
Buk, Ratih sudah pernah gagal dan nggak mau ngulangin lagi. Ratih masih pingin sendiri dulu."
Bu Rohmah mengusap punggung anak perempuannya.
"Coba dulu nak, coba sekedar keluar bersama Zaki dan Altaf. Nanti akan terlihat orang itu baik atau tidak nya."
"Buukkk...." Pandang Ratih memohon.
"Ibu nggak akan ikut campur setelahnya. Ibu cuma mau kamu dan Zaki saling mengenal. Bukankah tak kenal maka tak sayang?"
Ratih menggigit bibir bawahnya dengan wajah memelas. Ia sangat malas jika sudah begini. Tapi, Bu Rohmah tetaplah ibunya, Ratih tak ingin mematahkan keinginan orang tuanya yang hanya tinggal seorang ini. Dengan berat hati, Ratih mengangguk. Walau genangan di pelupuk matanya ia tahan dengan susah agar tak jatuh.
"Ibuk nggak akan maksa kamu buat nikah sama Zaki jika kalian tidak cocok Tih." Ucap Bu Rohmah lagi mengusap pundak Ratih dan tersenyum. Lalu melanjutkan memasak sayur nya."Ibu cuma mau kamu bahagia nak. Rasanya, ibuk tak rela jika mantan suamimu itu sudah mau menikah dan bahagia, sementara kamu masih mikirin dia."
"Ratih nggak mikirin mas Indra buk. Ratih cuma ingin sendiri dulu. Itu aja." Lirih Ratih dengan menyentuh dadanya yang terasa sesak mendadak.
.
.
Ratih merapikan pakaian Altaf.
"Kita mau kemana buk?" Tanya bocah polos itu yang kini sudah menginjak usia empat tahun.
"Jalan-jalan." Jawab Ratih tersenyum kecil pada sang anak.
"Jalan-jalan kemana?"
"Altaf mau nya kemana?"
"Mmmm.... Altaf pingin ke kebun binatang buk."
"Nanti kita kesana." Balas Ratih dengan senyuman lagi.
"Iya Altaf, sekalian nanti ketemu sama calon ayah buat Altaf." Timpal Bu Rohmah yang tiba-tiba datang mendekat mengulurkan sebotol minuman dan sekantong jajanan pada Ratih.
"Ibukk..." Lirih Ratih memohon agar ibunya tidak perlu mengatakan hal itu pada Altaf.
"Calon Ayah?" Altaf dengan mata bulat dan pipi gembul nya menyiratkan tanya.
"Iya, Altaf mau punya Ayah lagi nggak?" Tanya sang nenek mensejajarkan tinggi. Altaf menjawab dengan anggukan ragu.
"Nanti ada ayah yang akan datang."
__ADS_1
"Ayah Indra?"
"Bukan. ayah Zaki."
"Ibuk.... Pliss deh." Protes Ratih dengan tampang memelas.
"Jadi, Altaf punya ayah?"
"Iya Altaf, ayah Zaki namanya..." Ucap Bu Rohmah senang, karena Altaf ternyata lebih antusias.
"Hooreee!!" Seeru Altaf girang mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. "Altaf punya Ayah."
Melihat anaknya sesenang itu Ratih tersenyum lagi. Apa aku pikirkan lagi tentang mencari papa pengganti buat Altaf ya?' batin Ratih menatap sang anak dengan senyuman kecil.
"Semoga, kamu berjodoh ya sama Zaki, Tih." Ucap Bu Rohmah menatap Ratih dengan pengharapan.
"Udahlah buk, masalah jodoh biar Alloh yang ngatur gimana. Lagian kan belum jelas juga, belum tentu Zaki nya juga mau sama Ratih."
"Kamu tenang aja, Zaki nggak Mandang janda atau gadis kok. Dia pria baik. Ibuk sudah kenal dia dari kecil."
Ratih sudah enggan menjawab, melihat ibunya sudah seperti ter-Zaki-Zaki. Suara deru motor terdengar.
"Nah, itu pasti nak Zaki." Ucap Bu Rohmah bergegas berjalan me depan.
Zaki tampak turun dari motor nya, "assalamualaikum..."
