Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Rumah Ini Di Jual!


__ADS_3

Nilam tentu saja tidak bisa bertahan di dalam rumah yang sudah memberikan banyak kenangan tentangnya dan Indra itu. Bagaimanapun, dulu dia sangat mencintai Indra dan rela mengeluarkan cukup banyak uangnya untuk membeli rumah itu. Setelah dia mentransfer sejumlah uang yang sesuai dengan uang Indra dulu saat mereka sepakat membeli rumah itu, Nilam juga akhirnya berkonsultasi dengan Yuki terkait rencananya menjual rumah.


Ia sengaja mengundang Yuki untuk datang ke rumahnya dan Yuki dengan senang hati untuk menemani artisnya itu. Apalagi setelah dia tahu bahwa Marissa dan juga Indra tidak lagi ada di dalam rumah itu. Mereka sedang berbincang di pinggir kolam sementara bibi baru saja membawakan mereka makanan ringan untuk menemani bincang santai tapi serius mereka.


"Aku sudah mantap untuk menjual rumah ini, Mbak, aku memang sudah memenangkan segalanya walaupun putusan sidang belum menjatuhkan apa-apa, tetapi aku yakin aku akan memenangkan semua ini dan rumah ini sudah sepenuhnya menjadi milikku, tetapi aku tidak bisa bertahan di dalam kediaman ini, di mana ada kenangan-kenangan tentang aku dan juga Indra. Itu akan sangat menyiksaku, Mbak," kata Nilam kepada Yuki yang hanya bisa menepuk pundak Nilam dengan lembut berusaha untuk memberikan ketenangan kepada perempuan yang sedang kalut itu.


"Kalau memang itu yang terbaik bagimu, aku akan mendukung. Sebenarnya rumah ini sangat bagus, kau membelinya dengan jerih payahmu ketika kau masih menjadi artis dahulu. Tapi memang lebih baik untuk dijual saja, daripada terus-terusan mengingatkanmu dengan kenang-kenangan lalu."


Nilam mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Yuki barusan. Yuki juga segera menawarkan rumah itu kepada kenalan-kenalannya yang mungkin saja berminat untuk membelinya. Rumah itu juga akan dijual dengan harga yang cukup tinggi, tentu bisa untuk Nilam membeli rumah baru lagi kelak.


"Nanti aku akan membantumu untuk memasarkan rumah ini, kau tenang saja, rumah ini sangat bagus, pasti banyak orang yang berminat untuk membelinya. Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, Lam."

__ADS_1


"Ada apa, Mbak?" tanya Nilam penasaran.


"Apa kau sadar kita sudah lama sekali tidak bertemu dengan Tommy? Kau tahu dia di mana sekarang?" tanya Yuki kepada Nilam.


Nilam seperti sedang berpikir, tentu saja dia tahu di mana Tommy saat ini, tetapi dia merasa tidak ada hak untuk mengatakan keberadaan Tommy. Lagipula, pertemuan mereka saat itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Nilam jadi terkenang dengan liontin yang saat ini sedang dipakainya. Benda itu pemberian dari Tommy dan itu membuatnya tersenyum.


"Aku juga tidak tahu, Mbak, mungkin dia sedang menenangkan diri di tempat lain atau mungkin dia sedang di luar negeri, Mbak. Mbak tahu sendiri kan, dia orang yang cukup sibuk."


Nilam mengangguk-ngangguk, saat ini memang dia tidak bertemu dengan Tommy sudah cukup lama semenjak hari dimana terakhir mereka bertemu waktu itu di villa. Nilam juga tidak ingin menghubungi pria itu, sepertinya Tommy memang sedang tidak ingin diganggu. Lagipula, dirinya tidak berhak apa-apa, dia bukan siapa-siapanya Tommy walaupun dia tahu bahwa lelaki itu menaruh hati kepadanya, tetapi bisa saja kan itu hanyalah bualan. Nilam baru saja berpisah dengan suaminya, jadi dia tidak ingin buru-buru untuk dekat dengan lelaki manapun.


"Nanti kalau waktunya dia datang, dia akan datang, Mbak. Aku juga tidak pernah menghubunginya. Aku saat ini sedang tidak ingin berhubungan dengan lelaki manapun. Mbak tahu sendiri, perpisahan ini begitu menyakitkan untukku, tetapi aku akan mencoba untuk fokus dengan kesibukanku nanti. Di tempat syuting pasti akan membuat aku lupa dengan masalah yang sedang menimpaku saat ini."

__ADS_1


"Ya, dan kau harus bisa menjaga dirimu dari awak media ya, Lam, karena aku yakin mereka pasti akan mengorek-ngorek informasi tentang kehidupan rumah tangga selebritis yang sedang naik daun lagi sepertimu. Aku hanya tak ingin kau terganggu."


Nilam mengangguk, lalu mereka menikmati makanan ringan yang dihidangkan oleh bibi beberapa saat yang tadi. Sebentar lagi Nilam akan bersama Yuki untuk pergi keluar. Palang yang bertulis bahwa rumah yang sedang ditempatinya saat ini akan segera dijual juga sudah terpasang di depan pagar rumahnya.


"Keputusanku tidak salah kan, Mbak, untuk menjual rumah ini?Aku hanya tidak mau tenggelam dalam kesedihan walaupun aku sangat puas karena sudah membuat mereka terdepak dari rumah ini, tapi kenangan tentang aku dan Indra dalam rumah ini tidak bisa hilang begitu saja. "


"Keputusanmu tidak salah, Lam. Sudahlah, kau sudah sepantasnya untuk berbahagia kok. Jadi lebih baik jangan memikirkan apapun lagi. Kau fokus saja untuk menghadapi persidangan, aku yakin Indra akan melakukan berbagai cara untuk meraihmu kembali termasuk melakukan mediasi nantinya di persidangan. Aku hanya meminta agar kau tetap teguh dengan pilihanmu, jangan sampai kau terpengaruh dan nanti membiarkan Indra kembali menguasai hatimu.


"Aku mengerti, Mbak. Aku tidak akan terpengaruh lagi, aku benar-benar ingin terlepas dari bayang-bayang pria pengkhianat itu. Bagiku, kesalahan apapun patut dimaafkan, tapi tidak dengan perselingkuhan."


Yuki tersenyum mendengar keteguhan Nilam, lalu mengangguk dan melajukan mobilnya setelah mereka memutuskan untuk keluar. Sekarang kegiatan Nilam memang cukup padat dan di sela kepadatan jadwalnya itu, ia juga tetap berusaha untuk memperbaiki hatinya yang sudah retak seribu.

__ADS_1


__ADS_2