
"Lam, kau jadi ke lokasi syuting gak? Aku dari tadi sudah menunggumu."
Suara Yuki terdengar tak sabaran sementara Nilam sendiri baru saja selesai membuat bubur untuk Tommy. lelaki itu sudah lebih baik walaupun kondisinya masih sangat lemah. Nilam sendiri masih mencari banyak informasi untuk menangani orang dengan riwayat pemakai seperti Tommy. Dia ingin lelaki itu segera sembuh. Tapi tentu sangat panjang perjalanan itu.
"Aku segera ke sana sebentar lagi ya Mbak, aku masih ada urusan sebentar."
"Ya, tapi, Lam, kau masih bersama Tommy?" tanya Yuki menebak. Entah dari mana perempuan itu tahu kalau dia memang sedang bersama Tommy saat ini.
"Iya, Mbak, aku masih sama Tommy."
"Aku sudah feeling kalau kau pasti sedang bersamanya beberapa hari ini. Aku tidak masalah sih, cuma ..."
Yuki terdengar menghentikan kata-katanya sebentar, sementara Nilam sendiri bak sudah bisa membaca dan menebak arah pembicaraan ini akan ke mana.
"Aku mengerti maksudmu, Mbak, nanti kita bicarakan ya. Aku juga ingin jujur kepadamu tentang sesuatu hal karena kurasa aku tidak bisa menyimpannya terlalu lama. Aku juga butuh saranmu, karena aku tidak ingin salah melangkah."
"Ya, kau bisa mempercayakan itu semua kepadaku, tapi ini pasti masih ada hubungannya dengan Tommy kan?" tanya Yuki lagi.
__ADS_1
"Mbak seratus persen betul. Ya sudah, aku sedang membuat bubur untuk Tommy, mungkin sekitar dua puluh menit lagi aku baru bisa pergi ke sana. Tak jadi masalah kan Mbak?"
"Ya sudah, nggak papa, nanti aku bilang sama sutradara. Mereka juga pasti mengerti kok."
Nilam akhirnya mematikan sambungan telepon itu, lalu dia kembali fokus memasak. semalam, tengah malam hingga subuh dia mengurusi Tommy sehingga dia sendiri belum sempat tidur dan sebentar lagi, dia harus segera menjalani syuting, tapi bukan itu yang membuat Nilam lelah. Ia hanya takut saat ini meninggalkan Tommy sendirian. Tommy tentu tidak akan bisa ikut dengannya ke lokasi syuting dengan keadaan seperti ini.
Perlahan, Nilam mencicipi bubur yang baru saja ia buat. Rasanya nikmat, semoga saja Tommy suka dengan masakannya. Memang, lelaki itu masih terlalu lemah untuk makan makanan padat yang lain dan juga Nilam tahu, bahwa saat ini Tommy sama sekali tidak ingin makan tapi Nilam tetap harus memastikan ada gizi yang masuk ke dalam tubuh lelaki itu.
"Kau belum pergi?" tanya Tommy yang masih tampak lemah dan berbaring. Bibirnya tampak begitu pucat meskipun itu tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun.
"Sebentar lagi, mana mungkin aku bisa mangkir dari syuting. Aku ini baru saja kembali ke panggung hiburan, Tom. Mana mungkin aku sewenang-wenang dengan jam kerjaku. Ini saja aku sudah meminta kepada mbak Yuki agar bisa datang sedikit terlambat."
Nilam menarik nafasnya, dia memandang Tommy kesal sekaligus gemas setelah mendengar penuturan lelaki itu.
"Ya, aku tahu, tapi aku tidak boleh selalu berlindung di balik namamu, Tom. Apalagi aku ini bukan siapa-siapamu," tegas Nilam sekali lagi membuat Tommy mendesah sebal kemudian menatap Nilam dengan serius.
"Aku akan segera menikahimu. Kita nikah siri dulu, jadi kau itu tidak akan merasa tidak enak kalau berdekatan denganku."
__ADS_1
Nilam tampak tak menimpali perkataan Tommy barusan. Sekarang dia membetulkan letak tubuh Tommy hingga menjadi setengah duduk dan dengan kaki selonjoran di atas ranjang. Ia segera menyuapi lelaki itu.
"Aku sudah lebih baik."
"Aku suka mendengarnya dan selalu berharap kau akan baik-baik saja," balas Nilam cepat sembari menatap lengan Tommy yang saat ini sudah diperban.
"Aku akan menghadiahimu banyak hal yang indah karena kau sudah membantuku melawan rasa takutku sendiri, padahal aku sudah hampir menyerah dan akan kembali lagi memakai obat-obatan terlarang itu."
"Kau tidak perlu menghadiahi aku apapun. Untukmu, yang aku inginkan hanyalah kesembuhanmu. Oh iya, sebentar lagi aku akan pergi ke lokasi syuting. Aku harap kau baik-baik saja selama aku tidak ada. Telepon aku kalau mau kau merasa sedang tidak baik-baik saja."
"Ya, kau pergilah, nanti aku akan meminta Desta untuk segera ke sini juga."
Lalu dia segera meneruskan kegiatan menyuapi Tommy dan tanpa diduga Tommy meraih jemari Nilam dan menggenggamnya. Nilam tersenyum kecil mendapat perlakuan itu dari lelaki tampan itu.
"Nanti ke sini lagi ya. Aku sungguhan akan menikahimu, aku akan meminta Desta mengurus itu semua."
Saat ini, dia tidak bisa menjawab apapun, tidak berkata tidak atau iya. Tapi bagi Tommy, apapun jawaban dari Nilam, dia akan tetap menikahi perempuan itu. Dia merasa hanya Nilam lah yang mampu untuk membantunya keluar dari semua permasalahan hidupnya selama ini. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan obat-obatan terlarang yang selama ini dia konsumsi, mungkin hanya Nilam perempuan yang bisa dengan penuh kesabaran juga berani melawan keinginannya, meski dia tahu bahwa semalam Nilam sempat ketakutan melihatnya memegang pisau untuk melukai dirinya sendiri itu.
__ADS_1
Dia hanya tinggal meyakinkan Nilam untuk menerima rencana pernikahan siri mereka.