
Sepanjang malam orang tua Devi dan tante Ani menunggu di depan ruang IGD. Wajah ketiganya tampak lusuh karena kurang istirahat. Seketika kedua orang tua Devi meminta tante Ani untuk pulang agar bisa beristirahat. Tante Ani pun mengiyakan dan berpesan bila besok ia akan kembali untuk menjenguk Devi.
Sedangkan saat mendengar kabar bahwa Devi dirawat di rumah sakit, kedua sahabatnya langsung bergegas menunju ke rumah sakit itu. Mereka juga menanyakan ruangan tempat saat ini Devi dirawat karena sekarang Devi dipindahkan ke ruangan perawatan.
" Tante....bagaimana keadaan Devi? Apa yang sebenarnya terjadi tan? tanya Ratna penuh kecemasan.
" Ceritanya panjang Rat. Devi sudah melewati masa kritisnya. Tapi dia masih tidak sadarkan diri. Entah sampai kapan Rat, bahkan dokter juga tidak bisa memprediksi kapan Devi bisa sadar....ucap ibu Devi yang sedang menangis.
" Yang sabar ya tan. Ratna yakin Devi pasti bisa segera sadar kembali....ucap Ratna sembari memeluk ibu Devi.
" Maaf...apa tante tahu kalau hari ini Andi kembali dari Belanda. Ratna juga dengar katanya besok dia mau kesini jenguk Devi..."
" Tante belum tahu Rat. Sejak kemarin ibunya Andi juga tidak bilang apa-apa ke tante soal itu....ucap tante Ani.
" Mungkin tante Ani masih segan untuk membahas soal Andi di depan tante. Tapi Ratna harap tante mengizinkan jika memang Andi ingin menemui Devi. Mungkin dengan kedatangannya bisa membangkitkan semangat hidup Devi untuk kembali sadar....ucap Ratna dengan nada memohon.
" Mungkin kamu benar Rat. Biar bagaimanapun juga Andi adalah orang yang Devi cintai dan tante juga tidak berhak melarangnya...."
******
Di tempat lain Andi begitu semangat untuk bisa segera kembali ke tanah air terlebih sejak mengetahui kondisi Devi. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesawatpun lepas landas, selama perjalanan pikirannya hanya tertuju pada Devi. Rasa rindu, bersalah, dan rasa ingin memiliki kembali seslalu bergelayut di pikirannya. Roni yang mengamati Andi sejak dari bandara juga tidak bisa berbuat apa-apa.
" Loe uda siap ndi untuk bertemu Devi terlebih dengan kondisinya saat ini? tanya Roni memecah keheningan.
" Iya gue uda siap apapun yang akan dia katakan jika nanti ia sadar dan bahkan bila dia membenciku aku pasrah. Saat ini aku hanya ingin dia segera sadar. Aku sudah terlalu banyak nyakitin dia....ucap Andi.
" Gue cuma kasih saran jika memang loe masih sayang sama dia. Loe harus perjuangin cinta loe seberat apapun ujian itu...."
" Loe bener Ron. Gue uda buat keputusan, gue akan kembali padanya dan tidak akan pernah ngelepas dia lagi. Masalah perjodohan gue, akan gue urus setelah kondisi Devi membaik....ujar Andi.
__ADS_1
Penerbangan kali ini memakan waktu hampir 14 jam. Selama itupun Andi tak henti-hentinya menatap foto Devi di layar handphone. Sejak ia mulai menjauhi Devi tanpa memberi satu alasan yang jelas padanya, ia benar-benar belum sanggup melupakan gadis itu. Cinta yang terpatri dalam hatinya sungguh besar hingga waktu dan jarakpun tidak bisa menghapus nama gadis itu dalam hatinya.
******
Bandara Juanda tepat menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Tidak mungkin jika dia harus menjenguk Devi di jam seperti ini. Ia memutuskan untuk tinggal di hotel sambil menunggu waktu yang tepat untuk berkunjung. Ia juga tidak lupa mengabari ibunya.
✉️
Andi sudah ada di Surabaya ma. Tapi maaf Andi tidak bisa pulang ke rumah. Sementara waktu Andi menginap di hotel. Pagi Andi akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi Devi.
✉️
Iya Ndi tidak apa-apa. Mama mengerti dan mama juga menyadari kesalahan mama. Mama menyesal maafin mama ya Ndi.
✉️
Membaca pesan itu membuat hati tante Ani semakin merasa bersalah. Ia sadar bahwa perbuatannya kepada Devi sungguh sulit untuk dimaafkan terlebih dengan ketulusan hati Devi yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatakn nyawa tante Ani.
Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah Devi adalah gadis yang tepat untuk putranya. Tapi bagaimana dengan perasaan Sinta dan keluarganya yang sudah menanti hari pertunangan sekembalinya Andi dari Belanda. Apa yang harus ia katakan pada Sinta.
******
Pagi itu di rumah sakit X ruang anggrek 04 tampak Devi yang masih tergolek lemah belum sadarkan diri. Ini adalah hari ketiga di rumah sakit, namun belum ada tanda-tanda kehidupan.
Perlahan Andi melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan itu. Ruang dimana orang yang sangat ia sayangi terbaring tak berdaya. Orang yang telah ia sakiti hatinya. Dan orang yang telah menyelamatkan nyawa ibunya. Jika saja hal ini tidak terjadi mungkin ia tidak akan setakut ini untuk bertemu Devi.
Saat Andi masuk ke ruangan, kedua orang tua Devi yang sedang duduk beranjak bangun. Entah bagaimana mereka harus bersikap atas kedatangan laki-laki itu. Dalam hati mereka sangat kecewa tapi mereka juga bahagia karena Andi masih peduli terhadap putrinya.
" Om..tante izinkan Andi untuk berada di samping Devi. Andi tahu om dan tante pasti sangat membenci Andi atas semua yang terjadi pada Devi....ucap Andi
__ADS_1
" Tidak ada alasan bagi Om untuk melarangmu bertemu Devi. Baiklah kamu boleh berada di sisi Devi. Om juga titip Devi sebentar karena om dan tante ingin pulang dulu mengambil keperluan Devi....kata ayah Devi.
Suasana menjadi hening setelah kepergian orang tua Devi. Andi duduk di samping ranjang Devi. Ia menggenggam erat tangan Devi dan mengecup kening Devi. Ia juga berbisik ditelinga Devi.
" Sayang...aku kembali. Aku kembali hanya untukmu. Aku sangat mencintaimu sayang. Maafkan semua kesalahan aku. Cepatlah sadar sayang jangan hukum aku seperti ini. Kamu boleh marah bahkan memukulku tapi jangan seperti ini...."
Air mata Andi tak terasa jatuh tepat di pipi lembut Devi. Sedangkan Devi di alam bawah sadarnya seolah mendengar suara Andi manggil namanya. Namun saat ia mecari letak suara itu, tiba-tiba ada seberkas cahaya yang datang dan menuntunnya ke arah suara itu berasal.
Tangan Devi yang maaih dalam genggaman Andi perlahan bergerak memberi tanda adanya kehidupan. Andi pun sontak beranjak dari duduknya dan mengelus rambut Devi dan memanggil namanya.
" Sayang kamu sudah sadar. Buka matamu sayang ini aku Andi....."
" Kak Andi. Apa Devi sedang bermimpi? jika ini mimpi Devi tidak ingin bangun dari mimpi ini....ujar Devi dengan suara lirih.
" Tidak sayang. Ini benar aku, aku sudah kembali. Syukurlah kamu sadar sayang....ucap Andi sembari menciumi puncak kepala Devi tiada henti.
" Tapi kenapa kak Andi kembali kepada Devi? bukankah kak Andi akan bertunangan dengan mbak Sinta...."
" Tidak sayang...aku tidak akan bertunangan dengannya. Aku sudah memutuskan untuk kembali padamu karena orang yang aku sayangi hanya kamu....ujar Andi
" Kalau kak Andi kembali pada Devi hanya karena merasa bersalah atau hutang budi, Devi tidak membutuhkannya kak, Devi ikhlas...."
Tiba-tiba Devi mengerang kesakitan pada kepalanya. Andi yang melihat Devi merasa kesakitan segera memanggil dokter. Dokterpun memeriksa dengan seksama dan menyarankan untuk tidak memberi beban pikiran terlebih dahulu pada pasien karena kondisi pasien baru sadar dari koma setelah benturan keras dikepalanya.
" Maaf biarkan pasien istirahat dulu pak. Jangan membuat dia shock atau memikirkan hal-hal yang berat dulu. Walaupun ia sudah sadar tapi dia masih butuh proses untuk pemulihan....ujar Dokter Mirza
" Baik Dok...terima kasih saya akan menjaganya...."
" Pasien sudah saya beri suntikan penenang. Sementara biarkan istirahat. Saya tinggal dulu ya pak...."
__ADS_1