Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 27


__ADS_3

"Cika?"


Ratih terkejut malam-malam Cika sudah berada di depan pintu rumah nya. Dengan wajah sembab dan sendu, Ratih cemas melihatnya. Ratih melihat keluar di belakang Cika, mungkin saja Foano ada di belakang, namun Ratih tak menemukan siapapun.


"Kamu ke sini sama siapa? Ayo masuk dulu. Ini udah malam." Ajak Ratih cemas menggandeng Cika masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu.


"Siapa tih?" Ibu Rohmah muncul dari bagian terdalam rumah ikut menengok siapa yang bertamu malam-malam.


"Nak Cika. Kok malam-malam ke sini? Papa nya mana?"


Ratih menatap ibunya dan menggeleng agar tak bertanya lebih dulu. Bu Rohmah pun akhirnya bungkam dan memilih duduk di sofa single.


"Cik, Tante bikinin teh anget dulu ya? Kamu dah makan belum?"


Cika menggeleng.


"Ya udah, Tante ambilin minum dulu, tadi juga Tante abis masak sup ikan." Ucap Ratih lembut, "kamu tunggu di sini dulu ya."


Ratih berjalan ke dapur, membuat teh, tak lama Bu Rohmah menyusul.


"Tih, ada apa? Kenapa Cika datang kemari malam-malam? Sendirian lagi?" Bisik Bu Rohmah mengambil piring dan mengisinya dengan Nasi lalu menambahkan kuah Sup dan sepotong ikan.


"Ratih nggak tau buk."


"Kek nya abis nangis juga itu Tih, Cika nya." Sambung Bu Rohmah mengoper piring yang berisi nasi dan sup ikan itu pada Ratih.


"Nanti biar Ratih tanyain pelan-pelan, setelah Cika makan." Ucap Ratih dengan nampan berisi dua gelas teh dan piring nasi untuk Cika.


"Coba kamu WA papa nya Cika. Mungkin aja dia lagi cemas nyariin anaknya."


"Iya buk. Nanti Ratih WA."


"Ya sudah sana. Ibuk mau liat Altaf dulu terus tidur."


"Iya buk, Ratih ke depan dulu."


Ratih menyibak gorden penyekat antara ruang tamu dan lorong ruang tengah.


Cika tampak lemas duduk dengan wajah sendu. Ratih tersenyum ramah saat kedua netra mereka bertemu.


"Ayo di minum dulu Cik, mumpung masih anget."


Ratih memberikan cika segelas teh hangat, yang langsung di seruput oleh gadis muda itu.


"Udah enakan?"


Cika mengangguk. "Altaf.... Sudah tidur Tan?"


"Udah." Jawab Ratih mengambil gelas yang sudah Cika minum dan meletakkannya di meja,lalu ia berganti mengambil piring."makan dulu nih, biar perut nya ke isi."


Cika terdiam mengangkat tangannya mengambil piring itu dengan lemas.


"Mau... Tante suapin?"


Tanpa jawaban Cika mengangguk. Ratih mengulas senyum, mengambil lagi piring dari tangan Cika dan mengambil satu sendok nasi dan sup lalu mengangkatnya hingga ke dekat mulut Cika.


Cika membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ratih. Begitu seterusnya hingga nasi sup ikan habis.

__ADS_1


Setelah menghabiskan satu gelas teh, wajah Cika terlihat lebih cerah dari sebelumnya.


"Tante, Cika boleh nginep sini nggak?" Pinta gadis kecil itu memelas. Wajah Ratih sedikit berubah terkejut, namun, sedetik kemudian dia tersenyum.


"Boleh, udah ijin sama papa?"


Cika terdiam, airmuka sedikit berubah. "Cika, tidur di kamar Altaf ya Tan."


Ratih mengangguk. "Tante beresin ini dulu, nanti Tante nyusul."


Selesai membereskan semua, Ratih menghubungi Foano dengan berkirim pesan wasap.


("Fo, Cika di rumah. Dia bilang mau nginep di sini.")


["Apa?"]


["Jadi dia ke sana."]


("Cika sudah tidur, tadi meminta ijin untuk tidur di sini. Ada apa? Apa kalian bertengkar?") Tulis Ratih lalu mengirimnya.


["Hanya sedikit bertengkar. Aku akan ke sana jemput Cika."]


('Apa dia tak boleh menginap di sini?")


Lama Ratih menunggu, tak ada jawaban dari Foa. Ratih lalu meletakkan hpnya. Ada sedikit sesal jika sampai Foa datang dan membawa Cika pergi malam itu.


Ring.. ring..


Telpon nya berdering, panggilan video dari Foa. Gegas Ratih meraih jilbab bergo dan memakainya.


Tombol di geser ke atas. Wajah Foano memenuhi layar.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian bertengkar. Wajah Cika sembab dan sedih tadi." Ratih mencoba menetralkan rasa gugup nya melihat wajah tampan Jimin, eeh, salah, wajah tampan yang mirip Jimin itu.


