
Nilam tahu betul penderitaan semacam apa yang tengah di alami oleh Tommy sekarang. Setibanya di Jakarta dulu, dia pun dekat dengan kehidupan liar, sempat salah arah ketika dulu dibodoh-bodohi oleh kekasih pertamanya yang juga tak lain dekat dengan narkoba dan kehidupan malam. Oleh karena itu pula dulu Nilam jadi kehilangan mahkota berharga dalam dirinya. Salah pergaulan, salah memilih pacar.
Syukurlah, Nilam cepat sadar dan memilih untuk melepaskan diri dari jeratan mantan kekasihnya dahulu. Lalu kehidupannya berangsur membaik, dari seorang jongos artis kemudian naik level jadi selebritis. Bertemu lagi dengan lelaki yang membuatnya jatuh cinta, Indra yang kemudian jadi kekasihnya. Lelaki yang lupa darimana dia berasal dan kerap meremehkan Nilam hingga tega menyelingkuhi.
Sekarang, setelah dibuat nyaman oleh Tommy, lelaki yang hadir di masa dia patah hati, malah mendapat kenyataan pahit lagi. Dia tak akan salah tebak, Tommy memang seorang pemakai narkoba. Namun, tak ada benda-benda terlarang itu di dalam kamarnya. Dugaan Nilam, Tommy berusaha melepaskan ketergantungan akan obat-obatan terlarang dengan caranya sendiri. Tanpa rehabilitasi? Mana bisa?!
"Kau pada akhirnya akan melihatku seperti ini," desis Tommy yang masih berada di dalam pelukan Nilam.
Nafas lelaki itu masih memburu, Nilam juga masih terdiam dan masih menyaksikan Tommy di sisa-sisa sakaunya. Sekarang lelaki itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Nilam yang juga perlahan mengendur, karena dia mulai bisa mengatur nafasnya yang sudah mulai kembali normal. Tetapi saat Nilam sentuh, tubuhnya masih terasa begitu dingin.
"Sudah sejak kapan, kau begini?" tanya Nilam dengan suara bergetar sembari memandang lelaki itu.
"Kenapa kau harus datang di saat aku seperti ini?" Tommy balik tanya, tak peduli dengan pertanyaan Nilam barusan.
Dia sebenarnya malu dilihat oleh Nilam dalam keadaan terpuruk seperti ini, sekarang perempuan itu pasti jadi tahu bahwa dia adalah seorang yang sedang berjuang keluar dari jeratan obat yang terlarang.
"Tidak penting kenapa aku harus datang disaat seperti ini, tentu saja aku mencari keberadaanmu. Kau yang selalu datang biasanya sekarang sering tak terlihat. Kau datang dan pergi bagai hantu, banyak orang yang menanyakan keberadaanmu, asistenmu pun bungkam, tidak pernah menjawab. Aku menunggumu, Tommy, aku sudah bercerai dengan suamiku, putusan sidang sudah kuterima."
"Aku senang mendengar berita perceraianmu itu. Tapi aku tak suka kau datang dalam kondisi aku yang seperti ini!" gertak Tommy lagi.
__ADS_1
Nilam menarik nafas panjang, kemudian dia mencari sesuatu yang bisa mengobati lengan lelaki itu, yang sudah nampak berdarah karena sempat dilukai olehnya.
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu harus lari kepada obat-obatan terlarang, Tommy, tapi aku yakin kau sedang berusaha lepas dari jeratan obat-obatan terlarang itu, hanya saja kau tidak bisa melakukannya sendiri. Kau harus di rehabilitasi agar kau lebih cepat keluar dari pengaruh kejahatan obat-obatan terlarang itu."
Tommy menggeleng sembari terkekeh lalu dia berbaring di temgah ranjangnya. Nilam hanya memandang lelaki itu sambil menggelengkan kepala.
"Duduklah dulu, biar aku obati lukamu, aku tidak suka melihat kau seperti ini, tidak seperti kau yang aku kenal," desis Nilam tak habis pikir.
