
"Bi, tolong bantu saya!"
Yuki setengah berteriak memanggil bibi yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah dia membuka kunci duplikat kamar Nilam yang memang sengaja diberikan satu untuk Yuki.
"Ya ampun, Nyonya!"
Bibi segera membantu Yuki menggotong tubuh Nilam dengan cukup susah payah. Lalu bergegas Yuki membawa Nilam pergi ke rumah sakit.
"Mas Desta, tolong segera susul saya. Saya sedang membawa Nilam ke rumah sakit."
Dengan masih mengapit ponsel di telinga dan bahunya, Yuki juga melirik kaca yang tergantung, melihat Nilam yang masih pingsan dan belum sadarkan diri di kursi belakang.
"Apa yang terjadi dengan Nona Nilam?" tanya Desta yang kebetulan pula sedang begitu sibuk di kantor
"Nilam pingsan. Sekarang masih belum sadar."
Dan tanpa ada sahutan dari lawan bicaranya itu, Yuki mendengar sambungan teleponnya terputus begitu saja.
"Sialan nih Desta, ngomong kek kalo mau matiin telepon!" maki Yuki di depan layar ponselnya sendiri.
Ia kembali memfokuskan menyetir. Setelah mobil berbelok menuju parkiran unit gawat darurat rumah sakit, barulah dia turun dan para perawat juga petugas keamanan segera menyambut dengan membawa ranjang dorong.
"Mbak silahkan tunggu di depan dulu ya. Biar dokter bisa segera melakukan pemeriksaan."
Yuki mengangguk, harap-harap cemas menunggu Nilam yang masih diperiksa. Lalu dia melihat seorang perawat tadi keluar lagi dan sekarang sedang menuju ke telepon di atas meja tugas.
"Selamat pagi Dokter Mira, bisa ke ruangan unit gawat darurat sekarang? Kami kedatangan pasien dengan indikasi sedang mengandung ..."
__ADS_1
Yuki menajamkan pendengarannya lalu membulatkan matanya. Nilam hamil? Sebersit rasa haru seketika menyeruak dalam benak perempuan itu. Apa benar Nilam sekarang sedang hamil? Sesuatu yang dulu sempat menjadi alasan Indra memadu sahabat sekaligus artisnya itu.
Kalau benar, tentu ia ingin segera mengabarkan berita bahagia ini kepada Desta yang nanti pasti akan disampaikan langsung kepada Tommy. Namun, seketika Yuki jadi sedih lagi saat teringat cobaan yang tengah menimpa Nilam dan Tommy. Tommy yang sekarang namanya sedang tercoreng karena sudah mulai ketahuan sebagai seorang pemakai dan juga kisah perselingkuhan yang sebetulnya adalah fitnah yang entah siapa pula penebarnya.
Lalu pandangan Yuki mengarah kepada dokter yang baru saja tiba dan langsung masuk dan menyibak tirai tempat Nilam saat ini tengah diperiksa. Mungkin dokter itu dokter kandungan yang tadi sudah dihubungi oleh perawat.
"Bagaimana keadaan Nona Nilam?"
Yuki menoleh, melihat Desta baru saja datang dengan setelan rapi. Lelaki itu tampak tampan dengan bulu-bulu halus di sekitaran dagunya. Hal itu agaknya membuat Yuki sedikit terpesona sehingga dia jadi tak langsung menjawab.
"Hei! Apa saya sedang bicara dengan patung?" tanya Desta kesal.
"Eeh, sorry. Nilam sedang diperiksa sekarang. Kemungkinan, dia sedang hamil." Yuki segera menjawab setelah sadar dari raut terpesonanya itu.
Desta hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Yuki barusan, membuat Yuki mengerutkan kening. Menyadari Yuki sedang memandangnya dengan heran, Desta malah balik melihatnya dengan pandangan sama bingung.
"Apa?" tanya lelaki itu tak paham.
Desta jadi garuk-garuk kepala, Yuki memandangnya dengan kesal lagi kemudian segera mendekat setelah dokter keluar.
"Bagaimana keadaan Nilam, Dokter?" tanya Yuki cepat.
"Pasien hanya mengalami shock ringan, juga sepertinya sedang banyak sekali beban pikiran, tentu itu berpengaruh pada kondisi fisiknya apalagi sekarang dia tengah hamil muda."
Yuki dan Desta jadi saling pandang lagi.
"Jadi, dia benar-benar sedang hamil, Dokter?" tanya Yuki lagi. Dokter mengangguk.
__ADS_1
"Usia kandungannya sekarang masuk dua minggu. Untuk beberapa hari, kita anjurkan pasien untuk rawat inap agar kondisinya bisa lebih terkontrol."
Yuki mengangguk, dia juga setuju jika Nilam dirawat dulu untuk beberapa hari. Bersama Desta, ia mengurus Nilam.
"Jadi, apa kau yang akan mengabarkan hal ini sama pak Tommy?" tanya Yuki setelah mereka berada di depan rawat inap Nilam beberapa saat kemudian.
"Saya rasa, biarkan dulu hal ini kita simpan. Situasi sedang sangat kacau, tuan pasti akan sangat khawatir kepada nona Nilam. Hal itu pasti akan mempengaruhi keberadaannya di sana. Dia bisa saja nekat kabur dari panti rehabilitasi. Saya rasa, lebih baik, nona Nilam sendiri yang mengabarkan hal ini kelak."
Yuki terlihat berpikir kemudian, akhirnya dia mengangguk setuju. Betul juga apa yang dikatakan oleh Desta. Beberapa jam kemudian, akhirnya Nilam sadar. Hal pertama yang dia lihat adalah silaunya lampu ruangan perawatan, kemudian dia melihat Yuki sedang menggenggam jemarinya.
"Lam, kau sudah sadar!" Yuki tersenyum.
"Aku dimana, Mbak?" tanya Nilam sambil melihat sekeliling, lalu mengangkat tangannya yang terasa pegal sehingga dia jadi mengaduh.
"Sudah istirahat saja, Lam. Kau sedang lemas, kau juga baru sadar dari pingsanmu."
"Kenapa bisa begini, Mbak?" tanya Nilam tidak mengerti.
"Gak papa, Lam. Semua akan baik-baik aja kok. Aku juga punya kabar gembira buatmu."
"Apa, Mbak?"
"Kau hamil, Lam. Kau sudah hamil anak Tommy."
Nilam tertegun, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mana mungkin? Dia jelas-jelas sudah divonis sulit akan memiliki anak oleh dokter saat keguguran dulu ketika masih menjadi Indra. sekarang, dia hamil?
"Hamil?"
__ADS_1
"Ya, Lam. Kau hamil, usia kandunganmu sudah dua minggu kata dokter."
Nilam kembali tertegun, seakan tak percaya pada keajaiban ini. Dia mengusap airmatanya yang tanpa sadar mengalir begitu saja, lalu mengusap lembut perutnya sendiri, mengenang satu wajah yang saat ini terpisah jarak dengannya.