
Cika tersenyum lebar. "Papa nggak tanya gimana Cika bisa tau?"
"Enggak." Tegas Foano memelankan laju mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Ratih.
"Assalamualaikum..." Foano dan Cika serentak berucap.
"Wa'alaikum salam." Sahut suara dari dalam, yang di ikuti bayang seorang wanita.
Foano terkejut melihat Ratih kini menggunakan jilbab dan gamis panjang. Selama beberapa hari tak bertemu dan melihat wanita cantik itu, sudah berubah sedemikan drastisnya.
"Cantik."
Ratih menundukkan kepalanya, ingin menjaga pandangan dan pikiran kotornya. Demi inilah dia terus mendekatkan diri pada sang pencipta. Tak ingin di kuasai oleh pikiran-pikiran yang terus membuatnya tak karuan.
"Tante Ratih." Panggil Cika berlarian mendekat dan memeluk Ratih."Kangen Tante. Kok lama nggak main ke rumah?"
"Tante sedikit sibuk Cik." Diusapnya kepala Cika dengan lembut.
"Terus lupa sama Cika?" Tanya Cika dengan wajah memelas dan mulut yang mengerucut. Menatap Ratih yang masih dia peluk dengan erat. "Ditelpon juga Tante nggak pernah angkat. Cika pikir Tante marah sama Cika."
"Enggak kok sayang. Tante cuma sibuk aja. Ayo masuk dulu." Ajak Ratih menggandengkan tangan Cika memasuki ruang tamu.
"Tante ambilin minum dulu ya."
Cika mengangguk.
"Altaf mana Tante?"
"Tadi keluar sana om nya. Diajak jalan-jalan sebentar lagi juga pulang."
__ADS_1
"Yaahh...." Cika terdengar kecewa.
Dari sejak bertemu tadi, Foa bahkan tak mengalihkan pandangannya. Ratih lebih banyak menunduk dan bercengkrama dengan Cika. Hanya sesekali Ratih bicara dengan Foa.
"Sepertinya, hari itu cukup banyak mengubah mu." Ucap Foano saat Cika ijin untuk ke kamar mandi sebentar. Hanya menyisakan Foa dan Ratih di ruang tamu."Sekarang kamu bahkan merubah penampilanmu, dan tidak mau menatapku. Apa kamu berubah membenci ku sekarang?"
"Kamu salah paham. Aku hanya ingin berhijrah, itu saja."
"Oohh, setelah kita berciuman? Dan kamu tidak menghubungi kami lagi?"
"Foa...." Lirih Ratih
"Aku tidak keberatan jika kamu ingin menjaga jarak dari ku, aku paham. Aku salah, tapi, apa kamu tidak menyukai? Aku pikir kita memiliki perasaan yang sama,hingga hal itu bisa sampai terjadi." Ucap Foa tanpa melepas pandangannya dari Ratih yang semakin cantik saja dengan jilbabnya.
"Bisakah, kamu tetap bersikap seperti biasanya untuk Cika?" Pinta Foano setelah keduanya terdiam sesaat."Hanya dia yang aku miliki sekarang."
"Cika! Ayo kita pulang."
"Cika belum ketemu Altaf pah,"
"Lain kali aja, ini udah malam."
Cika mengambil tasnya lalu berdiri tak jauh dari papanya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu." Pamit Foa mengulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Ratih. Ratih membiarkan tangan itu mengambang, kelopak matanya sedikit bergerak ke atas. Foa masih menatapnya tanpa mau berkedip.
Ratih mengangkat tangannya dan menangkup di depan dada.
"Hati-hati."
__ADS_1
Foano menarik tangannya dengan sekilas senyum.
"Jadi sekarang juga nggak mau sentuhan ya." Gumam nya masih dapat Ratih dengar.
"Tante Ratih, aku masih kangen. Kapan main lagi ke rumah?" Cika merengek sambil memeluk tubuh Ratih."Cika juga masih kangen sama Altaf, belum ketemu juga, papa udah ngajakin pulang."
"Lain kali bisa ketemu cik."
"Iya, tapi kapan?"
"Kapan-kapan... Kamu udah tau rumah Tante, kamu bisa datang kapan aja. Tapi harus kabarin Tante dulu. Oke?"
Cika mengangguk
Setelah berpamitan Foano melangkah pelan menuju mobilnya.
"Papa Cika."
Foano menoleh,
"Aku tidak menghindari karena kejadian waktu itu, tapi, aku hanya ingin lebih menjaga diri. Diriku juga dirimu, agar kita sama-sama terhindar dari hal yang dilarang agama.
Aku memang menyukai mu, tapi... Kita bukan pasangan yang halal untuk melakukannya." Pungkas Ratih.
Foano hanya terdiam mencerna lalu melempar senyum tipis sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.
"Pasangan yang halal untuk melakukannya?" Gumam Foano dalam perjalanan pulang, ia masih terus mencerna penuturan Ratih.
Bersambung..
__ADS_1