"Kau tidak pernah tahu rasanya bagaimana, Nilam. Aku sudah berjuang mati-matian untuk keluar dari semua jeratan obat yang terlarang ini, tetapi aku tetap saja kalah. Karena itu aku mengurungkan diri di sini, tak ada yang tahu setiap kali aku merasa menginginkan obat-obatan itu, tetapi aku tidak bisa mendapatkannya. Aku menjauhkan semua hal yang bisa membuat aku dengan mudah mendapatkan benda itu. Padahal hanya dengan sekali telepon saja aku bisa sangat gampang mendapatkannya, tapi aku memang benar-benar ingin lepas dari jeratannya."
"Tapi sulit kan, itu karena kau sendirian, tidak ada orang yang membantumu keluar dari jeratan obat-obatan terlarang ini. Ibu bukan perkara mudah, Tommy dan bisa kau sepelekan."
"Kalau begitu, kau bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi bukan? Tidak mungkin kau akan terus-terusan begini. Aku juga tidak tega melihat kau seperti ini."
"Sudahlah, jangan mengasihaniku,"
"Aku tidak mengasihanimu, tapi memang keadaanmu sudah gawat. Bagaimana kalau aku menemanimu berobat?"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, Nilam. Sudahlah, kau cukup kenal aku sebagai Tommy, seorang lelaki yang pantas untuk dekat denganmu, begitu saja membuat sudah membuat aku senang."
__ADS_1
Nilam menggelengkan kepalanya, kemudian dia menyusun bantal yang tadinya berantakan dengan rapi dan membantu Tommy untuk merebahkan diri. Lelaki itu jadi setengah berbaring saat ini, ia memandang Nilam dengan senyum di bibirnya. Nilam kemudian pergi ke luar kamar dan mencari handuk kecil untuk menyeka bekas keringat yang ada di kening dan wajah Tommy.
"Aku akan mengurusimu, aku tidak mungkin membiarkan kau sendirian seperti ini, Tom."
"Aku tidak apa-apa, Nilam. Ayolah, kau tidak perlu panik begitu, aku malu jika aku harus berada di dekatmu dalam keadaan seperti ini."
"Akan lebih malu lagi kalau kau tidak akan pernah bisa lepas dari pengaruh obat-obatan sialan itu. Kau kan sudah banyak membantuku selama ini, jadi biarkan aku juga membantumu."
Tommy tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya dan mengusap pipi Nilam dengan lembut. Nilam hanya melihat setengah dari kesakitan yang dia rasakan hari ini, perempuan itu tidak pernah tahu apa yang sudah dilalui oleh Tommy beberapa tahun belakangan ini, begitu berat, begitu membuatnya frustasi sehingga dia harus terjerat dalam lingkup obat-obatan terlarang seperti ini dan dia memang sedang dalam tahap melepaskan diri, tetapi percuma saja jika dia lakukan sendiri tanpa ada tindakan rehabilitasi. Itu hanya akan percuma dan Nilam ingin merawat lelaki itu, dia akan membujuk Tommy untuk mau di rehabilitasi.
"Semua tidak pernah mudah, Nilam, semua orang melihat aku sebagai sosok yang sempurna dan dikagumi oleh banyak orang. Padahal mereka tidak pernah tahu betapa rapuhnya aku selama ini."
"Karena itu, kau harus bangkit, Tommy, tunjukkan kepada semua orang bahwa kau adalah Tommy yang memang dikagumi oleh orang banyak. Kau harus sembuh, dengan begitu kesempurnaan itu akan mutlak menjadi milikmu."
"Akan lebih sempurna lagi jika aku bisa memiliki pendamping sepertimu, Nilam."
Nilam terdiam untuk beberapa saat. Sejujurnya dia juga mulai mempunyai perasaan yang sama seperti Tommy. Tetapi saat ini dia tidak mungkin langsung menjalin hubungan dengan lelaki itu, dia baru saja bercerai dia harus menahan diri untuk tak dekat dengan laki manapun saat ini.
"Kau memang harus melewati dulu masa tenangmu Nilam. Kalau kau memang bersedia, aku akan menikahimu dan melamarmu dan kau mungkin bisa membantuku untuk keluar dari jeratan obat-obatan terlarang ini."
__ADS_1
Nilam memandang Tommy dengan lekat, tapi kemudian dia mengangguk. Hanya mengangguk, tidak tahu apakah dia yakin atau tidak, akan rencana mendampingi seseorang yang akrab dengan kehidupan gelap seperti Tommy.