Pacar Suamiku!

Pacar Suamiku!
Pernikahan Yang Tak Sempurna


__ADS_3

Ini sidang terakhir yang akan dijalani oleh Nilam dan Indra. Di persidangan terakhir ini, Nilam melangkah semakin percaya diri. Tak sempat melirik Indra sedikit pun. Di sela syuting, dia menyempatkan untuk hadir. Beberapa waktu yang lalu, semua berkas bukti memberatkan Indra dengan telak.


Sekarang keduanya duduk di depan, tatapan Nilam lurus ke depan. Dia sudah mempersiapkan semua ini termasuk mental juga hatinya. Meski akan segera menyandang status sebagai seorang janda, itu lebih baik daripada hidup dalam kubangan derita karena di duakan.


Suara hakim membacakan putusan mulai terdengar. Hati Nilam bergetar hebat tetapi dia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Dengan ini menyatakan gugatan yang dilayangkan saudari Nilam Asmarani kepada saudara Indra Adi Wijaya telah dikabulkan. Semua tuntutan yang diajukan saudari Nilam Asmarani telah disetujui."


Ketukan palu tiga kali mengakhiri kisah pernikahan tak sempurna Nilam dan Indra hari ini. Nilam memejamkan matanya sesaat. Satu airmatanya lolos begitu saja, bukan karena dia sedih tetapi karena sudah begitu ikhlas dan bahagia mendengar putusan cerai hari ini.


Ia menoleh sesaat kepada Indra, tersenyum kecil kepada lelaki itu sepintas. Indra sendiri hanya bisa berdiri dengan lunglai. Bagai tak ada tenaga sama sekali. Ia melihat Nilam bersama Yuki sedang berpelukan.


Ia sendiri keluar dari ruang persidangan. Tak digubrisnya Marissa yang menunggu di depan. Lelaki itu berjalan gontai menuju mobil yang sebentar lagi akan segera dijualnya. Banyak sekali musibah yang Indra dapatkan setelah ia kehilangan Nilam. Jatuh miskin, dipecat dari pekerjaannya, juga harus hidup berdampingan dengan orangtuanya yang serba mengatur.


Nilam sendiri masih larut dalam euforia rasa bebas yang begitu nyata. Tak pernah ia merasa selepas ini. Wajahnya juga lebih bersinar. Syukurnya, kisah asmara rumah tangga yang gagal itu masih cukup luput dari pandangan wartawan. Mungkin karena Nilam menghilang dari panggung hiburan cukup lama jadi banyak yang masih buta tentang kehidupannya selama ia menghilang itu.


"Sekarang, kau sudah bebas. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, Lam!" seru Yuki.


"Iya, Mbak. Aku bahagia sekali."

__ADS_1


"Kau tidak menyesal bukan?"


"Tentu aku akan sangat menyesal jika masih bertahan dengan Indra."


"Ya, dia sedang menikmati semua karmanya, Lam."


"Aku tak peduli lagi kepadanya, Mbak. Biarkan saja dia mau hidup seperti apa. Sekarang, aku bebas mengepakkan sayapku lagi. Aku bebas menjadi diriku sendiri tanpa harus didikte olehnya."


Yuki mengangguk setuju. Bersama mereka melangkah riang dengan hati yang lebih ringan. Hari-harinya kini terasa lebih berarti karena tak lagi harus menanggung beban mental. Ia tak lagi tersiksa karena dikhianati.


Nilam terpikirkan satu orang saat ini. Tommy. Lelaki itu pasti tengah menantinya di lokasi syuting. Saat tiba di lokasi syuting, Nilam tak menemukan Tommy.


Nilam mengatupkan bibir, Tommy memang lelaki yang sangat sibuk. Dia memang tidak bisa diam di satu tempat. Namun, seharusnya dia tidak bisa percaya begitu saja, mungkin Tommy sedang berada di villanya?


"Mbak, lepas syuting aku mungkin akan pergi ke suatu tempat. gak apa kan aku pulang lebih awal?"


"Gak apa, Lam. Hati-hati saja. Apa kau mau aku temani?" tanya Yuki.


Nilam menggeleng.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kau fokus syuting dulu ya. Ada beberapa adegan yang harus kau ambil hari ini."


Nilam mengangguk kemudian membiarkan make up artis mendandaninya. Nilam semakin luwes berakting, wajahnya juga kembali mulai dikenal oleh banyak orang karena dia juga menjadi model untuk beberapa iklan di tivi.


Selepas syuting, ketika senja mulai merayap tinggi, Nilam tak menyurutkan langkahnya. Ia bergegas menuju villa Tommy yang tersembunyi dari keramaian. Benar dugaannya, setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan dia menemukan mobil lelaki itu terparkir rapi di sana.


Pintu Villa tidak terkunci. Ada suara serupa erangan di suatu ruangan. Jantung Nilam berdebar tak karuan. Suara itu, seperti Tommy sedang menahan kesakitan yang teramat sangat.


"Tommy?" Nilam memanggil, tapi tak ada jawaban sementara suara Tommy semakin keras terdengar. Mengerang.


Mata Nilam terbelalak ketika melihat Tommy bercucuran keringat. Rambutnya yang gondrong tampak tak beraturan. Ruangan itu berantakan. Tommy sedang mengiris lengannya sendiri, menghisap darah dari sana. Nilam nyaris limbung melihatnya.


"Kenapa kau di sini?!" Lelaki itu menatap Nilam tajam. Berusaha bangkit dan mengusir Nilam untuk pergi. "Kau tak seharusnya melihat aku seperti ini!" desisnya lagi.


Nilam gemetar, tapi dia tahu, dia tak bisa meninggalkan Tommy sendirian. Tommy sakau? Nilam segera meraih Tommy ke dalam pelukannya. Lelaki itu dingin, sedingin es tubuhnya kini. Nafasnya tersengal, memburu, nyawanya hampir putus. Nilam tidak akan meninggalkannya. Tommy tak boleh dibiarkan sendirian.


"Pergi, Lam ... Pergi ..." Tommy menunjuk pintu dengan susah payah.


Nilam menggeleng, dia terus mendekap lelaki itu erat.

__ADS_1


__ADS_2