Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 10 - Zaki


__ADS_3

Siang itu Ratih duduk di teras rumahnya sembari memantau Altaf bermain di halaman bersama anak tetangga, ia gunakan untuk melanjutkan menulisnya. Saat ia tengah asik memainkan ponselnya, datang Nursiah, tetangga samping rumah Bu Rohmah.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam." Jawab Ratih mengangkat kepalanya melihat si pengucap salam.


"Mbak nur, nyari ibu? Duduk dulu mbak." Ucap Ratih mempersilahkan.


"Nggak Tih, mbak ada perlu sama kamu." Cegah Nursiah melihat Ratih hendak beranjak dari duduk nya untuk memanggil Bu Rohmah.


"Sama Ratih? Ada apa ya?" Tanya Ratih dengan dari berkerut heran.


"Tih, mbak lihat kamu makin putih dan cantik aja sekarang."


"Hehe.. iya mbak, namanya juga dalam proses perawatan."


"Ooh, kamu perawatan pake apa? Bagi dong rahasianya."


Ratih tersenyum. Jiwa seles nya tiba-tiba muncul. Lalu mulailah dia bercerita di selingi promosi produk Masa yang ada banyak macam nya dan sangat lengkap.


"Waahhh, pantesan aja makin cantik kamu."


"Makasih mbak."


"Kalau gitu mbak pesen deh satu paket."


"Oo iya mbak. Bisa." Ucap Ratih menyanggupi. Toh, Masda pernah menawarinya untuk menjadi reseller produk Masa, tanpa perlu menaikkan harga karena sudah ada fee nya.


"Kalau buat aku, cocoknya pake yang apa ya Tih?"


Ratih tersenyum dengan sangat yakin dan percaya diri. Dia mulai memberi masukan dan saran untuk jenis kulit Nursiah yang berminyak.


Mulai dari ini, Ratih sudah berani memasarkan dan menjual produk Masa pada secara online dan pada orang-orang di komplek rumah Bu Rohmah. Dan ternyata banyak peminatnya. Bahkan ada yang pesan sekali 10-15 paket.


"Alhamdulillah, rejeki memang datang dari tempat yang nggak disangka-sangka." Gumam Ratih menghitung hasil penjualan produk Masa.


["Ratih, kamu kan dah punya pelanggan cukup banyak, mau jadi stokis nggak?"]


Pesan singkat dari Masda membuat Ratih makin bersemangat.


["Stokis?"]


["Iya Tih, nanti aku jelasin deh kalau kita kopdar. Gimana?"]


.


.


Hari ini Ratih membawa Altaf mengendarai sepeda motor matik nya untuk bertemu dengan Masda di sebuah rumah makan skalian makan siang. Saat sedang berhenti di simpang lampu merah, Ratih membetulkan helm Altaf.


"Panas ya sayang? Sabar ya, bentar lagi sampai kok." Ucap nya pada Altaf yang duduk di kursi rotan di depannya.

__ADS_1


Di jalur sebelah kiri, mata Ratih melihat mantan suaminya berboncengan mesra dengan wanita bernama Tiara. Ada hati yang berdenyut tiba-tiba. Rasa yang Ratih miliki tak lantas hilang sepenuhnya setelah mereka bercerai. Lima tahun bukan waktu yang sebentar.


Ratih menarik nafasnya, lalu hembuskan, begitu berulang untuk mengulangi rasa tak nyaman di dadanya.


"Jangan bersedih, kalian sudah bercerai. Sudah berulang Kali disakiti, hati, tolong jangan terluka." Gumam Ratih.


Sesampainya di resto tempat Masda menunggu,


"Maaf mas lama."


"Nggak papa Tih, santai aja." Balas Masda yang sepertinya selesai berbalas pesan dengan seseorang.


"Ini Altaf ya?" Sapa Masda pada Altaf kecil sambil mencubit pipi gembul bocah lelaki itu.


"Ayo Salim dulu sama Tante Masda." Ucap Ratih pada Altaf. Altaf pun menyalami dan mencium tangan Masda dengan takzim.


"Pesen makan sama minum dulu ya."


Setelah beberapa jam mereka saling bertukar informasi dan mendapat banyak masukan dari Masda, Ratih pun memutuskan untuk menjadi stokis. Dengan bermodal dari hasil laba penjualan kosmetik dan di tambah beberapa rupiah dari hasil menulis.


Setelah bersepakat Ratih berpamitan, saat akan keluar dari resto itu, Ratih dan Altaf berpapasan dengan Ayahnya, Indra dan Tiara. Indra terlihat sangat terkejut saat melihat Ratih dan Altaf.


"Ratih... Altaf..."


Wajah Altaf sudah sangat senang melihat sang ayah.


"Ayah!" Seru Altaf mengulurkan tangannya minta di gendong. Namun, Indra justru mencleos karena terus di tarik oleh Tiara yang tak rela.


