
"Ayah?"
Ratih terdiam, begitu pun dengan Indra. Di belakang Altaf dan Ratih muncul pria tampan yang mirip Jimin itu. Mengenakan pakaian yang sama dengan Altaf terlihat seperti papa nya dan anak saja. begitu pun dengan Ratih dan Cika. Mereka mengenakan pakaian yang sama hanya beda size saja. Benar-benar seperti keluarga bahagia. Indra tertunduk merassa malu dan sakit menyesali dadanya.
Indra merentangakan tangannya membuka pelukan, Altaf mendongak menatap ibunya. Ratih mengangguk dengan senyuman. Altaf pun berhambur memeluk ayahnya. Indra menyamakan tinggi memeluk anaknya haru.
"Ayah, Altaf kangen..."
"Ayah juga Al,"
"Kenapa ayah nggak pernah ketemu Altaf?" Pertanyaan yang keluar dari mulut kecil itu berhasil menusuk hati Indra.
"Maaf Al, ayah sibuk."
"Altaf.. ayah datang, mau ajak Altaf main..."
"Main ke mana yah? Kami juga mau main abis nemenin ibuk ke kondangan."ucap polos Altaf. "Mau di ajak papa main ke Transmart."
Indra tau kini Altaf punya keluarga baru yang menyayanginya, tidak menyia-nyiakan seperti diri nya dulu. Nyeri di dadanya semakin besar.
"Ummm... Ayah lain kali aja main sama Altaf."
"Yaahh,, nggak papa kan kalau ikut? Iya pa?" Altaf mendongak menatap Foano. Yang di balas senyum tipis di wajah tampannya.
"Iya, nanti ayah nyusul sama mama Tia."
"Kenapa nggak bareng aja?" Tanya Altaf dengan nada kecewa.
"UMM.. ayah masih harus jemput mama Tia, Al." Ucap Indra beralasan. Tak mungkin juga dia ikut dalam keluarga bahagia itu, hanya akan menambah luka dan nyeri di dadanya. Indra mengeluarkan mobil-mobilan yang tadi dia beli di toko mainan. "Ini, tadi ayah beli di jalan ke sini."
"Waahh, makasih yahh... " Ucap tulus dari wajah polos Altaf."ayah, ini bisa jadi robot nggak mobil-mobilan nya?"
Indra menggeleng dengan senyum pahit,
"Yaahh, yang ngasih papa kemarin bisa jadi robot yah. Ada remotnya."
__ADS_1
Indra tersenyum kecut."maaf ya, ayah nggak tau apa yang Altaf suka."
"Nggak papa yah, Altaf suka kok."
"Eehhemmm... Mas, kami mau pergi dulu. Udah mepet mau ke kondangan." Sela Ratih tak enak hati.
"Iya." Indra mengangguk pelan menatap mantan istrinya yang cantik dan wangi itu. Indra kembali memandang Altaf."ayah pergi dulu ya, besok ayah main ke sini boleh?"
"Boleh yahh ..." Jawab Altaf dengan mata bulatnya yang menggemaskan."Boleh kan ma, pa?"
Ratih tersenyum tipis sembari mengangguk. Sementara Foano memilih mempersiapkan apa saja yang hendak di bawa dan membawanya ke mobil. Sebenarnya dia cukup kesal Indra datang. Mantan suami calon istrinya datang lagi dengan tiba-tiba mau coba? Yaahh, walau Foano tau itu semua untuk Altaf mungkin. Tapi tetap ada rasa cemburu terbersit di hatinya.
Seusai Indra pergi, Foano dan keluarga kecilnya berangkat menuju tempat kondangan. Altaf sibuk berceloteh riang dengan Cika di jog belakang.
"Kenapa wajahmu berubah jadi tak bersahabat begitu?" Ratih menatap Foano yang tengah menyetir itu.
"Nggak bersahabat gimana?"
"Jelek!"
"Oohh,, jadi kamu cemburu?"
"Iya."
Ratih tersenyum. "Kamu cemburu Altaf Deket sama ayahnya?"
"Enggak juga, Altaf lebih memilihku, aku yakin."
"Terus? Kamu cemburu kenapa? Aku nggak banyak berinteraksi sama mas Indra." Ucap Ratih bingung.
"Itu! Kamu masih pakai panggilan sayang buat mantan suamimu. Tapi sama aku, nggak."
"Haahh?" Ratih menautkan alisnya tak mengerti. "Maksudnya? Panggilan sayang buat mas Indra yang mana?"
"Ya itu... Itu..."
__ADS_1
"Itu? Nggak ada yang aneh kok. Itu yang mana?"
"Mas! Mas!" Gerutu Foano. Karena Ratih tak kunjung sadar dengan panggilan sayang yang di maksud.
"Panggilan sayang untuk ku?"
Ratih terdiam sesaat, lalu tersenyum. "Kita kan belum nikah, jadi kupanggil hubby aja ya, nanti kalau sudah nikah jadi Abi, mau?"
"Hubby boleh lah, tapi Abi nggak mau."
"Kenapa?"
"Cika sama Altaf udah manggil papa, masa anak kita nanti jadi manggil Abi. Enggak ah.."
Ratih terteawa kecil. 'Foano kalau cemburu lucu juga, lagian permintaannya aneh banget.' batin Ratih menggulum senyum."iya deh papa nya Cika."
"Sekali lagi."
"Papanya Cika."
"Sekali lagi!"
"Papa nya Altaf."
"Sekali lagi?"
"Hubby..."
Kedua nya tersenyum kecil.
"Wooii, itu yang depan ngapain?" Seru Cika dari jog belakang dengan nada menggoda.
Baik Ratih, juga Foano menoleh sedikit kebelakang, lalu terkekeh kecil dan kembali menatap ke depan.
"Anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa." Gumam Foano.
__ADS_1