
Nilam masih berbaring di seberang ranjang tidur Tommy. Di atas sofa berukuran cukup lebar itu, dia sedang menatap Tommy sembari sesekali melihat ponselnya. Ingin rasanya dia mengabarkan Yuki bahwa sekarang dia masih berada di villa lelaki itu. Namun, akhirnya dia menahan diri.
Nilam mencoba untuk memejamkan matanya, rasanya memang dia cukup kelelahan seharian ini di lokasi syuting. Apalagi untuk adegan pembukaan film, dia beradegan berlari sehingga sekarang dia memang cukup capek.
Tadinya, dia tidak ingin tertidur, sebab takut nanti Tommy terbangun dalam keadaan sakau lagi dan melakukan hal-hal yang tidak baik untuk lelaki itu sendiri. Namun, melihat Tommy yang begitu tenang, akhirnya dia memberanikan diri untuk memejamkan matanya.
Dia juga sempat kehilangan hasrat untuk memejamkan matanya tadi setelah berteleponan singkat dengan mantan suaminya. Sekarang, perasaan itu sepenuhnya sudah mereda dan Nilam benar-benar memejamkan matanya kemudian.
"Lam ..."
Suara erangan tertahan itu membuat Nilam membuka matanya, meski di tengah dini hari itu dia betulan masih mengantuk. Seingatnya, dia baru beberapa jam tertidur. Namun, suara erangan sekaligus seperti orang yang tengah tersengal-sengal itu membuatnya membuka mata. Awalnya matanya masih menyipit, masih begitu susah untuk terbuka, tetapi setelah mendengar lagi namanya dipanggil dan suara itu ia yakin adalah milik Tommy, dia segera membuka matanya lebih lebar.
"Tommy?" Nilam celingukan, mencari Tommy ke seluruh penjuru kamar. Sayang, dia tak melihat lelaki itu di atas ranjangnya.
Tapi dia melihat sisi tempat Tommy sempat membaringkan tubuhnya tadi sekarang sudah basah dan nampak lembab. Perasaan Nilam tak karuan dan khawatir sekali. Ia yakin itu peluh yang demikian banyak hingga tercetak di atas sprai.
"Tommy, kau dimana?" Nilam mencari hingga keluar dari kamar. Berkeliling ke ruang tengah, ke dapur lalu ke ruang tamu tapi dia tidak menemukan lelaki itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya, dia mendengar erangan itu semakin keras disertai dengan suara berhamburan dan berjatuhan dari sebuah ruangan lain.
"Tommy! Stop!"
Nilam menatap ngeri Tommy yang tengah berusaha melukai dirinya sendiri dengan sebuah cutter. Lalu lelaki itu tampak hendak menyesap darahnya sendiri. Nilam menggeleng, meski bisa saja Tommy khilaf dan menusuk benda itu kepada Nilam tapi Nilam tidak peduli. Dia bergegas ke sana, sekuat tenaga meraih tangan Tommy yang masih menggenggam benda berkilatan itu.
"Lepaskan saja, Lam. Biarkan aku melakukannya. Aku betulan sudah tidak kuat."
Lelaki itu menggertak, gemeletuk giginya beradu, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh. Sebagian area nadinya sudah berdarah.
"Enggak, ini gak bener, Tom! Kau kan janji mau berhenti!"
"Bodoh! Kau malah jadi melukai dirimu sendiri!" erang Tommy murka, Nilam tak peduli. Tommy betulan sakau dan susah mengendalikan diri.
Lelaki itu hanya bisa mengumpat dan berusaha meringkuk di sudut ruangan. Nilam berusaha berpikir jernih, dia juga tak menghiraukan tangannya yang sudah terluka dan berdarah. Dia bingung harus bagaimana.
"Aku mohon, bekerja samalah, Tom. Tolong jangan melawan."
__ADS_1
Nilam kemudian menarik tubuh Tommy dengan susah payah. Ia menyeret lelaki itu terus menuju kamar mandi yang ada di belakang.
"Apa yang akan kau lakukan?!" Tommy semakin tidak karuan. Tubuhnya bergetar hebat. Namun, dia tidak berdaya melepaskan tangan Nilam yang masih berusaha menyeretnya dengan susah payah.
"Kau berat, Tom. Aku harus mencari cara agar kau segera sampai ke kamar mandi belakang."
Nilam meninggalkan Tommy sebentar kemudian kembali lagi dengan seprai masih basah oleh keringat lelaki itu. Ia mulai melilitkan tubuh Tommy dengan susah payah karena Tommy melawan. Dia tahu dia sekarang dalam bahaya jika Tommy berhasil mengamuk karena sakaunya. Jadi dia harus cepat!
"Lepaskan aku, Nilam. Aku kedinginan! Kau dengar! Lepaskan aku!"
Dalam belitan seprai putih itu, Tommy masih berusaha untuk melepaskan diri. Sekujur tubuhnya memang akan selalu menggigil kedinginan setiap sakau.
Nilam masih terengah-engah. Sekuat tenaga menyeret Tommy yang begitu berat. Sampai akhirnya, mereka sampai di depan kamar mandi. Dengan sisa tenaganya, Nilam menyentak Tommy dan ketika pria itu sudah di dalam, di segera mengguyurnya dengan air dingin. Nilam tidak lagi memakai shower, ia meraih ember yang ada di sana, mengisinya hingga penuh lalu mengguyurnya ke tubuh Tommy yang seketika meraung kesakitan.
Nilam merasa airmatanya keluar begitu saja, melihat Tommy kesakitan. Dia pernah membaca metode ini. Biasanya panti rehabilitasi akan menggunakan air dingin sebagai penawar yang cukup ampuh ketika penderita sedang sakau parah. Tommy tergeletak begitu saja setelah meringkuk dan menggigil kesakitan.
"Tommy, aku tidak suka melihatmu begini," desis Nilam dengan Tommy yang kesadarannya hanya tinggal sekian persen.
__ADS_1
Tetapi lelaki itu memang sudah lebih tenang, hanya saja sekarang suhu tubuhnya jadi naik walau dia baru saja diguyur air dingin. Tapi sakaunya berhenti. Namun, Tommy terlihat begitu menderita.
"Aku khawatir, Tom. Aku sangat khawatir," desis Nilam kemudian membawa lelaki itu ke dalam pelukannya.