
Tirai di kamar Nayla disibak matahari memasuki kamar Nay ia menutup mukanya dengan kedua tangannya, matanya terlalu silau untuk melihat.
“ maafkan aku Nay, tapi kamu harus bangun hari sudah pukul sepuluh pagi, kamu belum sarapan, nanti kamu sakit “ ucap Vica
“ aku tidak mau bangun, aku mau ikut ayah “ Nayla menangis kembali, matanya sudah merah dan bengkak karena ia selalu menangis.
“Nay…, ayahmu pasti akan sedih melihat kamu seperti ini, Om Rudi sudah memberikan penjaga untuk kamu,
Kasihan Rendy nanti dia merasa bersalah kalau tidak bisa menjaga kamu Nay” bujuk Aan. Aan yang ikut masuk ke kamar karena ia mendengar Nayla tidak mau keluar juga ia duduk disamping Nayla yang sedang tidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“ Nay, ayolah kita semua sedih melihat kamu seperti ini, apalagi kalau kamu sampai sakit “ ucap Vica
Hampir tiga puluh menit Aan dan Vica membujuk Nayla, akhirnya Nayla mau menuruti kemauan temannya. Setelah mandi dan sarapan pagi yang kesiangan Nayla duduk diruang tamu. Dia hanya diam dia memandang semua tempat dirumahnya mengngat semua kenangan dengan ayah dan mbok nya. Air matanya sudah kering matanya sudah bengkak dia sudah tidak bisa menangis lagi.
“ Nay, kamu harus kuat yah..” ucap Vica yang membuyarkan lamunan Nayla
“ Ya Nay, Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar kemampuannya” Aan menimpali
“ Nay kamu pasti kuat melewati ujian ini, setelah hujan pasti ada pelangi “ ucap Vica sambil memeluk Nayla dan juga di ikuti Aan. Aan dan Vica sangat tau kesedihan Nayla, Nayla yang mencoba berusaha menerima
kepergian mbok Darmi tetapi ia belum sepenuhnya menerima sekarang dia harus menerima kepergian ayahnya juga.
“ Nay, kita udah siapkan semua kebutuhan kamu, berkas-berkas kamu juga, maafkan kita ya nggak bisa antar kamu kerumah Rendi “ ucap Vica
“ Kita akan berangkat sore nanti ke Jakarta, besok harus antar berkas dan mempersiapkan tes masuk perguruan Tinggi, Maaf ya Nay “ Vica rasanya tak tega menyampaikan itu pada Nayla karena seperti impian mereka ingin
kuliah bareng, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk meninggalakan Nay.
Nayla tau kedua sahabat nya itu merasa tidak enak harus meninggalkannya seperti ini.
“ ya gak papa, aku maklum, seharusnya kita pergi bertiga, aku juga akan lebih sedih kalau kalian tidak jadi pergi hanya karena aku…”
“ nanti kalu sudah baikan, kamu nyusul juga ya, Om sugeng dan tante Mila mengizinkan kamu kuliah kok kalau kamu mau “ ucap Aan
“ ya Nay, Rendy juga kuliah di Jakarta juga, Kita bisa tinggal dekatankan, kamu sama Rendy tetangganya aku sama Aan “ ucap Vica yang membuat ketiganya tersenyum.
Nayla hanya mengangguk, mukanya merona merah di goda Vica.
“ Nay semua udah siap, kita menunggu Rendy jemput kamu ya “ ucap Vica sambil mengeluarkan Koper besar milik Nayla yang di berikan om Sugeng untuk membawa keperluan Nay.
Diluar terdengar suara mobil berhenti didepan rumah Nayla
__ADS_1
“ Assalammu’alaikum..”
“ Wa’alaikum salam “ jawab mereka bertiga
“ Ren, kamu udah nyampe, nih barangnya Nayla “ ujar Aan sambil memberikan Koper ke pada Rendy
Rendy yang disuruh ayahnya untuk menjemput Nayla hari ini,dia disuruh membawa Nayla pulang kerumahnya .
“ sudah semua…?, ayok kita berangkat “ Rendy mengajak Nayla
“ Sudah Ren, Titip Nay ya, Tolong jaga dia “ ucap Aan.
Mereka bertiga berpelukan, merekabertiga tersenyum dan menahan tagis, cukup lama bereka berpelukan sampai Rendy mengingatkan.
“ hheemm, sudah belum, kapan berangkatnya “ Rendy mencoba mengingatkan
Mereka melepas pelukan. Nayla melangkah masuk kedalam mobil Rendy dan duduk di
belakang, itu membuat Rendy protes
“ Hey, aku bukan sopir, duduklah disebelah ku “
“ Hati-Hati di jalan, jaga dia Ren….” Vica berteriak, Rendy dan Nayla masih bisa mendengar terikan Vica
Selepas Rendy dan Nayla tinggal Aan dan Vica. Vica menangis
“ aku sangat sedih An, berpisah dengan Nay, seolah kita tidak bisa bareng dia lagi “
“ aku juga sedih Vic, tapi harus gima kita juga harus nurut sama orang tua kita. Kita juga mau bikin mereka sedih karena kita menunda kuliah “
Vica mengangguk.
