
Kehamilan Nilam membuat Tommy semakin bersemangat untuk segera sembuh agar dia bisa pulang secepatnya. Kemarin, setelah kedatangan Nilam, pada malamnya sekitar pukul tujuh malam, Desta juga mendatanginya. Awalnya Tommy ingin marah karena asistennya itu malah menyembunyikan semua hal yang telah terjadi di luar sana tanpa sepengetahuannya, tetapi setelah dijelaskan panjang lebar oleh Desta, pada akhirnya dia bisa mengerti dan menerima.
Sekarang dia hanya tinggal menghitung hari untuk kembali ke dunia bebas dengan sosok yang baru, yang bersih tanpa jeratan obat-obatan terlarang lagi. Tommy juga sangat bahagia mengetahui bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Begitu juga dengan Nilam yang walaupun perhatiannya kini terpecah belah sebab gosip yang semakin liar berkembang, juga banyaknya hujatan tapi itu tidak membuatnya kehilangan rasa syukur karena sudah dipercaya untuk mengandung.
Kata-kata Indra dan Marissa dulu yang pernah menghinanya sebagai perempuan mandul, akhirnya terbantahkan. Nilam sekarang sedang duduk di balkon kamarnya, dia sedang menyesap teh hangat yang baru saja dibuatkan oleh pelayan. Hari ini dia tidak punya jadwal syuting.
Namun, dia mendengar pembantunya datang tergopoh-gopoh kemudian, mendekatinya sembari mengatur nafas yang ngos-ngosan.
"Nyah! Nyonya! Itu, mbak Yuki ..."
"Kenapa, Bi? Kenapa mbak Yuki?"
"Itu, Nya ... "
"Coba diatur dulu nafasnya atuh, Bi. Kenapa?"
Dengan sabar, Nilam menunggu pelayannya itu untuk bicara.
"Itu mbak Yuki ada di depan pagar rumah lagi seret-seretan sama pak Indra!"
Mendengar itu, mata Nilam kontan membulat sempurna. Nilam segera berlari menuju tangga.
__ADS_1
"Aduh, Nya, pelan-pelan, Nyonya kan lagi hamil!" Bibi berteriak panik melihat Nilam yang tengah menuruni anak tangga dengan cepat.
Nilam sendiri tidak lagi menggubris teriakan pembantunya itu, dia segera keluar rumah, secepat kilat membuka pagar dan melihat Indra sedang beradu debat dengan Yuki.
"Masuk, Lam! Laki-laki ini pasti mau macam-macam!"
"Aku masih berhak atas Nilam ya, Mbak! Aku berniat akan rujuk dengannya!"
"Berhak kepalamu! Kalau sudah ketok palu artinya kau sudah bukan suaminya lagi! Jangan kau pikir aku akan membiarkanmu untuk macam-macam sama Nilam lagi ya!"
Yuki memaki Indra dengan tampang memerah, perempuan itu juga terlihat mencengkram lengan Indra yang berusaha hendak meraih Nilam dengan paksa.
"Stop, Ndra! Berhenti!"
"Gak tahu malu!" ujar Nilam dengan ketus.
"Lam! Aku berniat memperbaiki segalanya. Aku bisa menceraikan Marissa sekarang juga asalkan kau mau kembali."
"Heh! Nilam itu sudah menikah dengan Tommy! Dia juga sudah hamil! Jangan berani-berani mengganggunya ya, Ndra!" Yuki kembali memaki Indra yang nampaknya tidak peduli sama sekali.
"Mbak Yuki betul, jadi jangan paksa aku lagi, Ndra. Lagipula, kau kan sudah tahu bahwa aku sudah menikah dengan mas Tommy. Kau juga yang menebarkan fitnah kepada wartawan. Aku tahu semua itu, Ndra! Aku tahu semua itu ulahmu! Salah satu wartawan sudah memberi tahu kepadaku tentangmu. Bukannya kau sudah puas dengan menyebar berita bohong? Jadi jangan lagi memaksaku untuk kembali. Aku tidak pernah mencintaimu lagi semenjak kau berselingkuh dengan perempuan gatal itu. Kita juga sudah bercerai dan aku sudah mencintai lelaki lain. Dan lihat, dengannya sekarang aku hamil."
__ADS_1
Indra menatap Nilam dengan pandangan marah tapi tentu malu. Dia juga tidak menyangka jika Nilam tahu semuanya, bahwa dia telah membayar beberapa wartawan untuk menyebar berita fitnah kepada mantan istrinya itu.
"Kau pasti akan menyesal karena sudah mencintai lelaki pecandu narkoba seperti dia, Lam!"
"Aku lebih akan menyesal karena pernah mencintai lelaki yang pura-pura bersih sepertimu! Ternyata kau sangat pengecut, Ndra! Harusnya kau bersyukur karena aku tidak terpikir untuk memenjarakanmu!"
Indra tak bisa membalas perkataan Nilam lagi, dia memutuskan pergi dari hadapan Nilam dan Yuki. Yuki mendekat ke arah Nilam selepas kepergian Indra.
"Kau tahu semua ini perbuatan Indra tapi gak bilang aku, Lam?" tanya Yuki dengan pandangan tak mengerti.
Nilam menarik nafas panjang, kemudian merangkul Yuki.
"Masuk dulu, Mbak. Kita ngomong di dalam saja."
Yuki mengangguk, lalu bersama Nilam, dia duduk di ruang tamu. Dia merasa Nilam sangat berhutang penjelasan kepadanya.
"Maaf, Mbak. Aku menyelidiki ini diam-diam dan sebetulnya, aku udah curiga sama Indra sejak lama. Dia gak pernah bisa nerima kalau sekarang aku udah bahagia. Gak ngerti juga kenapa dia harus begitu. Tapi, kalau setelah ini dia masih aja berbuat seperti kemarin, aku gak akan menunda lagi untuk melaporkannya ke polisi. Aku masih memikirkan kedua orangtuanya, mereka bergantung sama Indra. Jadi biar saja, toh semua orang akan tahu kebenarannya kelak. Setelah mas Tommy keluar dari panti rehabilitasi, kami akan mengadakan konferensi pers agar semuanya jelas."
"Tapi gak seharusnya kau menyimpan ini sendirian, Lam. Indra itu nekat, dia bisa saja akan mencelakaimu jika ada kesempatan."
"Aku yakin engga bakal lagi, Mbak. Mbak tenang saja."
__ADS_1
"Ya sudah, tapi mantan suamimu itu memang betulan pengecut, Lam."
Nilam mengangkat bahu, dia juga tidak bisa merubah watak seseorang. Sekarang dia hanya ingin fokus dengan kesembuhan Tommy juga merancang hal-hal indah bersama lelaki itu kelak.