Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Pengadilan Agama


__ADS_3

Nilam masih terduduk di sebuah bangku. Ia sedang termenung di pinggir danau. Nilam berada cukup jauh dari Jakarta, dia melajukan mobilnya tanpa arah dan berhenti di sini. Sebuah tempat yang cukup sunyi.


Ia hanya terdiam sedari tadi, duduk bersandar dengan pikiran yang bercabang-cabang. Tak ada airmata sama sekali. Nilam sudah lupa caranya menangis. Hati beku, keras dan tak akan mudah lagi dirayu.


Setelah puas menenangkan diri, Nilam meraih ponselnya yang terdapat di dalam dompet besarnya. Kontak ibunya sekarang terpampang di depan mata. Nilam menarik nafas panjang, memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya membuat sambungan telepon.


"Bu." Nilam menyapa pelan. Ada beban berat saat ini ketika dia harus memantapkan hati mengabarkan berita menyakitkan ini.


"Ya, Nilam. Kau sedang sakit? Suaramu lesu sekali, Nak."


"Ya, sedikit sakit hati, Bu. Tapi sudah tak apa-apa." Nilam terkekeh. Di seberang telepon, terdengar ibunya mendesah pelan. Dia tahu putrinya sedang terluka.


"Katakanlah, ada apa, Nak."


"Bu, aku sudah mantap ingin bercerai dengan Indra. Besok akan mengurus surat gugatan perceraian untuknya."


Hening sesaat, lalu terdengar lagi, ibunya menghela nafas.


"Ya sudah, memang lebih baik begitu. Ibu juga tidak setuju kau tetap bersamanya. Lakukan saja, Nak. Jangan takut, Ibu selalu mendukung apapun keputusanmu."


Nilam menghembuskan nafas lega, sesuai harapannya, ibunya pasti mengerti dan ia berharap ayahnya juga akan merasakan hal yang sama.


"Ayah sudah membicarakan hal ini lebih dulu, Lam. Hanya saja dia masih menunggu waktu yang pas untuk mengatakan hal ini kepadamu. Ibu bersyukur kau lebih dulu mengutarakan niatmu. Teruskan saja, kau pantas bahagia."


"Terima kasih, Bu. Aku akan segera mengurus semuanya."


Sambungan telepon itu kemudian mati. Nilam menghela nafas lega setelah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya itu. Ia sekarang memilih untuk beranjak dan berjalan menyusuri pinggir danau sebelum kembali ke rumah.


"Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Kata orang, kalau jodoh memang gak akan kemana."


Nilam tersentak, suara itu, sudah cukup lama tak ia dengar. Nila menoleh ke belakang. Tampak Tommy dengan wajah sudah berias jambang halus, dengan kaus panjang berbahan rajut halus hitam sedang memandanginya dengan seuntai senyum.


"Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Nilam bingung.


"Aku? Itu villa ku." Tommy menunjuk sebuah villa yang memang berdiri tak jauh dari danau.


Nilam memandang cukup terkejut tapi kemudian dia kembali meneruskan langkah dengan Tommy di sampingnya.


"Kau galau?" tanya Tommy sembari tetap menatap ke depan.

__ADS_1


"Terlihat jelas kah?" tanya Nilam.


Tommy mengangguk.


"Kau tampak pucat, kau sakit?" tanya Nilam balik.


Tommy menggangguk. "Sedikit, Nilam. Hanya tak enak badan akhir-akhir ini."


"Ehmmmm ... Kenapa tidak istirahat saja kalau begitu?"


"Sengaja. Tadi menyibak tirai dan tak sengaja melihatmu. Kau mau mampir ke villa ku?" tawar Tommy.


Nilam menggigit bibirnya, dia memang butuh teman bicara saat ini. Jadi tanpa berlama-lama, Nilam mengangguk, membiarkan Tommy membawanya ke villa.


Villa Tommy begitu indah, ada banyak tanaman hijau di sepanjang jalan beraspal menuju ke pintu utama. Lalu ketika mereka masuk, nuansa putih keemasan menyambut, memanjakan mata.


"Duduklah, aku buatkan kau minuman."


Nilam menurut, ia duduk dengan tenang di atas sofa empuk berwarna senada dengan cat tembok. Desain interior begitu memukau. Pasti Tommy menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk menenangkan diri juga.


Lelaki itu datang dengan dua gelas minuman dingin. Lalu Tommy duduk di samping Nilam. Ada jarak di antara mereka, tentu saja.


