Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Life Of Tommy


__ADS_3

Jadi semalaman Nilam menemani Tommy di Villa. Untungnya villa ini jauh dari keramaian. Hingga tak akan ada yang menyadari jika dia sudah menemani pria itu di sana semalaman, seharian. Sebetulnya, Nilam tak nyaman hanya berdua saja bersama pria itu. Takut terlintas setan lalu terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Namun, malam itu sukses dilewati keduanya tanpa melakukan hal-hal yang lebih jauh. Di sofa seberang ranjang Tommy yang terbaring lemah, di sanalah Nilam berada. Hari ini mungkin dia akan datang terlambat ke lokasi syuting tapi dia sudah mengabarkan kepada Yuki yang sedari malam tadi mencari keberadaannya. Untungnya Yuki mengerti setelah Nilam dengan terpaksa menceritakan kondisi Tommy saat ini.


"Kau tak pulang?" tanya Tommy sembari menerima satu suapan dari bubur yang baru saja dibuatkan oleh Nilam.


"Nanti, satu jam sebelum syuting. Aku tak tega membiarkan kau sendirian dalam kondisi seperti ini. Dan dimana asistenmu itu?" tanya Nilam.


"Desta selalu tahu jika aku tak mau ditemani. Aku tak suka jika sakau, dilihat oleh orang. Dan kau ternyata membuat pengecualian itu."


Nilam mendesah perlahan mendengar penuturan lelaki itu. Bagaimana bisa dia meninggalkan Tommy sendirian sekarang?


"Jangan pikirkan aku, Sayang. Percayalah, aku sudah baik-baik saja semenjak ada kau semalaman."


Tommy tampak menyugar rambutnya yang sudah panjang itu. Nilam memandang lelaki itu lekat. Sebenarnya, masalah apa yang menimpa Tommy hingga dia jadi salah arah begini? Sungguh Nilam kasihan.


"Aku sempat kecewa dengan mantan kekasihku. Dia seorang model juga, sekarang dia tinggal di Amerika. Dia mengkhianatiku, menikah dengan sahabat baikku sendiri. Aku sangat mencintainya, Nilam. Sulit sekali melupakannya, sampai akhirnya aku nyaman dengan obat-obatan yang mampu membuatku lupa tentangnya. Sayang, aku sulit lepas dari jeratan obat-obatan sialan itu. Aku memutuskan pindah ke Australia, dan ketika ayahku meninggal, barulah aku pulang ke Indonesia. Sayangnya, aku masih belum berhasil melepaskan diri dari jeratan obat-obatan ini."


Nilam sempat tersentuh mendengarnya, tetapi dia tidak suka cara Tommy mengalihkan rasa kecewanya.


"Kau tak akan sembuh jika tak rehabilitasi. Atau mungkin akulah yang harus membantumu langsung. Tapi ..."

__ADS_1


"Tapi?"


"Aku tidak mungkin setiap waktu menemuimu karena kita bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan yang ..."


"Lewatkan masa tenangmu, maka aku akan menikahimu. Sampai hari ini aku tidak terpikir akan rehabilitasi, Nilam. Tapi kalau kau mau, kau bisa membantuku. Rehab saja aku di rumah."


"Tapi, bagaimana sebuah pernikahan tanpa adanya perasaan?"


"Perasaan? Kau yakin tak ada rasa sedikitpun kepadaku? Seperti aku yang sudah jatuh cinta kepadamu?" tanya Tommy membuat Nilam tersipu. Tapi Nilam masih enggan mengakuinya.


Tommy meraih jemari Nilam lalu tanpa di duga oleh perempuan itu, Tommy sudah menautkan bibir mereka berdua. Nilam yang sudah lama tak disentuh oleh pria, refleks bereaksi. Menerima perlakuan lembut tapi begitu menuntut itu membuatnya jadi memejamkan mata, membalas setiap kecupan di bibirnya.


"Tom ..." Nilam mendesah pelan, mendorong dada lelaki itu menjauh sedikit lalu dia menggeleng. Kalau tidak dihentikan, bisa dipastikan keduanya akan melakukannya. Nilam mengancingkan kembali kemeja yang dipakainya, setelah tadi sempat terbuka beberapa karena tangan jahil lelaki itu.


