Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Surat Gugatan


__ADS_3

Seharian Nilam menghabiskan waktu bersama Yuki. Saat ia kembali, Indra ternyata sudah menunggunya dengan tampang putus asa. Nilam berjalan dengan santai sembari membawa beberapa kantung belanjaan berisi baju-baju baru juga beberapa alat make up.


Indra menghentikan langkahnya, menatap Nilam dengan pandangan menunggu.


"Kenapa?" tanya Nilam sembari mengibaskan tangannya dengan tenang, ia tak ingin disentuh sama sekali dengan Indra.


"Darimana?!"


"Kau punya mata kan? Lihat, begitu banyak yang aku beli, berarti aku habis bersenang-senang hari ini."


"Kenapa kerjaanmu cuma menghamburkan uang, Lam?" tanya Indra tak terima.


Nilam tertawa keras mendengarkannya. Kemudian ia menunjuk wajah Indra dengan jari telunjuknya.


"Apa hak mu melarang aku melakukan apapun yang kusukai?"


"Tentu karena aku suamimu, Lam!"


"Cih! Suami? Dengar, aku tidak lagi menganggapmu sebagai suamiku semenjak kau mengkhianatiku! Aku sengaja mengulur waktu selama ini. Uang yang aku pakai juga bukan uangmu yang tak seberapa itu. Dengar, akan ada kejutan buatmu beberapa hari lagi. Pos akan datang membawa surat penting untukmu. Bersiap ya, Ndra. Karena sebentar lagi, kau akan mengerti siapa Nilam yang sebenarnya."


Nilam menepuk-nepuk pundak Indra pelan dengan tatapan tajam dan meledek. Indra tampak diam dan mencerna apa yang dikatakan oleh Nilam meski tampaknya dia masih belum paham.


Nilam segera naik ke kamarnya, tak lupa juga untuk menguncinya. Ia tak mau Indra sampai bisa masuk ke dalam. Lelaki itu juga masih terdengar menggedor-gedor pintu kamarnya.


Nilam sengaja meminta pihak pengadilan yang mengirimkan surat itu langsung kepada Indra. Ia sudah begitu puas melihat wajah pias Indra tadi dan nanti akan semakin puas ketika Indra menerima surat gugatan perceraian yang sudah diajukannya.


Harusnya rencananya akan berjalan dengan lancar. Nilam sudah menyusun semua hal dengan begitu rapi dan baik. Ia dengar dari bibi, besok Marissa akan kembali pulang. Tak sabar juga dia melihat reaksi perempuan itu jika tahu bila rumah ini beserta asetnya akan jatuh ke tangan Nilam.


Indra tak akan sanggup menebus rumah ini dengan harga tinggi karena uangnya membeli rumah itu setengahnya pun tak sampai. Jadi Nilam akan berbaik hati memberi uang kepada Indra seharga uang yang dia beri untuk membeli rumah ini dulu.

__ADS_1


Dua hari setelah itu surat yang sudah Nilam tunggu datang juga. Ia melihat Indra menerimanya ketika tukang pos datang membawanya. Lelaki itu sampai bergetar saat membaca surat gugatan perceraian yang sudah dilayangkan oleh Nilam.


"Apa-apaan ini, Nilam!" seru Indra dari bawah.


Nilam turun dengan langkah tenang, lalu tersenyum melihat Indra sudah memegang surat gugatan itu. Marissa ikut keluar dari kamar saat mendengar Indra berseru lantang memanggil Nilam.


"Sudah menerima suratnya? Bagus, kita tinggal menjalani sidang." Nilam berkata dengan santai sembari melipat kedua tangan di depan dada.


Marissa merebut surat itu lalu tatapannya berbinar.


"Akhirnya kau sadar diri! Baguslah, Ndra, kita tinggal mengikuti sidang saja."


Nilam hampir meloloskan tawanya melihat ekspresi Marissa. Dia mungkin berpikir semua hal akan baik-baik saja seiring perceraiannya dengan Indra. Dia tak tahu jika sebentar lagi, Nilam akan menendang mereka dari rumah itu.


"Apa yang bagus?! Aku tak mau bercerai darimu, Lam! Kita masih bisa memperbaiki hubungan ini!"


