kembali berdetak cepat. Aku menoleh ke arah jendela, aku harus siap melompat kapan saja. Aku tidak bergeser turun untuk membuka pintu. Aku diam dan menunggu. Suara Geral tidak terdengar lagi. Aku menarik napas lega saat Geral terdengar berjalan menjauh.



Aku berjalan keluar dari kamarku. Rumahku kosong. Mataku memandang sekeliling. Hening. Aku bergerak ke kamar Geral, selimutnya sudah terlipat rapi. pandanganku tertuju pada nakas. Pecahan vas itu telah menghilang. Mungkinkah Geral yang membersihkan semua pecahan kaca? Apa dia mengingat kejadian semalam?



Aku menguap lebar, rasa kantuk dan lelah masih menggelayut. Aku perlu kopi. Kakiku berjalan lunglai ke meja makan. Mataku terantuk pada secangkir kopi dan beberapa potong sandwich di meja makan. Aku menempelkan bibirku di cangkir lalu aku melihat ada secarik kertas post it yang menempel di meja. Mataku membesar kala aku membaca tulisan melingkar\-lingkar di kertas kuning itu.



Nikmati sarapanmu. Aku keluar sebentar.



With love, Geral

__ADS_1



Dia keluar. Aku terbatuk pelan. Satu detik setelahnya aku mengusap cairan kopi di bibirku sambil menaruh cangkir dengan serampangan. Aku buru\-buru berlari keluar. Pengalaman semalam masih membuatku bergidik. Sandal tidurku bergerak licin di anak tangga. Kakiku tergelincir pelan tapi aku masih terus berlari. Napasku memburu dan jantungku memukul\-mukul dengan kencang. Aku hanya harus menyusulnya. Aku harap dia tidak melukai orang lain.


__ADS_2