Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
chapter 23


__ADS_3

Terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah Ratih. Baik Ratih maupun Bu Tias, sama-sama melongok siapa yang datang.


Indra dan Tiara baru saja keluar dari dalam mobil.


'Ya Ampun..... Ibunya saja belum pulang. Anaknya udah datang.' pikir Ratih menggeleng. 'Apalah maunya orang-orang Ini?'


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Jawab Ratih dan bu Tias hampir bersamaan.


"Ratih, ibuk ke sini nggak?"


Belum sempat Ratih jawab, Indra sudah lebih dulu melihat ibunya.


"Ibuk, ibuk ngapain sih di sini?" Tegur Indra mendekat dan duduk di samping ibunya.


Sementara Tiara lebih memilih berdiri di luar. Ratih sih tidak mau terlalu perduli,


"Kebetulan banget kamu datang mas,"


Indra menoleh pada Ratih,


" aku mau kondangan, rumah kosong, tolong ajak ibuk pulang." Pinta Ratih berdiri dari duduknya.


"Ibuk, ayo pulang."


"Bentar Ndra, ibuk masih mau ambil uang sumbangan."


"Astaghfirullah, ibuk, jangan bikin malu lah. Ayo pulang." Indra menarik tangan sang ibu agar bangkir dari duduknya mengikuti dia.


"Indra! Ibuk harus dapat uang nya, itu hak kita."


"Udah buk, ayo pulang. Ada Tiara di depan. Nggak enak. Ayo pulang." Indra membujuk sekaligus merasa malu, malu pada Ratih, juga malu pada Tiara dengan sikap ibunya ini.


Bu Tias menatap Ratih sengit. "Kamu ngadu ya kalau ibu kesini?"


Ratih tertawa kecil, 'nuduh lagi.'


"Nggak buk, mbak indah yang bilang. Pas Indra di sampai dirumah, kotak sumbang sudah di buka, kado-kado juga."


"Wajar dong Ndra, ibuk kan..."


"Maaf ngobrol nya di luar aja ya, Ratih mau kunci pintunya." Sela Ratih yang sudah tak tahan lagi.


Dari luar pun terdengar suara Tiara bernada tak suka. "Mas! Cepetan!"


"Iya dek." Sahut Indra, lalu berpaling menatap ibu nya."ayo buk."


Akhirnya mau tak mau Bu Tias pun keluar juga dari rumah Ratih. Dengan ngedumel tentunya.


"Ndra, sumbangannya nggak cukup buat nutup biaya resepsi kamu. Makanya ibuk minta sama Ratih. Dia nggak kasih sumbangan." Gumam Bu Tias berbisik pada anaknya yang masih dapat Ratih dengar walau lirih.


"Udah, nanti kita bicarain di rumah." Indra membawa ibunya berjalan hingga depan pintu rumah.


Tiara saat itu sudah ada di dalam mobil dengan wajah yang jelas di tekuk-tekuk.

__ADS_1


Setelah bu Tias masuk kedalam mobil, Indra melihat pada Ratih yang berdiri diambang pintu.


"Maaf ya tih."


Ratih hanya melempar senyum.'tumben.'


.


.


"Ada tamu pa."


Foa yang masih menyetir melihat ke arah rumah Ratih yang cukup ramai itu. Seorang wanita baru saja masuk kedalam mobil dan dua orang lagi baru keluar dari dalam rumah. Lalu berjalan menuju mobil yang tadi dimasuki sang wanita.


"Siapa itu pa?"


"Kek nya mantan suami nya Tante Ratih."


"Hah? Ngapain mereka masih ke rumah Tante Ratih?"


Pertanyaan yang sama ada dalam benak Foano. Sekilas ia ingat dengan leluconnya tadi siang.'Masa sih mereka datang gara-gara sumbangan uang mainan?'


Mobil Foano berhenti saat mobil Indra dan keluarganya keluar dari halaman rumah Ratih. Barulah, Foano masuk ke halaman rumah. Karena halamannya tak terlalu besar tak akan muat jika di tambah mobilnya.


Ratih masih berdiri, bertanya-tanya siapa lagi tamu nya kali ini.


"Tante!" Suara riang Cika terdengar begitu kaki nya menapaki tanah.


"Cika..." Sebut Ratih sedikit kaget, gadis remaja itu langsung memeluknya dengan wajah yang riang.


"Lagi pergi sama nenek sama om nya." Tatapan mata nya bertemu dengan Foano tanpa di sengaja. Cepat-cepat Ratih mengalihkan pandangan.


"Yaahh," Cika terlihat sangat kecewa."Padahal Cika kangen banget sama Altaf."


"Masuk dulu. Bentar lagi paling juga pulang." Ajak Ratih menuntun Cika masuk ke dalam ruang tamu.