"Kau mencariku? Kangen mungkin?" tebak Tommy.


Nilam memukul pelan lengan lelaki itu.


"Padahal aku kangen sekali kepadamu, Nilam. Ehmmmm, tunggu, karena kau sudah ada di sini, aku akan memberikan sesuatu untukmu."


Tommy beranjak lagi, lalu kembali dengan sesuatu di tangannya.


"Ambil lah, cocok untukmu. Tadinya benda ini akan dibawa oleh Desta, tapi ku pikir-pikir lebih baik aku yang memberikannya langsung kepadamu."


"Apa ini?" tanya Nilam tak mengerti.


"Buka saja, Sayang."


Perlahan Nilam membukanya, sebuah liontin berkilauan. Nilam terpukau pada keindahannya. Jangan tanyakan harganya, melihatnya saja pasti sudah bisa menebak bahwa benda itu amat mahal.


"Kenapa kau memberikannya untukku?" tanya Nilam tak mengerti.

__ADS_1


"Sebab dia cocok buatmu. Berbaliklah, biar aku pasangkan."


Nilam anehnya menurut saja, bagai terhipnotis.


"Cantik sekali, bertambah seksi di tubuhmu."


Wajah Nilam memerah, lelaki ini begitu pandai meraih hati perempuan. Namun, Nilam tak mau tenggelam dalam kekaguman. Kepada lelaki, untuk sementara dia ingin mengikis jarak.


"Aku merasa tak pantas menerimanya, ambil lah kembali."


Baru saja Nilam hendak membukanya, tetapi Tommy menahan.


"Aku akan melemparkannya ke danau jika kau menolaknya. Ambil saja, aku tak berharap apapun."


Nilam terpaku, menatap Tommy yang hanya tersenyum kecil kepadanya. Lalu, Nilam menatap lelaki itu perlahan dan mengucapkan terimakasih.


Sore itu dihabiskan mereka berdua bercerita panjang lebar. Hingga hampir senja, Nilam akhirnya pamit pulang. Di belakangnya, Tommy mengiringi dengan mobil pribadinya. Nilam merasa berarti di tengah badai patah hati, ada sesuatu yang berdesir tapi dicoba untuk ditekannya.


***


Pagi di hari berikutnya disambut Nilam dengan tekad yang sudah bulat. Ia sedang menunggu kedatangan Yuki ke kediamannya. Yuki memang berinisiatif untuk menjemput Nilam. Nilam ingat sepulangnya dari villa Tommy kemarin, dia tak lagi menemukan Indra. Pasti suaminya yang durjana itu sudah kembali ke rumah sakit untuk menemani istri keduanya yang jalaang.


"Sudah siap betulan kau, Lam?" tanya Yuki memastikan.


"Ya, Mbak. Tentu. Mari kita jalan."


Yuki mengangguk, tujuan mereka sudah jelas adalah pengadilan agama di wilayah Nilam tinggal. Ia sudah membawa semua berkas termasuk berkas tuntutan harta gono gini yang dipastikan akan jatuh ke tangannya jauh lebih banyak daripada yang akan Indra dapatkan kelak.


Mereka sampai di tempat itu. Langkah Nilam mantap, sepatu tingginya beradu dengan lantai pengadilan agama. Seorang petugas menyambutnya, Nilam segera disibukkan dengan pendaftaran dan pemeriksaan kelengkapan berkas.


Ia akan segera mendapat surat gugatan dan tak sabar lagi ingin segera menghadiahkannya kepada Indra yang memang akan berulang tahun lusa nanti.


"Kado terindah untukmu tahun ini, Indra," desis Nilam dengan senyuman puasnya.


Yuki ikut tersenyum, ia tak jemu memberi kekuatan kepada Nilam. Kedua orangtuanya juga sudah meneleponnya tadi, meski ibunya sempat terdengar menangis, tetapi Nilam meyakinkan bahwa memang inilah keputusan terbaik. Jodohnya dengan Indra hanya sampai pada dua tahun pernikahan.


"Tak ada yang perlu disesali kan, Mbak?" tanya Nilam meminta kembali dukungan dari Nilam.


"Indra yang akan menyesal dan menangis darah setelah ini, Lam! Yakinlah kepadaku."

__ADS_1


Nilam mengangguk kecil kemudian tersenyum bersama managernya itu. Tak sabar dia ingin memberikan kejutan besar ini kepada Indra dan madu tak tahu diri itu.


__ADS_2