Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Merindukan Mantan


__ADS_3

Nilam masih belum tertidur. Dia baru saja menemani Tommy terpejam di ranjangnya. Nilam menyelimuti Tommy yang tampak meringkuk kedinginan. Lelaki itu sedang tak baik-baik saja tetapi selalu berusaha untuk terlihat sehat di depan Nilam.


Nilam pergi ke balkon Villa, menyesap teh hangat yang baru saja ia buat. Selama berada di villa, ia merawat Tommy dengan baik. Menyajikan makanan, membantu Tommy melakukan berbagai aktivitas yang terhambat karena tubuhnya yang kadang lemah dan menuntut obat-obatan terlarang.


Nilam juga membuka internet, melihat cara-cara menangani pasien dengan riwayat seperti Tommy. Kadangkala, tubuh lelaki itu panas dingin, lebih sering menggigil padahal hari tak sedang hujan.


Sekarang, Tommy sudah tenang, sudah tertidur cukup pulas setelah berjuang dengan rasa sakau yang tiba-tiba datang. Ponsel Nilam berdering, dilihatnya sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak tersimpan di kontak.


"Siapa sih yang telepon malam-malam begini?" tanya Nilam kepada dirinya sendiri.


Panggilan pertama dan kedua dia abaikan, tetapi saat telepon kembali berdering, akhirnya, Nilam mengangkatnya.


"Siapa?" tanya Nilam agak kesal.


"Aku, Lam,"


Nilam memejamkan matanya sesaat.


"Ada apa lagi, Ndra?"

__ADS_1


"Aku cuma kangen. Ingin dengar suaramu."


Nilam ingin sekali menyemburkan teh panas di tangannya itu ke wajah Indra. Berani sekali dia mengatakan itu di saat mereka tidak lagi ada hubungan.


"Udahlah, Ndra, jangan banyak membual. Lagipula, kau bukan siapa-siapaku lagi. Jangan lupa, kita sudah bercerai. Antara kau dan aku gak ada hubungan apapun lagi!"


Nilam mematikan sambungan teleponnya dengan sebal lalu masuk kembali ke dalam. Dia segera berbaring di sofa santai di seberang ranjang Tommy. Sofa berukuran besar itu sangat nyaman bagi Nilam.


Sementara di kediaman orangtuanya, Indra jadi termenung. Sedari tadi dia juga tidak berhenti mendengar Marissa mengomel karena tidak terima Indra memberikan kartu ATM kepada ibunya.


Di saat seperti ini, Indra jadi menyesal, teringat Nilam yang sudah bukan lagi istrinya. Nilam sangat berbeda dengan Marissa. Baru Indra sadari jika Marissa tak bisa apa-apa sebagai istri. Setiap hari kerjaannya selalu mengeluh. Apa yang diberikannya tak pernah memuaskan. Selalu ada saja yang salah.


Apalagi sekarang mereka tinggal di rumah ibunya. Ibunya juga seringkali bertengkar dengan Marissa.


"Gak ngapa-ngapain. Kau tidur saja dulu, Ris. Aku lagi pengen di sini."


"Mikirin Nilam lagi? Aku udah muak ya dengar kamu manggil-manggil Nilam setiap kali lagi tidur. Terus daripada kamu ngelamun di sini mikirin perempuan itu, mending kamu ajak ibu kamu ngomong. Bilang sama ibu kamu, aku gak mau ngerjain semua tugas rumah sendirian! Kau kan punya adik, Ndra, ya bilang dong buat bantuin aku! Masa aku mesti kerjain semuanya sih?!"


Mendengar Marissa protes, Indra jadi semakin pusing. Ia menarik jaketnya yang tersampir di atas ayunan kayu di teras rumah dan pergi begitu saja meninggalkan Marissa yang sudah berteriak kesetanan menyuruhnya kembali.

__ADS_1


Indra meraih kunci motor, ia tidak lagi memiliki mobil karena benda itu sudah dijual untuk membayar kreditan rumah ibunya. Indra berjalan menuju ke rumah Nilam dahulu, tapi dia terkejut ketika melihat penghuninya sudah berbeda.


"Nilam sudah jual rumah ini?" tanya Indra kepada dirinya sendiri.


Dia betulan nelangsa saat ini. Nilam seperti ingin membuang semua kenangan di antara mereka dahulu. Dengan lesu, Indra kembali lagi pulang ke rumah ibunya. Marissa sudah menunggunya di dalam kamar, siap membombardirnya dengan berbagai pertanyaan.


"Kau dari menemui perempuan itu?!" cecar Marissa sembari mengikuti langkah cepat Indra menuju kamar mereka.


"Udahlah, jangan nanya yang enggak-enggak. Aku capek, Ris!"


"Jawab pertanyaanku, Ndra!"


Indra menatap Marissa jengah kemudian berdiri dan menantang mata perempuan itu.


"Ya, aku rindu sama Nilam! Aku sadar sekarang, Nilam yang terbaik! Menyesal aku menikah denganmu, Ris! Setelah bercerai dengan Nilam, cuma kesusahan yang aku dapat darimu!"


"Apa katamu, Ndra?! Kau tak ingat dulu waktu merayuku untuk hidup bersamamu?! Harusnya aku yang menyesal! Apalagi sekarang hidup kita diatur sama ibumu! Aku muak!"


"Oh, muak? Kalau muak sana pergi!" Tantang Indra.

__ADS_1


Marissa mengepalkan tangannya, ia memilih untuk tidak meladeni Indra lagi. Ia juga tidak tahu akan kemana jika berpisah dengan Indra. Apalagi sekarang dia bukan lagi wanita karir seperti dulu.


Indra juga memilih tidur di ruang tamu, ia letih berdebat dengan Marissa. Dalam pikirannya juga hanya terbayang wajah Nilam. Dia rindu berat dengan mantan istrinya itu. Tapi mau mengajak Nilam rujuk tentu saja adalah hal yang mustahil. Indra mengusap wajahnya, ia tampak lelah sekali.


__ADS_2