
Setelah kenaikan peringkat yang diterima Kaison. Dia langsung menuju leaderboard untuk melihat poin peringkat yang dia punya. Dan dia melihat dia hanya terpaut 12 poin dengan pemain peringkat 2 yang berada di atasnya, Raging Moon. Dia pun sangat antusias melihat itu. Karena dengan kemenangan beruntun yang dia miliki sekarang, dia hanya perlu sekali lagi menang untuk mencapai peringkat 2.
“Hei hei, ayo main lagi! Aku hanya terpaut 12 poin jika kita menang sekali lagi aku akan duduk di peringkat 2.” Kata Kaison dengan sangat antusias seperti berhasil menemukan tambang emas.
Tapi Daffin, Mei Xia, Zhang Jian dan Lulu menolak untuk bermain lagi, karena mereka belum sarapan dan hari hampir siang. Mereka langsung bermain di pagi hari karena Lulu sangat bersemangat mengajak yang lainnya untuk bermain.
“Aku.. sepertinya ingin mandi terlebih dahulu, aku akan lanjut main nanti.”
“Aku akan chat kalian di grup ketika aku sudah selesai!” Balas Lin Mei Xia kepada Kaison. Lin Mei Xia pun langsung logout dari permainan dan keluar dari voice chat. Diikuti dengan Lin Zhang Jian yang juga keluar dari voice chat beberapa saat setelah Lin Mei Xia mengatakan itu.
“Kalau begitu aku juga.” Ucap Lin Zhang Jian.
Room voice chat pun hanya menyisakan Daffin, Lulu dan Kaison yang masih berada di sana, mereka juga masih dalam status online di permainan.
“Haish dasar kakak beradik itu, tidak mau membantu sama sekali.”
“Daffin, ayo!” Seru Kaison.
“Sepertinya aku juga ingin makan terlebih dahulu, aku sangat lapar ha ha ha.”
__ADS_1
“Kau main berdua saja sama Lulu terlebih dahulu ya.” Balas Daffin. Status Fire pun berubah menjadi offline, Daffin telah logout dari permainan.
“Hei tunggu, 1 kali, hanya 1 kali.” Ucap Kaison dengan nada memohon.
“Tidak bisa, nanti saja, lagipula hari masih panjang.” Daffin pun langsung keluar dari room voice chat setelahnya.
“Lu-“
“Aku tidak mau.” Balas Lulu dengan cepat, bahkan Kaison belum menyelesaikan apa yang dia mau katakan, memanggil nama Lulu saja tidak sempat. Dan saat itu juga Cat Claw beralih status menjadi offline dan Lulu pun keluar dari room voice chat mengikuti yang lainnya.
Kaison yang tadinya sangat antusias dan bersemangat menjadi kecewa dan terpuruk ketika mereka semua menolak permintaan bermain dari Kaison. Dengan muka sedih, Kaison bersandar ke belakang tempat duduknya dan menatap langit.
“Huh…” Hela Kaison. Tapi saat itu juga dia pun berpikir tidak ada gunanya terburu-buru karena jika mereka kalah itu juga akan berdampak pada peringkat Kaison yang baru saja naik beberapa saat lalu.
Lulu kembali membuka platform streaming untuk melihat kanal Dancing Magician. Dancing Magician masih melakukan live streaming. Lulu pun langsung mengklik kanal milik Dancing Magician untuk menonton permainannya lagi. Hanya 1 hal yang dipikirkan Lulu dan ada di benak Lulu. Yaitu, belajar dari Dancing Magician untuk menjadi pemain yang lebih baik.
Di sisi lain, Daffin sudah memutuskan dia akan makan apa, dia membuat pilihan akan makan mie dari warung langganannya yang ada di seberang rumahnya. Daffin mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengantonginya. Dia juga membawa telepon genggamnya dan keluar.
Setelahnya sampai di warung mie tersebut, wajah wanita tua yang sangat familiar dengan Daffin menyambutnya dengan ucapan selamat datang.
__ADS_1
“Bibi aku pesan yang biasa.” Kata Daffin sembari mengacungkan jari telunjuknya.
“Baik.” Jawab Bibi itu sembari mengangguk.
Daffin pun duduk di meja yang dekat dengan counter yang biasa Bibi itu duduki, di sana Daffin melihat ada anak kecil yang berumur sekitar 8 tahunan, sama seperti adiknya Daffin, Cayla. Dia sedang duduk di sana menggenggam telepon genggam secara horizontal seperti sedang bermain game. Matanya sangat fokus bahkan dia tidak berkedip sedikit pun, dia seperti tenggelam dalam permainan tersebut.
Daffin pun mengalihkan pandangannya ke jalan raya, melihat mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, dan juga orang-orang yang sedang berjalan di trotoar. Daffin hanya melamun melihat hal tersebut dagunya bertumpu pada telapak tangannya dan menatap kosong apa yang ada di depannya.
Bibi itu menghampiri anak kecil yang duduk di counter tersebut. Dia melayangkan serbetnya ke badan anak kecil itu seakan menyentuhnya untuk mendapatkan perhatian si anak kecil itu yang sedang tenggelam dalam permainannya.
“Hei, jangan main saja, tolong bantu nenek mengelap meja di sana.” Kata Bibi itu menujuk meja yang dimaksud dan memberikan serbet yang dia gunakan untuk memukul di anak kecil tadi. Tapi si anak kecil itu sedikit menolak dan enggan karena dia permainan yang dia mainkan masih berlangsung dan tidak bisa di pause.
“Sebentar nek, aku belum selesai.” Jawab anak kecil itu. Fokus yang dia lakukan sedari tadi seakan pecah karena disuruh membersihkan meja.
“Sebentar saja, kemarikan telepon genggamnya.” Kata Bibi tersebut. Bibi itu ingin meraih telepon genggam dan mengambilnya dari si anak kecil itu. Tapi, anak kecil itu dengan cepat berdiri dari tempat duduknya dan mengambil serbet yang diletakan di pahanya dan segera pergi dari counter tersebut. Dengan rasa enggan dan memberontak anak kecil itu terpaksa pergi ke meja yang Bibi itu tunjukan membawa telepon genggamnya dan serbet yang dia gantungkan di lehernya.
Tapi dia tau, bahwa dia tidak bisa membersihkan meja dan bermain game secara bersamaan di satu waktu. Dia pun menghampiri Daffin yang ada di dekatnya untuk meminta pertolongan.
“Kak, kak.” Kata anak kecil itu sembari mencolek-colek lengan Daffin. Daffin yang sedang melamun seketika langsung tersadar dan membuang pandangannya dari jalan raya untuk menengok ke sisi yang berlawanan di mana anak kecil itu berada.
__ADS_1
Daffin dengan wajah bingung melihat anak kecil itu menyodorkan telepon genggamnya. Mata Daffin yang melihat muka anak kecil itu langsung beralih ke telepon genggam yang disodorkan anak kecil tersebut. Daffin pun melihat bahwa anak kecil itu sedang bermain King's Arena di telepon genggamnya, game yang jugs Daffin mainkan selama ini bersama Kaison, Lulu, Lin Mei Xia dan Lin Zhang Jian.
“Tolong mainkan ini untukku!, Aku disuruh nenek membersihkan meja di sana, jangan sampai kalah!” Kata anak kecil itu. Daffin pun mengambil telepon genggam yang disodorkan anak kecil tersebut.