"Keterlaluan!" Nilam meraih bantal lalu menghempaskannya berulang kali ke tubuh Tommy yang hanya bisa tertawa dan berusaha menghentikan Nilam.


Lalu gerakan Nilam betulan berhenti setelah Tommy menangkap pinggangnya, memeluknya erat hingga menempelkan kepalanya di perut Nilam yang rata.


"Kau janda yang aku sukai, Nilam. Sungguh, aku ini anak nakal, kalau kau tak aku nikahi, maka mungkin, kita akan berakhir di ranjangku setiap hari."


"Kau memang gila, Tom!"

__ADS_1


"Ya, gila karena banyak hal."


Nilam sebenarnya bisa merasakan bahwa Tommy adalah pria kesepian. Nilam juga bisa merasakan bahwa lelaki itu sebenarnya juga penuh dengan kasih sayang. Dia lelaki yang lembut, hanya saja dia memang sedikit nakal tetapi entah mengapa lelaki seperti Tommy masuk kriteria Nilam.


Walau enggan untuk mengakui, tapi sebenarnya Nilam juga sudah jatuh hati. Namun kembali lagi, posisinya sekarang Nilam ini sedang dalam masa tenang dan tidak boleh untuk menikah secepat itu, dia harus melalui masa tunggu dan melewatinya, barulah bisa menikah lagi dengan pria lain.


"Seandainya kita nikah siri dulu, apa bisa?" tanya Tommy kepada Nilam. "Jadi kita berdekatan pun sudah halal, hanya saja pernikahannya yang masih siri, karena kalau tidak begitu rasanya aku terlalu lama menunggu."


"Entahlah, mungkin nanti aku akan bertanya kepada orang-orang yang lebih paham, tapi apa betul kau ingin menikahiku?" tanya Nilam.


"Tommy tidak pernah main-main, Nilam. Kalau dia sudah suka dengan sesuatu hal, maka dia akan merebutnya dengan segala cara."


"Lalu, kenapa kau tidak mau merebut mantan kekasihmu itu?" pancing Nilam.


"Aku tidak suka jika seseorang yang sudah bersamaku kemudian pergi dengan laki-laki lain dan aku akan kembali menghisap bekasnya? Maaf saja!"


Pria itu berkata dengan percaya diri, membuat Nilam terkekeh sesaat.


"Aku akan memikirkannya. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian, Tommy. Karena kau tidak boleh melalui ini sendirian, kau harus segera sembuh dan menjadi Tommy yang dibanggakan oleh semua orang, tunjukkan kepada mantan kekasihmu itu bahwa kau adalah orang yang hebat!"


Tommy tertawa, lalu ia mengusap pipi Nilam dengan lembut dan satu kecupan mendarat di pipi perempuan itu. Akhirnya, hari ini keduanya memulai sebuah kesepakatan dan Tommy juga akan ikut Nilam ke lokasi syuting hari ini. Padahal Nilam sudah melarangnya karena kondisi lelaki itu yang masih lemah. Tapi setelah Tommy selesai mandi,.dia melihat lelaki iti kembali segar seperti sedia kala. Nilam hanya berharap Tommy tidak akan mendapatkan rasa sakaunya lagi setelah ini. Kacau kalau lelaki itu sampai sakau di lokasi syuting.

__ADS_1


***


Note : Guys maaf banget aku libur hampir seminggu. Jam 11 tadi aku baru keluar dari rumah sakit. Aku opname hampir seminggu ini, gak bisa nulis karena tangan masih diinfus dan ini masih ekstra pegal. Tapi aku kepikiran kalian jadi harus mulai up lagi. Sekali lagi aku minta maaf ya, aku bakal bkin akun Instagram biar kita mudah berinteraksi ya teman-teman. Jujur selama dirawat aku kepikiran banget karena gak bisa nulis. Sekarang aku baru bisa nulis lagi. Alhamdulillah udah enakan dan boleh pulang ke rumah. Makasih ya buat yang masih setia baca


__ADS_2