"Sorry, aku sudah tidak berminat denganmu. Sekarang, kalian mungkin bisa bersiap untuk meninggalkan rumah ini."


"Heh, yang harusnya pergi itu kau! Ini rumah Indra!" tuding Marissa kepada Nilam yang lekas tertawa keras.


"Kau ini, bodoh sekali Marissa. Jadi selama ini kau tahunya rumah ini milik Indra semata?"


"Tentu, kau tidak ada hak di sini!"


"Baiklah, tunggu sebentar."


Nilam naik kembali ke atas lalu dia membawa salinan surat kuasa juga semua penjelasan mengenai harta gono gini yang ada di rumah itu.


"Silahkan." Nilam memberikan salinan itu kepada Marissa.

__ADS_1


Di salah satu surat tertulis jelas rincian semua property yang ada di dalam rumah itu atas nama Nilam. Dan rumah itu hanya sedikit uang Indra untuk membantu Nilam membelinya. Jadi kalau mau dijual pun akan percuma, tak ada istilah bagi dua karena uang Indra dalam pembelian rumah itu tidaklah banyak.


"Kalian bisa angkat kaki sekarang. Sedikit uangmu untuk membeli rumah ini kemarin akan aku kembalikan hari ini juga. Tidak ada hak kalian atas satu benda pun yang ada di rumah ini karena semuanya jelas dibeli dengan uangku. Kau bisa melihat hitam di atas putih itu kan? Indra menandatanganinya dengan jelas. So, silahkan berkemas, kita tinggal bertemu di pengadilan."


Marissa hampir limbung melihat kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya itu. Indra sendiri hanya terpaku, menatap salinan itu yang ia yakin juga sudah dilimpahkan ke pengadilan. Jelas dia tidak akan memenangkan apapun.


"Lam, aku minta maaf. Kita bicarakan ini baik-baik. Aku sungguh menyesal, aku menyesal, Lam. Aku ingin memperbaiki semuanya denganmu. Kita bisa mulai dari awal lagi."


Indra terus mengikuti Nilam. Nilam mengibaskan tangannya, dia menunjuk ke lantai bawah.


"Bereskan semua pakaian kalian, dan angkat kaki sekarang juga! Aku tidak segan-segan untuk menghubungi polisi jika kalian masih tetap bertahan di sini!"


"Lam, tolong, tolong jangan begini. Aku ingin kita kembali."


"Indra! Sudah, Ndra." Marissa yang kembali tersadar segera mendekati Indra, bermaksud membawa Indra turun tetapi Indra berang, ia berbalik lalu menampar keras wajah Marissa.


"Ndra!" pekik Marissa sembari menahan perih di pipinya dengan tangan.


"Uppss!" Nilam menutup mulutnya seolah terkejut dengan perlakuan Indra kepada Marissa barusan.


"Kita harus bicara, Lam!"


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sekarang turun dan kemasi barang kalian, pergi dari rumahku. Jangan sampai polisi datang dan menyeret paksa kalian dari sini," ancam Nilam.


Indra menatap Nilam dengan pandangan tak bisa dijelaskan. Dia akhirnya mengangguk.


"Baik, kita lihat saja, gugatanmu tidak akan menang di pengadilan. Kau tak punya apapun sebagai bukti."


"Kita lihat saja nanti, Ndra. So, silahkan keluar dari rumah ini." Nilam menunjuk pintu.

__ADS_1


Indra akhirnya berbalik, diikuti Marissa yang hanya bisa menatap Nilam dengan pandangan benci. Nilam tersenyum puas penuh kemenangan. Ia melihat Indra dan Marissa tengah membawa koper dan keluar dari rumah itu. Nilam melambaikan tangannya penuh kemenangan.


Mobil Indra melaju ke luar. Nilam menghela nafas lega. Kemudian, dia menatap sekeliling. Ruangan demi ruangan yang dulu pernah ia dan Indra singgahi untuk bercinta. Nilam mengatupkan bibirnya, menerima semua hal yang sudah terjadi karena pada akhirnya tetap dia lah yang akan menang dari mereka yang sudah menyakitinya. Kini ia hanya tinggal mengikuti persidangan.


__ADS_2