
Ketika senja mulai menampakkan wajahnya saat itu pula kedua orang tua Devi memutuskan untuk pulang begitu juga dengan tante Ani. Mereka berbuat seperti itu karena selain mereka butuh waktu untuk istirahat, mereka juga ingin memberikan lebih banyak waktu bagi Andi dan Devi untuk bersama.
Andi yang sedari tadi menatap wajah kekasihnya dengan tatapan yang begitu dalam mengisyaratkan jika dia sangat bahagia bisa bersama dengan Devi. Devi yang menyadari hal itu menjadi salah tingkah.
" Kenapa kak Andi melihat Devi seperti itu. Ada yang aneh ya sama Dev? Apa Devi kelihatan jelek ya kalau lagi gak dandan? tanya Devi.
" Gak kok...kamu cantik walaupun tanpa make up. Aku hanya ingin memandangmu sepuas hatiku. Aku sungguh senang bisa bersama kamu lagi Dev....ujar Andi.
" Tapi kan Devi jadi gak enak kalau dilihatin terus. Emangnya kak Andi gak bosan lihat muka aq terus...ujar Devi.
" Aku gak akan pernah bosan lihat wajah kamu Dev. Apalagi sudah lama kita terpisah jauh. Sekarang aku bisa berlama-lama mandang wajah kamu...."
" Terserah kak Andi aja lah. Aku pasti selalu kalah kalau berdebat sama kakak...."
" Kamu kenapa tidak pernah bilang ke aku kalau kamu pernah disakiti Sinta? tanya Andi.
" Buat apa kak? lagipula saat itu hubungan kita sedang tidak baik. Kakak juga sudah tidak pernah hubungi Devi lagi. Jadi tidak ada alasan bagi Devi untuk memberitahukan hal itu...."
" Maafin aku ya Dev. Aku selalu saja menyakiti hatimu. Tapi sekarang aku janji aku akan buat kamu selalu tersenyum, ujar Andi sambil mencubit hidung Devi.
Setelah puas bercanda tiba-tiba perut Andi berbunyi. Perutnya sudah mulai terasa lapar, namun ia enggan untuk meninggal Devi sendiri. Menyadari hal itu membuat Devi tertawa geli. Ia pun meminta Andi untuk segera mengisi perutnya yang kosong. Ia berusaha untuk meyakinkan Andi jika dirinya baik-baik saja bila harus ditinggal. Kebetulan Devi juga ingin tidur karena ia sudah mulai mengantuk. Andipun mencium kening Devi lalu pergi keluar dari ruangannya.
Selepas kepergian Andi, Sinta melihat Andi di lobby. Ia berpikir jika Andi berada di lobby itu artinya Devi sendirian di ruangannya. Hal itu membuat Sinta lebih mudah untuk menjalankan rencana jahatnya.
Hemmmm ini menjadi lebih mudah bagiku untuk menyingkirkan gadis itu. Ternyata keberuntungan berpihak padaku. Aku akan membuatmu pergi dari Andi selamanya gadis tengik. Batin Sinta.
Sinta dengan segera bergegas menuju ruang Devi dirawat. Dia tidak ingin rencana jahatnya diketahui oleh Andi. Saat ia membuka pintu ruangan Devi, ia melihat Devi sedang tidur terlelap. Dia pun mengambil bantal yang berada di sofa sudut ruang kamar dan menutup wajah Devi dengan bantal itu.
Devi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mencoba meronta melepaskan bantal itu dari wajahnya namun tenaganya masih lemah. Dia mencoba menarik benda di di atas rak sebelah tempat tidurnya hingga semua benda itu terjatuh.
Tiba-tiba datang seseorang menarik tangan Sinta dari arah belakang dan melemparkan gadis itu hingga tersungkur di lantai. Ternyata sosok yang menarik tangannya adalah Andi.
FLASHBACK ON
Ketika Andi sudah berada di depan rumah sakit, ia baru sadar jika dompetnya tertinggal di tas yang ia taruh di laci ruangan Devi. Ia pun terpaksa kembali menuju ruangan Devi. Namun saat ia membuka pintu betapa terkejutnya dia saat melihat Sinta sudah membekap wajah Devi dengan bantal hingga Devi susah bernafas. Andi dengan sigap menarik tangan Sinta dan mendorongnya hingga ia terjatuh.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
" Apa yang kamu lakukan pada Devi? teriak Andi dengan nada menahan emosi. Ia pun segera menolong Devi dan memeluknya.
" A...aku tidak melakukan apapun Ndi. Bagaimana kamu bisa kesini? ucap Sinta ketakutan.
" Aku sudah lihat semua di depan mata kepalaku. Tak ku sangka orang yang terlihat baik sepertimu tega berbuat hal sekeji itu...."
" Ya...kenapa kamu marah? ini semua gara-gada gadis brengsek itu. Dia merebutmu dari tanganku sekarang dia merebut mamamu dariku...."
" Dasar keparat!!! aku akan membunuhmu, ucap Devi sembari menghampiri Devi.
