
Dalam keheningan Altaf yang tidur di pangkuan Ratih. Sore itu seusai pertemuan pertama dengan sang editor yang ternyata seorang pria yang mirip Jimin. Foano mengantar Ratih kembali ke rumah.
Tak ada percakapan yang berarti diantara mereka. Tak ada debaran seperti saat pertama bertemu tadi. Mungkin karena efek kegantengan Sorang Jimin yang menempel pada Foano.
Kini Ratih merasa biasa saja. Hanya rasa malu saja yang tertinggal.
"Boleh aku bertanya?"
"Silahkan."
"Kenapa kamu nggak bilang apa-apa saat aku menyebutmu Mbak?" Hal yang paling membuat Ratih penasaran dari awal ya itu.
Foano menyungging senyum kecil.
"Aku cuma pingin membuatmu nyaman. Nama dan gender itu nggak penting, selama kamu nyaman berkomunikasi dengan ku. Tidak masalah dengan sebutan yang kamu pakai. Dari awal, tujuanku hanyalah ingin mengangkat tulisan mu ke platform."
Ratih terdiam dalam pikirannya.
"Aku hanya ingin membantu. Itu saja."
'benar, dia hanya ingin membantu. Jangan terlalu di pikirkan Ratih.' pikir Ratih.
______
["Tidak ada pesan apapun darimu."]
Ratih menatap layar gawainya. Ia menghela nafasnya panjang.
["Apa kamu nggak mengalami kesulitan hari ini?"]
Dua pesan dari Foa, membuatnya terpaku. Jujur saja, setelah tau Foa seorang lelaki membuat Ratih merasa enggan untuk sekedar berkirim pesan tak berbobot seperti sebelumnya.
Bukan karena merasa dibohongi. Karena pada dasarnya Ratih lah yang sudah salah paham. Ia yang terus berfikir jika Foa adalah wanita, tanpa bertanya lebih dulu. Rasanya menjadi sangat canggung dan tidak nyaman.
Ratih juga takut, jika nantinya ia jatuh cinta dan hanya di permainkan saja. Ia masih ingat bagaimana perlakuan Indra mantan suaminya itu. Masih ada bekas luka yang menganga disana.
'Dia dengan segala kelebihannya. Aku takut jika terjebak dalam pesonanya walau ia tak berniat seperti itu. Sebaiknya menjaga jarak saja.' pikir Ratih masih cukup sadar diri dan ingin lebih menikmati kesendiriannya.
Tak lama karena Ratih tak juga mengirim balasan padaha Ratih sudah membaca pesan dari Foano. Telponnya bergetar pertanda ada telpon masuk. Ratih terkejut, Foano kini malah melakukan panggilan video. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Ratih bingung antara mengabaikan atau mengangkatnya sana.
"Kalau nggak ku angkat nanti dia pikir macam-macam, kalau ku angkat , aku juga merasa tak nyaman." Gumam Ratih galau menimbang-nimbang.
"Ibu.... Itu telponnya bunyi kok diam aja?" Tanya Altaf yang tiba-tiba masuk kekamar dan menatap ibunya.
Anak lelaki Ratih itu mendekat dan melihat layar hape di tangan Ratih.
"Ooohh, papa!" Serunya girang, langsung menekan terima dan mengambil alih hp dari tangan ibunya.
__ADS_1
"Papa! Papa!" Seru Altaf dengan tangan yang ia lambaikan pada layar hp. Disebrang sana terlihat Foano menyambut dengan lambaian tangan dan senyum di wajah tampannya.
("Hay... Altaf!") Jimin, eh, Foano yang mirip dengan Jimin maksudnya bersuara riang mengikuti Altaf.
"Papa, kapan ajak Altaf main lagi?" Celoteh Altaf duduk disamping ibunya.
("Nanti ya, kalau Altaf udah makan sama bobok.")
"Altaf udah makan."
("Oohh, udah ya? Kalau Bobo?")
