
Anak kecil itu pun pergi dari hadapan Daffin meninggalkan telepon genggamnya. Tepat setelah anak kecil itu pergi Daffin melihat telepon genggam anak kecil tersebut. Dia sedang di tengah permainan, bahkan permainan itu hampir kalah. Skor yang dia miliki sekarang 0 kill 2 mati dan 0 Assist. Lalu Daffin melihat tab permainan, ternyata rekan satu timnya juga bermain dengan sangat buruk, semuanya memiliki jumlah kematian yang lebih banyak dibandingkan dengan juga kill yang mereka dapatkan, bahkan turret mereka hampir hancur semua tak bersisa.
“Jangan sampai kalah apanya, bahkan ini sudah hampir kalah.” Gumam Daffin, tapi Daffin tetap memainkan dan melanjutkan permainannya tersebut. Daffin senang karena anak kecil itu memakai hero Demon Fox yang juga hero favorit Daffin, jadi Daffin masih melihat sedikit cahaya harapan ketika melihat itu.
Daffin bermain sabar, dia dengan sangat tenang dan tidak gegabah mencoba mengejar gold dan level yang tertinggal. Setiap dia melihat musuh dia tidak langsung melawannya, melainkan kabur karena perbedaan damage yang signifikan. Pada akhirnya, berkat kesabaran Daffin dia sudah punya beberapa item dan cukup untuk mengimbangi musuhnya.
“Kalian lindungi aku!” Tulis Daffin untuk rekan satu timnya. Daffin menyuruh mereka semua melindunginya tanpa keraguan sedikit pun, Daffin berpikir tidak masalah siapa yang mati dari timnya ketika war, entah itu toplanernya, junglernya, magenya ataupun supportnya, yang terpenting bagi Daffin adalah dia selamat dan bisa memenangkan permainan ini dan menggunakan pemain lain sebagai bidak caturnya.
Mereka pun sedikit mengerti apa yang Daffin katakan dan selalu berkumpul melindungi Daffin, bahkan dengan cepat Daffin berhasil meratakan semua musuhnya, walaupun beberapa dari rekan satu timnya juga ikut gugur dalam war tersebut.
Salah satu rekan satu tim Daffin memalukan ping pada Orochi untuk memberitahukan pada Daffin dan mereka yang masih hidup untuk melakukan Orochi, tapi Daffin menolaknya, dia lebih memilih melakukan push dan menghancurkan turret turret musuh sembari melakukan clearing terhadap creep musuh. Dikarenakan mereka semua memiliki darah yang sangat sedikit.
“Kalian isi darah, lalu ikuti aku lagi.” Kata Daffin, mereka pun melakukan recall untuk mengisi darah dan Daffin melanjutkan melakukan push sendirian. Daffin pun melihat beberapa musuhnya sudah hidup kembali dengan cepat dia mundur dan tidak mau mengambil resiko, karena jika dia mati maka permainan akan berakhir.
“Top jaga sekitar Orochi, 3 lainnya ikuti aku.” Kata Daffin memerintah mereka sekali lagi, ajaibnya mereka mengikuti dan menuruti apa yang Daffin perintahkan. Vision terhadap Orochi pun terbuka karena Toplaner Daffin berada di sana. Sedangkan Daffin dan 3 pemain lainnya bersembunyi di semak dekat Orochi di arah mid lane.
Pemain musuh yang sudah hidup kembali dengan segera menuju Orochi berada dan melakukan serangan, mereka memaksa melakukan Orochi tanpa melihat keadaan sekitar. Saat darah Orochi sudah berada dalam keadaan setengah dan skill pemain musuh sudah dikeluarkan semua hanya untuk memberikan damage kepada Orochi.
Daffin memerintah rekan satu timnya untuk maju dan menyerang mereka. Daffin mengirimkan sinyal attack berkali-kali dan mereka pun maju menyerang musuh. Pemain musuh yang sudah tidak memiliki skill apa-apa lagi dalam keadaan tertekan, mereka hanya bisa mengandalkan basic attack mereka dan beberapa spell.
