
Malam ini hujan tak menyurutkan langkah Nilam untuk keluar. Dia masih mendengar suara canda tawa di kamar bawah. Ia sendiri berada di kamarnya, sedang mematut penampilan. Ada undangan di sebuah club malam. Sebenarnya, Nilam malas untuk pergi ke club malam lagi, tetapi daripada mendengarkan sesuatu dari bawah sana, lebih baik memang dia pergi.
Tapi, langkahnya terhenti saat pintu kamar yang kini ditempati Marissa dan Indra terbuka. Nilam segera melanjutkan lagi langkahnya, merasa tak perlu membicarakan apa-apa dengan Indra yang akan mengulang malam kesekian bersama perempuan yang dulu adalah simpanannya.
"Mau kemana, Lam?" tanya Indra sembari menarik lengan Nilam, membuat Nilam jadi menghadapnya.
"Keluar, ada acara bersama teman-temanku. Tanganmu, Ndra." Nilam mengarahkan pandangannya ke jemari Indra yang kini mencengkram lengan Nilam cukup kuat. Lelaki itu segera melepaskan pegangannya.
"Aku tak mengizinkanmu." Indra berkata dengan tegas.
Nilam melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku sedang membiarkan kau dan dia menikmati malam ini. Jadi kau juga harus membiarkan aku menikmati malamku sendiri."
"Kau akan pergi dengan siapa?"
"Sendiri."
"Bohong, pasti dengan lelaki itu."
"Siapa maksudmu?" tanya Nilam berpura-pura bodoh.
"Jangan berlagak bodoh, Lam. Aku tahu betul ada lelaki yang sedang mendekatimu."
"Hanya mendekati, Ndra. Semua itu tergantung aku, bukan?"
__ADS_1
"Kau suka padanya!" tembak Indra berang.
"Begitukah menurutmu?"
"Nilam!"
Nilam mengibaskan tangannya lalu beranjak meninggalkan Indra yang kembali hendak mengejar.
"Indra!" Suara Marissa terdengar, membuat langkah Indra terhenti. Nilam tersenyum sinis dan kembali meneruskan langkahnya. Ia sungguh tak peduli lagi dengan kedua manusia yang memang sedang dipermainkan olehnya itu.
Dia sengaja akan membuat Indra kepanasan. Nilam melangkah dengan langkah anggun. Ia memesan taksi, tak sudi meminjam mobil Indra yang pernah digunakan lelaki itu untuk meniduri Marissa.
Nilam juga akan membuat Indra terkejut besok karena dia sudah memesan sebuah mobil dan akan diantarkan besok. Pertunjukan demi pertunjukan akan Nilam persembahkan untuk kedua manusia yang telah merendahkan dan meremehkan dirinya selama ini.
"Lam, aku kira kau tak akan datang!" seru beberapa temannya.
Nilam segera menyambut mereka dengan cipika-cipiki.
"Tentu aku akan datang."
Nilam segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Nilam memang tak menyentuh alkohol, dia sudah lama menghindari benda itu. Nilam hanya memesan jus dingin sebagai pengganti minumannya. Dia memang tak mau mabuk.
Suasana kelab malam yang ramai membuat Nilam merasa lebih lepas. Kalau saja dia mabuk, pasti akan lebih menyenangkan, tetapi Nilam memang sengaja tak menyentuh alkohol lagi. Beberapa kali dia dilirik oleh lelaki-lelaki yang ada di sana.
Nilam tak menggubris, niatnya memang hanya ingin menghibur diri. Sekitar pukul setengah satu malam, ponsel Nilam berdering-dering. Indra meneleponnya berulang kali. Nilam hanya menatapnya sekilas, melirik dengan pandangan tenang tanpa berniat untuk mengangkatnya.
__ADS_1
Setelah pukul dua dinihari, barulah Nilam kembali. Saat ia membuka pintu, Indra ternyata sudah menunggunya di sofa. Lelaki itu tampak menatapnya dengan rahang mengeras. Nilam melempar senyuman ke arah lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
"Belum tidur, Ndra?" Ia bertanya dengan santai, tanpa memperdulikan tampang Indra yang sudah masam sembari melepas tali high heelsnya.
"Mana bisa aku tertidur dengan kau yang tak ada di rumah!"
Nilam hampir meledakkan tawa mendengarnya. Teringat dulu hampir setiap malam menunggu Indra pulang setelah hampir subuh.
"Loh, kan sudah ada Marissa. Kenapa masih memikirkan aku?" tanya Nilam sembari beranjak menuju anak tangga. Indra mengikutinya dengan cepat dari belakang.
"Lam, kau juga istriku. Aku tak suka kau kelayapan."
"Begitukah?"
"Aku bicara yang sebenarnya, Lam. Aku sangat mencintaimu. Aku tak mau kau sering keluar karena pasti akan ada banyak lelaki yang mendekatimu."
"Tak banyak, Ndra, hanya beberapa."
Jawaban Nilam membuat Indra membuka matanya lebih lebar lagi. Tangannya terkepal, dia terus mencecar Nilam dengan berbagai pertanyaan.
"Stop, aku lelah. Mau tidur. Kembalilah ke kamarmu."
Nilam membanting pintu tepat di depan hidung Indra. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk. Ia mencoba membuka pintu kamar tetapi Nilam sudah menguncinya.
Nilam hanya tersenyum sinis sembari membuka gaunnya lalu menghapus make up nya. Terdengar Indra masih mengetuk-ngetuk pintu kamar berharap Nilam segera membukanya dan mengizinkannya untuk masuk. Sayangnya Nilam tak menggubris, ia memilih untuk membaringkan tubuhnya dan tertidur dengan nyenyak setelah itu.
__ADS_1