Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 24


__ADS_3

("Foano? Nggak ada nama editor itu di pf.") Balas Teman sesama penulis di pf. Kejora namanya.


["Eh, masa sih?"] Pesan Ratih kirim dengan perasaan yang sama, penasaran.


["Selama ini yang bawa aku dan bimbing aku di pf editor Foano."] Ratih mengirim lagi.


("Eeh, coba aku tanya yang lain, setau ku nama editor itu nggak ada.") Balas kejora kemudian.


Ratih terdiam, berpikir tentang siapa Foano. Jika bukan editor kenapa dia sering menghubunginya dan meminta naskah. Sering mengajaknya berdiskusi. Ratih pun berinisiatif untuk bertanya pada teman sesama penulis lainnya. Mungkin saja benar, hanya kejora yang tak tau. Mungkin saja ada yang tau seorang editor bernama Foano.


Setelah bertanya sana sini Ratih masih tak mendapatkan jawaban tentang editor bernama Foano.


"Apa memang tidak ada editor bernama Foa? Kenapa jadi aneh begini?" Gumam Ratih duduk diantara beberapa produk yang selesai di kemas untuk di kirim.


Ring... Ring....


Telponnya berdering, Ratih mengambil hp nya lagi, melihat di layar gambar foto Cika dengan latar sunset di sebuah pantai terpampang di sana dengan nama editor Foa.


"Mungkin sebaiknya aku bertanya langsung pada orang nya." Gumam Ratih menggeser tombol hijau.


"Halo?"


["Hari ini kamu free nggak?"]


"Iya, kenapa?"


["Sekarang di mana?"]


"Lagi di ruko."


["Oke, aku jemput ya,"]


"Eehh, mau kemana?"


Tututut...


Ratih melihat layar hp nya, sambungan sudah di putus. Mobil Foano sudah berhenti di depan ruko. Ratih mendudukkan diri di samping Foa.


"Sory ya, tadi aku sambil nyetir soalnya."

__ADS_1


"Uumm.. kita mau kemana?"


"Hari ini Altaf pulang jam berapa?"


"Biasa sih, jam 11."


"Enak nya ngobrol di mana ya? Kita bahas mengenai naskahmu yang terakhir, ada beberapa bagian yang harus kamu revisi."


"Terserah sih, di mana pun sama aja kok."


"Ke resto itu aja deh. kamu dah makan belum?"


"Udah sarapan tadi."


"Hmmmmm.. Udah makan ya. Apa mau ke apartemen ku aja?"


'Hmmmm.... Di Apartemen nya mungkin ada Cika atau istri. Nggak masalah mungkin ya?' pikir Ratih, "Oke deh."


Foano dan Ratih sudah sampai di apartemen Foa.


"Kamu bukannya nggak tinggal di kota ini ya?" Ratih mengikuti langkah Foa memasuki rumahnya.


"Berapa lama mau menetap di sini?"


"MMM... Belum tau, masih ada hal yang harus aku lakukan di sini." Jawab Foano enteng."Masuklah ke ruang kerja ku, aku ambilkan minum."


"Oke."


Tak lama Foa masuk ke ruang kerja nya dengan membawa dua gelas minuman dan beberapa camilan. Sedang Ratih sudah mengotak-atik laptop Foano.


Foano duduk di samping Ratih, terlalu dekat hingga membuat Ratih tak nyaman.


"Apa ini yang harus di refisi?" Tanya Ratih sedikit menggeser tubuhnya menjauh beberapa senti.


"Heemm... Di bagian ini dan ini."


"Oohh,"


"Menurutku ada beberapa yang janggal, maksud ku tidak masuk akal."

__ADS_1


Ratih tertawa kecil. Foano menjelaskan maksudnya yang tidak masuk akal itu, Ratih hanya menyimak. Pandangan mata keduanya bertemu, getaran itu muncul lagi.


Hening, hanya suara deru nafas mereka yang terdengar.


"Cika... Dimana? Aku nggak denger suaranya." Ratih mengalihkan pandangannya begitupun dengan Foano.


'Ya ampunn.. jantungku, dah Dig duh nggak karuan, sadar Ratih, dia pria istri jangan berpikiran macam-macam.' batin Ratih mengutuk dirinya sendiri.


"Cika pergi, tadi habis anter dia les."


Ratih hanya ber-oooh ria. Sadar saat ini mungkin mereka hanya berdua ia merasa sangat canggung dan tak nyaman. Foano pun juga tampak curi-curi pandang sesekali.


"Mmmm... Di mana mama nya Cika?" Tanya Ratih guna mengusir kecanggungan di antara mereka.


Foano tersenyum kecil.


"Aku tak pernah melihatnya selama ini." Ratih mencoba mengusir kecanggungan dengan melihat sekeliling.


"Dia sudah pergi."


"Pergi? Pergi ke mana?"


"Pergi ke tempat yang tak bisa kami jangkau."


Ratih menutup mulut, terkejut dengan pernyataan yang baru saja dia dengar.


"Maksud nya, Mama Cika keluar negri atau bagaimana?"


Foano tak menjawab, hanya melempar senyumnya. "Dia sudah meninggal."


Ratih menutup mulut yang reflek terbuka. Ia tak menyangka jika mama nya Cika sudah meninggal. Ada rasa lega di hatinya, itu artinya, Foano seorang duda beranak satu. Dan ia tak perlu lagi menekan perasaan nya yang tak jelas dan terus mengganggu nya itu.


Dari sana mengalir cerita Foa tentang istrinya yang telah meninggal saat Cika masih kecil. Dan sampai mereka menetap sementara di kota Ratih.


"Aku turut berduka cita. Cika pasti sangat bersedih karena kehilangan mamanya." Ucap Ratih ikut merasakan kehilangan yang sama, ia dulu pernah kehilangan ayahnya yang meninggal saat ia masih SMP lebih beruntung karena setidaknya ia masih ingat bagaimana kasih sayang dan perjuangan sang Ayah.


"Setidaknya kami lebih beruntung darimu. Mas Indra menikah lagi kalaupun Altaf ingin bertemu, kami masih bisa melihatnya. Berbeda dengan kalian... Aaahh, maaf... Aku jadi baper..." Ucap Ratih di selingi tawa kecil dan mengusap ujung matanya yang berair.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2