"Ini Zaki bawa buah buk, tadi di jalan lihat ada kakek-kakek dilampu merah jualan ini, kasihan karena dagangannya masih banyak, jadi saya beli aja."
Sikap sopan dan manis Zaki membuat Bu Rohmah semakin senang dan antusias menjodohkan Zaki dengan Ratih.
"Waahh, makasih ya Ki, kamu ini sudah ganteng, baik lagi." Puji Bu Rohmah makin senang menerima sekresek buah mangga dari Zaki. Lalu melirik Ratih yang tampak datar.
"Duduk dulu Ki."
"Nggak usah buk, langsung aja." Tolak Zaki sembari melirik Ratih dengan tatapan mengajak berangkat saat itu juga.
"Ooh, ya udah sih, ibuk titip Ratih sama Altaf ya, Ki."
"Iya buk." Ucapnya menyalami lagi Bu Rohmah.
"Ratih pergi dulu ya buk." Pamit Ratih mencium tangan ibunya. Di ikuti oleh Altaf.
"Kamu jangan nakal ya sama Ayah Zaki..." Ucap Bu Rohmah mencubit pipi gembul Altaf setelah bocah itu mencium tangan neneknya.
__ADS_1
"Ibukk...." Lirih Ratih memohon.
"Iya iya Tih."
Di sepanjang jalan, tak ada pembicaraan apapun antara Ratih dan Zaki. Sesampainya di kebun binatang, mereka mengantri di loket. Zaki terlihat sibuk dengan gawainya, tak begitu memperhatikan Ratih maupun Altaf.
"Kami bayar sendiri aja Ki." Ucap Ratih saat Zaki hendak membayar di loket.
"Oke." Jawab Zaki singkat.
Begitu memasuki kebun binatang, Altaf terlihat cukup antusias. Sementara Zaki kadang terlihat berinteraksi dengan Altaf.
"Berapa usiamu Ki?" Tanya Ratih basa-basi, karena tak enak juga jika hanya diam-diam tanpa obrolan sedari tadi.
"25tahun."
"Hmmmm....." Gumam Ratih sembari duduk di kursi yang terbuat dari beton. Sementara Altaf tampak asyik melihat burung dengan warna bulu hitam dan merah tak jauh darinya duduk.
Zaki pun ikut duduk di sampingnya.
"Minum nggak? Kami bawa minum tadi, ini juga ada somay bikinan sendiri juga." Ratih menawari hanya untuk mengusir kecanggungan.
Zaki mengambil botol minuman nya lalu meminum hingga hampir habis setengah.
"Di Kalimantan kerja apa Ki? Di sini liburan apa emang mau tinggal di sini?" Kalimat basa-basi Ratih lontarkan lagi. Ia tak sungguh-sungguh ingin tau, hanya sekedar bertanya, tak di jawab pun tak masalah.
"Aku kerja di pertambangan, kontrak ku habis langsung pulang, rencana mau buka usaha dari hasil tabunganku kerja di Kalimantan."
"Ooh, bagus itu. Deket sama orang tua, lebih tenang." Ucap Ratih menanggapi sambil mengawasi Altaf yang masih berlarian melihat burung dalam sangkar yang sangat besar.
"Altaf," panggil Ratih melambaikan tangannya. Altaf mendekat. "Mau kasih makan burung nggak? Tuh ada yang jual."
Ratih menunjuk satu petugas yang memeng menyediakan pakan burung.
"Mau!" Seru Altaf menganguk senang.
"Ayah Zaki ikut ya, temanin Altaf." Pinta Altaf pada Zaki. Wajah pria itu sedikit kaget Altaf memanggilnya Ayah.
"Om... Panggil Om Zaki, Altaf. " Ucap Ratih cepat, karena merasa tak enak. Ia tak ingin Zaki berprasangka bahwa dia yang mengajari bocah empat tahunan itu untuk memanggil Ayah.
Altaf terlihat cemberut. "Ayo om." Ucapnya kemudian menarik tangan Zaki.
Zaki pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan bersama Altaf yang berceloteh dengan riang ke tempat penjualan pakan burung.
__ADS_1
"Semoga, Zaki nggak berfikir macam-macam karena Altaf menyebutnya Ayah." Gumam Ratih merasa tak enak hati.
Bersambung....