“ nanti kalau ada waktu luang kita main ketempat nayla ““ayok kita pulang, dan bersiap nanti sore kita mau berangkat “ ujar Aan.
Mereka beranjak, menutup dan mengunci pagar rumah Nayla, mereka memandangi rumah itu, begitu banyak cerita mereka bertiga di rumah itu.
Sementaradi dalam mobil Rendy dan Nayla hanya diam. Sampai akhirnya terdengan Rendi menepikan mobilnya dan ia menarik napas panjang, lalu buka suara
“ Nay, aku minta maaf sebelumnya , sebenarnya aku masih berat menerima pernikahan kita, aku merasa amanat ini terlalu berat untuk aku pikul, aku belum siap untuk menjadi suami, aku masih mau mengejar cita-cita ku, masih banyak yang ingin aku lakukan , mimikirkan status ku sebagai suami di usia ini membuat aku sedikit tertekan Nay, jadi aku tidak tau harusbagaimana…? “
Mendengar penjelasan Rendy, Nayla merasa sakit di hatinya, ia tau kalau pernikahannya terpaksa, tetapi dia tidak mengira kalau Rendy sungguh akan tertekan menerimanya, hanya untuk memenuhi keinginan ayahnya merasa seakan Om Sugeng harus balas budi karena telah menyelamatkan nyawanya. Nayla sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
“ Nay…Nay… kau tidak apa-apa…” Rendy mengibaskan tangannya di depan muka Nayla yang melamun.
Nayla terkejut dan menoleh pada Rendy
“ maafkan aku Nay, harus mengatakannya, kau adalah temanku juga jadi aku tau kesedihan mu, tetapi aku juga belum siap untuk menerima “
“ Maafkan aku Ren, karena aku kau harus melewati ini, aku juga tidak tau harus bagimana…?”
Mereka kemudian diam dan sibuk dengan pikiran masing- masing. Sampai dering telpon Rendy menyadarkan mereka. Rendy mengankat telpon dan lihat nama yang tertulis My Moms.
“ Hallo, assalammu’alaikum ma “
“ Wa’alaikumsalam, Rend kamu dimana sayang… udah nyampe rumah belum…”
“ Rendy dalam perjalan pulang kerumah sama Nayla ma “
“ ya udah hati-hati dijalan sayang, nanti mama pulangnya sore ya “
“ ya, ma , asslammu’alaikum ma “, setelah mendengar jawaban salam dari mamanya Rendy mematikan telpon.
Jarak rumah Rendy dan Nayla tidaklah jauh lima belas menit menggunakan kendaraan, daerahmtempat tinggal mereka bukanlah daerah macet, tetapi jika liburan baru jalan yang mereka lalui padat rame bahkan bisa macet karena banyak orang yang mau liburan ke, dan tempat tinggal Rendy juga dekat dengan Taman Argo wisata.
Tiba dirumah Rendy, rumah yang lumayan besar di banding rumah mereka bertiga, dan ada tiga orang ART di rumahanya. Nayla pernah sekali di ajak ayahnya kesana saat syukuran rumah baru di bangun dulu, saat itu Nayla masih kecil.
“ selamat siang Non,” seorang ART menyambut Nayla dan Rendy
“ Bik, antar Nayla kekamar yang sudah disiapkam mama “ ujar Rendy pada ARTnya
Nayla pun diantar kekamarnya dan Rendy membawa kopernya
“ Nay ini kamar kamu, kalau kamu perlu apa-apa pangil Bibik saja, mereka di belakang “ Rendy menunjuk arah dapur dan kamar pembantu. Merekaada di lantai dua, ya kamar Nayla ada di lantai dua.
“ Saya mau kekamar dulu “
Nayla mengguk dan melihat Rendy masuk kamarnya Nayla pun masuk kedalam kamarnya. Dia melihat sekeliling kamar yang rapi dan lebih besar dari kamar Nayla di rumahnya dulu. Walaupun rapi dan luas tapi Nayla belum terbiasa. Nayla menarik kopernya ke dekat lemari. Dia masih malas untuk menyusun barang-barangnya. Diletakkan kopernya dan Nayla menuju kasur empuk di depannya dan mulai berbaring, dia memejamkan mata, tetapi perkataan Rendy di mobil ketika dalam perjalan meraka tadi masih terngiang oleh nayla
“ apa yang aku lakukan, untukmu Ren..” batin Nayla
***
Bersambung….
__ADS_1