"Yang tadi itu siapa tan?" Sembari mendudukkan bokongnya.


"Mantan."


Sementara itu,


Indra, Tiara dan Bu Tias sudah tiba di rumah. Saat itu di rumah masih ada indah dan Gafar. Sedangkan para mantu sudah pulang lebih dulu.


"Pokoknya kita harus dapat uang itu Ndra." Ucap Bu Tias berjalan memasuki ruang tamu.


"Udah buk, ngapain sih? Malu tau." Balas Indra menyusul dari belakang bersama Tiara.


Bu Tias langsung duduk, Indra pun mengikuti, ia sedikit terkejut hampir semua hadiah pernikahan nya telah di buka.


"Eehh, apa-apaan nih, kok kado-kado udah di buka semua?" Protes Tiara."Itu kan dari teman-teman Tiara buat Tiara. Kok lancang sih kalian buka."


"Apa sih Tia, nggak perlu histeris gitu ah. Orang di bantuin buka, bukannya terima kasih..." Indah masih sibuk membuka kado dan menumpuknya menjadi satu.


"Eeh, aku nggak minta ya mbak." Hardik Tiara tak suka."kalau kek gini gimana Tiara tau siapa aja yang kasih? Dan ngasih apa aja."

__ADS_1


"Halah, Tiara gitu aja di permasalahin, udah dibantuin. Kek gini nggak mau lagi lah aku. Sana beresin sendiri." Ketus Indah meletakkan kasar kado yang baru ia buka setengahnya dengan mulut manyun.


"Kamu jangan kek gitu sama ipar mu Tiara." Tegur Bu Tias menasehati.


Tiara menatap Indra. "Aku nggak akan kek gini kalau keluarga mas Indra nggak lancang!"


"Indra! Didik tuh istri kamu yang bener! Di baikin nglunjak." Hardik indah tak terima, mengambil satu kotak jam tangan yang terlihat bagus dan bermerek.


"Eh, mau di bawa kemana itu mbak? Itu punya Tiara! Kado dari temen Tiara."


"Eeh, punya kamu itu punya suami mu juga!" Mbak indah tak mau kalah dan tak mau mengembalikan jam tangan itu. Sejak awal sesi buka kado indah sudah mengincar jam tangan itu."Indra! Mbak ambil ini." Sambung nya sambil berlalu.


Tiara yang sangat geram dengan tindakan indah menatap sinis pada suaminya.


"Mas!"


"Udah! Biarin aja Tia. Cuma satu kok. Kan masih banyak itu yang lain." Ucap Indra mencoba menengahi,


"Mas!" Pekik Tia makin keras memprotes.


"Tiara! Kamu kok perhitungan sih sama saudara sendiri? Cuma jam saja, itu juga bukan kamu yang beli, di kasih kan. Udah biar aja buat indah! Dia juga sudah bantu-bantu kok." Tukas Bu Tias mulai tak suka pada sikap Tiara.


Tiara menatap sengit pada indah juga pada Indra yang sama sekali tidak membela hak dan dirinya. Tiara kecewa pada suaminya itu.


"Tiara mau pulang."


"Loh, baru datang kok sudah mau pulang?" Ucap Bu Tias.


"Dari pada disini terus makan ati!" Tiara berlalu ke mobil tanpa memperdulikan suara Bu Tias dan suaminya yang memanggil.


"Dek jangan kek gini lah." Pinta Indra menyusul hingga ke samping body mobil Tiara.


"Pokoknya aku mau pulang, jangan mas kira aku bisa di perlakukan seperti Ratih ya mas."


"Tiara plis!"


"Tiara mau pulang, tersrah mas mau ikut atau tidak." Tukas Tiara menbuka pintu mobil nya."dan lagi mas, nanti aku akan suruh orang bawa kado-kado itu buat isi rumah kita."


"Tiara!"


Tiara tak memperdulikan panggilan suaminya. Dan asal masuk ke dalam mobil.


"Oke Tiara! Mas ikut!"


"Bagus!" Kata Tiara ketus tanpa melihat kearah Indra. Bawa sekalian kado-kado itu. Kalau tidak, jangan salahkan Tiara jika nanti preman yang ambil."


Indra menciut juga, Tiara memang lebih tegas dari pada Ratih. Jika dia bilang akan sewa preman, maka beneran preman yang akan datang. Indra tak punya pilihan selain menurut. Ia kembali kedalam rumah dan mengambil angkut kado-kado nya. Seorang diri.


Dari tempat Tiara duduk tak terdengar suara bantahan atau apapun. Hanya Indra yang terlihat sibuk memindahkan barang.


"Janagan lupa mas, jam yang mbak indah bawa."


Indra tersentak. "Tia, iklasin yang itu ya?" Ucap Indra dengan tampang memohon.


"Ya udah, biar besok di ambil sama preman sewaan Tiara aja."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2