Plakkkkkkkk
Andi menampar pipi Sinta dengan keras
" Satu langkah saja kamu berani mengampiri Devi aku tidak akan segan melaporkanmu ke polisi dengan kasus percobaan pembunuhan....ancam Andi.
Andi menelpon petugas rumah sakit dan meminta security datang ke ruang Anggrek No.04. Tidak butuh waktu lama akhirnya security datang dan membawa Sinta ke pos keamanan rumah sakit.
" Kamu tidak apa-apakan sayang? apa kamu terluka? tanya Andi penuh kecemasan. Devi hanya bisa menggelengkan tanpa bicara satu katapun.
******
Keesokan hari tante Ani yang mendengar kabar itu dari Andi segera menuju ke rumah sakit. Ia juga ingin melihat Sinta di pos keamanan karena semalaman Sinta ditahan disana.
Aku benar-benar dibutakan oleh Sinta. Kenapa orang yang aku percaya menjadi calon istri terbaik untuk anakku ternyata berhati jahat seperti ini. Tapi aku bersyukur aku bisa mengetahui keburukannya sebelum mereka menikah. Aku baru sadar kenapa anakku bisa sangat mencintai gadis seperti Devi. Batin tante Ani.
Tante Ani sudah tiba di pos keamanan. Ia juga melihat tante Maya mamanya Sinta datang. Tante Maya menyapa tante Ani dengan sedikit canggung atas perbuatan yang dilakukan putrinya. Sedangkan Sinta yang melihat tante Ani datang begitu sumringah. Dia yakin jika tante Ani akan membebaskannya dan mencabut tuntutan Andi atas dirinya.
Namun sayangnya tante Ani justru benar-benar kecewa dengan perbuatan Sinta. Ia dengan tegas mengatakan agar Sinta tidak lagi mengganggu hubungan Andi dan Devi. Tante Ani juga berkata agar Sinta berhenti untuk mencelakakan Devi jika tidak, ia tidak akan segan untuk melaporkan Sinta ke polisi.
" Tante...tante tidak sedang bercanda kan?Sinta tidak bisa tante kalau harus jauh dari Andi, ujar Sinta tanpa ada penyesalan.
" Tante serius Sinta!!! Mulai sekarang tante membatalkan rencana perjodohan kalian. Tante sudah membebaskan kamu atas izin Andi...."
__ADS_1
Tante Ani pergi meninggalkan Sinta, namun Sinta sangat terkejut dengan sikap tante Ani. Dia sungguh tidak menyangka orang yang sangat mendukung perjodohannya dengan Andi malah membatalkan dan menyuruhnya untuk menjauhi Andi.
Melihat putrinya yang menangis, tante Maya memeluk Sinta dan mencoba menenangkannya. Ia tahu bagaimana perasaan putrinya tetapi ia juga tidak ingin persahabatannya dengan tante Ani ikut rusak.
******
Dokter Mirza baru saja selesai memeriksa kondisi Devi. Kondisi Devi sudah membaik dan gips di tangannya juga sudah dilepas. Namun masih harus dibalut sebagai penyangga. Ia juga mengizinkan Devi untuk pulang hari ini. Mendengar hal itu membuat Devi senang begitu juga Andi.
Klakkkkkkkk
Tante Ani dan ibu Devi datang bersamaan dan membuka pintu ruangan. Andi menyampaikan apa yang tadi dikatakan oleh dokter Mirza. Keduanya tampak gembira dan berpelukan. Timbul ide Devi untuk menggoda tante Ani dan mamanya.
" Ehemmm...ehemmm ada yang sudah menjadi teman dekat sepertinya, ucap Devi yang menggoda mamanya.
" Kamu ini Dev uda berani meledek orang tua ya. Mama jitak baru tahu rasa kamu....ujar ibu Devi.
Mereka semua tertawa bersamaan membuat suasana menjadi hangat penuh canda. Devi senang melihat tante Ani begitu menyayanginya dan juga bisa dekat dengan orang tuanya. Kekhawatiran akan hubungannya dengan Andi sudah menghilang.
Tak lama datang Ratna, Nindy, Roni dan juga Bima. Kedatangan mereka membuat Devi kaget. Terlebih lagi dengan datangnya Bima, ia tidak ingin Andi salah paham lagi terhadapnya.
" Bagaimana kalian bisa datang barengan kayak gini? tanya Devi.
" Ya iyalah kita bisa barengan ada hal yang perlu loe tahu Dev ada yang uda jadian nih....ujar Ratna sambil melirik Devi.
" Whatttt!!! serius kalian berdua uda jadian. Sejak kapan? wah beberapa hari tidak ketemu membuatku ketinggalan berita....kata Devi sambil senyum-senyum.
Andi yang mendengar hal itu tersenyum simpul merasa lega karena tidak ada lagi laki-laki saingannya. Dia tidak ingin Devi direbut oleh siapapun.
.
.
.
.
__ADS_1
. Hai hai readers pandemik covid 19 sudah mewabah. Pastikan kalian rajin cuci tangan, pakai masker dan stay at home ya guys sambil setia nungguin upload episode novel ini.