Foano terdiam, seolah ragu untuk mengatakan tanpa ingin membuat Ratih tersinggung atau pun merasa tidak nyaman. Melihat perubahan di wajah Foano, Ratih merasa canggung.


"Maaf, tak seharusnya aku ikut campur. A-aku tutup telponnya."


("Tunggu! Tidak apa, aku hanya bingung menyampaikannya pada mu.")


"Ke-napa?" Tanya Ratih sedikit bingung dan gugup.


("Cika, tiba-tiba ingin punya mama seperti teman-teman yang lain. Lucu sekali bukan? Dia bahkan tidak punya teman karena homeschooling.")


Ratih tersenyum kecil.


"Dia punya, Fo. Kamu saja yang tidak tau."


("Aku papa nya, aku lebih tau dari mu. Setiap hari dia bersama ku.")


Ratih tertawa lebar, yang Foano anggap sedang meremehkannya.


("Sungguh, kamu tidak percaya?")


"Cika sungguh-sungguh punya teman fo." Ratih masih tertawa di sela-sela ucapannya.


("Tidak! Dia tidak punya. Jika dia bilang punya itu artinya dia membual. Aku papanya, aku yang paling tau...") Wajah Foano tampak kesal melihat Ratih terus menertawakannya.

__ADS_1


Tawa Ratih yang begitu lepas, membuat Foano semakin jatuh cinta.


("Kenapa kamu tertawa? Aku benar-benar papa nya, kenapa kamu malah sok tau seperti mama nya saja. Apa kamu mama nya?")


Tawa Ratih perlahan terhenti, dan tiba-tiba hening. Kedua nya terlihat canggung.


"Aku memang bukan mamanya Cika. Aku hanya tau saja. Kamu jangan terlalu meremehkan dia. Dia putrimu."


("UMM.. Aku tidak meremehkannya, tiba-tiba meminta mama padaku. Apa kamu pikir itu lelucon?")


Ratih hanya mengulas senyum kecil. "Kenapa tidak kamu coba saja...."


Foano tergelak. ("Tidak semudah itu Ratih. Apa kamu pikir aku sedang memilih baju?")


Ratih terdiam sesaat, benar, janda dan duda seperti mereka harusnya banyak yang di pikirkan. Bukan asal menikah jika ingin.


("Aku ingin melihat Cika.")


"Baiklah, tunggu sebentar." Ratih berjalan menuju kamar Altaf, mendorong pintunya dan mendekati ranjang. Cika tidur dengan memeluk Altaf kecil. Ratih mengganti kamera belakang dan menyorot Cika dan Altaf.


"Lihatlah betapa menggemaskannya mereka."lirih Ratih agar suaranya tak membuat kedua bocah itu terbangun.


("Benar.")


Lama Foano terdiam memandang layar hp nya yang menampakkan putri cantiknya terlelap. Sementara Ratih merasakan jantungnya terus berdegub kencang melihat wajah Jimin kw di layar hp. Wajah Ratih terasa semakin menghangat. Ia mengipasi wajahnya sendiri.


"Uuugggghhhh tenang Ratih, jangan seperti jablay. Dia sedang memandang anaknya bukan kamu!" Pikir Ratih menjitak kepalanya sendiri.


Karena Ratih berdiri membelakangi cahaya lampu, tentu saja bayangan tubuh nya yang menimpa di atas tubuh Cika yang sedang ia sorot dapat Foano lihat. Termasuk saat ia mengipasi wajah dan menjitak kepalanya sendiri.


Foano tertawa kecil tanpa suara.


("Kamu ngapain?")


Sadar sudah bertingkah konyol, Ratih makin gugup dan salah tingkah. "Enggak! Cuma kepalaku gatal, belum keramas." Jawabnya asal bohong.


("Jadi janda jadi malas keramas kamu ya?") Ledek Foano dengan kekehan. ("Aku sudah cukup melihat Cika.")


Ratih pun keluar dari kamar Altaf dan menutup pintunya pelan-pelan.


"Kalau begitu, aku tutup telponnya." ucap Ratih mengganti kamera depan.


("Tunggu sebentar. Kamu tau kenapa Cika langsung ke rumahmu setelah kami bertengkar?")


Ratih menggeleng.


("Apa kamu mau jadi mamanya Cika?")


("Kalau kamu menikah dengan ku, kamu nggak akan malas keramas lagi.")


Ratih tersenyum kecil. Iya, di luar dia tersenyum kecil, tapi di dalam, dia tertawa girang. Kembang api seolah meletus membuat perayaan.


"Jika mau melamar, lakukan dengan benar."


("Baiklah, lusa aku akan datang ke rumah untuk melamar.")


("Tidur! Udah malam.")

__ADS_1


Sambungan telpon di tutup. Ratih terbengong. Tunggu, ini tidak seperti yang dia harapkan. Lamaran by vc? Argh.. yang benar saja. Apa duda jaman sekarang kalau melamar tidak ada romantis-romantisnya? Ataukah itu hanya candaan Foano saja?


__ADS_2