Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Saya Jatuh Cinta Kepadanya


__ADS_3

"Tunggu sebentar, tolong jangan buat Bapak dan Ibu bingung. Ini bagaimana maksudnya? Maksud Bapak, bukankah Nak Tommy tahu sendiri bahwa Nilam baru saja bercerai dari mantan suaminya?" tanya ayah Nilam dengan masih berusaha mengendalikan dirinya.


Tommy tersenyum kecil, dia tahu betul bahwa melamar Nilam sekarang bukanlah hal yang mudah. Ada banyak sekali pertimbangan bagi keluarga besar Nilam. Mereka adalah orang desa yang sudah terbiasa menjunjung tinggi nilai dan norma kehidupan termasuk tentang sakralnya arti sebuah pernikahan. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi mereka.


Berbeda dengan Tommy yang tampak tenang dan bisa dengan santainya mengumbar senyum, Nilam sendiri sekarang jadi panas dingin. Dia bisa melihat sorot mata kedua orangtuanya yang seperti sedang menuntut penjelasan.


"Nilam bisa jelaskan, Bu, Pak, maaf kalau sekiranya, keputusan Nilam untuk segera menikah lagi menjadi sebuah boomerang bagi keluarga kita. Terlebih Nilam sangat paham bagaimana Bapak dan Ibu yang amat tinggi menjunjung nilai dan norma adat istiadat kampung ini. Tapi Nilam memang sudah sangat mantap untuk menerima lamaran Tommy. Ini juga untuk menghindari Nilam juga Tommy dari hal-hal terlarang yang mungkin saja bisa kebablasan kami lakukan. Nilam mohon pengertian Bapak dan Ibu."


"Tapi, Nak, ini terlalu terburu-buru, terlalu aneh dan sedikit mencurigakan bagi Bapak juga Ibu." Kali ini, ibunya Nilam yang menyahut.


Tommy menarik nafas sesaat, dia mengatupkan bibirnya sebentar lalu menatap kedua orangtua Nilam dengan pandangan teduh juga meyakinkan.


"Saya mohon dengan sangat, Pak, Bu, untuk hal ini agar dipermudah. Saya berjanji kepada Bapak dan Ibu akan menjaga Nilam dengan baik. Saya sangat berharap akan mendapatkan restu Bapak juga Ibu."


Kedua orangtua Nilam saling berpandangan. Sebagai orang desa yang sangat paham akan norma masyarakat, tentu akan ada sangsi sosial jika mereka nekat menikahkan anak mereka yang baru saja menjadi janda itu untuk menikah lagi.

__ADS_1


Namun, melihat perjuangan Tommy dan juga sikapnya yang sopan, mereka juga mulai luluh.


"Tunggu sebentar, mungkin Bapak musti minta pendapat pamanmu, Nilam. Bapak cuma tidak mau salah langkah lagi nantinya."


"Ya, Bapak betul. Pamanmu nampaknya lebih paham."


Nilam dan Tommy saling pandang, begitu juga Desta dan Yuki. Mereka mulai gugup, takut jikalau rencana lamaran mendadak ini betulan akan gagal dan berantakan.


"Bagaimana kalau rencana ini berantakan, Tom?" tanya Nilam dengan putus asa tetapi Tommy segera meraih jemari perempuan itu kemudian menenangkannya.


"Betul, kau harus tenang, Nilam. Ayah dan ibumu pasti akan mengerti. Biarkan saja mereka memanggil pamanmu, mereka pasti membutuhkan jawaban yang lebih pasti dari Pak Tommy dan untuk meyakinkan hal itu mereka tentu membutuhkan saksi lain selain kami yaitu keluargamu sendiri."


Akhirnya Nilam saat ini mulai tenang dan ketika beberapa saat kemudian mereka mendengar derap langkah kaki yaitu langkah kaki tiga orang memulai memasuki ruang tamu lagi, hatinya mulai dilanda gugup lagi. Tapi Tommy tetap saja menampilkan raut wajah yang tenang, seolah dia pasti bisa meyakinkan keluarga Nilam bahwa keputusannya untuk mempersunting perempuan itu adalah hal yang benar-benar sungguhan.


"Jadi apa betul, Nilam, yang dikatakan oleh Bapakmu bahwa katanya kau akan segera menikah lagi?" tanya paman tanpa basa-basi yang saat ini sedang duduk di depan keduanya. Tommy maupun Nilam kemudian mengangguk. Paman kemudian melihat ke arah Tommy, tampak menilik dari atas sampai bawah kemudian dia melihat lagi ke arah bapaknya Nilam.

__ADS_1


"Sepertinya laki-laki ini sungguhan. Tapi kalau boleh kami semua tahu, apa sebenarnya yang melatarbelakangimu, ingin sekali menikahi keponakan saya?"


Semua orang tampak menahan nafas, menunggu untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Tommy sebentar lagi, termasuk juga Nilam. Akankah Tommy mengatakan sebuah kebenaran bahwa dia adalah seorang pemakai yang saat ini sedang berjuang dan membutuhkan Nilam berada di sisinya untuk membantunya melepaskan diri dari jeratan obat-obatan terlarang itu? Atau ada sesuatu hal lain yang lebih kuat lagi untuk menjadi alasan di balik rencana pernikahan mendadak ini.


"Yang pasti karena saya sudah jatuh cinta kepada anak Bapak."


Kedua orang tua itu saling berpandangan begitupun juga dengan Nilam sendiri, berusaha untuk meyakinkan ibunya lewat sorotan mata bahwa dia betul-betul ingin menikah dengan Tommy. Tetapi semua keputusan terbaik tetap berada di tangan bapaknya.


Namun, tak lama kemudian, mereka bisa bernapas lega ketika sang ayah pada akhirnya menganggukkan kepala.


"Nilam jauh dari kami di kota, sedangkan kami berada di desa ini. Saya tidak bisa memantau apa yang dilakukan Nilam selama di sana dan jika memang keputusan untuk menikahi anak saya adalah hal yang benar-benar sungguhan, saya akan memberikan izin untuk itu, tetapi kamu tentu tahu bahwa kita tidak bisa begitu saja langsung mengumumkan pernikahan ini kepada khalayak banyak, sebab Nilam ini baru saja bercerai dengan mantan suaminya."


"Pernikahan ini memang akan dilakukan secara tertutup untuk sementara yaitu dihadiri oleh keluarga terdekat saja. Nanti setelah masa tenang Nilam selesai, barulah kami akan mengadakan resepsi agar semua orang tahu bahwa di antara kami berdua memang sudah ada ikatan yang sah."


Lalu mereka saling tersenyum satu sama lain, Nilam juga memandang Yuki. Dan tatapan Nilam juga Tommy kembali bertemu. Mereka saling melemparkan senyuman untuk satu keputusan yang begitu membahagiakan ini. Nilam merasa keputusan ini sudah tepat dan kepada Tommy, entah mengapa, dia menjadi sangat percaya meski kemarin pernah gagal pula dalam berumah tangga.

__ADS_1


__ADS_2