Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Kabulkan PermintaanKu


__ADS_3

Pernikahan itu akhirnya dilaksanakan di kampung halaman Nilam. Tadinya mereka berencana menikah siri dulu, tapi atas saran terbaik dari pamannya, akhirnya mereka tetap menikah secara hukum tapi saksi yang hadir benar-benar hanya segelintir orang terdekat dan terpercaya saja. Hal ini dimaksudkan untuk menyelamatkan reputasi Nilam juga Tommy di kancah hiburan yang tentu harus tetap mereka jaga.


Semua orang tahu betul, bahwa Nilam baru saja bercerai jadi mereka sebisa mungkin untuk sementara ini menutupi pernikahan yang baru saja dilaksanakan. Namun, ketika tadi Tommy mengikrarkan akad, hati Nilam berdebar begitu kuat. Bahkan perasaan ini lebih kuat dibanding dulu saat dia menikah dengan Indra.


"Gak apa kan, Tom, kita di desa ini dulu untuk beberapa hari?" tanya Nilam ketika malamnya mereka sudah berada di dalam kamar Nilam.


"Tak apa, Sayang. Aku mengerti."


Nilam jadi tersipu, seharian ini, Tommy selalu memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia sendiri masih cukup canggung untuk hal itu. Dan ketika malam sudah sunyi, keduanya masih betah berada di atas ranjang untuk saling bercerita banyak hal.


Hingga tiba saat Tommy mulai mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup mesra bibir perempuan itu. Nilam mulai membalas, sapuan bibir lembut dan menjadi menuntut dari Tommy.


"Apa gak tergesa-gesa, Tom?" tanya Nilam dengan nafas yang sudah memburu.


"Kau mau aku sakau karenamu?" Tommy jadi balik tanya.


Nilam akhirnya mengangguk, membiarkan Tommy kembali menjelajahi dirinya. Pada malam yang ternyata dibasahi hujan itu, Nilam membuka dirinya lebih lebar lagi untuk lelaki tampan yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Belaian demi belaian dari Tommy membuat Nilam begitu terbuai. Dia yakin, Tommy adalah pria yang sangat mahir juga berpengalaman dalam hal bermesraan dengan perempuan. Namun, dia tak lagi memusingkan hal itu. Tommy pria yang baik, terlepas dari apapun masa lalunya.

__ADS_1


Dan di pelepasan terakhir malam itu, dengan suasana panas membara, Tommy menumpahkan seluruh cintanya ke dalam rahim Nilam.


"Kau luar biasa, Nilam," bisik Tommy sambil tersenyum mempesona di atas tubuh Nilam yang masih berpeluh.


Nilam mengalungkan lengannya, memeluk Tommy erat setelah itu. Cukup lama mereka saling berpelukan setelah kelelahan bertempur, akhirnya mereka tertidur.


Namun, pada malam kedua mereka sudah menjadi sepasang suami istri, Nilam tak mendapati Tommy di atas ranjang ketika dia terbangun.


"Tom?"


Nilam memanggil, lalu terdengar erangan dari kamar mandi. Nilam melihat Tommy meringkuk di sana, berkeringat juga mencengkram tubuhnya sendiri. Lelaki itu selalu tampak mengerikan juga sekaligus memprihatinkan setiap kali sakau karena obat terlarang.


Nilam segera memeluk Tommy, membawanya dalam kehangatan yang menenangkan. Hingga saat lelaki itu semakin kuat dicengkram rasa gelisah juga hampir saja menyakiti dirinya sendiri, Nilam kembali mengguyur Tommy dengan air dingin yang membuat lelaki itu berteriak tertahan.


Namun, di saat siang ketika dia melihat wajah Tommy yang sedang tidur lelap, Nilam mulai berpikir. Tidak mungkin dia bisa membuat Tommy sembuh dengan mudah, Tommy hanya akan tersiksa jika terus dibiarkan. Nilam mulai mencari informasi tempat-tempat rehabilitasi yang jauh dari pusat kota Jakarta.


"Tom ..." panggil Nilam ketika sore hari, Tommy sedang berdiri di teras kamar Nilam.


"Ya, aku sudah sembuh, Sayang," ujar Tommy.

__ADS_1


Nilam mengangguk perlahan, tapi, dia bergerak lembut, meraih pinggang Tommy, melingkari tangannya, memeluk pria itu dari belakang.


"Tom, katamu, kau akan memberikan apa saja yang aku inginkan."


"Ya, tentu saja, Lam. Kalau bisa, seisi dunia yang indah ini akan aku berikan untukmu."


Nilam tersenyum mendengar ungkapan itu. Dia tahu, Tommy adalah pria yang sangat romantis dan semakin hari, dia juga semakin manis memperlakukan Nilam. Hanya ketika sakaulah, Tommy seperti berubah jadi orang asing bagi Nilam.


"Kalau begitu, aku mau kau mengabulkan satu keinginanku."


"Apa saja, Sayang, katakanlah. Kau mau tas mewah? Rumah atau mobil baru? Atau liburan ke eropa?"


Nilam menggeleng. Dia tidak butuh semua itu. Setelah menikah dengan Tommy, dia hanya takut kehilangan lagi.


"Aku mau kau direhabilitasi, Mas. Aku hanya ingin kau betulan sembuh."


Kali ini Tommy terdiam, bukan hanya karena permintaan Nilam barusan, tapi juga karena panggilan yang terdengar begitu asing di telinganya. Namun, entah mengapa dia suka ketika Nilam menyebutnya Mas.


"Kita sudah sepakat, kau lah yang akan menyembuhkanku, Sayang."

__ADS_1


"Aku tahu, tapi kemampuanku terbatas untuk itu, Mas. Kau akan terus-terusan seperti ini. Percayalah, kita butuh tempat khusus yang memang bisa menyembuhkanmu secara total."


Nilam berkata dengan lembut, ia takut Tommy tersinggung. Namun, lelaki itu membalikkan tubuhnya, lalu menghadap Nilam. Dia menatap Nilam dengan serius dan Nilam masih berharap-harap cemas, pria itu mau mengabulkan permintaannya yang selama ini selalu dihindari oleh Tommy.


__ADS_2