Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Rindu


__ADS_3

Tommy masih tertegun di ranjang kamar rehabilitasinya saat ini. Dia seperti kehilangan semangat juga pijakan sebab sudah cukup lama tak mendengar kabar Nilam dan juga istrinya itu pun sudah cukup lama tidak menjenguknya. Kamar yang sekarang ditempatinya, berlapis dinding yang terbuat dari bantalan empuk. Hal itu memang lumrah, sebab Tommy termasuk pecandu dengan resiko perilaku kekerasan.


"Kemana kau, Lam?" Lelaki itu mendesah, menatap tembok berlapis bantalan itu dengan muak lalu mulai meninjunya sekuat hati disertai teriakan kesal yang saban hari kerap terdengar setiap dia sedang dilanda kekesalan juga rasa sakau yang masih sering datang menghampiri.


"Tuan, akan ada acara bimbingan rohani setelah ini. Tuan mau ikut?"


Seorang petugas membuat Tommy yang tengah kesal jadi menarik nafas panjang. Dia ingat pesan Nilam, untuk tidak sembarang melampiaskan kemarahan kepada oranglain.


"Ya, saya ikut." Tommy menjawab dengan tenang.


Perawat itu mengangguk, kemudian pergi sedangkan Tommy sekarang duduk diam di tepi ranjangnya. Sebetulnya, selama di tempat itu, dia sudah merasakan kemajuan bagi dirinya sendiri begitu juga catatan dari tempat rehabilitasi tentang perkembangannya yang semakin baik. Penanganan secara medis juga non medis diikuti Tommy dengan teratur dan tanpa banyak protes.


Hanya ketika sedang terkenang Nilam, dia jadi uring-uringan. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia luar saat ini. Tetapi yang jelas, perasaannya kerap tak tenang. Dia seperti bisa merasakan bahwa ada yang sedang tak beres yang tengah terjadi dengan istrinya di luar sana.


Desta juga sudah cukup lama tidak mendatanginya, tetapi dia cukup maklum sebab asistennya itu sedang menggantikan kegiatan seabrek yang tidak bisa dia hadiri saat ini.


"Tuan, mari ikut ke aula."


Tommy menurut, ia ikut dengan perawat yang membimbingnya masuk ke sebuah aula dengan banyak para pasien seperti dirinya yang tengah butuh penanganan khusus. Kegiatan rohani hari ini sedikit banyak membuat Tommy tenang. Dia juga sempat bercerita panjang lebar dengan seorang ahli agama tentang apa yang selama ini terjadi dan dia pendam selama bertahun-tahun.


Selepas mengikuti acara itu, saat dia hendak kembali, ternyata di luar kamarnya tepat di atas kursi panjang, ia melihat seseorang yang sudah lama dirindukannya.

__ADS_1


"Mas ..."


"Nilam." Tommy tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menyambut Nilam yang setengah berlari lalu memeluknya.


"Kenapa baru sekarang datang?" tanya Tommy penuh penyesalan. Nilam mengusap-usap punggung lelaki itu dengan lembut. Dia juga sempat menghapus airmatanya.


"Maaf, ada banyak sekali hal yang terjadi. Aku baru bisa mengunjungimu sekarang."


"Kau baik-baik saja? Apa ada yang menjahatimu?" cecar Tommy.


Nilam menggeleng, kemudian mengajak Tommy duduk sebelum dia mengatakan segalanya.


"Enggak, Mas. Cuma sedikit kelelahan."


Tommy mengangguk lagi, tadinya dia ingin marah karena baru sekarang istrinya datang dan mengunjungi. Namun, setelah melihat wajah Nilam, ia jadi luluh.


"Katakan kepadaku, apa yang sedang terjadi selama aku tak di sampingmu. Aku merasa kau memang sedang tidak baik-baik saja."


Nilam diam sebentar kemudian dia mengangguk.


"Media sudah tahu tentang kita. Media sudah mencurigai tentangmu, mereka juga menebar berita tentang kita berselingkuh saat aku masih menjadi istri Indra dulu."

__ADS_1


"Kurang ajar! Aku akan mengurus semua ini, Sayang. Aku juga akan segera mengatakan kepada semua orang kalau kita memang sudah menikah."


"Ya, aku sudah lebih dulu mengkonfirmasi hal itu, Mas. Maaf kalau aku tidak minta pendapatmu dulu."


Tommy mengangguk. " Tak apa, Sayang. Sudah saatnya kita jujur. Menyembunyikan ini terlalu lama hanya akan membuat kita juga susah ke depannya. Dokter bilang, kemungkinan dalam satu hingga dua minggu ke depan aku sudah bisa pulang."


Nilam tersenyum senang menyambut hal itu. Dia kembali memeluk erat Tommy.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan kepadamu, semoga kau menyukai kabar ini."


"Apa?" tanya Tommy menunggu.


Nilam meletakkan satu tangan Tommy di atas perutnya kemudian dia menatap lelaki itu dengan tatapan teduh dan menenangkan.


"Aku sudah hamil, Mas. Kandunganku sudah dua minggu. Kau akan segera menjadi seorang ayah."


Tommy tertegun sesaat ia memandang Nilam dan perutnya bergantian. Lalu kemudian dia memekik kegirangan, tanpa sadar dia kembali meraih Nilam dalam pelukannya. Airmatanya juga ikut menetes. Tommy tak menyangka jika dia akan sebahagia ini mendengar kabar kehamilan istrinya.


"Aku bahagia, Sayang," bisik Tommy kepada Nilam yang mengangguk pula. Dari kejauhan, Yuki memandangnya dengan senyuman yang sama pula.


"Tunggu aku pulang ya. Setelah ini kita akan hidup bahagia dan gak akan terpisah lagi," ujar Tommy sambil mengusap lembut pipi Nilam. Nilam mengangguk, ia pun tentu sama tak sabar menunggu kepulangan Tommy ke sisinya.

__ADS_1


__ADS_2