Altaf menggelengkan kelapa nya, tak lupa bibir yang manyun ke depan bikin siapapun gemas melihatnya.
("Ya udah, Altaf bobok dulu, nanti papa ajak main kalau Altaf dah bangun. Ibuk mana?")
"Bener ya pa? Bangun bobok nanti Altaf di ajakin main."
("Iya, ibuk mana?")
Altaf menyodorkan hape pada ibunya. Dan masih menunggui. Ratih berdehem, guna menetralkan dada nya yang tak karuan dan memastikan suara tak sumbang. 'Eeehh, ngapain juga aku mesti kek gini.'batin Ratih heran sendiri.
"Iya?"
("Kok Altaf yang angkat telponnya?") Wajah Foano terlihat memenuhi layar ponsel.
"Ummm..."
("Bengong?")
"Iya. Liat hape terus bengong."
"Iiihh, kamu Altaf. Ibuk nggak bengong kok. Cuma diem aja tadi." Elak Ratih namun malah mengakui, sadar akan hal itu wajahnya langsung menghangat.
Foano tergelak.
"Kenapa nelpon? Biasa juga chatting."kata Ratih mengalihkan pembicaraan.
("Abis chating ku nggak di balas, padahal online.") Jimin kw berucap sambil menggaruk alisnya dengan telunjuk. Di kejauhan terdengar suara seorang wanita.
("Papa, kuas Cika mana?")
Foano menoleh dan ikut berteriak dari tempatnya.
("Di tempat biasa sayang.")
("Nggak ada!")
("Cari!") Foano terlihat berdiri dengan membawa hp nya. Dari kamera yang menyorot dari bawah dagu nya, terlihat wajah Jimin kawe yang mempesona.
__ADS_1
("Papa lagi kerja nih.")
"Kalau sibuk sambung lain waktu aja deh." Ucap Ratih merasa memiliki kesempatan buat mengakhiri sambungan telepon.
("Nggak kok. Itu cuma Cika lagi nyari kuas.")
"Cika siapa pa?" Timpal Altaf
"Ishh nggak usah kepo deh Altaf. Udah ibu tutup aja ya." Bisik Ratih namun tetap terdengar oleh Foa, yang menyungging senyum.
("Cika anaknya papa, Altaf. Kak Cika.")
("Say Hay dulu sama kak Cika.")
Dari sebrang sana tampak seorang gadis berusia 10 tahunan melambaikan tangan dengan senyum di wajah cantik nya. Dari kamera yang terlihat berada didepan Foa.
("Hay!")
"Hay kakak Cika." Suara Altaf membalas lambaian tangan ke kamera.
("Siapa pa?") Suara pelan gadis itu mendongak menatap Foa.
("Anak papa yang satu lagi.") Balas Foa dengan nada pelan.
"Udah dulu ya pa, Altaf mau bobok." Suara Altaf mengikuti bisikan ibunya.
("Iya Altaf bobo yang nyenyak ya.")
Tututut...
"Kok malah di matiin sih?" Gumam Foano melihat layar hp nya udah berubah."belum ngobrol juga."
"Siapa hayoo? Tadi katanya kerja? Kok jadi anak papa yang lain?" Goda Cika mentowel lengan sang papa dengan ujung kuas disertai cengiran menggoda.
"Iya kerja Cik, ini penulis papa, tadi anak nya yang angkat." Jelas Foano mengacak rambut anak gadisnya.
"Yang bener? sejak kapan papa ngurusin penulis langsung?"
Foano tersenyum mendengar ucapan anaknya yang jelas ragu.
"terus kenapa dia nyebut papa?"
"MMM... Ayah dan ibunya Altaf dah pisah, dan Altaf nggak pernah ketemu ayah nya lagi. Papa kasihan sama dia Cik."
Cika manggut-manggut.
"Jadi papa pengganti niihh...."
Foano melebarkan sudut bibirnya ke atas mendengar ledekan dari anak gadisnya.
__ADS_1
"Kamu mau punya mama pengganti?"
Bersambung....