
Andi sudah berada di depan rumah Devi. Devi bergegas menuju mobil Andi.
"Kita mau kemana, sayang?" tanya Andi pada Devi karena Devi belum memberitahu kepadanya tempat yang akan mereka tuju.
"Devi pengen ke pantai. Devi pengen lihat senja di sana. Pasti seneng banget kalau lihat matahari terbenam di sana." ucapnya.
"Kamu pengen ke sana. Oke kita kesana sekarang." ujar Andi sambil menggenggam erat tangan Devi.
Mobil Andi meluncur cepat ke arah pantai. Setelah 1,5 jam mereka akhirnya sampai di bibir pantai. Devi begitu senang bisa merasakan angin pantai yang berhembus mengenai rambutnya. Andi yang melihat kekasihnya berlarian sambil merentangkan tangan tidak tinggal diam, ia mengambil moment itu dan mengabadikannya melalui kamera ponselnya.
"Sungguh cantik." gumamnya dalam hati.
Andi mengikuti Devi yang sedang asyik bermain air. Sesekali Devi menjahili Andi dengan menyiramkan air laut padanya.
"Sayang, aku gak bawa baju ganti." ujar Andi yang sesekali menghindar dari Devi.
"Sekali-kali gak apa-apa dong pemain bola hebat main-main air. Tenang gak ada wartawan yang lihat kita kok." ujar Devi yang masih saja menjahili Andi.
"Kamu berani ya. Awas kalau aku tangkap, aku ceburin nih ke laut." ancam Andi sambil mengejar Devi. Mereka berkejar-kejaran layaknya anak kecil yang bermain tanpa ada beban.
"Sudah...sudah ampun beb. Sudah aku ngaku kalah. Gak kuat nih lari-lari capek." kata Devi yang sudah duduk di pasir sambil meluruskan kakinya.
__ADS_1
"Makanya kamu jangan suka asil. Tuh kan capek akhirnya. Sini aku pijitin kakinya." ucap Andi.
"Beb...boleh aku tanya sesuatu?" kata Devi.
"Kamu mau tanya apa sih sayang kayaknya serius banget. Jangan bilang kamu mau minta nikah sekarang." ujar Andi yang menggoda Devi.
"Aihhh...bukan itu...."
"Terus apa dong sayang?"
"Tapi janji ya harus jawab jujur." kata Devi sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Andi.
"Iya aku janji." ucap Andi sambil membalas jari kelingking Devi.
"Jadi kamu cuma mau tanya itu toh...."
"Sejak kapan ya? awalnya saat ada gadis iseng yang kirim pesan ke aku sambil bilang kalau dia dapat nomer ponselku dari omnya. Itu bikin aku heran secara waktu itu memang ada yang minta nomerku tapi karena istrinya sedang hamil dan ngidam bisa ngomong langsung sama aku...."
"Aku sih sebenarnya ragu tapi entah kenapa aku mau aja. Ternyata itu ulah gadis yang sekarang duduk di sebelahku." ujar Andi sambil menoleh kepada Devi.
"Enggak kok, bukan aku yang nyuruh. Aku aja baru tahu pas om pulang." seru Devi tidak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi aku jadi penasaran seperti apa sih gadis ini. Dan saat kita pertama kali ketemu di lapangan itu, entah perasaan apa yang buat aku gugup saat aku di dekat kamu. Sehari tidak dengar suaramu rasanya ada yang kurang. Aku baru menyadari kalau itu adalah cinta. Cinta yang semakin besar ketika kita bisa jalan berdua." ujar Andi sembari merangkul Devi. Devipun bersandar dibahu kekasihnya.
"Tapi kenapa bisa secepat itu kamu bisa nyatakan cinta ke aku?" tanya Devi lagi.
"Itu karena aku sudah yakin kalau hanya kami yang bisa buat aku nyaman dan mengerti apa itu cinta. Aku juga takut kehilangan kamu. Setiap kali kita jauh aku seperti orang gila yang kehilangan separuh jiwaku." jelas Andi.
"Aku juga sayang sama kamu honey." kata Devi.
"Kalau kamu sejak kapan kamu suka sama aku?" tanya Andi pada Devi.
"Emmmm....sejak kapan ya?"
Devi belum menjawab pertanyaan Andi tiba-tiba ia berlari meninggalkan Andi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Pasti penasaran kan apa yang akan Devi katakan pada Andi. Tetap setia di novel ini ya kakak. Tunggu episode selanjutnya.