Tidak butuh waktu lama untuk Daffin dan rekan satu timnya untuk membunuh pemain musuh, mereka juga mendapatkan bonus Orochi yang sudah dalam keadaan sekarat, tidak hanya itu Daffin juga mendapatkan penta kill.
__ADS_1
[K.O]
[Rampage]
[Triple Kill]
[Quadra Kill]
[Penta Kill]
[Legendary]
[Aced]
[Menang]
“Huft…” Hela Daffin sembari menyandarkan badannya dan meletakan telepon genggam itu di atas meja. Seketika Daffin melihat kaki di sebelah kirinya dia pun membuang pandangannya ke arah tersebut dan melihat Bibi itu berdiri memegang semangkuk mie pesanannya.
“Ah! Bibi mengagetkan ku!” Daffin terkejut tubuhnya sedikit melompat. Dia terlalu fokus pada permainannya bahkan sampai-sampai dia tidak menyadari sekitarnya.
“Kau hebat juga, apa kau sering bermain game itu?” Tanya Bibi itu.
__ADS_1
“Ini? Ahh.. iya, aku sering memainkannya dengan teman-temanku.” Jawab Daffin.
“Cucuku selalu bermain itu sepanjang hari, bahkan ketika dia libur dia selalu mengurung diri di kamarnya sampai lupa makan, makanya aku ajak dia ke sini.” Kata Bibi itu sembari meletakan mangkuk yang penuh berisi mie. Dan Bibi itu pun pergi dari hadapan Daffin untuk segera melayani pelanggan lainnya.
“Eh… mie ini sudah mengembang.”
“Berapa lama dia berdiri di sini?” Pikir Daffin sembari melihat mie yang mengumpal di depan matanya, tapi Daffin tidak menghiraukan hal itu, dia dengan segera makan mie tersebut tanpa mempermasalahkan hal itu.
Saat Daffin memakan mienya tersebut, tidak lama anak kecil itu kembali dan menghampiri Daffin untuk menanyakan telepon genggamnya.
“Mana kak? Menang?” Tanya anak kecil itu. Dia terlihat tergesa-gesa seperti seseorang yang sudah berlari sangat jauh karena dikejar oleh anjing. Anak kecil itu berlari segera setelah beres membersihkan meja karena dia tidak percaya bahwa Daffin bisa bermain King's Arena.
“Menang.” Jawab Daffin dia pun memberikan telepon genggam itu kepada anak kecil tersebut. Anak kecil itu terkejut bercampur kagum melihat hasil permainan tersebut, bahkan akunnya mendapatkan MVP di match tersebut, yang awalnya skornya 0/2/0 sekarang dia melihat bahwa skornya adalah 8 kill 2 kematian dan 2 assist.
Rasa kagum tersirat dalam benak anak kecil itu, bahkan wajahnya tersenyum dengan sangat lebar. Dia pun dengan segera duduk di bangku yang berada di sebelah kanan Daffin. Daffin hanya melirik apa yang anak kecil itu lakukan, anak kecil itu memandangi Daffin yang sedang memakan mie seperti melihat seorang artis atau seorang superstar. Dia terlihat seperti fans yang siap menyerbu idolanya kapan saja untuk mendapatkan tanda tangannya.
Daffin pun menoleh ke arah anak kecil itu, anak kecil itu tersenyum dengan senang melihat Daffin yang menyadari keberadaannya.
“Ada apa?” Tanya Daffin kebingungan.
“He he tidak ada apa-apa, aku ingin berbicara dengan kakak.” Jawab anak kecil itu.
__ADS_1
“Hmm.. bicaralah.” Kata Daffin sambil menyantap mienya.
“Aku akan menunggu kakak selesai makan.” Wajah anak kecil itu masih tersenyum dan dia pun masih terpukau dengan hasil pertandingan yang Daffin mainkan dan terus memandangi hasil permainan tersebut dengan mata yang seperti mengeluarkan bintang.