Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Mediasi


__ADS_3

Umumnya, sidang perceraian akan memakan waktu cukup lama bahkan hingga enam bulan lamanya. Tapi Nilam optimis, sidang perceraiannya dengan Indra akan lebih cepat dan singkat. Apalagi bukti-bukti sudah banyak dan cukup kuat. Indra mungkin tidak pernah sadar bahwa Nilam sudah menyiapkan semua hal dengan rapi. Mulai dari rekaman suara di hotel dan rekaman ketika Indra berselingkuh dengan menyewa kamar yang sama dengan Marissa, belum lagi bukti kekerasan yang pernah Indra lakukan dengan adanya rekaman CCTV di rumahnya sendiri saat lelaki itu menamparnya dengan keras.


Menghadiri sidang pertama ini, Nilam ditemani kuasa hukum juga Yuki. Sedang Indra datang bersama kuasa hukumnya juga. Marissa sendiri masih berkeyakinan bahwa surat kuasa mengenai harta gono gini adalah rekaan dari Nilam, ia memaksa Indra untuk berkeras memperjuangkan hal itu.


Semua suara diwakilkan oleh kuasa hukum Nilam. Begitu juga dengan Indra. Dia datang dengan harapan agar Nilam bisa diraihnya kembali dalam pelukan. Nilam sendiri tak memberikan mukanya sedari tadi kepada lelaki yang kerap melihatnya itu.


Seperti yang sudah diduga, mediasi awal ini ditolak habis-habisan oleh Nilam. Indra juga tetap berusaha untuk memenangkan mediasi sehingga sempat beberapa kali lelaki itu mengajak Nilam berdebat.


"Tahan emosimu, Lam. Biarkan dia berkoar-koar. Kau hanya perlu meneguhkan hati untuk tidak terpancing dengan segala bujuk rayunya," bisik Yuki.


Setelah mediasi berakhir gagal. Akhirnya Nilam keluar dari ruang sidang. Memang melelahkan mengurusi perceraian ini. Dia sampai muak harus melihat wajah Indra berkali-kali. Beberapa kali juga Nilam berkata kepada kuasa hukumnya untuk mempercepat putusan sidang yang menegaskan bahwa dia resmi berpisah dengan lelaki itu.


"Rasanya tak sabar ingin segera mendapat akte perceraian, Mbak."


"Kau akan segera mendapatkannya, Lam. Kau akan menjadi janda paling diminati kelak."


Nilam terkekeh mendengar Yuki. Mereka berjalan menuju mobil dengan bersama pengacaranya.


"Nilam!"

__ADS_1


Nilam menarik nafas panjang. Lelaki itu masih saja mengganggunya. Dia harus cepat sampai ke rumah karena akan ada calon pembeli yang ingin melihat rumahnya.


"Apa lagi?" tanya Nilam jengah.


"Aku berharap, kau bisa merubah keputusanmu, Lam."


"Simpan saja dalam mimpimu!" dengus Nilam lalu kembali berbalik tanpa memperdulikan Indra yang terus memanggil namanya.


Nilam menyusul Yuki yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Tatapan Indra begitu pias dan nanar. Bisa Nilam lihat, lelaki itu tampak kurus dan seperti tak terawat. Nilam tak lagi peduli. Perceraian adalah satu-satunya hal yang paling dia inginkan saat ini. Jadi walau Indra akan merayunya dengan segala cara, ia tidak akan pernah termakan bujuk rayu apapun.


Beberapa kali juga, ibu Indra menghubungi Nilam. Ia meminta Nilam untuk kembali kepada puteranya. Nilam hanya menanggapi dengan santai bahwa dia tidak bisa dan sempat mengungkapkan kekecewaannya pada mertuanya itu.


"Ya, Mbak."


"Baiklah, aku akan cepat membawamu pulang. Nanti kalau memang laku, kau tinggal lah sementara di rumahku sampai kau menemukan rumah yang pas keinginanmu."


"Makasih, Mbak. Aku sudah banyak merepotkan."


"Aku gak merasa kerepotan kali, Lam."

__ADS_1


Nilam tersenyum kecil. Saat mereka datang, ternyata memang sudah ada orang yang datang melihat rumah itu. Nilam segera menemuinya. Ia mempersilahkan mereka masuk untuk melihat-lihat rumah itu. Sepertinya pasangan baru menikah. Harga telah disepakati, Nilam menjual seisi rumahnya sekalian karena dia tidak akan membawa apapun. Dia akan benar-benar mulai memulai hidup baru dengan barang-barang baru pula.


"Deal ya, Mas, Mbak. Besok saya akan meninggalkan rumah ini. Kalian sudah bisa menempatinya."


Mereka berjabat tangan lalu pamit pulang. Nilam memejamkan matanya sesaat. Besok dia akan tinggal sementara di rumah Yuki membawa pembantunya sekalian. Ini hari terakhir dia di rumah itu.


Saat tengah duduk termenung di balkon kamarnya, ponsel Nilam berdering. Sebuah panggilan dari orang yang sudah cukup lama tak dilihatnya.


"Kau dimana, Sayang?"


"Di rumah, kenapa menelepon ku?" tanya Nilam sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan satu tangannya.


"Keluarlah, aku menunggumu. Temani aku sebentar."


Nilam segera melongok dari balkon, sebuah mobil mewah menunggu di depan pagar rumahnya. Nilam berdecak sebal, Tommy selalu seperti itu. Tiba-tiba datang dan menghilang bagai hantu.


Nilam akhirnya mengganti baju, memakai rok jeans pendek dan kaus ketat berwarna putih bersih. Ia bergegas ke luar. Tommy sedang menunggunya di dalam mobil, rambut lelaki itu tampak sedikit gondrong, diikat rapi dengan jambang halus di sekitaran wajahnya.


Nilam tampak terpesona sesaat, lama tak bertemu membuat lelaki itu semakin tampan saja. Hati Nilam berdesir. Tapi ia mencoba tenang saat masuk ke dalam mobil Tommy dan duduk di samping lelaki itu. Nilam membiarkan saja Tommy akan membawanya kemana.

__ADS_1


__ADS_2