
Pekerjaan Indra jadi terbengkalai semenjak dia dan Nilam terlibat perseteruan di meja sidang. Mediasi gagal, tak menghasilkan apapun. Kenyataan Nilam tak mau lagi rujuk membuatnya stress berat. Sekarang, mereka tinggal di sebuah kontrakan yang cukup nyaman dengan fasilitas lengkap. Harganya sebulan juga tidak main-main. Dengan uang yang dikembalikan Nilam, memang membuat mereka bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan. Tetapi untuk selanjutnya? Entahlah, Indra ketar ketir tak mampu lagi membayar ini dan itu sementara Marissa kerjanya hanya memuaskan nafsu belanja yang semakin keterlaluan.
Indra juga melihat, keguguran yang terjadi waktu itu tak membuat Marissa menyesal sedikit pun. Perempuan itu malah terlihat bahagia karena tak harus hamil. Ia kerap pulang dengan banyak tentengan di tangannya. Membuat Indra pusing dengan otak yang hampir meledak dan pecah.
"Kembalikan ATM-nya," pinta Indra saat Marissa baru saja menjejakkan kaki di lantai kontrakan elit itu.
"Loh, kenapa, Ndra?" tanya Marissa bingung, hal itu membuat Indra berang. Marissa tidak sadar jika kelakuannya yang bak orang kaya itu sudah membuatnya muak setengah mati.
"Kembalikan! Hanya uang yang dikirimkan Nilam itulah yang akan membuat kita bertahan, Ris! Dan kau menghamburkannya! Ini belum lagi ibuku sedari kemarin menelepon minta kredit bank dibayarkan! Aku pusing!" seru Indra membuat Marissa tersentak kaget.
"Loh, kau ini bagaimana sih, Ndra. Ya perjuangkan hartamu di pengadilan nanti dong! Masa kau mau harta itu jatuh begitu saja sama Nilam?"
"Astaga! Buka matamu, Ris, selama ini yang banyak uang itu Nilam! Semua harta itu memang punya dia! Dan dia sangat pintar. Dia merencanakan semuanya dengan rapi tanpa sempat aku cegah."
Marissa terduduk lemas tapi kemudian dia menatap Indra sama berangnya.
"Jadi maksudmu, kau sekarang betulan bakal jatuh miskin, Ndra? Ya balik kerja dong! Aku gak mau hidup susah, Ndra!"
__ADS_1
"Aku sudah kena surat peringatan ketiga kali. Terancam dipecat sudah pasti, Ris! Semua ini salahmu! Coba kau bisa akur dengan Nilam kemarin! Dia tidak akan menggugatku!"
Marissa berdiri lalu memukul-mukul dada Indra dengan keras, ia tidak terima sudah disalahkan oleh suaminya itu.
"Kau yang salah! Kau yang lemah! Sebagai suami kau penuh kekurangan! Kalau aku tahu kau miskin, tak mau aku menikah denganmu!"
Mendengarnya, Indra jadi berang. Ia melayangkan satu tamparan keras di pipi Marissa. Perempuan itu terisak-isak karena mendapatkan kekerasan dari Indra.
"Aku baru sadar, ternyata selama ini aku sudah membuang berlian dan menukarnya dengan batu kerikil sepertimu! Tinggallah kau di sini!"
Indra bergegas meraih pakaiannya, Marissa yang melihat itu segera menghentikannya. Ia memohon Indra untuk tetap tinggal. Tetapi Indra tetap memilih pergi.
"Nah, ini dia. Kau masuklah ke dalam, Ris! Tidak usah lagi ngontrak segala! Menghabiskan uang saja. Kau bisa bantu-bantu Ibu di sini."
Marissa menggigit bibirnya, dia tidak pernah terpikirkan akan mengerjakan tugas rumah dan bersusah payah seperti ini.
"Tapi, Bu ..."
__ADS_1
"Gak tapi-tapian. Kau musti belajar mandiri. Indra sekarang lagi jatuh. Atm nya juga sudah Ibu yang pegang. Sekarang, kau ke dapur, bantu memasak."
Marissa menelan ludahnya dengan susah payah. Tak terpikirkan sama sekali akan melakukan pekerjaan ibu rumah tangga seperti ini. Hingga beberapa hari ke depan, hanya akan ada pertengkaran di antara dia dan Indra.
Sementara itu, Nilam sendiri semakin nyaman bersama Tommy. Pria itu kerap memberikannya kejutan-kejutan manis. Tommy juga mendukung persidangan yang akan terus diikut Nilam. Siang ini mereka sedang berada di sebuah tempat pagelaran seni di luar Jakarta.
Nilam sudah pindah ke rumahnya yang baru. Sebuah kediaman yang nyaman dan jauh dari tempat tinggalnya dulu. Kini mereka tengah berada di sebuah kedai es krim tak jauh dari tempat pagelaran.
"Kenapa kau seringkali menghilang, Tom? Nanti berminggu-minggu menghilang lalu muncul lagi tanpa diduga seperti hantu."
Tommy terkekeh mendengarnya. Dia meraih tisu, mengusap sudut bibir Nilam yang terkena es krim. Nilam tersenyum kecil, mendapat perhatian kecil itu.
"Ada beberapa hal yang sebaiknya gak perlu dijelaskan, Nilam. Nanti kau akan tahu, kenapa aku sering datang dan pergi seperti itu."
"Kau terlalu misterius," dengus Nilam sebal.
"Biar kau selalu penasaran," balas Tommy dengan kerlingan nakalnya. "Ayo, habiskan makananmu, kita harus kembali. Besok kau sudah mulai syuting bukan?"
__ADS_1
Nilam mengangguk, hampir saja dia lupa bahwa sekarang dia mulai meniti karirnya lagi dan akan kembali sibuk syuting. Sebenarnya, Nilam sudah mulai nyaman dengan adanya Tommy. Pria itu sangat perhatian kepadanya. Tetapi, selama putusan sidang belum jatuh, dia tetap harus menjaga jarak meski kadang di saat terbuai suasana, hampir saja bibir mereka bertaut. Nilam seorang perempuan yang sudah lama tak disentuh, dia sebisa mungkin menahan dirinya agar tak sampai kebablasan dengan pria itu.