
Tangan Nilam masih terkepal, terbayang perlakuan Indra. Dia merasa Indra begitu bodoh karena langsung memercayai begitu saja apa yang Marissa katakan. Tentu saja di area kolam renang ada kamera pengawas, tetapi memang situasi cukup gawat karena Marissa sudah pendarahan dan lelaki itu tak bisa mempertimbangkan segala tuduhan istri keduanya kepada Nilam tanpa melihat dulu segala bukti yang pasti ada.
Nilam bergegas membuka rekaman CCTV, melihat reka adegan yang membuat kebenciannya semakin menjadi kepada suami dan madunya yang sialan. Ia segera menghubungi Yuki.
"Mbak, besok bisa temani aku?" tanya Nilam tanpa mengalihkan pandangannya dari rekaman CCTV.
"Ya, tentu, Lam. Kau mau aku temani kemana?"
"Pengadilan agama."
Lama Yuki terdiam tapi kemudian terdengar helaan nafas panjang dari manager setianya itu.
"Sudah yakin?"
"Ya, sudah saatnya."
"Baiklah, jangan lupa siapkan semua berkas."
"Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, Mbak, hanya tinggal membawanya saja."
"Kau baik-baik saja, kenapa suaramu terdengar bergetar?"
"Perempuan sundal itu berusaha memfitnahku karena keguguran. Padahal itu karena ulahnya sendiri, dia berusaha mencelakai aku di kolam renang tetapi aku gegas menghindar jadi dia sendiri yang kena batunya hingga terbentur pinggiran kolam. Lalu, Indra menamparku begitu keras, dia menuduhku!"
Yuki terdengar terkejut di ujung telepon, Nilam tahu bahwa Yuki juga sedang geram mendengar ceritanya itu.
__ADS_1
"Indra itu kurang ajar! Apalagi Marissa. Memang itu sudah azabnya keguguran, Lam! Sudah, kau bawa juga rekaman CCTV untuk memperkuat gugatanmu. Bila perlu kau visum, Lam. Biar Indra itu mendekam di penjara!"
Nilam hanya diam mendengarkan tanggapan Yuki. Dia sebenarnya sependapat dan mungkin memang akan mengambil langkah itu. Kesabarannya sudah cukup selama ini.
"Kita bertemu besok ya, Mbak." Nilam mengakhiri sambungan teleponnya.
Setelah itu Nilam bergegas pergi ke kamarnya, di bukanya sebuah laci yang selalu dia kunci. Ia meraih berkas-berkas penting yang akan dibawanya besok. Nilam kemudian melihat foto yang tergantung di kamar, foto ia dan Indra dalam balutan baju pengantin.
Di sana, mereka terlihat tampak bahagia. Nilam yang cantik dengan kebaya putih dan Indra dengan jas pengantin warna serupa. Sayangnya, kehidupan rumah tangganya tak semanis seperti yang terlihat dalam pigura.
Ia meraih kursi meja riasnya, menyeretnya perlahan kemudian naik ke atasnya. Dilepaskannya benda besar itu dari posisi awal, menggantung di dinding. Nilam kemudian memecahkannya hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.
"Nyonya?"
Mungkin bibi mendengar suara pecahan itu hingga dia segera ke atas. Nilam berjalan gontai dan segera membuka pintu kamarnya.
"Baik, Nyonya, Bibi ambil dulu peralatannya."
Nilam mengangguk, lalu menuju jendela kamarnya. Ia memandangi jalanan sekitar kompleks. Matanya menatap ke terik siang dengan pandangan kecewa.
Bibi kembali datang dengan peralatan kebersihan. Nilam hanya menyaksikan serpihan kaca pigura yang sudah memenuhi pengki yang bibi bawa. Lalu foto di dalamnya yang tak lagi berarti apa-apa bagi Nilam. Semua perasaan menguar di udara, tinggallah kebencian yang telah semakin tersemat abadi untuk suaminya.
Sekitar tiga jam kemudian, deru mobil Indra terdengar. Nilam baru saja hendak keluar setelah memakai setelan santai dengan membawa dompet dan kunci mobil. Mereka berpapasan, Nilam membuang mukanya, tak sudi melihat Indra lagi. Tetapi Indra menahan langkahnya, lengannya dipegang lelaki itu.
"Maafkan aku, Lam. Tapi, kau tak bisa seenaknya memperlakukan Marissa. Sekarang dia keguguran, kami kehilangan bayi kami."
__ADS_1
Nilam menepis tangan Indra dengan kasar. Wajahnya menatap dingin, Indra baru sekali ini melihatnya. Bahkan selama ini setelah dia hidup bersama Nilam dan Marissa di satu atap yang sama, Nilam masih memandangnya dengan biasa meski dia pasti kecewa. Tapi bukan seperti sekarang, sekarang sangat dingin.
"Kau adalah lelaki bodoh, yang begitu saja percaya kepadanya. Selamat menikmati kebodohanmu itu. Suatu saat, kau akan sangat menyesal dan aku pastikan kau akan memohon kepadaku agar kembali. Ketika saat itu datang, aku tidak akan pernah memberimu kesempatan sedikit pun!"
"Apa maksudmu, Nilam? Aku sengaja kembali ke rumah dan meninggalkan Marissa di rumah sakit untuk memperbaiki hubungan kita lagi. Aku juga merasa bersalah karena sudah menamparmu."
"Aku tidak membutuhkanmu lagi, Indra! Kau harus ingat, tamparan tadi akan aku ingat sampai kapanpun!"
Nilam berjalan menjauh, menuju mobilnya. Tetapi Indra kembali menarik tangannya, Nilam juga bergegas menepisnya dengan kasar.
"Jangan menyentuhku lagi! Aku jijik padamu!"
"Nilam!"
Nilam tak menggubris, masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Indra mengetuk-ngetuk kaca mobil. Berusaha menghalangi jalan Nilam tapi Nilam tetap menginjak gas hingga terpaksa Indra segera menyingkir. Nilam sendiri tak tahu dia akan kemana. Dia hanya butuh menenangkan diri. Ia juga sudah mengunci pintu kamarnya bahkan membawa duplikat kunci kamar itu sekalian agar Indra tak bisa masuk ke kamarnya di saat dia tak ada.
Mata Indra kemudian terbelalak ketika menemukan foto pernikahannya dengan Nilam yang sudah berada di tong sampah.
"Bi!" panggil Indra berang.
"Ada apa, Tuan?" Bibi datang dari arah dapur dengan cepat.
"Kenapa foto pernikahan saya dan Nilam ada di sini?!"
"Nyonya yang memerintahkan saya untuk meletakkannya di tong sampah ini, Tuan."
__ADS_1
Indra terduduk lemas, meremas rambutnya dengan putus asa. Dia juga menatap telapak tangannya, sesuatu yang sudah membuat Nilam tak lagi mentolerir sikapnya.