Wajah Altaf terlihat sangat kecewa dan sedih.


"Ayah...." Lirihnya merengek hampir menangis.


Hal itu tentu membuat Ratih turut sedih. Bahkan pada anaknya sendiri pun, Indra tak mau sekedar menggendongnya. Berpisah dari nya bukan berarti lantas tak perduli dengan anaknya. Walau bagaimana pun, Altaf tetaplah darah dagingnya.


"Nggak apa Altaf. Ayah lagi sibuk. Lain waktu ya, sekarang pulang sama ibuk dulu. Huummm?"


Ratih menoleh sedikit pada pasangan yang kini duduk bersama dan tertawa tanpa beban. Tanpa perduli pada anak kecil yang hampir menangis karena rindu pada Ayahnya.


'Tidak apa sayang, masih ada ibu. Ibuk akan jadi ibu sekaligus ayah buatmu.' batin Ratih sembari berlalu menggendong Altaf.


###


Sesampai nya di rumah, Ratih tertegun karena rumah Bu Rohmah sedikit ramai. Begitu masuk Ratih di sambut oleh sang ibu.


"Nah, ini Ratih. Anak ku yang aku bicarakan tadi loh jeng." Ratih tersenyum dan mencium tangan wanita yang seusia Bu Rohmah itu. Juga dengan pria yang ditaksir seusia dirinya mungkin.


"Altaf, Salim dulu nak sama temennya nenek." Ucap Ratih menuntun Altaf, yang langsung mencium tangan tamu Bu Rohmah.


"Duduk sini dulu tih."


Ratih pun duduk dengan memangku Altaf di samping ibunya.

__ADS_1


"Begini nak, ini Bu Rondiah, teman ibuk semasa kerja di pabrik dulu."


"Oohh..." Ratih hanya ber-oooh ria.


"Dan ini anak nya Bu Rondiah, Zaki namanya. Dia lebih muda dari kamu dua tahun, baru pulang dari dari Kalimantan."


"Ooohhh..." Ratih kembali ber-oh ria lagi.


Ia sudah bisa menangkap arah pembicaraan ibunya.


"Tapi, mau lebih tua atau lebih muda tidak masalah kan ya jeng ya. Asalkan cocok."


"Iya jeng..." Kekeh Bu Rondiah,


Kedua wanita yang sudah lama tidak bertemu itu entah membicarakan apa lagi. Ratih seperti enggan untuk mendengar.


"Ratih, ke dalam dulu ya buk. Mau istirahat. Skalian nidurin Altaf."


"Oo iya silahkan Ratih, ga papa." Jawab Bu Rondiah setelah Ratih pamit. "Zaki ini belum begitu mengenal daerah sini. Kapan-kapan ajak dia jalan-jalan ya."


"Ahaha... Iya buk." Balas Ratih basa basi, tak enak juga jika menolak, karna mungkin juga permintaan Bu Rondiah hanya lah basa basi saja.


###


Subuh menggema, seusai menyelesaikan dua rakaat nya, Ratih berjalan ke dapur. Menyiapkan sarapan bersama sang ibu.


"Tih,"


"Iya buk, " jawab Ratih sembari memotong tempe untuk di goreng sebagai lauk sarapan pagi.


"Kamu mau sampai kapan sendiri?"


"Maksud ibuk?" Tanya Ratih menoleh pada ibunya yang sedang menumis bumbu.


"Ya, nyari ayah pengganti Indra buat Altaf."


Ratih terdiam sejenak, mau bagaimana? Saat ini Ratih sangat enggan untuk sekedar mengenal pria. Pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga tentu membuat Ratih merasa ragu untuk memulai atau mencari pengganti.


"Kami baik-baik aja kok buk. Ratih juga nggak mau buru-buru nyari pengganti. Sekarang Ratih cuma ingin fokus nyari uang dan ngebahagiain Altaf. Itu aja."


Bu Rohmah tak menanggapi ucapan anaknya, ia juga paham betul pa yang Ratih rasakan. Namun, selama beberapa hari mengasuh Altaf Bu Rohmah seperti melihat dari sisi yang lain. Jika, Altaf juga butuh seorang Ayah.


"Kemarin pas ibuk bawa Altaf ke RTH komplek, ada banyak anak-anak yang jalan-jalan sama ayahnya." Ucap Bu Rohmah sambil memasukkan sayuran hijau ke wajan.


"Altaf kelihatan sedih banget, dia seperti kepingin sama kayak anak-anak itu."


Ratih menghela nafasnya, "ayah nya Altaf sudah nggak perduli buk. Mas Indra sibuk sama calon istrinya."


"Kalau ayah nya nggak perduli, kamu bisa cari ayah pengganti buat Altaf, seperti Zaki misalnya. Dia pria baik Ratih, ibu yakin, dia bisa membahagiakan kamu dan Altaf."


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2