
Ada break dua hari dari kegiatan syuting untuk Nilam. Ketika dia pulang ke rumahnya, pembantunya menatap dia dengan pandangan bertanya-tanya. Ya, tentu saja akan begitu, sebab sudah beberapa hari Nilam tak pulang ke rumah. Dia pulang ke Villa Tommy. Namun, kali ini, dia ingin pulang dulu, lagipula, sudah ada Desta yang menemani Tommy.
"Nyonya, kemana saja kok tidak pulang? Bibi khawatir "
Nilam memandang pembantunya itu dengan senyum kecil. Dia merebahkan tubuh di atas sofa.
"Banyak kegiatan di lokasi syuting, Bi," jawab Nilam sekedarnya.
"Tapi itu loh, Nya, kemarin pak Indra datang kemari. Mencari Nyonya."
Sekarang, Nilam membuka matanya lebih lebar. Dia menatap pelayan itu dengan tatapan tak percaya. Darimana mantan suaminya itu tahu alamat tempat tinggalnya sekarang?
"Kok dia bisa tahu ya, Bi?"
"Bibi juga gak tahu, Nya. Cuma beberapa hari yang lalu memang sempat berpapasan waktu Bibi ke pasar. Nah, dia sama istrinya. Dia sempat tanya ke Bibi dimana sekarang rumah Nyonya. Tapi ndak Bibi kasih tahu loh," sahut bibi lagi.
Nilam menatap kesal langit-langit rumahnya. Dia menebak kalau Indra pasti sengaja mengikuti bibi pulang. Mungkin, saat dia sedang tak bersama dengan Marisa.
"Dasar gak ada kerjaan. Kalau dia datang lagi, bilang saja aku udah kawin lagi sama orang lain, Bi."
Bibi cuma mengangguk saja dan tak menanggapi serius hal itu. Setelah itu dia kembali ke dapur. Dia akan memasak untuk Nilam yang memang tampak kelelahan. Dia juga sebal dengan Indra karena dia tahu cerita perceraian Nilam dan Indra terjadi sebab adanya Marisa sang pelakor.
Sementara itu, saat Nilam tengah asyik memejamkan matanya, gawainya berbunyi. Dia melihat nama Tommy tertera di sana. Semenjak Nilam membuat pengakuan kepada Yuki lusa kemarin, dia memang tidak pulang ke villa, apalagi pulangnya sudah cukup larut saat itu.
Hari ini bersyukurlah dia karena syuting selesai tepat pukul tiga sore. Dia masih punya banyak waktu untuk berleha-leha.
__ADS_1
"Kenapa, Tom?" Nilam langsung bertanya tanpa basa basi lagi setelah panggilan dari pria itu diangkat.
"Kau kemana, Sayang? Aku menunggumu dari kemarin."
"Aku di rumah saja, Tom. Kau kan ada Desta yang menemani. Nanti saja kita bertemu."
"Kalau begitu aku yang ke rumahmu ya."
Nilam seketika langsung bangkit dari posisinya. Dia sekarang duduk dengan mata melotot. Pria ini orang yang nekat. Jadi dia harus segera mencegahnya.
"Nanti aku saja yang menemuimu, Tom. Kau istirahat saja. Lagipula, aku ini gak enak kalau harus menemui lelaki tanpa ada ikatan apa-apa."
"Aku tau kau memberiku kode."
Tommy terkekeh, sementara Nilam rasanya jadi salah tingkah. Maksudnya bukan begitu, dia memang tidak enak kalau harus sering menemani Tommy. Mereka bukan sepasang kekasih, apalagi sepasang suami istri. Dia sedang menghindari gosip karena dia baru saja bercerai dari suaminya.
"Ya sudah biar enak, kita menikah saja ya."
Nilam diam sesaat. Dia menarik nafas panjang, meski dia sudah mengatakan kemungkinan itu kepada Yuki, tapi sebetulnya, Nilam sangat trauma dengan pernikahan. Namun, dia kembali teringat dengan Tommy yang tengah berjuang untuk keluar dari jeratan obat terlarang.
"Tom, kau serius?" tanya Nilam akhirnya.
"Tommy tidak pernah main-main, Sayang. Begini saja, besok kita ke kampung halamanmu, aku mau ketemu orangtuamu."
Nilam menggigit bibirnya. Apa dia sudah siap menikah lagi walaupun secara diam-diam dengan lelaki yang boleh dikatakan baru dikenalnya.
__ADS_1
"Tapi ... "
"Aku serius, Sayang."
Nilam diam lagi, memikirkan apa dia harus melakukannya atau tidak. Apa keputusan yang akan dibuatnya benar atau tidak. Apa nanti kata orangtuanya? Apa mereka akan merestui pernikahan itu yang akan dilaksanakan secara diam-diam?
Hanya akan ada keluarga mereka saja yang menghadiri acara itu. setidaknya, mereka harus sah jika ingin saling berdekatan.
"Baiklah," jawab Nilam pada akhirnya.
"Besok pagi aku dan Desta akan menjemputmu. Mari kita minta restu," sahut Tommy terdengar tegas di ujung telepon.
Nilam menyahut dengan persetujuan. Ia mematikan sambungan telepon. Dia masih ingat bagaimana shock dan terkejutnya kedua orangtuanya ketika mereka tahu bahwa Nilam dan Indra sudah bercerai waktu itu. Dan sekarang, mereka juga pasti akan lebih terkejut lagi karena Nilam akan menikah lagi secara diam-diam dengan pria yang baru dikenalnya.
"Semoga ini jadi keputusan yang tepat."
Nilam mendesah pelan, perutnya lapar dan tepat pula pembantunya datang membawa potongan buah di atas piring.
"Keputusan apa, Nya?"
Rupanya dia mendengar Nilam barusan.
"Aku mau nikah lagi, Bi."
"Hah?!"
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu terkejut bukan main. Ya bagaimana tak terkejut, majikannya tak pernah terlihat dengan pria manapun setelah resmi bercerai dengan Indra beberapa waktu yang lalu dan sekarang malah mengatakan kabar tentang pernikahan.
Nilam hanya mengangkat bahu, memasukkan satu potongan apel ke mulutnya dan hanya tertawa melihat pembantunya itu yang masih menatapnya melongo.