Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Calon Mertua


__ADS_3

Tommy mematut penampilannya di cermin. Sedari tadi dia melihat jam tangan, sebenarnya sudah tak sabar ingin segera menjemput sang pujaan.


Dia juga sudah mengatakan kepada Desta bahwa keinginannya untuk segera menikahi Nilam sudah sangat bulat. Desta juga tidak bisa memberikan saran apapun selain mendukung apa yang akan dilakukan oleh tuannya meskipun menurutnya itu memang terasa terburu-buru.


"Kita pergi ke rumah manajernya Nilam dulu sebelum menjemputnya," perintah Tommy kepada Desta yang segera menyupir.


Tentu saja Yuki yang baru saja selesai mandi pagi itu terkejut bukan main ketika mendapati mobil mewah milik Tommy sudah terparkir rapi di halaman rumahnya.


"Nilam lagi nggak sama saya, Pak Tommy," ujar Yuki Setelah dia membuka pintu. Tommy mengangguk kecil, dia tahu Yuki pasti salah paham dan mengira dia mencari Nilam hingga ke rumahnya.


"Kita akan segera menjemputnya, Yuki. Sekarang gantilah bajumu, aku memerlukan kau untuk menjadi saksi bahwa hari ini aku akan mempersunting Nilam di hadapan kedua orang tuanya."


Sungguh, Yuki tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan oleh Nilam beberapa hari yang lalu adalah hal yang sungguhan. Kalau tahun ini ada penghargaan kepada lelaki penuh dengan kejutan, itu pasti akan jatuh kepada Tommy.


Seakan belum bisa mempercayai betul apa yang dikatakan Tommy tadi, Yuki mengarahkan pandangannya kepada Desta, sang asisten setia lelaki itu.


"Betul, tidak perlu banyak pertanyaan lagi. Ikuti saja semua perintah Tuan Tommy."


Dan akhirnya, Yuki berbalik menuju ke dalam kamar, sementara Tommy dan juga Desta akan menunggu di dalam mobil.


Tak berapa lama kemudian, perempuan itu kembali lagi dengan pakaian yang lebih rapi, dia juga sangat deg-degan saat ini.

__ADS_1


"Kau duduk saja di depan."


Lagi-lagi Yuki menurut saja. Dia segera membuka pintu dan mobil depan di mana saat ini Desta sudah menunggunya di balik kemudi. Tommy sendiri tampak terlihat tenang duduk di belakang.


"Ini betulan, Pak?" tanya Yuki lagi seolah masih tidak mempercayai apa yang saat ini telah terjadi.


"Memangnya saya pernah terlihat main-main, Yuki?" tanya Tommy kepada perempuan itu sambil terkekeh.


Yuki tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia segera mengeluarkan ponsel dan hendak mengirimkan pesan kepada Nilam saat ini.


"Sudah, tidak perlu ditanyakan kepada Nilam. Kau ini, seperti aku yang sedang bermain-main saja," tegur Tommy kemudian kepada Yuki yang segera tersenyum malu karena ketahuan.


Ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah perempuan itu, dia juga tampak tak terkejut saat melihat Yuki sudah duduk di depan bersama Desta.


"Pagi, Mbak," sapa Nilam dengan begitu santainya, lalu duduk di belakang bersama dengan Tommy.


Tommy menyambutnya dengan senyuman. Lelaki itu tampak tampan sekali pagi ini, membuat darah Nilam terasa berdesir melihatnya.


Tommy juga tampak mengagumi kecantikannya, apalagi tubuhnya yang begitu indah semakin terlihat dengan balutan dress yang melekat di tubuh sintalnya.


"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Nilam kepada Tommy yang segera mengangguk. Dia memang tampak segar pagi ini, seolah beberapa hari yang lalu dia tidak mengalami apapun, padahal dia mengalami sakau berat dan sempat demam setelah Nilam menyiramnya dengan paksa dengan air dingin.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat. Aku sangat segar bukan?" Tommy malah balik tanya dan Nilam kemudian mengangguk. Dia juga tidak bisa menghindari ketika Tommy merangkulnya di dalam mobil itu. Desta dan juga Yuki hanya berpura-pura tidak tahu.


Perjalanan mereka akan cukup lama, Nilam sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi kedua orang tuanya, tapi dia juga sudah mantap untuk menerima lamaran Tommy walaupun mereka akan menikah secara diam-diam dulu sebelum masa tenang setelah perceraiannya berakhir.


Di perjalanan, baik Nilam maupun Yuki sempat tertidur beberapa saat. Hingga sore hari akhirnya mereka tiba di kediaman keluarga Nilam di kampung halamannya. Perempuan itu segera disambut oleh kedua orang tuanya dengan sukacita.


Mereka tertegun ketika melihat Nilam tak sendiri datang ke rumah. Mereka tampak bingung melihat Nilam membawa dua orang lainnya yang mereka tahu mereka bukanlah orang biasa, selain Yuki tentunya.


"Bu, kenalkan ini Tommy dan Desta."


Nilam memperkenalkan dua lelaki yang tidak pernah dilihat oleh kedua orang tuanya itu yang masih menatap keduanya dengan bingung. Kalau dengan Yuki, tentu saja mereka sudah kenal karena perempuan itulah yang paling akrab dan mengiringi kehidupan Nilam selama berada di Jakarta dan menjadi seorang artis.


"Kalau begitu, semuanya masuk dulu, biar Ibu sajikan minuman."


Mereka semua mengangguk. Mini tinggal lah ayah Nilam yang berada di ruang tamu bersama mereka. Lelaki itu tampak menilik Tommy dari atas sampai bawah, tapi kemudian dia tersenyum dengan hangat. Orang tua Nilam pasti sangat waspada dengan lelaki yang akan mendekati anaknya, karena kegagalan rumah tangga yang pernah dialami oleh Nilam beberapa saat yang lalu.


Ketika ibu sudah datang lagi dengan minuman dan camilan ringan, Tommy memperkenalkan diri lagi dan mulai mengutarakan niat dan maksudnya.


"Bu, Pak, kedatangan saya ke sini untuk melamar Nilam. Saya akan segera menikahi Nilam."


Kedua orang tuanya saling berpandangan dengan terkejut, kemudian memandang Nilam dan juga Tommy bergantian. Nilam menggigit bibir bawahnya, dia takut nanti tidak akan ada restu untuk mereka. Sebagai orang yang berasal dari desa, Nilam sangat tahu bahwa kedua orang tuanya begitu menjunjung tinggi pernikahan dan juga tidak bisa percaya begitu saja dengan lelaki yang baru dikenal oleh anaknya. Apalagi status Nilam yang baru saja bercerai dengan mantan suaminya. Bukankah ini terlalu terburu-buru?

__ADS_1


__ADS_2