
Tak terasa hari berlalu begitu cepat Tante Ani begitu sumringah karena minggu depan Andi putranya akan segera kembali.
Ia sudah begitu merindukan putranya. Terlebih lagi ia juga ingin segera melihat putranya menikah dengan wanita yang ia pilihkan untuk putranya. Ponsel tante Ani berdering terlihat nama Sinta yang menghubunginya.
" Hai tan.... Sinta mau tanya mama bilang kalau Andi minggu depan pulang ya? tanya Sinta.
" Iya sayang, Andi minggu depan pulang. Kenapa kamu uda gak sabar ya ? ucap Tante Ani.
" Sinta kangen sama Andi tan. Oh ya tan Sinta boleh minta tolong?...."
" Tante mau tidak bicara sama gadis yang jadi pacar Andi supaya dia tidak ganggu Andi lagi..."
" Memangnya ada apa Sin. Apa perlu ya seperti itu ? ucap Tante Ani.
" Iya dong tan...biar dia gak berani lagi deketin Andi. Kapan hari Sinta uda bicara sama dia eh dia malah marah dan maki-maki Sinta katanya Sinta gak pantes buat Andi tan..."
" Apa benar Sin ? kurang ajar sekali dia. Bisa-bisanya Andi cinta sama gadis seperti itu. Gadis jahat seperti dia tidak pantas jadi calon istri Andi. Oke masalah ini biar tante yang beresin. Kamu kirim saja nomer hpnya....."
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Sinta, tante Ani langsung menghubungi Devi untuk mengajak bertemu.
✉️ Tante Ani
Kamu Devi kan ....
Saya ibunya Andi ....
Saya harap kamu bisa datang ke restoran X hari ini pukul 15.00 ada yang perlu saya bicarakan
✉️ Devi
Baiklah tante. Insyaallah Devi datang
Devi yang mendapat pesan itu sangat terkejut. Ia bertanta-tanya hal apa yang ingin dibicarakan oleh ibunya Andi. Jika berkaitan dengan hubungannya dengan Andi ini pasti akan menyakiti hatinya. Ia pun seketika membuang nafas kasar dan berusaha untuk tegar.
*****
__ADS_1
Pukul 15.00 Devi sudah tiba di restoran tempat yang dijanjikan tante Ani. Ia melihat sekelilingnya sambil sesekali memainkan ponsel. Tampak seorang wanita yang anggun dan terlihat awet muda di usianya yang sudah tidak lagi muda. Wanita itu datang menghampirinya.
" Kamu kan yang bernama Devi..."
" Iya benar tante.. tante ibunya kak Andi kan...tanya Devi.
" Perkenalkan saya Ani Wijaya ibunya Andi....ucapnya sambil menjulurkan tangan yang kemudian tangan itu dicium dengan sopan oleh Devi.
" Maaf tante hal apa yang membuat tante mengajak Devi bertemu. Apa ini mengenai masalah kak Andi ? tanya Devi.
" Baik langsung saja...tante yakin kamu sudah mengetahui perjodohan Andi dan Sinta. Saya harap kamu bisa melupakan Andi. Saya tidak suka jika Andi menjalin hubungan dengan gadis jahat sepertimu yang tega memaki-maki calon menantu saya....ujar tante Ani.
" Maaf tante saya tidak pernah sekalipun memaki mbak Sinta justru mbak Sinta lah yang memaki dan menyakiti saya. Mengenai kak And, tante tidak perlu khawatir saya akan melepas kak Andi. Saya tidak mau membuatnya menjadi anak durhaka yang menentang orang tuanya...."
" Dan satu lagi tante tidak sedikitpun saya dendam kepada mbak Sinta calon menantu tante. Sesakit apapun hati saya, saya tetap menghormatinya. Terima kasih atas peringatan tante. Selamat sore.... ujar Devi sambil pergi meninggalkan tante Ani.
Begitu hancur hatinya mendengar perkataan ibu dari orang yang ia sayangi. Jujur walaupun ia sakit tapi jauh di lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Andi.
__ADS_1
Di seberang jalan tanpa ia sadari, tante Ani sedang melawan pencuri yang ingin mengambil tasnya. Devi yang melihat hal itu seketika berlari ke arah tante Ani.
Tante Ani yang berusaha mengejar pencuri itu dan berteriak hingga satpam restoran berhasil menangkap pencuri itu. Tetapi tante Ani tidak melihat jika ada mobil di depannya melaju kencang. Devi langsung mendorong tubuh tante Ani supaya tidak tertabrak. Namun naas justru ia yang tertabrak dan terpelanting hingga kepalanya terbentur trotoar. Tante Ani menjerit dan segera menghampiri Devi yang tergeletak di tepi jalan. Ia meminta bantuan orang-orang untuk membawanya ke rumah sakit.