
Kini Devi sudah benar-benar lulus dari bangku SMA. Sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan kuliah tetapi ia takut untuk membicarakan keinginannya pada Andi. Terlebih Andi dan keluarganya ingin sekali mereka bisa segera menikah setelah bertunangan.
Devi mencari waktu yang tepat untuk membahas rencananya itu bersama Andi. Ponsel Devi berdering dan sontak membuyarkan lamunannya. Terdengar suara dari seberang, ternyata orang yang menghubunginya adalah Andi.
"Sayang!!! lama amat sih angkat teleponku?" tanya Andi dengan nada sedikit merajuk pada kekasihnya.
"Iya maaf sayang tadi lagi di kamar mandi." ujar Devi yang terpaksa berbohong pada Andi.
"Aku akan jemput kamu karena ada yang mau aku bicarakan dengan kamu...."
"Ta...tapi ada masalah apa?"
Namun sayangnya Andi mematikan ponsel tanpa menjelaskan apapun pada Devi.
Apa yang sebenarnya ingin dikatakan kak Andi?. Sepertinya ada hal yang begitu penting hingga ia tidak ingin membicarakannya lewat telepon. Dasar kak Andi suka banget bikin orang penasaran. Awas aja kalau dia mau ngerjain aku. Batin Devi dengan nada sedikit kesal.
Devi segera berganti pakaian. Ia hanya memoleskan bedak tipis dan memakai lipstick warna soft agar terlihat natural. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Devi sangat yakin jika itu adalah suara mobil Andi. Ia segera turun ke ruang tamu untuk menemui Andi. Setelah berpamitan merekapun akhirnya berangkat.
"Kita sebenarnya mau kemana sih kak? terus hal penting apa yang mau kak Andi bicarakan?" tanya Devi sambil mengernyitkan dahi tanda ia meminta penjelasan untuk menghapus rasa ingin tahunya.
"Nanti kamu juga akan tahu yang." ucapnya singkat.
"Heem...kak Andi gitu deh main rahasia-rahasiaan bikin penasaran aja." ujarnya sambil cemberut.
Melihat Devi yang nampak kesal Andi semakin gemas. Dia ingin sekali mencubit pipi manis kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sudah jangan cemberut jelek tahu kayak nenek-nenek kehilangan gayung buat mandi." ucap Andi membuat mata Devi melotot ke arahnya.
"Ihhhh...emangnya Devi nenek gayung yang keliling cari gayung." pekik Devi. Sontak Andi tertawa mendengar jawaban Devi yang konyol.
"Sudah senyum dong jangan cemberut melulu. Sayangnya Andi kok cemberut melulu nanti cantiknya terbang ke bawa angin loh...."
******
Mobil Andi terparkir di sebuah butik khusus gaun pesta. Devi yang berjalan mengikuti Andi masih bingung dibuatnya. Ia menatap barisan gaun-gaun cantik yang terpajang di butik itu. Devi menghampiri Andi untuk meminta penjelasan.
"Kenapa kita kesini kak?" tanya Devi.
"Aku pengen kamu mencoba sebuah gaun sayang. Aku uda memilih sebuah baju tapi aku ingin tahu apakah baju itu cocok buat kamu." ujar Andi.
"Sudah coba dulu sana gaun ini!" perintahnya.
Dengan pikiran yang masih bingung Devi menuruti perintah Andi. Ia memasuki ruang ganti dan memakai gaun yang diberikan Andi. Setelah selesai memakainya, ia segera keluar dan menghampiri Andi.
Andi yang sedang membuka-buka majalah langsung tercengang melihat kecantikan Devi. Gaun berwarna soft itu benar-benar cocok dipakai Devi. Walaupun gaun itu terlihat tidak mencolok namun saat dipakai oleh Devi terlihat sangat Anggun.
Kamu sungguh cantik sayang. Gumam Andi dalam hati
"Ini gaun untuk acara apa sih kak?" tanya Devi.
"Gaun itu untuk acara pertunangan kita minggu depan sayang." jawab Andi.
__ADS_1
"Pertunangan? kak Andi gak bercanda kan. Atau jangan-jangan salah minum obat ya. Kok Devi gak tahu apa-apa soal ini...."
"Kamu ini lupa atau pikun sih kan kemarin aku melamarmu dan ajak kamu bertunangan. Kamu juga menerimanya sayang." jawabnya sembari mencubit hidung Devi.
"Tapi apa harus secepat ini kak. Lantas papa, mama, dan mama Ani gimana?".
"Sayang mereka sudah tahu kok. Aku uda kasih tahu mereka dan mereka setuju sekali." jawab Andi sambil memeluk pinggang Devi.
"What!!! jadi cuma aku yang tidak tahu soal rencana ini. Huh pada sekongkolan ceritanya nih." ujar Devi dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Pegawai butik yang melihat kemesraan pasangan itu hanya senyum-senyum. Mereka sungguh iri dengan keromantisan Andi pada Devi. Setelah Andi yakin jika gaun itu cocok ia pun segera membayar dan memberikan tas berisi gaun yang tadi dikenakan pada Devi. Merekapun pergi meninggalkan butik itu.
"Kamu lapar gak, yang ?" tanya Andi sambil melirik Devi.
"Hu'uum...Devi lapar kak kita cari makan dulu yuk!" ajak Devi sambil merangkul lengan Andi.
"Oke...kita cari tempat makan dulu." ujar Andi.
Merekapun pergi menuju sebuah restoran. Tempat itu tidak terlalu ramai jadi mereka leluasa memilih tempat duduk. Namun saat mereka berdua sedang asyik memilih menu makanan tiba-tiba datang beberapa gadis menghampiri Andi dan berteriak-teriak memanggil nama Andi dengan histeris. Mereka adalah pengagum setia Andi. Mereka tidak segan berfoto, mencubit pipi Andi bahkan ada yang merangkul lengan Andi.
Devi yang melihat kejadian itu jadi geram namun ia tidak mungkin menunjukkan emosinya di depan orang banyak. Ia segera pergi meninggalkan Andi. Andi yang tidak menyadari kepergian Devi masih terus meladeni para penggemarnya.
Tampak Devi melambaikan tangan saat ada taxi melintas di depannya. Ia meminta sopir mengantarnya ke sebuah tempat yang bisa membuat hatinya tenang. Sopir itu mengantarkan Devi ke sebuah taman.
Kenapa kamu tega padaku kak. Saat penggemarmu menghampirimu kamu terlihat begitu senang hingga tidak memperdulikan aku. Kamu gak tahu apa hatiku sakit melihat mereka berdekatan denganmu seperti itu. Aku tidak akan marah jika mereka bisa bersikap tidak berlebihan seperti itu. Batin Devi
__ADS_1